Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kesunyian yang Menjerat
Julian akhirnya pergi setelah mencatat semua data yang ia butuhkan. Ia sempat melambaikan tangan dengan riang ke arah Genevieve, yang dibalas dengan senyum manis yang sengaja dibuat-buat—semua itu hanya agar Valerius yang berdiri di pojok ruangan melihatnya.
Namun, begitu pintu berat perpustakaan tertutup dan suara langkah kaki Julian menjauh, keheningan yang tak wajar langsung menyergap.
Biasanya, jam-jam seperti ini akan ada beberapa lansia yang datang membaca surat kabar atau mahasiswa yang mencari ketenangan.
Namun hari ini, jalanan di luar tampak lengang, dan tak ada satu pun pengunjung yang masuk. Perpustakaan itu terasa jauh lebih sepi dari biasanya, seolah-olah dunia luar sengaja menjauh agar tidak terlibat dalam apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Genevieve menghela napas, merasa energinya terkuras habis. Ia berjalan ke arah meja besar dan mulai menumpuk buku-buku yang tadi digunakan Julian.
"Sepertinya minat baca orang-orang hari ini benar-benar hilang," gumam Genevieve pada dirinya sendiri, meski ia tahu itu hanya alasan untuk menutupi rasa canggungnya.
"Atau mungkin..." suara Valerius memecah kesunyian, ia kini sudah berdiri di samping rak buku, hanya beberapa meter dari Genevieve. "...mereka memiliki insting yang lebih baik darimu untuk tidak mendekati tempat yang sedang dalam pengawasanku."
Genevieve tidak menoleh. Ia tetap fokus menata buku. "Kau mengusir mereka, bukan? Dengan aura gelapmu itu? Pantas saja perpustakaan ini sepi seperti makam."
Valerius melangkah mendekat, bayangannya jatuh menutupi tubuh Genevieve yang sedang membungkuk merapikan buku. "Aku hanya memberi mereka ruang untuk tidak mengganggu percakapan kita yang tertunda."
Genevieve berbalik dengan cepat, membanting sebuah buku ke atas meja hingga debu beterbangan. "Tidak ada yang perlu dibicarakan! Julian hanyalah seorang peneliti, dan kau... kau bertingkah seperti anak kecil yang cemburu."
"Cemburu?" Valerius terkekeh rendah, suara yang lebih menyerupai geraman yang indah. Ia mendekat hingga Genevieve bisa mencium aroma dingin yang memabukkan itu lagi. "Seorang dewa tidak cemburu pada semut, Genevieve. Aku hanya tidak suka melihat sesuatu yang sudah menjadi milikku disentuh oleh kotoran."
"Aku bukan milikmu!" tantang Genevieve, dagunya terangkat meski hatinya bergetar.
Valerius mencondongkan tubuh, menatap tajam ke dalam mata Genevieve. Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal, hingga suara detak jantung Genevieve yang cepat menjadi satu-satunya musik di ruangan itu.
Keheningan yang mencekam itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Saat Valerius mencondongkan tubuh untuk mengintimidasi Genevieve, pertahanannya justru runtuh oleh senjatanya sendiri: aroma tubuh gadis itu.
Wangi mawar liar yang hangat, bercampur dengan aroma manis yang memabukkan, menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya seolah-olah ia baru saja membuka botol anggur merah tertua yang pernah ada.
Akal sehat Valerius yang dingin mulai kabur, tertutup oleh insting predator yang lapar dan obsesi yang mendalam.
Tanpa sadar, kepalanya miring, dan bibirnya yang dingin menyentuh ceruk leher Genevieve yang hangat.
Genevieve tersentak. Rasa hangat dari napas Valerius—yang jarang ia rasakan—bertemu dengan kulitnya yang sensitif, menimbulkan sensasi dingin sekaligus terbakar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan taring pria itu berdenyut samar di permukaan kulitnya.
"V-valerius..." bisik Genevieve, suaranya tercekat. Ia ingin mendorong pria itu, tetapi tubuhnya seolah-olah terhipnotis oleh kehadiran yang begitu dominan.
Valerius memejamkan mata, menghirup aroma itu sedalam mungkin langsung dari sumbernya.
Sentuhan bibirnya di leher Genevieve bukan lagi sekadar ancaman, melainkan sebuah pemujaan yang putus asa.
Baginya, darah di dalam nadi itu bukan hanya makanan, melainkan satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa "hidup" kembali setelah tiga ratus tahun mati.
"Kau berbau seperti keabadian, Genevieve," gumam Valerius dengan suara parau yang bergetar di kulit leher gadis itu.
Tangan Valerius yang tadinya bertumpu pada rak buku, kini perlahan turun dan mencengkeram pinggiran meja sirkulasi dengan kuat hingga kayu jati yang kokoh itu sedikit retak.
Ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri—antara keinginan untuk menyesap kehidupan dari leher indah itu atau tetap menjaga gadis ini agar tidak hancur dalam pelukannya.
Genevieve mendorong dada Valerius sekuat tenaga hingga pria itu terpaksa mundur beberapa langkah. Napas Genevieve tersengal, dadanya naik turun dengan cepat karena amarah yang meledak.
Wajahnya yang tadi pucat kini memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena rasa terhina yang luar biasa.
"Berani-beraninya kau!" teriak Genevieve, suaranya bergetar hebat. "Aku bukan pelac*r, dan aku bukan salah satu dari koleksi barang antikmu yang bisa kau sentuh sesukamu!"
Valerius berdiri diam, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat kekuatan tamparan itu.
Bekas telapak tangan Genevieve mulai membayang kemerahan di kulitnya yang sepucat pualam—sebuah tanda yang seharusnya mustahil muncul pada tubuh makhluk mati seperti dirinya.
Perlahan, Valerius memutar kepalanya kembali untuk menatap Genevieve.
Matanya tidak lagi berkilat merah penuh nafsu, melainkan menggelap menjadi hitam yang pekat dan dalam. Suasana di dalam perpustakaan mendadak terasa mencekam; bayangan di sudut-sudut ruangan seolah memanjang dan merayap mendekat.
"Sopan santun?" suara Valerius terdengar sangat rendah, hampir menyerupai geraman yang tertahan.
"Aku telah menyelamatkanmu dari perbudakan, aku telah menghapus beban hidupmu, dan aku menjagamu saat kau tertidur lelap tanpa meminta imbalan apa pun."
Ia melangkah maju satu kali, namun kali ini ada aura kegelapan yang begitu berat hingga Genevieve merasa sulit untuk bernapas.
"Tapi kau..." Valerius menyentuh pipinya yang baru saja ditampar dengan ujung jari pucatnya. "Kau memperlakukanku seperti sampah hanya karena aku ingin merasakan sedikit kehangatan yang kau miliki?"
Genevieve mencengkeram pinggiran meja, berusaha tetap berdiri tegak meski kakinya gemetar. "Kau tidak meminta izin, Valerius! Kau mencuri hidupku, kau menghapus keluargaku, dan sekarang kau ingin mencuri kehormatanku? Pergi! Aku lebih baik hidup dalam kemiskinan dan ketakutan daripada harus menjadi mainan monster sepertimu!"
Valerius menatapnya lama, sebuah tatapan yang penuh dengan luka yang tersembunyi di balik amarah yang dingin.
"Mainan?" tanya Valerius getir. "Jika aku menganggapmu mainan, kau sudah hancur sejak malam pertama kita bertemu, Genevieve."
Tanpa peringatan, Valerius berbalik. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin yang entah datang dari mana, dan dalam sekejap mata, ia menghilang ke dalam kegelapan lorong sejarah, meninggalkan Genevieve sendirian di tengah perpustakaan yang kini terasa sangat dingin dan asing.
"Tidak sopan."gumam Genevieve.
keren
cerita nya manis