NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Janda / Duda / Tamat
Popularitas:213.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana busuk ibu tiri

Kamila memandangi layar ponselnya yang retak. Jari-jarinya gemetar saat menggulir situs lowongan pekerjaan. Minimal pengalaman 2 tahun, bersedia bekerja di bawah tekanan, sanggup lembur. Ia menghela napas berat, luka operasi di perutnya masih sering berdenyut nyeri jika ia bergerak terlalu mendadak. Jangankan lembur, berjalan ke dapur saja tenaganya sudah terkuras habis.

"Sabar, Nak... Ibu akan cari jalan," bisiknya pada kekosongan di rahimnya. Kamila selalu beranggapan bahwa bayinya masih berada di dalam perutnya.

Tiba-tiba, suara benturan keras dari lantai bawah mengejutkan Kamila.

BRAK!

Suara kayu yang dihantam benda keras bergema hingga ke kamarnya. Jantung Kamila berdegup kencang. Ia bisa mendengar pekikan tertahan dari Mita dan suara gemetar Bu Elma. Dengan langkah tertatih dan tangan yang memegangi perut, Kamila keluar dari kamar dan mengintip dari balik raling tangga.

Di ruang tamu, suasana tampak mencekam. Dua pria berbadan besar, berkulit gelap dengan otot-otot yang menonjol di balik kaos ketatnya, berdiri menjulang seperti raksasa. Salah satunya berambut gondrong dengan bekas luka di pelipis, menatap tajam ke arah Bu Elma dan Mita yang meringkuk di sudut sofa, keduanya sangat ketakutan.

"Mana uangnya?!" bentak pria gondrong itu. Suaranya berat dan serak, membuat gelas-gelas di meja bergetar.

Mita memeluk lengan ibunya dengan sangat erat, wajahnya pucat pasi, sekujur tubuhnya menggigil hebat. "Mam... apakah ini yang dimaksud oleh Pak Darma? Kalau telat seminggu, mereka tidak akan segan bertindak kasar?" bisik Mita dengan suara yang hampir hilang.

Bu Elma tidak bisa menjawab, giginya bergemeletuk karena takut. "Bisa jadi Mita... Mamah sangat takut sekali!"

"Aku juga sama, Mam! Bagaimana ini? Kita harus membayar semua hutang-hutang kita pada Tuan Chen, si pria tua bangka itu!" rengek Mia setengah berbisik, namun matanya terus tertuju pada pria itu yang mulai menendang meja kopi.

Kamila menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan. Kehadirannya tertangkap oleh mata tajam si pria gondrong.

"Oh, ada penghuni lain rupanya," seringai pria itu, memamerkan deretan giginya yang tidak rata.

Kamila berdiri di anak tangga terakhir, wajahnya pucat namun matanya tetap tenang. Ia menatap ibu dan juga kakak tirinya yang tadi begitu sombong padanya, kini tampak seperti tikus yang terpojok.

"Ada apa ini?" tanya Kamila dingin.

"Mila! Masuk ke kamarmu! Ini bukan urusanmu!" bentak Bu Elma, meski suaranya masih bergetar.

"Bukan urusanku? Ini rumah ayahku, jika ada orang asing yang merusak pintu rumah ini, itu menjadi urusanku," sahut Kamila, Ia kemudian beralih ke pria besar itu.

"Berapa hutang yang mereka miliki?" tanyanya seolah tahu masalah apa yang telah terjadi terhadap Ibu dan juga kakak tirinya, karena Kamila begitu hafal akan tabiat mereka.

Pria berambut gondrong itu tertawa meremehkan. "Lima ratus juta, dan Itu termasuk bunga karena dua wanita ini sangat hobi berjudi dan belanja barang bermerek pakai uang Tuan Chen. Jika tidak dibayar hari ini, Tuan Chen minta 'jaminan' lain. Mungkin rumah ini, atau salah satu dari kalian."

Kamila tertegun. Lima ratus juta? Ia menatap Bu Elma dengan pandangan tidak percaya.

"Ibu telah menjaminkan rumah ini?"

Bu Elma memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Kamila. Sementara Mita mulai terisak. "Kami hanya butuh modal untuk bisnis, Mila! Tapi semuanya gagal!"

"Bisnis atau meja judi?" sindir Kamila tajam.

Pria itu mulai melangkah maju, mendekati Mita. "Cukup bicaranya. Karena kalian tidak punya uang, kalian ikut kami menemui Tuan Chen sekarang."

"Jangan! Tolong jangan bawa aku!" teriak Mita histeris sambil bersembunyi di belakang punggung ibunya.

Kedua pria itu mencengkeram lengan Bu Elma dan Mita dengan kasar, menyeret mereka menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Kamila, meski tubuhnya masih sangat lemah dan nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi, ia tetap berusaha menahan pintu.

"Tunggu! Jangan bawa mereka dengan cara seperti ini!" seru Kamila dengan suara parau. "Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik, jangan gunakan kekerasan!"

Bu Elma menoleh, menatap Kamila dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kebencian dan kelicikan yang mengerikan. Ia menyentakkan tangannya dari pegangan pria gondrong itu sejenak, lalu berkacak pinggang di depan Kamila.

"Berhenti berlagak jadi pahlawan, Kamila! Kau pikir kau itu siapa, hah?" bentak Bu Elma, wajahnya yang tadi pucat kini memerah karena amarah yang dipaksakan. "Jangan jadi pahlawan kesiangan! Kami tidak butuh belas kasihanmu. Masuk ke dalam dan urusi saja luka operasimu yang bau amis itu!"

"Tapi, Bu... mereka berbahaya..."

"Diam!" potong Mita sambil mengusap air matanya, kini ia ikut menyeringai tipis melihat penderitaan Kamila. "Simpan bicaramu untuk nanti. Kamu tahu apa yang kami lakukan? Kau tetaplah di sini, siapkan dirimu baik-baik."

Si pria gondrong mendengus tidak sabar. "Sudahlah cukup sandiwaranya! Cepat Jalan!"

Suasana di dalam mobil terasa mencekam. Namun, di kursi belakang, Bu Elma tampak mulai tenang. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mita, membisikkan rencana busuknya dengan nada yang sangat rendah agar tidak terdengar oleh kedua pria di depannya

"Mita, dengarkan Mamah," bisik Bu Elma, matanya berkilat licik. "Tuan Chen itu memang tua bangka dan bau tanah, tapi gosip yang pernah mamah dengar bahwa dia, si pria tua bangka itu adalah pria yang gila wanita. Daripada kita kehilangan rumah atau kau yang harus melayaninya, kita jadikan si Kamila sebagai alat penebus hutang. Aku yakin dia tidak akan menolak tawaran ini. Kamila memang sudah 'cacat' karena operasinya, tapi wajahnya masih menjual."

Mita tertegun sejenak, lalu senyum jahat perlahan terukir di bibirnya. "Ide bagus, Mah. Dengan begitu, kita bebas dari hutang dan tidak perlu lagi melihat wajah sok sucinya Kamila di rumah itu."

"Tepat sekali," sahut Bu Elma. Ia kemudian sedikit meninggikan suaranya, bicara pada pria gondrong yang mengemudi.

"Heh, kau! Bilang pada bosmu, aku membawa penawaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar uang receh lima ratus juta. Aku akan bernegosiasi langsung dengan Tuan Chen, tidak perlu lagi melalui perantara kacangan seperti Darma!"

Pria gondrong itu melirik melalui spion tengah, matanya menyipit kesal.

"Sudahlah, jangan kebanyakan bacot! Sebaiknya kau siapkan mentalmu menghadapi Tuan Chen. Kalau negosiasi mu gagal, siap-siap saja nyawa kalian melayang."

Mendengar kata 'nyawa melayang', Elma dan Mita serentak menelan ludah. Ketakutan itu masih ada, namun ambisi untuk menumbalkan Kamila jauh lebih besar.

Sesampainya di gerbang rumah mewah milik Tuan Chen yang bergaya klasik namun sedikit seram. Bu Elma merapikan rambutnya yang berantakan. Ia bergumam pelan, hampir seperti sebuah mantra kematian bagi putri tirinya.

"Kamila... Oh, Kamila," gumam Bu Elma sambil tertawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan. "Bersiaplah menjadi pengantin pria tua bangka itu. Wanita yang sudah cacat dan tidak berguna sepertimu memang sangat pantas bersanding dengan mayat hidup seperti Tuan Chen. Ini adalah bayaran karena kau sudah berani kembali dan menumpang di rumah ayahmu yang seharusnya sudah mutlak menjadi milikku."

Mereka pun turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam 'sarang singa' dengan rencana paling keji yang pernah ada di benak seorang ibu tiri.

Bersambung...

1
Teh Yen
sepupu sialan usir aj Sono suruh plng kalau ayah Evan tau bisa marah besar dia kamu coba usir Kamila huuh 😤
Teh Yen
knp Evan memanjakan dia dia sudah besar lagi pula aga risih engg sih d perlakukan gt apa engg ada tersirat ada yg janggal gt Van masa engg ngeeh kalau jenika menyukai kamu dan tidak suka Dnegan Kamila
Rey
👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Teh Yen
eeh datang lagi pengganggu baru huuh
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
hah ketakutan kan kalian rasain jahat banget sih orang pada huuh 😤😤
Teh Yen
nah nah pengaruh obatnya mulaii hilang yah ,, Alhamdulillah ternyata rahimmu masih ada Kamila itu hanya akal" lan Maya d dokter Burhan saja biar kamu merasa perempuan tak.berguna hiks kejam nya
Teh Yen
ayo cari tau Evan sebelum c Maya itu Bertindak lebih jauh dan kamu malah kecolongan nanti
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 👍
total 1 replies
Teh Yen
punya rencana apalgi c Maya itu blom kapok kah hadeuuh kamu harus hati" Kamila
Teh Yen
wah jahat banget tuh c Maya maen kabur aj suami lagi sakit jg malah bawa uang sisa perawatan pula ,, sepertinya itu karma buat kamu Danu karena sudah menyakiti istrimu d membuangnya seperti barang tidak berharga
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: setuju
total 1 replies
Teh Yen
waah mantapz Evan biar tau rasa tuh c Maya hahaaa rasain kau Maya malu marah jd satu puas banget aku 👏👏👏👏
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: sama kak 🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
jangan halu Maya Evan itu pria kulkas yg Tidka mudah luluh oleh perempuan apalgi perempuannya ky kamu huuhh dasar ulet bulu
Teh Yen
ah harusnya Evan permalukan Maya balik d depan umum dong kalau perlu buat dia kehilangan pekerjaannya karena sudah mempermalukan istrimu
susah emng kalau berhadapan dengan orang yg penuh iri hati engg ngapa ngapain jg ttp aj d nyirnyirin yah
Teh Yen
Maya .... Maya kaget engga kaget engga....???? kaget lah masa engga 😂😂😂 pembalasan yg elegan Kamila ,, bagaimana jantungmu masih aman kan Maya hemmm 😏
Teh Yen
blom.tau dia kalau Kamila udh jd nyonya sekarang 😏
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
akusuka😍😍😍😍😍😍😍😍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏🥰
total 1 replies
Patrick Khan
cie cie kevin🤣
Patrick Khan
cie Kevin suka sm Rani ya😁
Teh Yen
bau baunya seperti ulat bulu nih hadeuuh
Teh Yen
kenapa.kamu Tidka hati" jd nabrak orang kan smoga korban nya Tidka apa apa yah
Patrick Khan
wahhh Halim km🤣🤣🤣🤣siapa bapaknya🤔🤔
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: licin ya kak, jadi kepleset 🤣🤣
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!