Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mobil mewah yang membawa mereka perlahan memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan penjagaan gerbang yang sangat ketat.
Di sepanjang jalan, pepohonan rindang dan taman-taman asri menghiasi sisi jalan yang lebar dan mulus.
Pratama yang duduk di samping Luna terus menatap ke luar jendela.
Di dalam kepalanya, ia membayangkan "rumah pribadi" Luna mungkin adalah sebuah rumah sederhana di kompleks perumahan menengah, dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi kecil yang rapi dimana tempat yang cukup nyaman untuk mereka berdua. Namun, saat mobil berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, jantung Pratama seolah berhenti berdetak.
Gerbang itu terbuka otomatis, menampakkan sebuah bangunan megah bergaya modern kontemporer dengan pilar-pilar gagah dan dinding kaca yang luas.
Halamannya sangat luas, cukup untuk memarkir belasan mobil, lengkap dengan kolam air mancur yang menyejukkan mata.
"Kita sudah sampai, Mas," ucap Luna lembut sambil membuka sabuk pengamannya.
Pratama masih mematung, matanya tidak berkedip menatap kemegahan di depannya.
"Dik, ini rumah kamu sama Papa Jati?" tanya Pratama dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya.
Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tulus.
"Bukan, Mas. Ini rumahku sendiri. Hasil jerih payahku selama ini sebelum aku bertemu denganmu."
Pratama turun dari mobil dengan langkah gontai.
Ia merasa seperti masuk ke dalam set film Hollywood.
"Dik, besar sekali. Ini lebih mirip istana daripada rumah."
Ia kemudian menoleh ke arah Luna dengan tatapan ragu.
Ada sedikit rasa rendah diri yang kembali menyeruak di dadanya saat melihat rumah yang begitu kontras dengan gerobak soto miliknya yang sedang diturunkan oleh tim Arini dari mobil pickup.
"Dik.apa kamu nggak malu?" bisik Pratama serak.
"Rumah sebesar dan semewah ini, tapi di depannya ada gerobak soto kayu punyaku? Apa kata tetangga-tetanggamu yang kaya nanti?"
Luna melangkah mendekat, menggenggam tangan Pratama dan menatap matanya dengan penuh keyakinan.
"Kenapa harus malu, Mas? Soto itu yang mempertemukan kita. Soto itu yang kasih makan kita selama ini. Justru aku mau orang-orang tahu, kalau pemilik rumah ini punya suami hebat yang nggak malu kerja keras dari bawah."
Luna menarik napas dalam, lalu tersenyum manis.
"Lagipula, aku sudah siapkan area khusus di samping taman depan untuk gerobak Mas. Kita akan buat kedai soto paling eksklusif di perumahan ini."
Baru saja Pratama hendak melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba sebuah mobil city car merah berhenti di depan gerbang.
Dua orang wanita sosialita dengan perhiasan mencolok dan tas bermerek turun dari mobil.
Mereka adalah Susan dan mawar, tetangga Luna yang hobinya memantau siapa saja yang keluar-masuk rumah mewah itu.
Melihat Pratama yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana kain sederhana—bekas berjualan soto tadi pagi—mata mereka langsung berbinar penuh selidik.
"Aduh, Jeng Luna! Baru pulang ya?" sapa Susan dengan nada dibuat-buat.
Matanya melirik Pratama dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Wah, Jeng Luna dapat pelayan baru ya? Tapi kok pakaiannya begini, Jeng? Apa nggak diajari seragam yang rapi dulu?"
Pratama menunduk, rasa tidak nyaman kembali menyergapnya. Namun, Luna justru mempererat genggaman tangannya.
Ia menarik suaminya agar berdiri tepat di sampingnya, sejajar dan tegak.
"Maaf Jeng Susan, ini suami saya. Bukan pelayan," jawab Luna tegas dengan suara yang cukup keras agar tetangga lainnya juga dengar.
"Hah? Suami?" Mawar menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut.
"Jeng Luna nggak salah? Ganteng sih, tapi kok. Ya ampun Jeng, kok beda jauh sama level Jeng Luna?"
Luna tidak marah. Ia justru menatap kedua wanita itu dengan tatapan penuh kemenangan.
Ia tahu rahasia di balik pagar-pagar mewah perumahan ini.
"Kenapa? Kalian heran?" Luna tersenyum manis, namun sorot matanya tajam.
"Suami saya memang tampan, dan yang paling penting, dia selalu ada di rumah dan setia. Tidak seperti suami kalian yang pamitnya dinas ke luar negeri berhari-hari, tapi ternyata asyik selingkuh di hotel murah pinggiran kota."
Seketika wajah Susan dan Mawar pucat pasi.
Rahasia yang selama ini mereka tutup-tutupi justru dibongkar Luna di depan umum.
"A-apa maksudmu, Jeng Luna?!" tanya Susan dengan suara gagap.
"Sudah ya, kami mau masuk. Capek habis jualan soto," pungkas Luna santai.
Luna tertawa kecil sambil menarik tangan Pratama masuk ke dalam area rumah, meninggalkan kedua wanita itu yang mematung di pinggir jalan dengan rasa malu yang luar biasa.
"Dik, kamu tahu dari mana soal suami mereka?" bisik Pratama heran saat mereka sudah di dalam.
"Mas, aku ini CEO. Jaringan informasiku ada di mana-mana," jawab Luna sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ayo Mas, jangan pikirkan mereka. Istana kita sudah siap."
Di sebuah restoran privat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota, Arini sedang menata piring-piring berisi hidangan laut segar di depan Papa Jati.
Meskipun status aslinya adalah asisten kepercayaan Luna, di depan Papa Jati, ia adalah sosok wanita yang penuh perhatian.
"Dimakan dulu, Mas. Kamu dari pagi belum menyentuh nasi karena sibuk memantau kepindahan Luna," ucap Arini lembut sambil menuangkan air putih ke gelas Papa Jati.
Papa Jati menghela napas panjang, raut wajahnya tampak sedikit tegang meskipun ia berusaha untuk relaks.
Ia mengambil sendok, namun pikirannya jelas tidak berada di sana.
"Terima kasih, Sayang," jawab Papa Jati pelan.
Ia menatap Arini dengan serius. "Bagaimana laporan dari kepolisian? Ada perkembangan tentang mereka?"
Arini duduk di hadapan Papa Jati, raut wajahnya berubah menjadi profesional.
"Mas, Noah sama Pak Dirga masih dalam pencarian polisi. Mereka benar-benar licin. Setelah penggerebekan di gudang tua itu, jejak mereka seolah hilang ditelan bumi. Polisi menduga mereka dibantu oleh jaringan lama Pak Dirga yang ada di luar kota."
Papa Jati mengepalkan tangannya di atas meja.
"Dirga, dia sudah aku anggap seperti sahabat sendiri, tapi dia malah berkhianat dan hampir mencelakai putriku. Dan Noah, anak itu benar-benar tidak tahu diuntung."
"Polisi sudah menyebar foto mereka di setiap bandara dan pelabuhan, Mas. Kita juga sudah menambah personel keamanan di rumah baru Luna tanpa sepengetahuan Pratama," tambah Arini untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Bagus. Jangan sampai Luna dan Pratama tahu kalau mereka masih berkeliaran. Aku ingin anak dan menantuku tenang dulu di rumah baru mereka," ucap Papa Jati tegas. Ia kemudian meraih tangan Arini.
"Dan kamu, Arini. Tetaplah berada di samping Luna. Awasi setiap gerak-gerik orang asing di sekitar kantor."
Arini mengangguk mantap. "Pasti, Mas. Aku akan jaga Luna dengan nyawaku sendiri. Tapi Mas juga harus jaga kesehatan, jangan sampai jatuh sakit karena memikirkan buronan itu."
Papa Jati tersenyum tipis, merasa sedikit lega karena memiliki Arini di sisinya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa selama Noah dan Dirga belum tertangkap, ancaman terhadap kebahagiaan Luna dan Pratama masih mengintai dari kegelapan.