Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN BERDARAH DI PASAR GELAP
Jakarta tidak pernah tidur, tapi kota ini punya cara sendiri untuk pingsan di distrik-distrik yang tidak pernah masuk dalam brosur pariwisata.
Di gang gang kecil sempit itu yang baunya campuran antara oli bekas dan air kencing, cahaya neon redup dari kedai kopi Elara adalah satu-satunya tanda kehidupan.
Kenzo duduk di pojok ruangan, hoodie hitamnya masih menyisakan bau belerang dari The Forgotten Tombs. Di depannya, layar holografik yang dipasang Elara berkedip kedip seperti club malam, menampilkan wajah Yudha yang pucat pasi di atas ranjang rumah sakit. Judul beritanya bombastis: "TRAGEDI KAWAH PURBA: PEWARIS NAGA PERAK JADI MANUSIA BIASA."
Kenzo menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Pahit, tapi tidak sepahit rasa haus di tenggorokannya yang terus meminta Mana tambahan. Di sampingnya, jari jari mungil Elara bergerak kesetanan di atas keyboard virtual, mengirimkan barisan kode untuk menghapus sisa sisa rekaman satelit yang mungkin menangkap bayangan motor mereka.
"Gila lo, ya Ken. Emang Bener bener gila," gumam Elara tanpa menoleh. Keringat tipis mengalir di pelipisnya, membuat beberapa helai rambut pirang pucatnya menempel.
"Klan Naga Perak itu kayak sarang lebah cok. Dan lo bukan cuma nyodok sarangnya, lo ngebakar ratunya. Lo tau berapa banyak pembunuh bayaran yang bakal dikirim buat nyari 'Hunter Bayangan' ini?" geram elara.
Kenzo meletakkan cangkirnya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke bahu Elara. Dia bisa mencium aroma stroberi dari sampo gadis itu, bercampur dengan bau panas dari mesin server.
"Biarin aja mereka nyari, El," bisik Kenzo tepat di telinga Elara, membuat gadis itu berjengit. "Asal lo bisa jaga mulut cantik lo ini, mereka cuma bakal dapet angin. Lagian, makin banyak yang dateng, makin banyak mangsa buat gue juga kan?"
"Jangan deket deket njir, mesum lo!" Elara menyikut perut Kenzo dengan keras, tapi wajahnya memerah.
"Gue lagi kerja demi keselamatan nyawa lo yang nggak seberapa itu!"
"Nyawa gue emang murah, tapi perlindungan gue mahal, El," Kenzo menyeringai, matanya sekilas melirik ke arah dada Elara yang naik turun karena kesal di balik kaus ketatnya. "Gue rela kok jagain lo tiap malam, gratis. Bonus liatin pemandangan indah kayak sekarang ini hehe."
"Kenzo! Fokus, Lo bajingan!" Elara membanting tabletnya ke meja. "Kita punya masalah baru ini. Sindikat Cobra. Si Tangan Besi, Viktor. Dia tau lo punya Inti Shadow Wolf. Dan tebak apa? Dia baru aja nyita semua barang lelang gue. Dia pengen kita dateng ke The Gilded Cage malam ini buat 'negosiasi'."
Kenzo berdiri, merenggangkan otot-ototnya yang berbunyi krek. "Negosiasi ya? Ok lah, Kode buat penjarahan massal. Baguslah, gue emang butuh pelampiasan si."
The Gilded Cage adalah jenis klub malam di mana lo bisa beli narkoba, senjata, atau nyawa manusia asalkan kantong lo tebel kek tumpukan buku di perpus.
Musik techno berdentum kencang di lantai bawah, menggetarkan lantai kaca yang di bawahnya terdapat kolam hiu hasil mutasi.
Di lantai paling atas, suasananya berbeda. Dingin dan pengap. Viktor, pria raksasa dengan lengan mekanis prototipe yang mengeluarkan uap panas, duduk di sofa kulitnya. Di tangannya, bola kristal hitam inti milik Kenzo berpendar redup.
"Cantik banget si," suara Viktor serak, kayak gesekan amplas di kayu. "Sayang banget broker kecil kayak lo harus megang barang yang bisa bikin satu distrik hancur, Elara."
Elara berdiri di tengah ruangan, tangannya terikat kabel baja ke belakang. Rambutnya berantakan, dan ada bekas merah di pipinya. "Lo bakal nyesel, Viktor. Pemilik aslinya... dia bukan orang yang suka barangnya dipinjam tanpa izin."
Viktor tertawa, tawanya terdengar seperti mesin rusak. "Siapa ya? Hunter peringkat Rank B yang lagi viral itu ya? Gue punya tiga orang peringkat Rank B+ loh di ruangan ini, dan tangan gue ini bisa nembus beton dalam sekali pukul. Suruh dia dateng. Gue butuh koleksi mayat baru buat pajangan di depan sono."
Detik itu juga, lampu di ruangan itu redup. Bukan mati total, tapi cahayanya seolah olah ditarik paksa masuk ke dalam bayangan di sudut ruangan. Musik dari lantai bawah berhenti mendadak, digantikan oleh kesunyian yang bikin kuping berdenging.
"Viktor," sebuah suara dingin muncul dari balik pilar. "Lengan lo ko bisa berisik banget. Boleh gue copot sekarang kaga si?"
"Siapa lo?! Keluar, lo bajingan!" teriak salah satu pengawal Viktor sambil mengarahkan senapan Mana nya ke arah bayangan.
Kenzo melangkah keluar. Dia tidak lari. Dia jalan santai, tangannya masuk ke saku hoodie, matanya berkilat emas di kegelapan. "Dragon's Sense" yang dia ambil dari Yudha bekerja sempurna dia bisa melihat jelas aliran Mana di senjata pengawal itu, titik lemah di leher mereka, bahkan detak jantung Viktor yang mulai naik.
"Tembak dia!" raung Viktor.
Peluru Mana berwarna biru melesat membabi buta. Kenzo bergerak, tapi tidak seperti manusia. Dia meliuk, seperti tulang belakangnya terbuat dari karet. Setiap peluru yang lewat hanya menyisakan uap panas di dekat telinganya. Dalam satu kedipan mata, dia sudah ada di belakang pengawal pertama.
"Extraction Weapon."
Kenzo mencengkeram laras senapan itu. Dalam hitungan detik, logam canggih itu berkarat, hancur jadi debu karena energinya disedot habis. Kenzo kemudian menghantamkan sikunya ke ulu hati pria itu.
KRAKK.
Suara tulang rusuk patah bergema jernih di ruangan itu.
"Satu," bisik Kenzo.
Dia berpindah lagi. "Shadow Movement." Setiap kali dia menghilang, satu pengawal tumbang dengan cara yang lebih brutal leher yang diputar, rahang yang hancur, atau jantung yang berhenti mendadak karena tekanan Mana Pressure.
Dalam kurang dari satu menit, Viktor tinggal sendirian. Sepuluh anak buahnya tergeletak di lantai, menumpuk dengan air akuarium yang pecah karena hantaman tubuh salah satu dari mereka.
Viktor berdiri, lengan mekanisnya berdengung hebat, memancarkan listrik merah yang bau ozon. "Bocah ingusan! Gue bakal bikin lo jadi bubur!"
Viktor menerjang. Pukulan raksasanya menghantam meja marmer hingga hancur jadi butiran debu.
"Thunder Crush!"
Kenzo melompat mundur, mendarat di atas sofa dengan santai. "Lengan yang begitu mahal, Viktor. Tapi sayang, Mana nya kok kotor banget si. Lo pasti dapet barang refurbished ya njir?"
"Bacot lo!" Viktor menyerang lagi, membabi buta.
Kenzo tidak lagi menghindar. Dia maju. Dia menangkap lengan mekanis yang membara itu dengan kedua tangannya. Suara kulit terbakar terdengar mendesis, tapi Kenzo tidak berteriak. Dia malah tersenyum sinis, menatap langsung ke mata Viktor yang mulai ketakutan.
"Panasnya lumayan buat ngangetin kopi," gumam Kenzo. "Mana Extraction Targeted Mode."
Lampu merah di lengan Viktor berkedip cepat, lalu redup. Viktor bisa merasakan Mana pribadinya ditarik keluar lewat lengannya sendiri. Rasanya seperti jiwanya sedang diparut.
"Lepasin! Bajingan, apa yang lo lakuin?!" Viktor meronta, tapi tangan Kenzo seolah sudah menyatu dengan besi itu.
BOOM!
Lengan mekanis itu meledak karena kehabisan daya secara mendadak, melempar Viktor ke dinding hingga pingsan dengan tubuh yang mengecil karena Mana nya ludes.
Kenzo berjalan tenang, mengambil inti Mana nya yang terjatuh di karpet. Dia mendekati Elara, lalu memotong kabel bajanya dengan belati bayangan.
"Lo telat lima menit, mesum," Elara mendesis, meski matanya berkaca kaca karena lega.
Kenzo tidak menjawab dengan kata kata. Dia justru menarik Elara ke dalam pelukannya, mendekap pinggang gadis itu dengan posesif.
"Maaf ya, cantik. Tadi gue mampir bentar beli kopi. Tapi kayaknya ngeliat lo gemeteran gini jauh lebih menarik daripada kopi mana pun hehe." jawab Kenzo.
"Lepasin, bego! Banyak mayat di sini!" Elara mencoba mendorong, tapi pipinya sudah sewarna tomat.
Kenzo tertawa pelan, lalu membisikkan sesuatu di leher Elara. "Nanti malem, di markas, gue minta bayaran ya. Bukan pake duit, tapi pake... lo tau lah."
"Kenzo sialan!" umpat elara.
Kenzo melepaskan pelukannya, lalu menatap Viktor yang sekarat. "Inget ya, pak tua. Jangan pernah sentuh apa yang jadi milik gue. Baik itu barang, atau cewek gue. Kalau nggak, gue bakal ekstrak nyawa lo sampe lo lupa gimana caranya berak."
Kenzo memutar kunci motornya di luar klub, suaranya menderu membelah malam Jakarta yang basah oleh hujan. Di belakangnya, Elara memeluk pinggang Kenzo dengan sangat erat kali ini bukan karena takut jatuh, tapi karena sesuatu yang lain.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Elara keras keras di balik helmnya.
"Ke tempat yang nggak ada CCTV nya lah, El," sahut Kenzo dengan nada menggoda. "Gue butuh hadiah karena udah jadi pahlawan malam ini, kan ya?"
[Ding! Level Meningkat: Lv.25]
[Skill Baru: Electrical Overload.]
Mata Kenzo berkilat keemasan di bawah lampu jalanan. Perang besar dengan Naga Perak baru saja dimulai, tapi malam ini, dia hanya ingin menikmati kemenangannya bersama satu satunya orang yang masih menganggapnya manusia.
"Siap-siap, El. Besok, dunia bakal makin berisik keknya."