Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Kuda
"Sebenarnya aku ada di mana sih,? Jangan bilang aku terlempar ke dunia Zaman kuno,? bentar deh, bukan nya tadi aku ada di ruang perpustakaan kakek ya, lalu aku seperti tersedot oleh cermin besar itu dan tiba-tiba sudah berada di hutan, dan ketemu orang-orang dengan pakaian seperti China Jaman dulu, wooahahahahaha ini nyata dong." batin Ceni sumringah.
Emang agak lain memang Ceni ini, bukan nya takut ia malah sumringah terlempar ke Zaman kuno.
"Nona, nona, apa nona baik-baik saja.?" Ucap ibu tersebut sambil menggoyangkan lengan Ceni.
Seketika Ceni pun tersadar dan tersenyum kikuk.
"Maaf bibi, aku hanya terkejut." Ucap Ceni cengengesan.
"Oh baik lah Nona, kalau begitu saya permisi, mungkin putri saya sudah menunggu." Ucap ibu-ibu tersebut pamit.
Ceni pun mempersilahkan dan mengangguk.
"Kalau ucapan bibi itu benar, aku harus mengganti pakaian ku, pakaian ini juga membuat dingin, dan juga aku terasa aneh kalau berpakaian seperti ini." Gumam Ceni menelisik pakaian nya, walaupun baju nya agak longgar tapi rasa dingin terasa menusuk ke dalam tulang.
Ceni pun menjauh dari kerumunan orang-orang lalu ia pun mengeluarkan setelan hanfu dengan warna Biru muda dari ruang penyimpanan yg sempat ia lihat waktu itu dengan hanfu yg memenuhi ruang penyimpanan tersebut.
Setelah Ceni berpakaian dengan layak dan menggunakan jubah tebal, kini tubuh nya terasa lebih hangat dan nyaman, tak lupa Ceni juga mengeluarkan sekantong koin emas dan beberapa tael emas untuk jaga-jaga kebetulan hanya itu yg ia punya di ruang penyimpanan, Ceni sempat menduga-duga bahwa alat pembayaran Nya pasti menggunakan koin atau tael.
Ceni pun berjalan kembali ke arah kerumunan orang-orang untuk mencari makanan yg dapat ia makan.
Ceni pun berjalan menuju dimana penjual bapao berada.
"Paman aku mau bapao nya 3 ya.?" Ucap Ceni.
"Mau yg pakai daging atau tidak nona.?" Ucap penjual.
"Mau yg ada daging nya." Ucap Ceni lagi.
Pedagang bapao itu pun mengemas pesanan Ceni dengan Cekatan.
"Ini nona, harga nya 3 keping perak." Ucap pedagang tersebut.
"Uhuk uhuk, apa,? Kenapa murah sekali.?" Ucap Ceni terbatuk karena tersedak air ludah nya sendiri karena mendengar harga nya.
"Murah,? Padahal sebagian orang bilang bapao saya mahal nona." Ucap Pedagang tersebut menggaruk tengkuknya yg tidak gatal itu.
"Baiklah tidak apa-apa, ini paman." Ucap Ceni memberikan satu koin emas.
"No_nona, ini terlalu banyak nona, saya tidak punya kembalian." Ucap Pedagang tersebut dengan susah payah menelan air ludah nya.
"jangan di beri kembalian, ambil saja paman." Ucap Ceni sambil menikmati bapao tersebut yg ternyata sangat enak.
"Terimakasih, terimakasih nona." Ucap nya menunduk kan kepala nya senang dengan senyum sumringah.
Ceni pun mengangguk lalu pergi dari hadapan paman penjual bapao itu.
.
Setelah puas berkeliling dan menikmati berbagai kuliner pasar malam itu, kini Ceni sedang kebingungan untuk mencari tempat penginapan.
Lama ia berjalan dan akhirnya ia melihat papan nama yg bertuliskan tempat penginapan.
Senyum kecil pun terbit di bibir nya, dengan langkah anggun dan tegas nya, Ceni pun berjalan memasuki penginapan tersebut.
"Permisi, apakah masih ada kamar kosong.?" Ucap Ceni pada seseorang yg duduk di meja panjang layak nya meja resepsionis di jaman modern.
"Oh selamat datang di penginapan kami nona, kebetulan masih ada kamar kosong, untuk menginap bayar di awal." Ucap nya.
Ceni pun mengangguk lalu membayar harga yg sudah di ucapkan pengurus penginapan tersebut.
gadis tersebut pun mengantarkan Ceni ke kamar yg akan Ceni gunakan untuk menginap.
"Silahkan nona, ini kamar anda." Ucap nya.
"Terimakasih." Ucap Ceni.
Setelah kepergian gadis tadi, Ceni pun memasuki kamar tersebut.
"Hem tidak terlalu buruk." Gumam Ceni.
Setelah membersihkan diri, Ceni pun mulai beristirahat di di kasur yg sangat jauh dari kata empuk tersebut.
"Gak apa-apa deh gak empuk yg penting bisa tidur." gumam Ceni.
.
.
Keesokan hari nya, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Ceni pun keluar dari kamar nya untuk sarapan di penginapan tersebut.
Walaupun penginapan itu tidak terlalu besar, tapi mereka juga menyediakan sarapan untuk para pelanggan nya.
Ceni pun memilih duduk di Pojok dekat jendela yg seperti pagar itu sambil melihat ke arah luar yg sudah ramai dengan orang berlalu lalang, ada yg berdagang dan juga yg sedang menggendong keranjang besar, dan adapula pengemis di pinggir jalan.
"Huh ternyata begini ya Suasana pagi hari jaman kuno, sungguh memprihatinkan." Gumam Ceni yg hanya dapat di dengar oleh diri nya sendiri.
"Ara seandainya kamu ada di sini, pasti aku akan mengajak mu keliling dunia ini, itu kan cita-cita mu dari dulu." Gumam nya lagi sambil tersenyum kecil mengingat dulu betapa antusiasnya Ara ingin keliling dunia, tapi semua itu tidak pernah kesampaian di sebabkan ia telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini.
.
Setelah menghabiskan sarapan nya, Ceni pun keluar dari penginapan tersebut.
"Ini jaman kuno kan,? Apakah ada orang jual kuda ya, setau ku kalau di jaman ini pasti orang menggunakan kuda untuk tunggangan." Batin Ceni.
Ceni pun berjalan sambil menikmati suasana di desa tersebut.
Tak jauh dari Ceni berdiri, ia melihat Seorang pria paruh baya yg tampak nya sedang menjual kuda-kuda di tepi jalan, terbukti kala dia berusaha memberhentikan beberapa orang untuk membeli kuda nya.
Ceni pun berjalan mendekat ke arah penjual kuda.
"Em permisi paman, apakah kuda-kuda ini paman jual.?" Tanya Ceni.
"oh iya nona, saya sedang menjual kuda-kuda liar ini, tidak mahal kok nona, hanya satu keping emas saja." Ucap nya.
"Memang murah sih, untuk kuda-kuda sebagus ini." batin Ceni.
"Baiklah paman, aku akan memilih terlebih dahulu." Ucap Ceni.
"Silahkan nona." Ucap penjual kuda.
Pria paruh baya itu sama sekali tak melunturkan senyum nya kala ada seseorang yg mau membeli kuda hasil jeratan nya di hutan, sebab itulah ia bilang kuda tersebut adalah kuda Liar.
Ceni pun menelisik satu persatu kuda yg akan ia beli pilihan nya antara dua, kuda berbulu cokelat atau hitam.
Kuda Cokelat berbulu sedikit tebal terkesan agresif kaki nya kuat tapi Ceni tak yakin kuda tersebut bisa di ajak kerja sama.
Sedangkan kuda hitam terkesan tenang dan acuh, memiliki tubuh gagah dan otot kaki yg kuat, Ceni juga tak yakin kuda itu akan patuh.
"Hem aku bingung milih yg mana." Batin Ceni.
Kuda Cokelat meringkik sedangkan kuda hitam hanya mendengus.
"Paman aku mau kuda hitam." Ucap Ceni.
"Oh baik nona." Ucap penjual kuda lalu melepas kan tali ikatan nya lalu di berikan pada Ceni.
"Ini ya paman, terima kasih." Ucap Ceni membayar kuda nya.
"Tapi ini berlebihan nona." Ucap penjual kuda.
"gak apa-apa itu buat nambahin keperluan paman, nyari kuda gak gampang." Ucap Ceni.
"Kalau begitu terimakasih nona." Ucap penjual kuda membungkukkan badan nya.
Ceni pun mengangguk lalu menarik kuda hitam yg tampak acuh tadi.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪