Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SANGKAR EMAS DI MAYFAIR
Mansion milik Julian Moretti yang terletak di kawasan elit Mayfair tidak terlihat seperti markas rahasia yang menyeramkan.
Sebaliknya, bangunan itu adalah perpaduan sempurna antara arsitektur klasik London yang aristokrat dan sentuhan modern minimalis yang tajam. Pilar-pilar putih yang megah menyambut Elara, berdiri kokoh seolah menantang siapa pun yang mencoba mengusik ketenangan di dalamnya. Namun bagi Elara, kemegahan ini tidak terasa seperti rumah; setiap sudut rumah ini terasa seperti pengingat yang dingin bahwa hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
Ia melangkah melewati lobi utama dengan lantai marmer yang begitu bersih hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat. Langit-langit yang tinggi dan lampu kristal yang menggantung menciptakan suasana yang sunyi, hampir-hampir seperti berada di dalam museum yang sangat mahal—indah untuk dipandang, namun dilarang untuk disentuh.
"Nona Elara, mari saya antar ke kamar Anda," ucap seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan yang sangat rapi. Namanya Martha, kepala pelayan yang sejak awal kedatangan Elara menunjukkan sikap yang sangat profesional namun tetap hangat.
Senyum tipisnya setidaknya mampu melegakan saraf Elara yang sejak tadi terasa tegang seperti senar biola yang ditarik maksimal.
Elara menoleh ke belakang, mencari sosok pria yang telah menyeretnya ke tempat ini. Julian masih berdiri di lobi, membelakanginya. Ia tampak sedang berbicara dengan nada rendah di telepon selulernya. Wajahnya yang terlihat dari pantulan kaca besar tampak penuh perhitungan, seolah ia sedang memindahkan bidak catur di dalam kepalanya, menyusun strategi yang tidak akan bisa dipahami oleh orang awam. Julian sempat melirik Elara sejenak melalui pantulan kaca—tatapan yang singkat namun tajam—sebelum ia kembali fokus pada pembicaraannya.
"Tuan Moretti akan bergabung saat makan malam, Nona. Beliau memiliki beberapa urusan mendesak yang harus diselesaikan sore ini," tambah Martha, seolah ia bisa membaca kebingungan yang terpancar di wajah Elara.
Kamar Elara terletak di lantai dua, dan luasnya hampir seluas seluruh apartemen kecilnya di London Timur. Jendela-jendela besarnya yang bergaya French window menghadap langsung ke taman belakang yang tertata rapi, di mana mawar-mawar putih mekar di bawah langit sore yang kelabu. Di atas tempat tidur yang luas dengan sprei sutra berwarna gading, sudah tersusun beberapa kotak dari butik-butik ternama di Bond Street.
"Tuan meminta kami menyiapkan kebutuhan dasar Anda. Beliau menekankan agar Anda tidak perlu membawa beban dari masa lalu Anda ke sini," Martha membungkuk sopan lalu meninggalkan Elara sendirian di ruangan yang terasa terlalu luas untuk satu orang.
Elara duduk di tepi tempat tidur, merasakan kelembutan kain sutra di bawah jemarinya. Ia menghela napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa jauh lebih mahal di sini.
"Satu tahun, Elara. Kamu hanya perlu bertahan satu tahun demi keselamatan Ayah," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, bisikan itu terdengar lebih seperti ancaman daripada penghiburan di telinganya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia tidak lagi melihat mahasiswi seni yang bebas dengan noda cat di apronnya.
Sekarang, ia melihat seorang wanita yang terbungkus dalam kemewahan yang dipaksakan. Ia tidak yakin apakah ia sedang diselamatkan oleh Julian Moretti, atau hanya dipindahkan dari satu penjara kumuh ke penjara lain yang jauh lebih indah dan berpagar emas.
Ia lalu memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya. Logam peraknya terasa sejuk, namun entah kenapa terasa berat, seolah memiliki beban moral tersendiri. Ukiran kuno di permukaannya tampak seperti jalinan rantai yang rumit. Simbol jaminan? Ataukah belenggu tak kasat mata? Ia mulai menyadari bahwa cincin ini bukan sekadar aksesoris; ini adalah label kepemilikan.
\*\*\*
Makan malam berlangsung dalam keheningan yang elegan namun menyesakkan. Meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati gelap itu hanya diisi oleh mereka berdua di kedua ujungnya, menciptakan jarak fisik yang seolah mempertegas jarak emosional di antara mereka. Elara merasa canggung dengan banyaknya peralatan makan perak di depannya, sementara Julian tampak sangat terbiasa dengan semua protokol ini.
Julian meletakkan pisau dan garpunya dengan gerakan yang sangat terkendali.
Suara denting logamnya nyaris tak terdengar, namun dalam keheningan itu, suara tersebut terdengar seperti lonceng peringatan bagi Elara. Pria itu sudah mengganti setelan kantornya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan otot lengan yang kokoh.
"Makanannya tidak sesuai selera, Elara? Atau kau lebih suka menu lain?" tanya Julian.
Suaranya tenang, tanpa nada intimidasi yang kentara, namun tatapannya tetap mengunci pergerakan Elara.
"Bukan... makanannya enak. Hanya saja, aku masih mencoba memproses semua ini," jawab Elara jujur. Ia memberanikan diri mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata gelap Julian yang seolah tidak memiliki dasar. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silakan. Aku tidak melarangmu bicara."
"Kenapa harus aku? Maksudku... dengan kekuasaan dan pengaruhmu, bukankah banyak wanita dari kalanganmu yang jauh lebih pantas berada di sini? Wanita yang mengerti duniamu, bukan mahasiswi seni yang ayahnya hanya seorang pecundang?"
Julian terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berat itu, menatap Elara dengan cara yang membuat Elara merasa seperti sebuah lukisan yang sedang dianalisis nilai estetikanya.
"Karena kamu tidak mengenalku, Elara. Dan itu adalah aset yang sangat berharga bagiku," jawab Julian pelan. "Wanita-wanita dari 'kalanganku' hanya tertarik pada apa yang bisa mereka dapatkan dari nama Moretti. Mereka memiliki agenda, rahasia, dan pengkhianatan di balik senyum mereka. Kamu... kamu hanya ingin menyelamatkan ayahmu. Motifmu bersih. Itu membuatmu bisa dipercaya."
Julian menjeda kalimatnya, lalu ia sedikit memajukan tubuhnya, membuat atmosfer di sekitar meja makan terasa lebih intens. "Itu alasan versi singkatnya."
"Dan alasan panjangnya?" pancing Elara, jantungnya berdebar menunggu jawaban.
"Belum saatnya kamu tahu," ucap Julian dengan senyum tipis yang penuh rahasia. Jawaban itu membuat Elara merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan gelap di balik kesepakatan ini—sesuatu yang Julian sembunyikan dengan sangat rapi.
Julian bangkit dari kursinya. Bukannya langsung pergi meninggalkan ruangan, ia berjalan mengitari meja dan berhenti di samping Elara. Ia tidak menyentuh Elara secara kasar; ia hanya menarik kursi Elara sedikit lebih nyaman dan merapikan letak gelas airnya yang hampir tumpah—sebuah tindakan kecil yang terasa sangat manusiawi namun juga sangat dominan.
"Jadwal kuliahmu tetap sama. Aku tidak akan mengurungmu di sini seharian. Besok sopir akan mengantarmu, dan aku sudah meminta mereka untuk tidak terlalu mencolok agar tidak menimbulkan kecurigaan di kampusmu," ucap Julian.
Ia kemudian merogoh saku kemejanya dan meletakkan sebuah map kecil di dekat piring Elara. "Dan di lantai dua, ada ruangan di sayap timur dengan cahaya matahari paling bagus. Aku sudah meminta Martha memindahkan beberapa perlengkapan lukismu yang tertinggal di apartemen ke sana. Anggap saja itu ruang kerjamu."
Elara tertegun. Ia tidak menyangka Julian akan memperhatikan detail tentang hobi seninya di tengah semua kekacauan utang dan kesepakatan ini. "Terima kasih, Julian."
Julian sempat terhenti saat mendengar Elara menyebut namanya untuk pertama kali tanpa embel-embel 'Tuan'. Matanya berkedip sekali, ada riak kecil di permukaan ekspresinya yang sedingin es, namun ia segera menguasai dirinya kembali.
"Beristirahatlah. Besok akan menjadi hari yang panjang bagi kita berdua," ucap Julian.
Sebelum keluar dari ruang makan, Julian berhenti di ambang pintu tanpa menoleh kembali. "Dan satu hal lagi, Elara. Jangan pernah melepas cincin itu, terutama saat kamu berada di luar jangkauan penglihatanku. Dunia luar tidak selalu seaman di dalam rumah ini. Selama cincin itu ada di jarimu, kau adalah bagian dari tanggung jawabku. Jangan buat aku harus mencari caramu sendiri untuk membawamu pulang."
Pintu kayu jati itu tertutup dengan bunyi berdebam pelan, meninggalkan Elara sendirian dengan detak jantung yang masih berpacu liar. Pria itu benar-benar sebuah teka-teki—dingin namun penuh perhatian tersembunyi, protektif namun juga penuh rahasia yang mengancam.
Elara menyentuh permukaan cincinnya yang terasa sejuk di kulit. Ia mulai menyadari bahwa benda kecil ini bukan sekadar simbol perlindungan; ini adalah kunci yang secara otomatis menariknya masuk ke dalam radar musuh-musuh Julian. Ia sudah berada di dalam sangkar emas, dan meski Julian berusaha membuatnya terasa nyaman, Elara tahu bahwa badai yang sebenarnya sedang berkumpul di luar sana, siap untuk menghantamnya kapan saja.
Malam itu, di bawah kemewahan mansion Mayfair, Elara Vance menyadari satu hal: ia tidak hanya harus bertahan hidup dari dunia Julian Moretti, ia juga harus bertahan dari perasaannya sendiri yang mulai merasa aman di tangan pria yang paling berbahaya di London.