Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pengkhianatan dari Dalam
“Kau pikir aku tidak tahu siapa yang memegang kunci arsip malam itu?”
Suara Tetua Ma terdengar seperti desis ular di dalam ruang interogasi yang terbilang pengap tanpa jendela. Ia berdiri tepat di depan Lian Shu, mencengkeram rahang wanita itu dengan tenaga yang membuat tulang sendinya berderak. Di balik kemarahan yang meluap, ada keputusasaan yang nyata; putranya dipermalukan, dan posisinya di sekte kini terancam.
“Saya hanya menjalankan tugas rutin, Tetua,” jawab Lian Shu, suaranya tetap datar meskipun rasa sakit mulai merambat ke lehernya. “Arsip itu terbuka untuk banyak orang yang memiliki izin khusus.”
Tetua Ma tertawa jengkel, sebuah bunyi yang tidak mengenakkan di telinga. “Jangan bermain kata denganku! Ji Zhen tidak mungkin tahu tentang Debu Meridian Ungu tanpa bantuan orang dalam. Kau adalah satu-satunya tikus yang sering terlihat berkeliaran di dekatnya. Katakan yang sebenarnya, atau aku akan memastikan namamu dihapus dari daftar murid dan tubuhmu dibuang ke jurang belakang gunung hari ini juga.”
Mendengar ancaman itu Lian Shu pun menarik napas panjang, matanya menatap langsung ke pupil mata Tetua Ma yang melebar. Ia tahu ia harus memberikan sesuatu agar bisa selamat. “Jika Tetua ingin pelaku yang sebenarnya, berhentilah menatap saya. Cari murid dari Paviliun Pengobatan bernama Han Mo. Dia yang terlihat membawa botol hitam tanpa label saat malam pengisian ramuan. Saya diam karena saya takut dia punya pelindung di antara para tetua lain.”
Cengkeraman Tetua Ma mengendur. Matanya menyipit, menimbang informasi tersebut. Han Mo adalah rival politik dari faksi yang berseberangan dengan keluarga Ma. Jika ini benar, ia bisa menyingkirkan dua musuh sekaligus.
“Jika kau berbohong… kau akan menyesal karena telah dilahirkan,” ancam Tetua Ma. Ia memberi isyarat kepada dua pengawal pribadinya yang berdiri di pintu. “Bawa dia ke sel bawah tanah sampai aku memverifikasi nama itu.”
Kedua pengawal itu maju, menyambar lengan Lian Shu dan menyeretnya keluar menuju koridor terpencil yang gelap. Lian Shu sendiri tidak melawan, otaknya terus berputar mencari jalan keluar berikutnya. Namun, saat mereka mencapai persimpangan jalan setapak yang tertutup semak belukar, suhu udara mendadak merosot drastis.
Lantai koridor mendadak dilapisi kristal es yang sangat bening. Kedua pengawal itu tidak sempat bereaksi sebelum kaki mereka terpatri kuat di atas ubin batu yang membeku. Es itu merambat cepat, mengunci pergelangan kaki mereka hingga setinggi lutut, membuat mereka terdiam kaku seperti patung tanpa luka sedikit pun.
Ji Zhen melangkah keluar dari balik bayangan pilar batu besar. Tangannya masih memancarkan sisa uap dingin yang tajam.
“Waktunya tepat, bukan?” Ji Zhen meringis ceria, menatap kedua pengawal yang berusaha keras melepaskan diri namun justru membuat kaki mereka semakin kaku tersedot hawa dingin.
Karena itulah Lian Shu bisa terlepas dari pegangan mereka, terengah-engah sambil memegang lehernya yang memar. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya, lalu menatap Ji Zhen dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sekadar mitra bisnis. “Aku pikir kau sudah pergi ke kota.”
“Dan membiarkan sumber informasiku menjadi pupuk di bawah tanah? Itu investasi yang buruk,” balas Ji Zhen santai. Ia mendekat, memastikan kedua pengawal itu tidak bisa mengejar. “Ayo pergi sebelum es ini mencair.”
Mereka pun berlari menjauh dari area tersebut, menuju bagian hutan sekte yang lebih aman. Setelah merasa cukup jauh, Lian Shu berhenti untuk mengatur napas. Ia menatap Ji Zhen dengan ekspresi yang penuh apresiasi. “Terima kasih. Aku hampir saja kehilangan nyawa demi info palsu itu.”
Ji Zhen menepuk bahu Lian Shu dengan mantap, sebuah pengakuan antara dua orang yang telah bertaruh nyawa di jalan yang sama. “Kau aset terbaikku sekarang. Jangan mati sebelum kita selesai menghancurkan mereka semua.”
Lian Shu membalas dengan senyuman tipis, sebuah senyuman yang penuh tekad. “Aku memang tidak berencana untuk mati secepat itu.”
Namun, momen kebersamaan mereka terhenti saat mereka berbelok ke arah asrama murid luar. Di sana, di bawah cahaya bulan yang pucat, berdiri seorang wanita yang kehadirannya langsung mengubah suasana menjadi tegang, dia adalah Yang Huiqing.
Penampilannya sangat berantakan. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini acak-acakan, matanya merah dan sembab, ekspresi wajahnya dipenuhi dengan keputusasaan yang mendalam, terlihat layaknya seseorang yang telah kehilangan segalanya dalam semalam.
“Ji Zhen—” suaranya nyaris hilang tertelan angin malam. Ia menatap Lian Shu dengan tatapan memohon sebelum kembali fokus pada Ji Zhen. “Tolong. Aku ingin bicara empat mata denganmu. Hanya sebentar. Kumohon.”
Lian Shu melirik Ji Zhen sebelum memberikan isyarat bahwa ia akan menunggu di kejauhan atau pergi lebih dulu. Ji Zhen menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan dingin yang tidak terbaca. Rasa puas dari kemenangan di turnamen kemarin masih terasa, namun melihat Yang Huiqing dalam kondisi seperti ini memicu ketegangan baru.
Ji Zhen diam sejenak, membiarkan keheningan itu menyiksa wanita di depannya. Ambisinya tetap menjadi prioritas utama, namun ia tahu ada hal-hal dari masa lalu yang harus diselesaikan agar ia bisa melangkah lebih jauh menuju puncak dunia tanpa beban.
“Bicaralah,” ucap Ji Zhen dengan nada yang sangat datar, membuat Yang Huiqing tersentak di tempatnya berdiri.