Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Hanya Menyambung Silaturahmi
Malam yang sama di kediaman keluarga Erkana terasa lebih tenang dibandingkan bisingnya jalanan kota yang baru saja dilalui oleh Erlaga.
Mobil navy miliknya terparkir sempurna di garasi. Dengan langkah yang sedikit lesu namun tetap berusaha tegap, Erlaga melangkah masuk membawa tiga kotak martabak yang aroma harumnya mulai memenuhi ruang tamu.
"Assalamualaikum," ucap Erlaga sembari melangkah menuju ruang tengah.
"Waalaikumsalam. Nah, ini dia pulang. Baru saja Mama omongin," sambut Bu Zahira dengan wajah berseri-seri. Beliau sedang merajut di sofa saat putra keduanya itu datang.
Erlaga langsung memburu sang Mama, mencium tangannya takzim, lalu menyodorkan kantong plastik di tangannya. "Ini, Ma. Martabak asin spesial kesukaan Mama."
Bu Zahira tertawa kecil, matanya berbinar. "Tahu saja kalau Mama favorit martabak asin. Terima kasih ya, Ga."
Tak lama kemudian, Pak Erkana muncul dari arah ruang tengah. Pria paruh baya itu merasa penasaran dengan keriuhan yang ada.
Erlaga segera memberikan kotak kedua. "Dan ini untuk Papa, martabak pisang coklat. Tanpa wijen, sesuai pesanan."
"Wah, pas sekali! Papa baru saja mau buat kopi," ujar Pak Erkana sumringah.
Malam itu, suasana di meja makan terasa hangat. Kedua orang tua Erlaga menikmati martabak dengan gembira. Tidak luput kebersaman mereka dibubuhi obrolan kecil dan cc anda tawa,
Mereka sama sekali tidak menaruh curiga bahwa di balik senyum tipis putranya, ada hati yang sedang 'patah' akibat pemandangan di gerobak martabak Mang Uhuy tadi sore.
***
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menelusup melalui celah jendela ruang keluarga. Setelah sarapan pagi yang cukup tenang, Pak Erkana berdeham, memberi kode bahwa ada hal serius yang ingin dibicarakan. Bu Zahira sudah duduk manis di samping suaminya.
"Ga, duduk dulu sebentar. Papa dan Mama mau bicara," panggil Pak Erkana.
Erlaga yang baru saja hendak bersiap mengecek perlengkapan dinasnya untuk besok, terpaksa mengurungkan niatnya. Ia duduk di depan kedua orang tuanya. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Kenapa? Papa pasti mau jodohin lagi Laga dengan anak leting Papa itu?" tebaknya mendahului Pak Erkana yang sudah akan bicara.
"Bukan mau jodohin, tapi papa mau menyambung silaturahmi, sekaligus mempertemukan kamu dengan mantan Komandanmu dulu saat dinas di Ajendam," sergah Pak Erkana.
"Iya, Ga. Inti dari pertemuan kami adalah silaturahmi. Kamu jangan suudzon dulu." Bu Zahira menimpali.
"Lagian, kalau urusan hati, itu belakangan. Kalau misalkan kalian sama-sama cocok, maka bisa kalian lanjutkan. Lagian anaknya leting papa itu, selain cantik dan masih muda, ia juga pernah mondok di boarding school. Hapalan qurannya juga 15 juz," lanjut Bu Zahira, seolah ingin mempengaruhi pikiran Erlaga dengan menceritakan prestasi anak dari leting suaminya itu.
Erlaga tidak merespon, ia justru kepikiran terus dengan Syafina. Gadis muda cantik dan ramah yang ia temui di pujasera dan kedai bakso tempo hari. Sayangnya, kini perasaan kagum itu perlahan kendor, karena Erlaga menduga kalau Syafina sudah memiliki kekasih.
"Ya sudah, terserah Mama dan Papa. Tapi, Laga bukan berarti setuju dengan niat Papa yang mau jodohin Laga. Laga tetap tidak mau dijodohkan, meskipun anak leting Papa itu punya prestasi segudang," kilahnya sambil menekuk mukanya menjadi kusut.
"Alah, sekarang kamu bisa ngomong kayak begitu. Setelah ketemu pasti kepincut dan ingin kenalan lebih jauh. Meskipun dia masih muda, tapi pesonanya tidak kalah dengan Prita mantanmu itu, Ga. Lagian kamu belum punya gandengan lagi setelah putus dari Prita, kan?" ledek sang papa. Namun, di akhir kalimat sang papa justru menyinggung sebuah nama yang membuatnya sudah move on.
"Tolong... Papa jangan sebut nama itu lagi," tolaknya ia tidak suka mendengar nama dokter Prita disebut, karena akan membuka kisah lama antara dirinya dan Syapala yang hancur karena ulah Prita dan kebodohannya.
"Makanya dari itu, kamu harus mau bersilaturahmi dengan leting papa. Kalau tidak salah, kamu sempat jadi prajurit di bawah komandonya saat berdinas di Ajendam. Kamu tentu masih ingat, bukan?" seloroh Pak Erkana.
Erlaga mengerutkan kening dalam, ini yang menjadi rasa penasarannya. Siapa leting papanya yang pernah menjadi Komandannya saat ia berdinas di Ajendam sebelum ia berpindah satuan?
"Kolonel Andallas?" Hanya nama itu yang dia ingat. Namun, Erlaga tidak percaya kalau mantan Komandannya berkenan silaturahmi atau sampai tertarik melakukan perjodohan anaknya dengan anak teman satu letingnya.
"Tapi, mungkin saja. Yang nggak mungkin, masa iya leting Papa ini Pak. Dallas?" gumamnya masih belum yakin.
"Gimana?" tegur Pak Erkana, mengagetkan Erlaga yang sedang termenung.
"Gimana apanya maksud Papa?"
"Silaturahmi itu?"
"Terserah Papa, tapi Laga yakinkan, Laga tetap nggak mau pakai acara jodoh-jodohan. Laga mau cari sendiri jodoh Laga," ujarnya masih ogah-ogahan.
"Oh ya, coba Papa ceritakan sedikit kenapa leting Papa itu ingin menjodohkan anaknya dengan Laga?" lanjut Erlaga mencoba menelisik.
"Katanya kamu salah satu prajurit paling tampan dan banyak prestasi," ujar Pak Erkana diimbuhi senyum.
"Ahhh... Laga tetap nggak mau. Katakan saja Laga udah punya pacar. Beres, kan?" ujar Erlaga seraya bangkit dan berlalu.
Pak Erkana dan Bu Zahira saling lempar tatap, mereka geleng-geleng kepala melihat sikap Erlaga yang seolah tidak peduli dengan usaha mereka.
***
Di tempat berbeda, di kediaman rumah bercat hijau sage.
Dallas menghampiri Syafina yang saat ini sedang berada di balkon ruang tamu. Ia meraih bahu sang putri dengan penuh kasih sayang, di belakangnya Syafana mengikuti.
"Papa...." Syafina terlihat kaget dengan kedatangan Dallas. Lalu ia mengurai pelukan sang papa dan beralih ke kursi rotan di balkon itu. Dia menduduki kursi rotan diikuti Dallas dan Syafana.
"Pasti Papa dan Mama mau bahas perjodohan berkedok silaturahmi itu lagi, kan?" tebaknya. Wajahnya ditekuk sampai kusut.
Dallas menghela napas kasar. "Bukan perjodohan, tapi benar-benar silaturahmi. Kita sebagai manusia, wajib lho silaturahmi. Apalagi teman papa ini satu leting saat daftar Caba dulu."
"Iya, lalu kenapa?" balas Syafina.
"Nggak kenapa-kenapa. Papa hanya ingin silaturahmi papa dan teman papa tetap terjalin baik, sebab kami jarang bertemu muka. Kami saling rindu dan tiba-tiba terbersit ingin bertemu," jelas Dallas lagi.
"Hanya silaturahmi saja, kan?" yakin Syafina.
"Jelas dong, Sayang. Dan kalaupun antara kalian saling tertarik...."
"Fina nggak mungkin tertarik sama cowok lain Papa. Fina ingin punya suami yang baik seperti Papa. Dan perhatian sama keluarga," potong Syafina cepat.
Dallas dan Syafana saling lempar tatap.
"Nggak, nggak boleh yang seperti papa." Dallas menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Kenapa?"
"Karena, kamu harus memiliki suami yang jauh lebih baik dari papa," ralat Dallas. Hatinya kembali teringat masa lalu, yang masih tetap akan melekat diingatannya, bahwa ia bukanlah contoh suami yang baik.
"Terserah Papa saja. Tapi, ingat... Fina tetap nggak mau dijodohkan, apalagi belum jelas seperti apa laki-laki itu," respon Syafina sambil berlalu.
Namun diam-diam, hati kecil Syafina justru teringat kembali dengan seorang pria bertubuh atletis yang ia temui di pujasera dan kedai bakso tempo hari.
Ini pertama kali Syafina muncul perasaan suka terhadap pria. Sebab pria itu memang memiliki beberapa tipenya.
"Dia tampan seperti Papa muda dulu." Syafina membatin.