Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Hujan Pertama & Tanaman yang Rusak
Langit sore di istana mulai mendung, awan gelap bergulung di atas menara tinggi, menandakan hujan pertama musim ini.
Bayi Arvella duduk di pangkuan Liora di dekat jendela besar perpustakaan, matanya yang merah menyala menatap ke arah taman kerajaan.
Aku bisa merasakan hawa lembab sebelum tetesan pertama jatuh; insting masa lalu Arvella memberitahu ada sesuatu yang tidak biasa.
Bayi ini tahu, hujan kali ini tidak sekadar air biasa. Ada angin kencang yang bisa merusak tanaman, menghancurkan bunga langka, dan bahkan mengganggu jalannya pesta musim semi yang direncanakan ayahnya.
“Liora, lihat! Awan itu… tampak berat,” bisik seorang pelayan sambil mengangkat wajah, ekspresi khawatirnya jelas.
Aku menggeliat, tangan kecilku menunjuk ke arah taman.
Bayi ini merasakan bahwa jika tidak ada tindakan cepat, kebun istana akan mengalami kerusakan yang signifikan.
Liora menunduk, menatap Arvella, tersenyum pelan tapi cemas, “Kau pikir kita bisa membantu mereka?”
Hujan mulai turun, awalnya hanya tetes-tetes halus, lalu semakin deras, memukul jendela dengan ritme yang cepat.
Bayi ini mencondongkan tubuh, merasakan energi tanaman, tanah, dan bahkan tetesan hujan yang akan merusak bunga langka di sudut taman.
Aku tahu, ini bukan hanya tentang menyelamatkan tanaman. Ini adalah pelajaran pertama Arvella tentang mengatur energi dan instingnya untuk mencegah masalah nyata yang berdampak lebih luas.
Liora menggendong bayi itu keluar dari perpustakaan, menuju aula kecil di taman yang biasa dijadikan tempat istirahat tanaman.
“Arvella… kau harus fokus. Gunakan nalurimu,” kata Liora.
Bayi ini menggeliat, matanya yang merah menyala menandakan konsentrasi tinggi.
Aku merasakan Arvella membaca gerakan angin, ritme hujan, dan posisi setiap tanaman.
Dengan insting masa lalu, bayi ini mulai memberi sinyal halus kepada pelayan di sekitarnya: arahkan daun-daun rapuh ke bawah, tutupi bunga dengan kain lembut, lindungi vas dan tanaman muda dari percikan air.
Seorang pelayan muda hampir menjatuhkan keranjang bunga saat berlari, namun bayi ini menggeliat dan menahan keranjang itu dengan gerakan kecil, tangannya yang mungil namun penuh energi menstabilkan benda yang hampir tergelincir.
Liora menatap dengan takjub, “Arvella… kau benar-benar bisa merasakan hal-hal yang bahkan aku tidak lihat.”
Bayi ini tersenyum kecil, puas karena instingnya telah menyelamatkan tanaman penting dari kerusakan.
Tiba-tiba terdengar suara keras: sebuah pot besar terguling karena angin kencang.
Bayi ini menggeliat, tangan kecilnya menahan pot agar tidak jatuh sepenuhnya.
Aku menyadari bahwa ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi tentang membaca energi dan memprediksi pergerakan sebelum sesuatu terjadi.
Pelayan yang melihat aksi ini terkesiap, kagum pada bayi yang baru saja bisa berdiri beberapa langkah saja.
Di tengah hujan deras, bayangan laki-laki misterius muncul di gerbang taman, matanya biru menatap Arvella dari kejauhan.
Aku merasakan energi yang familiar, namun tetap misterius.
Bayi ini mencondongkan tubuh, merasa penasaran, tapi fokus utamanya tetap pada tanaman dan kerusakan yang harus dicegah.
Liora memperhatikan bayangan itu, “Arvella… kau melihatnya juga, kan?”
Aku menggeliat, mengangguk kecil.
Bayi ini merasakan bahwa sosok itu akan menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan berikutnya, tapi saat ini, prioritas adalah mencegah kerusakan nyata di taman.
Hujan semakin deras, angin membawa percikan air hingga ke lorong taman.
Seorang pelayan terhuyung saat menutup tenda bunga, dan hampir terjatuh ke kolam kecil yang ada di dekat situ.
Bayi ini menggeliat dan menstabilkan tangan pelayan itu dengan gerakan kecil namun tepat.
Aku menyadari bahwa kemampuan Arvella bukan hanya untuk mencegah bencana kecil, tapi juga menjaga keselamatan orang lain di sekitarnya.
Ketika hujan mulai reda, taman sebagian besar selamat berkat arahan halus Arvella.
Daun-daun basah dikumpulkan, bunga yang rapuh ditutupi kain lembut, dan pot-pot besar ditata kembali.
Bayi ini duduk di pangkuan Liora, menatap hasil usahanya, merasa bangga sekaligus penasaran.
Aku tahu, pengalaman ini adalah pelajaran tentang tanggung jawab dan kemampuan membaca situasi yang kompleks.
Di kejauhan, bayangan laki-laki misterius perlahan menghilang di balik gerbang taman.
Bayi ini mencondongkan tubuh, matanya bersinar karena rasa penasaran yang kuat.
Aku merasakan bahwa pertemuan mereka kelak akan lebih nyata dan berpengaruh dalam takdir Arvella, tapi hari ini adalah pengenalan pertama dalam konteks tantangan nyata dan pelajaran baru.
Sore itu, Liora menatap Arvella, menunduk dan tersenyum, “Kau semakin hebat, Arvella. Aku yakin ayahmu akan bangga.”
Aku menggeliat, tangan mungilku menempel pada jari Liora, seolah menyatakan: “Aku ingin belajar lebih banyak.”
Bayi ini menyadari bahwa kemampuan untuk mencegah masalah tidak hanya soal insting, tapi juga keberanian, ketenangan, dan kerja sama dengan orang di sekitarnya.
Ketika malam tiba, hujan berhenti, taman kembali tenang.
Bayi ini duduk di pangkuan Liora, menatap langit yang mulai cerah, matanya yang merah bersinar penuh antisipasi.
Aku tahu, hari ini Arvella telah berkembang: belajar mengatur insting, memprediksi bahaya, dan bertindak dengan cepat, meski masih bayi.