Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Arsa Pov
*Bab Ini adalah pandangan Arsa dari awal di rumah sakit.
Gelap.
Itulah yang pertama kali aku rasakan ketika membuka mata. Bukan gelap seperti malam tanpa bintang, tapi gelap yang benar-benar kosong.
Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, tapi kepalaku terasa begitu berat. Seperti ada kabut tebal yang menutupi sebagian dari memoriku.
"Di mana aku?" gumamku pelan sembari mencoba duduk.
Ruangan putih. Bau obat-obatan. Suara mesin yang berbunyi pelan.
Rumah sakit.
Aku di rumah sakit.
Tapi... kenapa?
Aku mencoba mengingat lebih keras. Perlahan, serpihan-serpihan ingatan mulai muncul.
Motor. Kecepatan tinggi. Lampu yang menyilaukan. Benturan.
Dan... seseorang yang ingin aku temui.
Tapi siapa?
Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa begitu sakit. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk otakku.
"Argh..." erangku pelan.
Pintu ruangan terbuka dan seorang perawat masuk dengan terkejut.
"Ya ampun, ternyata kamu sudah sadar!" katanya dengan nada lega sembari segera menghampiriku.
Aku hanya menatapnya dengan bingung. Wajahnya familiar, tapi aku tidak ingat pernah bertemu dengannya.
"Tunggu sebentar ya, saya panggil dokter dulu" ucap perawat itu sembari berlari keluar.
Aku kembali sendirian di ruangan ini. Mataku berkeliling, mencoba mencari sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku.
Tidak lama kemudian, seorang dokter masuk bersama beberapa perawat.
"Bagaimana keadaanmu, Arsa?" tanya dokter itu dengan ramah sembari memeriksa kondisiku.
"Kepala saya... Kepala saya sakit sekali, Dok" jawabku dengan suara yang sedikit serak.
Dokter itu mengangguk pelan. "Itu wajar. Kamu mengalami benturan yang cukup keras di kepala."
"Boleh saya tanya beberapa hal?" lanjut dokter itu.
Aku mengangguk.
"Kamu ingat nama kamu?"
"Kian Arsa."
"Umur?"
"Delapan belas tahun."
"Sekolah di mana?"
"SMA Negeri Dua Nusadipa."
Dokter itu tersenyum tipis. "Bagus. Sekarang... Kamu ingat kejadian sebelum kecelakaan?"
Aku terdiam. Mencoba mengingat.
"Saya... Saya ingat saya naik motor. Terus... Terus saya mau ketemu seseorang."
"Siapa?"
Aku menggeleng pelan. "Saya... Saya tidak ingat."
Dokter itu menulis sesuatu di kertas. Wajahnya terlihat serius.
"Arsa, saya akan jujur padamu. Kamu mengalami amnesia parsial akibat benturan di kepala."
"Amnesia?" ulangku dengan tidak percaya.
"Iya. Beberapa bagian dari ingatanmu hilang, terutama yang berhubungan dengan kejadian beberapa bulan terakhir."
Jantungku berdegup kencang mendengar penjelasan itu. Beberapa bulan terakhir? Berarti...
"Jadi... Jadi saya tidak ingat apa yang terjadi beberapa bulan terakhir?"
Dokter itu mengangguk. "Kemungkinan besar begitu. Tapi jangan khawatir, ingatanmu mungkin bisa kembali seiring waktu."
"Mungkin?" tanyaku dengan nada yang sedikit panik.
"Iya, mungkin. Kami tidak bisa menjamin apakah ingatanmu akan kembali sepenuhnya atau tidak."
Aku terdiam. Mencoba mencerna semua informasi yang baru saja aku terima.
Amnesia. Hilang ingatan. Beberapa bulan terakhir.
Apa... Apa yang terjadi padaku di beberapa bulan terakhir itu?
🌷🌷🌷🌷
Setelah dokter keluar, aku kembali sendirian di ruangan ini. Mataku menatap kosong ke arah langit-langit rumah sakit.
Aku mencoba mengingat. Mencoba menggali memori yang hilang.
Tapi yang kudapat hanyalah kekosongan.
'Siapa yang ingin aku temui malam itu?' batinku dengan penuh tanda tanya.
Aku merasa ada sesuatu yang sangat penting yang hilang dariku. Tapi aku tidak tahu apa itu.
Rasanya... Rasanya seperti ada lubang besar di dadaku. Kosong dan dingin.
Tok tok tok...
Pintu ruangan terbuka dan aku melihat seorang gadis berdiri di ambang pintu.
Gadis berkulit putih, rambut hitam panjang, dan mata yang... Mata yang penuh air mata.
"Arsa..." panggilnya dengan suara yang bergetar.
Aku menatap gadis itu dengan bingung. Wajahnya terlihat familiar, tapi aku tidak ingat siapa dia.
"Maaf... Kamu siapa ya?" tanyaku dengan nada yang hati-hati.
Dan aku melihatnya. Aku melihat bagaimana wajah gadis itu langsung berubah menjadi sangat terkejut.
Matanya membulat, bibirnya terbuka, dan air matanya jatuh begitu saja.
"A-apa?" katanya dengan suara yang nyaris berbisik.
"Anu... Maaf ya, aku baru bangun dan kepalaku agak sakit. Kamu... Teman sekelas aku ya?" tanyaku mencoba memastikan.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana dengan mata yang terus mengeluarkan air mata.
Aku merasa tidak enak. Pasti aku mengenal gadis ini, tapi aku benar-benar tidak ingat siapa dia.
"Arsa... Ini aku, Asha. Sarah Ashalova..." kata gadis itu dengan suara yang pelan.
"Pacar kamu..." lanjutnya dengan suara yang semakin bergetar.
Deg.
Pacar?
Aku... Aku punya pacar?
Aku menatap gadis yang bernama Asha itu dengan tatapan tidak percaya.
Mencoba mencari sesuatu di dalam kepalaku yang bisa mengingatkannya.
Tapi tidak ada. Sama sekali tidak ada.
"Maaf... Aku benar-benar gak ingat..." ucapku dengan suara yang penuh rasa bersalah.
Dan aku melihatnya lagi. Aku melihat bagaimana gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Bagaimana air matanya semakin deras, dan bagaimana ia akhirnya berbalik dan berlari keluar dari ruangan.
Meninggalkanku yang hanya bisa terdiam dengan perasaan bersalah yang luar biasa.
🌷🌷🌷🌷
Setelah kejadian itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis bernama Asha tadi.
Dia bilang dia pacarku. Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya.
'Bagaimana bisa aku melupakan orang yang begitu penting?' batinku dengan perasaan frustrasi.
Aku mencoba mengingat lagi. Kali ini lebih keras. Lebih dalam.
Tapi semakin aku mencoba, kepala ku semakin sakit.
"Argh!" erangku sembari memegang kepalaku.
Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam kepalaku, tapi tertahan oleh sesuatu yang sangat kuat.
Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diriku sendiri.
'Tenang Arsa... Tenang... Dokter bilang ingatanmu mungkin bisa kembali seiring waktu.'
Tapi entah mengapa, di dalam hatiku ada perasaan aneh. Perasaan tidak nyaman. Seperti aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
🌷🌷🌷🌷
Hari-hari berikutnya, gadis bernama Asha itu selalu datang mengunjungiku. Setiap hari. Tanpa pernah absen.
Ia akan duduk di sampingku, menceritakan tentang hubungan kami, tentang kenangan-kenangan yang kami lalui bersama.
Aku mendengarkan dengan seksama. Mencoba membayangkan semua yang ia ceritakan.
Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengingatnya.
Yang aneh adalah... Setiap kali Asha menceritakan sesuatu, dadaku selalu terasa hangat. Seperti ada sesuatu di dalam diriku yang mengenali gadis itu, meskipun otakku tidak.
"Arsa, kamu tau gak? Dulu kamu itu suka banget gombalin aku" cerita Asha dengan senyuman tipis.
Aku menatap Asha dengan tatapan penasaran. "Beneran?"
Asha mengangguk. "Iya. Kamu tuh jago banget gombal. Kadang-kadang bikin aku malu, tapi... Tapi aku suka sih."
Aku tersenyum canggung. "Maaf ya... Aku gak bisa inget."
Wajah Asha yang awalnya tersenyum langsung berubah menjadi sedih. Ia cepat-cepat menggeleng.
"Gak apa-apa kok. Yang penting kamu sehat."
Kami terdiam untuk beberapa saat. Keheningan yang sedikit canggung.
"Asha..." panggilku pelan.
"Ya?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Asha mengangguk.
"Kita... Kita pacaran udah berapa lama?"
"Setahun lebih" jawab Asha dengan suara yang pelan.
Setahun lebih. Berarti kami sudah bersama cukup lama.
Tapi aku... Aku sama sekali tidak mengingat gadis ini.
"Arsa, boleh aku tanya sesuatu juga?" tanya Asha dengan hati-hati.
"Boleh."
"Kamu... Kamu inget cita-cita kamu gak?"
Aku terdiam sejenak, mencoba mengingat.
"Dokter..." jawabku dengan yakin. "Aku pengen jadi dokter."
Asha tersenyum tipis. "Iya. Kamu emang pengen jadi dokter."
"Kamu inget alasannya kenapa?"
Aku mengangguk. "Aku... Aku inget ibu aku meninggal karena sakit. Dan aku berjanji mau jadi dokter yang bisa nolongin orang."
Asha menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan di matanya, tapi juga ada sesuatu yang lain.
"Kamu inget ibu kamu, tapi kamu gak inget aku..." gumam Asha dengan suara yang sangat pelan.
Aku mendengarnya. Dan hatiku terasa seperti dicubit.
"Maaf Asha... Aku bener-bener mau inget kamu, tapi... Tapi aku gak bisa..."
Asha cepat-cepat menggeleng sembari tersenyum, meskipun air matanya sudah berkumpul di pelupuk mata.
"Gak apa-apa Arsa. Aku... Aku akan bantuin kamu buat inget lagi."
Dan saat itu, aku melihat betapa tulusnya gadis ini. Betapa ia berjuang untuk diriku, meskipun aku bahkan tidak mengingatnya.
Di dalam hatiku, ada perasaan hangat yang tumbuh. Perasaan ingin melindungi gadis ini, perasaan tidak ingin melihatnya menangis.
Tapi... Apakah itu cinta?
Aku tidak tahu.
🌷🌷🌷🌷
Seminggu kemudian, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Ayahku datang menjemput. Seperti biasa, wajahnya datar tanpa menunjukkan kegembiraan apapun.
"Udah siap?" tanyanya dengan nada dingin.
"Sudah, Pak."
Di dalam mobil, kami berdua terdiam. Tidak ada pembicaraan apapun.
Aku menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang berlalu. Entah mengapa, aku merasa begitu asing dengan semuanya.
"Arsa," panggil ayahku tiba-tiba.
"Ya, Pak?"
"Mulai sekarang, kamu fokus belajar. Jangan buang-buang waktu buat pacaran atau hal-hal gak penting lainnya."
Aku terdiam mendengar ucapan ayahku.
"Kamu tuh udah kehilangan banyak banget waktu gara-gara kecelakaan ini. Kalau kamu gak belajar keras, mustahil kamu bisa masuk kedokteran."
"Iya, Pak" jawabku pelan.
"Dan soal cewek yang tadi itu... Putus saja sama dia. Dia cuma ngeganggu kamu doang."
Jantungku berdegup kencang mendengar perintah ayahku. Putus dengan Asha?
"Tapi Pak, kat—"
"Gak ada tapi-tapian!" bentak ayahku dengan suara yang menggelegar. "Kamu dengar kata saya gak??"
Aku menunduk dan tidak menjawab lagi. Di dalam hatiku, ada perasaan tidak nyaman dengan ucapan ayahku.
Memang benar aku tidak mengingat Asha. Tapi entah mengapa, aku tidak ingin menyakiti gadis itu lebih dari ini.
🌷🌷🌷🌷
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Kamar yang seharusnya familiar, tapi terasa begitu asing.
Aku melihat sekeliling. Ada meja belajar yang penuh dengan buku-buku pelajaran, ada lemari pakaian, ada kasur, dan... Ada sebuah foto kecil yang ditempel di dinding.
Aku mendekat ke foto itu.
Foto dua orang yang sedang tersenyum lebar. Seorang cowok dan cewek yang terlihat begitu bahagia.
Dan aku mengenali mereka.
Cowok itu... Itu aku.
Dan cewek itu... Itu Asha.
Kami berdua terlihat begitu bahagia di foto itu. Aku memeluknya dari belakang, dan ia tersenyum begitu lebar.
Aku melepas foto itu dari dinding dan menatapnya dengan seksama.
'Kami... Kami benar-benar pacaran ya?'
Dadaku terasa begitu sesak melihat foto itu. Ada perasaan hangat, tapi juga ada perasaan sedih yang luar biasa.
'Kenapa... Kenapa aku bisa melupakan gadis yang terlihat begitu berarti bagiku?'
Aku duduk di tepi kasur sembari terus menatap foto itu.
Kring...
Hp-ku berbunyi. Sebuah pesan dari nomor yang baru kusimpan tadi, Asha.
**Asha**
Arsa, udah sampe rumah belum?
Aku tersenyum tipis melihat pesan itu. Jari-jariku langsung mengetik balasan.
**Arsa**
Udah kok. Makasih ya Asha udah perhatian.
**Asha**
Sama-sama. Istirahat yang cukup ya! Besok kamu udah mau sekolah lagi kan?
**Arsa**
Iya kayanya besok aku masuk. Deg-degan sih... Soalnya gak tau mesti gimana hadapin temen-temen.
**Asha**
Tenang aja! Temen-temen pasti seneng kok kamu udah balik. Lagian ada aku juga yang bakal bantuin kamu 😊
Aku menatap layar hp-ku dengan perasaan hangat. Ada sesuatu di dalam hatiku yang membuatku merasa nyaman setiap kali berbicara dengan Asha.
Tapi di sisi lain, aku merasa bersalah karena tidak bisa mengingat gadis itu.
Aku menatap foto di tanganku sekali lagi.
'Asha... Maafin aku...'
'Aku benar-benar pengen inget kamu. Tapi... Tapi aku gak tau caranya gimana.'
Malam itu, aku tertidur dengan foto itu di sampingku. Berharap bahwa besok ketika aku bangun, mungkin aku bisa mengingat sesuatu tentang gadis bernama Sarah Ashalova itu.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Nah, sekarang kita tau dong gimana perasaan Arsa sebenarnya! Ternyata Arsa juga bingung dan merasa bersalah loh sama Asha 😭
Kira-kira Arsa bisa inget Asha gak ya? Atau hubungan mereka bakal semakin rumit?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku