Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana busuk ibu tiri
Kamila memandangi layar ponselnya yang retak. Jari-jarinya gemetar saat menggulir situs lowongan pekerjaan. Minimal pengalaman 2 tahun, bersedia bekerja di bawah tekanan, sanggup lembur. Ia menghela napas berat, luka operasi di perutnya masih sering berdenyut nyeri jika ia bergerak terlalu mendadak. Jangankan lembur, berjalan ke dapur saja tenaganya sudah terkuras habis.
"Sabar, Nak... Ibu akan cari jalan," bisiknya pada kekosongan di rahimnya. Kamila selalu beranggapan bahwa bayinya masih berada di dalam perutnya.
Tiba-tiba, suara benturan keras dari lantai bawah mengejutkan Kamila.
BRAK!
Suara kayu yang dihantam benda keras bergema hingga ke kamarnya. Jantung Kamila berdegup kencang. Ia bisa mendengar pekikan tertahan dari Mita dan suara gemetar Bu Elma. Dengan langkah tertatih dan tangan yang memegangi perut, Kamila keluar dari kamar dan mengintip dari balik raling tangga.
Di ruang tamu, suasana tampak mencekam. Dua pria berbadan besar, berkulit gelap dengan otot-otot yang menonjol di balik kaos ketatnya, berdiri menjulang seperti raksasa. Salah satunya berambut gondrong dengan bekas luka di pelipis, menatap tajam ke arah Bu Elma dan Mita yang meringkuk di sudut sofa, keduanya sangat ketakutan.
"Mana uangnya?!" bentak pria gondrong itu. Suaranya berat dan serak, membuat gelas-gelas di meja bergetar.
Mita memeluk lengan ibunya dengan sangat erat, wajahnya pucat pasi, sekujur tubuhnya menggigil hebat. "Mam... apakah ini yang dimaksud oleh Pak Darma? Kalau telat seminggu, mereka tidak akan segan bertindak kasar?" bisik Mita dengan suara yang hampir hilang.
Bu Elma tidak bisa menjawab, giginya bergemeletuk karena takut. "Bisa jadi Mita... Mamah sangat takut sekali!"
"Aku juga sama, Mam! Bagaimana ini? Kita harus membayar semua hutang-hutang kita pada Tuan Chen, si pria tua bangka itu!" rengek Mia setengah berbisik, namun matanya terus tertuju pada pria itu yang mulai menendang meja kopi.
Kamila menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan. Kehadirannya tertangkap oleh mata tajam si pria gondrong.
"Oh, ada penghuni lain rupanya," seringai pria itu, memamerkan deretan giginya yang tidak rata.
Kamila berdiri di anak tangga terakhir, wajahnya pucat namun matanya tetap tenang. Ia menatap ibu dan juga kakak tirinya yang tadi begitu sombong padanya, kini tampak seperti tikus yang terpojok.
"Ada apa ini?" tanya Kamila dingin.
"Mila! Masuk ke kamarmu! Ini bukan urusanmu!" bentak Bu Elma, meski suaranya masih bergetar.
"Bukan urusanku? Ini rumah ayahku, jika ada orang asing yang merusak pintu rumah ini, itu menjadi urusanku," sahut Kamila, Ia kemudian beralih ke pria besar itu.
"Berapa hutang yang mereka miliki?" tanyanya seolah tahu masalah apa yang telah terjadi terhadap Ibu dan juga kakak tirinya, karena Kamila begitu hafal akan tabiat mereka.
Pria berambut gondrong itu tertawa meremehkan. "Lima ratus juta, dan Itu termasuk bunga karena dua wanita ini sangat hobi berjudi dan belanja barang bermerek pakai uang Tuan Chen. Jika tidak dibayar hari ini, Tuan Chen minta 'jaminan' lain. Mungkin rumah ini, atau salah satu dari kalian."
Kamila tertegun. Lima ratus juta? Ia menatap Bu Elma dengan pandangan tidak percaya.
"Ibu telah menjaminkan rumah ini?"
Bu Elma memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Kamila. Sementara Mita mulai terisak. "Kami hanya butuh modal untuk bisnis, Mila! Tapi semuanya gagal!"
"Bisnis atau meja judi?" sindir Kamila tajam.
Pria itu mulai melangkah maju, mendekati Mita. "Cukup bicaranya. Karena kalian tidak punya uang, kalian ikut kami menemui Tuan Chen sekarang."
"Jangan! Tolong jangan bawa aku!" teriak Mita histeris sambil bersembunyi di belakang punggung ibunya.
Kedua pria itu mencengkeram lengan Bu Elma dan Mita dengan kasar, menyeret mereka menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Kamila, meski tubuhnya masih sangat lemah dan nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi, ia tetap berusaha menahan pintu.
"Tunggu! Jangan bawa mereka dengan cara seperti ini!" seru Kamila dengan suara parau. "Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik, jangan gunakan kekerasan!"
Bu Elma menoleh, menatap Kamila dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kebencian dan kelicikan yang mengerikan. Ia menyentakkan tangannya dari pegangan pria gondrong itu sejenak, lalu berkacak pinggang di depan Kamila.
"Berhenti berlagak jadi pahlawan, Kamila! Kau pikir kau itu siapa, hah?" bentak Bu Elma, wajahnya yang tadi pucat kini memerah karena amarah yang dipaksakan. "Jangan jadi pahlawan kesiangan! Kami tidak butuh belas kasihanmu. Masuk ke dalam dan urusi saja luka operasimu yang bau amis itu!"
"Tapi, Bu... mereka berbahaya..."
"Diam!" potong Mita sambil mengusap air matanya, kini ia ikut menyeringai tipis melihat penderitaan Kamila. "Simpan bicaramu untuk nanti. Kamu tahu apa yang kami lakukan? Kau tetaplah di sini, siapkan dirimu baik-baik."
Si pria gondrong mendengus tidak sabar. "Sudahlah cukup sandiwaranya! Cepat Jalan!"
Suasana di dalam mobil terasa mencekam. Namun, di kursi belakang, Bu Elma tampak mulai tenang. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mita, membisikkan rencana busuknya dengan nada yang sangat rendah agar tidak terdengar oleh kedua pria di depannya
"Mita, dengarkan Mamah," bisik Bu Elma, matanya berkilat licik. "Tuan Chen itu memang tua bangka dan bau tanah, tapi gosip yang pernah mamah dengar bahwa dia, si pria tua bangka itu adalah pria yang gila wanita. Daripada kita kehilangan rumah atau kau yang harus melayaninya, kita jadikan si Kamila sebagai alat penebus hutang. Aku yakin dia tidak akan menolak tawaran ini. Kamila memang sudah 'cacat' karena operasinya, tapi wajahnya masih menjual."
Mita tertegun sejenak, lalu senyum jahat perlahan terukir di bibirnya. "Ide bagus, Mah. Dengan begitu, kita bebas dari hutang dan tidak perlu lagi melihat wajah sok sucinya Kamila di rumah itu."
"Tepat sekali," sahut Bu Elma. Ia kemudian sedikit meninggikan suaranya, bicara pada pria gondrong yang mengemudi.
"Heh, kau! Bilang pada bosmu, aku membawa penawaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar uang receh lima ratus juta. Aku akan bernegosiasi langsung dengan Tuan Chen, tidak perlu lagi melalui perantara kacangan seperti Darma!"
Pria gondrong itu melirik melalui spion tengah, matanya menyipit kesal.
"Sudahlah, jangan kebanyakan bacot! Sebaiknya kau siapkan mentalmu menghadapi Tuan Chen. Kalau negosiasi mu gagal, siap-siap saja nyawa kalian melayang."
Mendengar kata 'nyawa melayang', Elma dan Mita serentak menelan ludah. Ketakutan itu masih ada, namun ambisi untuk menumbalkan Kamila jauh lebih besar.
Sesampainya di gerbang rumah mewah milik Tuan Chen yang bergaya klasik namun sedikit seram. Bu Elma merapikan rambutnya yang berantakan. Ia bergumam pelan, hampir seperti sebuah mantra kematian bagi putri tirinya.
"Kamila... Oh, Kamila," gumam Bu Elma sambil tertawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan. "Bersiaplah menjadi pengantin pria tua bangka itu. Wanita yang sudah cacat dan tidak berguna sepertimu memang sangat pantas bersanding dengan mayat hidup seperti Tuan Chen. Ini adalah bayaran karena kau sudah berani kembali dan menumpang di rumah ayahmu yang seharusnya sudah mutlak menjadi milikku."
Mereka pun turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam 'sarang singa' dengan rencana paling keji yang pernah ada di benak seorang ibu tiri.
Bersambung...
kopi untuk mu👍