Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21 Setelah semua janji tumbuh seson 2
Sudah lima tahun sejak hari itu — hari ketika aku dan Raka mengucap janji di bawah flamboyan Taman Langit.
Hari di mana semua hal yang dulu terasa mustahil akhirnya menjadi nyata.
Sekarang, kami bukan lagi dua anak SMA yang bingung karena dijodohkan, bukan juga dua orang muda yang baru belajar jadi pasangan. Kami sudah jadi dua orang dewasa yang belajar mempertahankan cinta di tengah kehidupan yang nyata.
Rumah kami kini berdiri di pinggir kota, tak jauh dari taman kecil yang dulu kami bangun bersama.
Pohon flamboyan di halaman belakang sudah tumbuh tinggi, dahannya menjulang ke langit seolah terus mengingatkan kami pada satu hal — bahwa setiap cinta yang tumbuh, juga butuh akar yang kuat untuk bertahan.
Pagi ini seperti biasa, Raka sudah berangkat kerja lebih dulu.
Sebagai arsitek, hidupnya kini sibuk luar biasa. Proyek demi proyek datang silih berganti. Kadang ia pulang larut, kadang bahkan menginap di lokasi pembangunan. Tapi setiap kali membuka pesan singkat darinya di ponsel, hatiku tetap tenang.
“Jangan lupa sarapan ya, Bu Guru. Jangan nyiram flamboyan sendirian.”
Pesan kecil itu selalu datang setiap pagi, bahkan di tengah kesibukannya.
Lucunya, meski sederhana, aku selalu menunggu notifikasi itu seperti cara sederhana kami saling mengingatkan bahwa di balik rutinitas yang padat, masih ada ruang kecil untuk cinta.
Aku kini bekerja sebagai guru biologi di sekolah swasta dekat rumah.
Kadang, setiap kali menjelaskan proses fotosintesis, aku tersenyum sendiri karena aku merasa hidupku dan Raka juga seperti tanaman: butuh cahaya, butuh air, dan kadang, butuh waktu untuk tumbuh lagi setelah sempat layu.
Tapi belakangan ini, ada sesuatu yang berubah.
Aku mulai jarang makan malam bersama Raka. Kadang aku ketiduran sebelum dia pulang. Kadang dia berangkat sebelum aku bangun.
Kami masih saling mencintai, tapi waktu seperti mencuri banyak hal kecil yang dulu membuat kami dekat.
Malam ini, aku menunggu di ruang tamu.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah sebelas, tapi Raka belum juga pulang.
Kopi di mejaku sudah dingin, dan televisi menyala tanpa suara.
Saat aku hampir tertidur di sofa, suara pintu depan terdengar pelan.
“Ly?”
Aku menoleh. Raka berdiri di pintu, wajahnya lelah tapi masih tersenyum. “Maaf ya, baru bisa pulang sekarang.”
Aku tersenyum kecil. “Kamu udah makan?”
Dia menggeleng. “Belum sempat. Tadi rapat sama klien sampai malam.”
Aku berdiri dan berjalan ke dapur. “Aku panasin nasi ya.”
Dia memegang tanganku pelan. “Nggak usah, aku makan roti aja. Kamu juga udah ngantuk kan.”
Aku menatapnya lama, lalu tersenyum. “Oke.”
Kami duduk berdua di ruang makan.
Hanya ada bunyi jam dinding dan suara lembut dari luar.
Raka menggigit rotinya perlahan, sementara aku menatap gelang hijau di pergelangan tanganku gelang yang sudah mulai pudar tapi masih kukenakan setiap hari.
“Aku kangen kamu,” kataku tiba-tiba.
Dia berhenti makan dan menatapku. “Aku juga kangen kamu.”
“Tapi kita jarang ngobrol sekarang.”
Raka menghela napas panjang. “Iya, aku tahu. Aku sibuk banget, Ly. Tapi aku janji, habis proyek ini selesai, aku mau ambil cuti. Kita pergi ke mana aja yang kamu mau.”
Aku menatapnya. “Kamu nggak harus janji, Rak. Aku cuma pengen kamu pulang lebih cepat.”
Dia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku ngerti.”
Malam itu kami diam lama, hanya saling pandang tanpa kata.
Cinta kami tidak hilang, hanya sedang belajar bentuk baru bentuk yang tidak selalu manis, tapi tetap tulus.
Beberapa minggu berlalu.
Raka masih sibuk, tapi ia berusaha meluangkan waktu setiap akhir pekan.
Suatu hari, ia mengajakku ke taman taman yang dulu jadi tempat lamaran kami.
“Udah lama ya, kita nggak ke sini,” katanya sambil menatap kolam kecil di tengah taman.
Aku mengangguk. “Iya. Dulu kita sering ke sini cuma buat duduk dan ngobrol.”
Dia menatapku, senyumnya lembut. “Kamu masih inget janji waktu itu?”
Aku tersenyum. “Janji nyiram cinta bahkan kalau hujan berhenti?”
Dia mengangguk. “Iya. Aku sadar akhir-akhir ini aku jarang nyiram. Tapi aku nggak lupa sama tamannya.”
Aku menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Cinta kita nggak butuh banyak air, Rak. Cukup dua orang yang sama-sama mau bertahan.”
Dia menggenggam tanganku. “Aku masih orang yang sama, Ly. Masih orang yang jatuh cinta sama kamu waktu hujan di SMA.”
Aku tersenyum kecil, tapi air mata menetes tanpa bisa kutahan.
Bukan karena sedih tapi karena bahagia yang datang pelan, sederhana, dan nyata.
Malam itu, di rumah, aku duduk di balkon sendirian sambil menatap langit.
Langit itu sama seperti dulu luas, diam, tapi selalu menenangkan.
Raka datang dari belakang, membawa dua gelas cokelat panas.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “aku pernah takut cinta kita berhenti tumbuh.”
Aku menoleh, menatapnya. “Kenapa?”
“Soalnya, waktu sibuk, aku sering lupa caranya pulang dengan hati yang tenang. Tapi tiap kali liat kamu di rumah, aku sadar… langit kita nggak pernah berubah. Dia cuma pindah tempat dari taman, ke rumah.”
Aku tersenyum, mataku hangat. “Langit di rumah kita, ya?”
Dia mengangguk. “Iya. Langit yang jadi saksi dari semua versi cinta kita dari SMA sampai sekarang.”
Kami menatap langit bersama.
Dan di tengah malam yang hening itu, aku tahu: cinta kami mungkin sudah berubah bentuk, tapi tetap punya akar yang sama.
Cinta yang tumbuh dari waktu, dan bertahan karena janji.
Janji yang tidak lagi diucapkan di taman, tapi dijaga di dalam rumah.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seperti gadis SMA lagi yang jatuh cinta pada orang yang sama, di bawah langit yang sama.