NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Romansa / Cintapertama
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resepsi Sederhana

Acara resepsi sederhana itu tetap dipadati banyak tamu. Para kyai sudah hadir, tamu kehormatan dari Kyai Abdul Hamid turut memeriahkan suasana, begitu pula keluarga besar serta para gus dari pondok-pondok lain. Meski tanpa dekorasi berlebihan, suasana ndalem terasa khidmat dan hangat, penuh doa serta senyum tulus.

Azzura keluar dari kamar dengan langkah pelan. Gaun yang ia kenakan sederhana, namun justru di situlah letak keindahannya. Ia mengenakan gaun putih gading berbahan satin doff yang jatuh lurus, dipadukan dengan brokat halus di bagian lengan dan dada, tanpa payet berlebihan. Potongannya longgar dan anggun, menyatu dengan kerudung senada yang menjuntai lembut hingga dada. Riasannya tipis, natural—hanya menegaskan mata bening dan senyum teduhnya. Tak berlebihan, tapi memikat.

Sementara itu, Abidzar berdiri tak jauh dari sana. Ia mengenakan setelan jas hitam polos dengan potongan rapi, dipadukan kemeja putih bersih tanpa motif dan sarung tenun gelap yang dililit sederhana, khas santri pondok. Peci hitam bertengger sempurna di kepalanya. Penampilannya bersahaja, namun wibawanya tak terbantahkan.

Tatapan Abidzar sejak tadi tak pernah lepas dari Azzura. “Cantik banget sih,” gumamnya pelan.

Tangan Abidzar refleks menarik pinggang istrinya, memeluknya dengan posesif.

“Mas!” Azzura menepuk lengannya pelan.

“Aku… aku gak bisa lihat kamu kayak gini,” ucap Abidzar jujur. “Aku gak mau istri aku dilihatin banyak orang.”

“Ih Mas,” protes Azzura lirih, “ini kan cuma acara sederhana. Kalau sederhana aja kamu posesif begini, gimana kalau acaranya besar?”

“Maka dari itu…” Abidzar mendekatkan wajahnya, berbisik, “pakai cadar mau nggak?”

“Hah?” Azzura menatapnya kaget.

“Untuk hari ini aja, Zuyaa… mau ya?” Nada suara Abidzar melembut, hampir seperti memohon.

“Tapi—”

“Aku gak mau kecantikan kamu dilihatin banyak orang, sayang. Hari ini kamu cantik banget loh.”

Azzura menyipitkan mata. “Jadi kemarin-kemarin aku gak cantik? Biasa aja gitu?”

“Ya ampun,” Abidzar terkekeh, “kemarin juga cantik banget. Mana ada yang biasa. Tapi hari ini tuh beda… mau ya, sayang?”

“Gak,” jawab Azzura mantap.

Abidzar menghela napas panjang, pura-pura pasrah. “Yaudah. Aku tunggu di bawah ya.”

Ia lalu menatap wajah Azzura dengan serius. “Tapi aku minta satu hal.”

“Apa?”

“Lipstiknya jangan merah-merah.”

“Iya, iya, bawel,” sahut Azzura sambil tersenyum, membuat Abidzar kembali terdiam—lagi-lagi jatuh cinta pada istrinya sendiri.

Ketika Abidzar sudah berada di bawah, suasana ndalem mulai ramai. Para tamu berdatangan, obrolan pelan bercampur salam dan doa. Di dekat pintu utama, Umi Hafiza dan mertuanya, Umma Arsyila, sudah menunggunya.

Abi dan Abah Abidzar tampak sibuk menemani Kyai Abdul Hamid, menyambut para tamu kehormatan yang hadir satu per satu.

Umi Hafiza menoleh ke arah Abidzar. “Nak, istrimu mana?”

“Masih di atas, Umi.”

Umi Hafiza mengernyitkan kening. “Ih, atuh gimana sih. Harusnya diajak sekalian.”

Umma Arsyila tersenyum lembut. “Gapapa, Fiza. Biar aku saja yang ke atas. Boleh kan, Nak?”

“Tentu dong, Umma,” jawab Abidzar sopan.

Tak lama kemudian, Azzam mendekat dan berdiri di samping Abidzar. “Gilaaa... Bro satu ini keliatan wibawa tapi deg degan gak?"

Abidzar terkekeh kecil. “Lebih deg-degan lihat istriku nanti turun.”

“Wajar,” sahut Azzam sambil menepuk bahu Abidzar. “Namanya juga suami bucin.”

Sementara itu, di lantai atas, Umi Hafiza dan Umma Arsyila melangkah memasuki kamar. Keduanya terdiam seketika saat melihat Azzura berdiri di depan cermin.

Azzura mengenakan cadar.

Umi Hafiza refleks menutup mulutnya, matanya membesar. “Masya Allah…”

Umma Arsyila bahkan sempat tertegun beberapa detik. “Ini… ini beneran Zura? Putri Umma yang cerewet itu?”

“Ummaaa…” Azzura merajuk pelan.

“Masya Allah,” Umma Arsyila tersenyum haru. “Kok malah makin cantik pakai cadar.”

Umi Hafiza mendekat, menatap mata Azzura yang bening. “Cantik banget, sayang.”

“Zura,” tanya Umi Hafiza lembut, “kenapa pakai cadar?”

Azzura menunduk malu. “Mas Abidzar yang minta, Umi.”

Umi Hafiza terkekeh kecil. “Masya Allah. Pasti dia posesif ya?”

Azzura mengangguk pelan. “Ya… begitulah, Umi.”

“Alhamdulillah,” sahut Umma Arsyila. “Menantu Umma memang tipe yang gak mau kecantikan istrinya dilihat banyak orang.”

“Tapi, Arsyi,” lanjut Umi Hafiza sambil tersenyum bangga, “Zura pakai cadar malah makin cantik. Matanya itu loh, mirip kamu.”

“Sudah, sudah,” Umma Arsyila tertawa kecil. “Nanti menantu kamu bisa terbang kalau dipuji terus.”

“Iya, iya,” balas Umi Hafiza sambil tertawa.

Azzura menghela napas kecil. “Umma, Abi di mana?”

“Di bawah, Nak. Lagi menemani Gus Alif menjamu tamu.”

“Oke, Umma.”

Mereka pun turun bersama. Azzura diapit—di kanan Umma Arsyila, di kiri Umi Hafiza.

Begitu mereka sampai di bawah, suasana seketika hening. Pandangan semua orang tertuju pada Azzura. Beberapa tamu refleks berucap lirih, “Masya Allah…”

Abidzar yang berdiri tak jauh dari sana ikut terdiam. Matanya membulat, bibirnya terbuka sedikit. Ia salah besar jika mengira cadar akan menyamarkan kecantikan istrinya. Justru sebaliknya. Azzura terlihat semakin anggun dan mempesona.

“Masya Allah, Kyai,” ujar salah satu ustadz dari pondok lain. “Istri dari cucu Kyai sangat cantik ya. Pakai cadar saja sudah terlihat cantik, bagaimana kalau—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Abidzar sudah menoleh tajam. Ia melangkah mendekat, suaranya tegas namun tetap terjaga.

“Dia istri saya,” ucapnya dingin. “Jadi jangan membayangkan apa pun tentang wajahnya. Permisi.”

Ustadz itu tersentak. “Maaf, Gus… maaf, Kyai.”

Abidzar menatapnya sekali lagi. “Anda ustadz. Saya harap pandangannya dijaga.”

“Iya, Kyai. Maafkan saya.”

Abidzar kembali ke sisi Azzura, menunduk sedikit dan berbisik, “Maaf ya, sayang. Ternyata cadar pun gak bisa menyembunyikan kecantikan kamu.”

Azzura hanya menunduk, matanya tersenyum. "Siapa suruh minta aku pakai cadar weee."

"Yaaa tapi setidaknya orang yang belum tau kamu tidak tau wajah kamu."

***

Resepsi itu benar-benar sederhana. Tak ada kemewahan, tak ada hiruk-pikuk yang berlebihan. Semuanya mengalir apa adanya. Justru kesederhanaan itulah yang membuat suasana terasa hangat dan sakral.

Beberapa tamu sempat saling berbisik. Mereka membayangkan pesta besar dan megah—maklum saja, Abidzar adalah cucu seorang kyai besar, sementara Azzura adalah putri dari seorang ayah yang memiliki perusahaan besar. Namun dugaan itu patah begitu mereka melihat sendiri. Yang tersaji hanyalah syukuran penuh ketulusan.

Dan Azzura tidak peduli akan semua ekspektasi itu.

Baginya, cukup sudah.

Ia berdiri di sisi Abidzar, matanya menelusuri sekeliling. Ia melihat Ummanya tertawa lepas bersama para sahabat lamanya, seolah kembali muda. Ia melihat Abinya yang larut dalam obrolan dengan para ulama dan kyai—wajahnya tenang, bahagia. Ia juga melihat kakek Abidzar duduk di kursinya, dikelilingi orang-orang yang menghormatinya, di usia yang sudah begitu lanjut.

Itu saja sudah lebih dari cukup.

Abidzar sejak tadi nyaris tak beranjak dari sisinya. Tangannya kerap berada di dekat Azzura, seolah memastikan istrinya benar-benar ada di sana. Namun kali ini, ia harus pergi sebentar.

“Sayang, Mas tinggal sebentar ya,” ucap Abidzar pelan. “Mas titip kamu sama Azzam."

Azzura mengangguk. “Iya, Mas.”

Begitu Abidzar berlalu, Azzam langsung menyenggol bahu adik kembarnya. “Abang gak mau puji adik Abang ini?”

“Puji apaan?” jawab Azzam santai.

“Puji cantik, dong.”

Azzam meliriknya sekilas. “Kan emang selalu cantik.”

“Hadeh… datar banget punya kembaran,” gerutu Azzura.

Azzam tersenyum kecil, lalu menarik Azzura ke dalam pelukan singkat. “Abang senang, kamu sekarang bahagia. Abang harap kamu selalu bahagia ya. Walaupun kamu cerewet, tukang makan, tapi kamu selalu cantik, Zura.”

“Aish… manis banget nih,” Azzura menyeringai. “Tumben.”

“Hadeh. Giliran Abang sweet, kamu ledekin.”

“Hehehe, maaf. Makasih ya, Bang,” Azzura tersenyum tulus. “Abang kapan nyusul aku?”

Azzam mengangkat bahu. “Masih lama. Belum lulus kuliah. Ilmu masih kurang. Mana mau ada yang mau sama Abang?”

“Hei, banyak tau!” protes Azzura cepat.

Belum sempat Azzam menjawab, suara teriakan kecil menyentak perhatian Azzura.

“ZURAAAAA?!”

Azzura menoleh, matanya membulat. “YA ALLAH!”

Ia memekik kaget sekaligus bahagia. Empat sosok itu berdiri tak jauh darinya—Rachel, Sania, Erna, dan Hilda. Sahabat-sahabatnya dari Jakarta. Yang sama sekali tidak ia sangka akan hadir.

Mereka langsung berhamburan mendekat, memeluk Azzura bergantian. “Kita sengaja dateng!” seru Sania.

“Masa sahabat kita nikah gak dateng sih" timpal Erna.

“Selamat ya Bu Nyai,” goda Hilda.

Azzura tertawa sambil menahan haru. “Aku kira kalian gak bisa datang…”

“Mana mungkin,” sahut Rachel pelan.

Sementara itu, Azzam perlahan melangkah mundur, memberi ruang untuk adiknya dan para sahabatnya. Namun tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi mengikuti geraknya.

Rachel.

Tatapan Rachel sempat tertahan pada Azzam. Ada rasa penasaran yang tak ia pahami sendiri. Namun Azzam tetaplah Azzam—tenang, fokus pada dunianya sendiri, dan sama sekali tak menyadari bahwa dirinya selalu menarik perhatian seseorang.

Keempat sahabat itu masih berdiri mengelilingi Azzura, tawa mereka belum juga reda.

“Widih… bisa gak ya aku di sini dapet jodoh spek kayak suami kamu, Zura?” Sania celingukan, matanya terang-terangan menyapu area. Banyak ustadz muda dan para Gus berlalu-lalang. “Masya Allah… auranya beda-beda semua.”

“Hei, jaga pandangan!” tegur Rachel cepat sambil menyikut lengan Sania.

“Ah Rachel mah ngomong doang,” sahut Erna sambil terkikik. “Pandangannya dari tadi cuma ke satu arah doang. Noh—si Azzam.”

Seketika tawa pecah.

Rachel refleks memerah. “Erna ih!”

“Udah deh, Rachel,” Hilda ikut menimpali dengan nada santai tapi serius. “Kalau kamu suka sama Azzam, mending ungkapin aja. Urusan dibalas atau nggaknya belakangan.”

Azzura langsung mengangkat telunjuk. “Hei, abang aku gak pacaran ya.”

“Iya, Ra, aku tau,” Hilda mengangguk. “Maksud aku bukan ngajak pacaran. Biar Rachel lega aja. Dipendem terus capek juga.”

Azzura melirik Rachel, wajahnya melembut. “Aku cuma takut kamu sakit hati.”

Rachel tersenyum kecil, agak gugup. “Gapapa, Ra. Aku juga gak berharap apa-apa kok. Kayaknya… buat ngungkapin perasaan aja udah butuh nyali gede.”

Sania mengangguk setuju. “Minimal jujur sama diri sendiri dulu.”

Sementara itu, di sisi lain halaman ndalem, Azzam berdiri berhadapan dengan Abidzar. Nada suara mereka lebih rendah, tapi ekspresi Azzam terlihat jauh lebih terbuka dari biasanya.

"Bid, aku mau cerita sesuatu

Abidzar menoleh cepat. “Apa Zam? Kayaknya serius banget."

Azzam menghela napas singkat. “Aku mulai tertarik dengan seseorang..."

Abidzar terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. "Siapa perempuan yang beruntung itu?"

"Aiissshh dengar dulu."

Lalu Azzam mulai bercerita, sesekali mengangguk.

Abidzar cukup kaget karena ini pertama kali Azzam bicara mengenai seorang perempuan.

Dan Abidzar yakin perasaan yang dimiliki Azzam bukan sesuatu yang biasa.

Dari kejauhan, Azzura sempat melirik. Alisnya berkerut tipis melihat raut wajah Abidzar dan Azzam yang tampak serius. Ngomongin apa sih mereka? batinnya penasaran.

Tak lama kemudian, keempat sahabat Azzura berpamitan.

“Zura, kita balik ke hotel dulu ya. Besok pagi langsung pulang,” ujar Sania sambil memeluk Azzura sekali lagi.

“Makasih banyak ya,” Azzura menahan haru. “Kalian udah jauh-jauh dari Jakarta.”

“Wajib,” Erna tersenyum. “Nikahan kamu soalnya.”

Mereka juga pamit pada Umma Arsyila, saling mencium tangan dengan sopan. Setelah itu, langkah mereka melewati Azzam yang berdiri tak jauh.

Rachel berhenti sejenak. “Zam, aku pamit ya.”

Azzam menoleh singkat. “Iya. Makasih sudah hadir.”

“Iya… sama-sama,” jawab Rachel pelan.

Hanya itu. Tak ada tatapan lanjutan, tak ada usaha menahan langkah. Azzam kembali menatap lurus ke depan, seolah percakapan itu hanyalah basa-basi biasa.

Rachel melangkah pergi dengan perasaan campur aduk.

Di saat yang hampir bersamaan, Abidzar sudah kembali ke sisi Azzura. Tubuhnya sedikit maju, posisinya jelas protektif. Matanya tajam ketika melihat seseorang mendekat.

“Gus Aufar,” sapa Abidzar singkat.

Gus Aufar tersenyum lebar, paham betul gelagat sepupunya itu. “Santai, Bid. Aku cuma mau nyapa istrinya.”

Azzura tersenyum sopan. “Assalamu’alaikum, Gus.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Gus Aufar. Lalu melirik Abidzar dengan senyum menggoda. “Tenang aja. Aman. Istrimu tetap di tempat.”

Abidzar mendengus pelan, sementara Azzura menahan senyum.

Gus Aufar tertawa kecil melihat ekspresi Abidzar yang masih siaga di samping Azzura.

“Bid, dari dulu sampai sekarang nggak berubah ya,” godanya. “Masih aja posesif.”

Abidzar menoleh singkat. “Namanya juga suami.”

“Siap, siap,” Gus Aufar mengangkat tangan tanda menyerah. “Aku cuma mau bilang… acaranya hangat. Bukan sekadar nikahan, tapi rasa kekeluargaannya dapet banget.”

Azzura tersenyum tulus. “Terima kasih, Gus. Itu memang yang kami harapkan.”

Gus Aufar mengangguk, lalu pamit setelah berbasa-basi sebentar dengan Abidzar. Begitu sepupunya itu menjauh, Abidzar langsung mencondongkan tubuh ke arah Azzura.

“Kamu kenapa tadi melirik ke arah aku sama Azzam?” tanyanya pelan, nada suaranya terdengar santai tapi jelas penasaran.

Azzura mengedikkan bahu. “Penasaran aja. Keliatan serius.”

Abidzar tersenyum tipis. “Abang kamu lagi mikir keras.”

“Mikir apa?”

"Ada deh. Urusan laki-laki."

"Mas Ih, nyebelin banget!"

Bukan Abidzar tidak ingin cerita pada istrinya. Abidzar sudah dari kecil berteman dengan Azzam dan baru kali ini ia menceritakan seorang perempuan lain selain Umma dan Azzura. Dan bagi Abidzar, belum saatnya.

***

Arsyila, Hafiza, Iffah, Dania, dan Arfa duduk melingkar di sudut ndalem. Teh hangat dan camilan sederhana tersaji di tengah mereka. Tawa kecil sesekali pecah, menandai nyaman dan akrabnya kebersamaan itu.

Hafiza tersenyum lebar. “Rasanya tuh… lama banget ya kita gak duduk bareng begini. Lengkap.”

Arsyila mengangguk pelan. “Iya. Dulu masih ribet ngurus anak kecil, sekarang satu per satu sudah besar. Bahkan anak aku dan Fiza yang sudah menikah. Jodoh mereka."

Dania melirik ke arah Azzura dan Abidzar yang tampak dari kejauhan. “Dan nikahnya adem banget. Jujur, aku terharu.”

Iffah tersenyum lembut. “Kesederhanaannya itu yang bikin nyentuh. Bukan soal mewah atau tidak, tapi rasa syukurnya.”

Arfa menyeruput tehnya. “Aku dari tadi merhatiin tamu-tamu. Banyak yang kelihatan nyaman. Datang, ngobrol, ketawa. Nggak kayak acara formal yang bikin orang canggung.”

Hafiza terkekeh. “Itu karena yang punya hajat juga nggak ribet. Zura memang dari dulu begitu.”

Arsyila menarik napas pelan. “Aku sebagai umma-nya… cuma minta satu. Semoga rumah tangga mereka tenang, saling jaga, dan saling menguatkan.”

Dania mengangguk setuju. “Aamiin. Dan Abidzar kelihatan bener-bener jagain Zura. Dari tadi nempel terus.”

Iffah tersenyum sambil menutup mulut. “Posesifnya kelihatan, tapi caranya halus.”

Arfa tertawa kecil. “Yang penting niatnya baik. Lagian, kalau istrinya sebercahaya itu, wajar dijagain.”

Hafiza menatap mereka satu per satu. “Kadang aku mikir, ya. Allah baik banget. Dulu kita cuma bisa berdoa buat anak-anak kita. Sekarang kita lihat sendiri jawabannya.”

Arsyila tersenyum haru. “Iya. Malam ini bukan cuma resepsi. Ini hadiah.”

Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum. Tanpa perlu kata-kata lagi, kebersamaan itu sudah cukup menjelaskan segalanya.

Di sisi lain, “Terima kasih, Ustadz, karena telah mempercayakan putra saya, Abidzar, untuk menjadi suami bagi Azzura. Mohon maaf bila acaranya jauh dari kata mewah atau tidak sesuai dengan bayangan Ustadz.”

Ustadz Athar tersenyum lembut, lalu menggeleng pelan. Tatapannya tenang, penuh keyakinan.

“Tidak perlu meminta maaf,” jawabnya hangat. “Sejak awal, saya tidak menitipkan Azzura pada kemewahan, melainkan pada akhlak, tanggung jawab, dan iman.”

Ia melanjutkan dengan suara yang lebih dalam, sarat makna.

“Bagi saya, acara seperti ini justru yang paling indah. Sederhana, tidak memberatkan, dan penuh keberkahan. Kemewahan bisa pudar, tapi niat yang lurus dan doa orang-orang yang tulus—itulah yang akan menguatkan rumah tangga mereka.”

Ustadz Athar tersenyum kembali. “Terima kasih karena telah mendidik Abidzar dengan baik. Saya titipkan Azzura pada kepemimpinan dan kasih sayangnya. Semoga Allah menjaga pernikahan mereka, menenangkan langkah mereka, dan menjadikan keluarga ini sakinah, mawaddah, wa rahmah.”

1
syora
masyallah prjuangan bumil
zuya lnh mirip umi hafiza saat awl hamil
ya allah semoga kluarga kcil ini sllu dlm lindnganMu.amiin
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh bumil satu ini
Siti Java
lanjut kk
cutegirl
dimana aku hrus menemukan suami sprti abidzar😍😭
Anak manis
hahha🤣
darsih
qkwkwkwkwkwkk
AUra ga bisa ngerjain lg nih suami nya uda tau klo ngidam nya pira2 😀😀😀
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya ketahuan deh
No Nong
moga² kembar 3 deh anakya
Anak manis
bikin kembar dua perempuan,biar abid mkin pusing🤣
syora
😭alhamdulillah udah mndingan zuya nggak mrh
zuya srpemikiran dgn umma arsyila dlm wktu dnyatakan hamil,smoga slmat pei debay lhir,apapun kdpnnya cobaan yg akn ada smoga psangan muda ini bisa sling mlngkapi st sm lain
jd ortu apa lgi dlm usia muda pasti bnyak rintangan,insyallah dgn adanya kluarga dan org" skitar yg mndukung dan mnemani smua akn brjln sesui hrpn
darsih
wkwkwkwkwkwk
dasar zura polos banget
syora
🤣🤣🤣🤣ya allah baru kali ini loh lihat dpt kbr hmil jadi tulalit ya allah zuya
mksih kay kmu tuh mski dingin tp positif thinking👍👍👍
Siti Java
yah... gantung kk....
lanjut dong kk🥰🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kocak banget zuya sama kayla
Taro
love sekebon thorrrrr...ceritanya menarik ♥️♥️♥️
Nifatul Masruro Hikari Masaru
jangan lama-lama ya marahnya zuya. abid juga jauhin si anita itu demi kesejahteraan rumah tangga mu
Siti Java
kk malam up ge dong kk🙏🙏, nunggu besok lama kx kk.... 🤣makin seru cerita y🥰🥰
anakkeren
up. lagi 🤭
Siti Java
lanjut kk🥰🥰
Anak manis
sabar ya abid🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!