NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran Pertama

Gaun merah itu pas di tubuhku. Terlalu pas. Seperti dibuat khusus untukku. Dan mungkin memang dibuat khusus. Damian pasti sudah merencanakan semuanya sejak lama.

Aku menatap pantulanku di cermin. Wanita yang menatap balik terlihat asing. Cantik. Elegan. Tapi matanya kosong. Seperti boneka yang dipakaikan baju mahal.

Pelayan tadi sudah selesai menata rambutku. Sanggul elegan dengan beberapa helai rambut jatuh di samping wajah. Makeup sempurna yang menyamarkan kantung mata dan wajah pucat.

Dari luar, aku terlihat seperti istri sempurna dari CEO sukses. Dari dalam, aku mayat yang berjalan.

Pintu terbuka. Damian masuk. Mengenakan jas abu-abu gelap yang membuatnya terlihat lebih tinggi dan lebih menakutkan. Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Wajah bersih tercukur sempurna.

Dia berhenti ketika melihatku. Matanya menyusuri tubuhku dari atas ke bawah. Perlahan. Seperti sedang menilai karya seni.

"Sempurna," katanya akhirnya. "Kau terlihat sempurna."

Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya melalui cermin. Dia berjalan mendekat. Berdiri di belakangku. Tangannya menyentuh bahuku. Hangat melalui kain tipis gaun.

"Hari ini kau akan belajar sesuatu yang penting," katanya pelan. Napasnya menyentuh leherku. "Sesuatu yang harus kau ketahui kalau ingin bertahan di duniaku."

Jantungku mulai berdetak cepat. "A-apa maksudmu?"

"Kau akan melihat bagaimana aku menjalankan bisnis," jawabnya. Tangannya bergerak ke daguku, memutar wajahku supaya menatapnya. "Bisnis yang sesungguhnya. Bukan yang ada di laporan keuangan atau presentasi investor."

Matanya menatapku dengan tatapan yang membuat darahku membeku.

"Dan kau akan belajar bahwa di dunia ini, hanya ada dua pilihan," lanjutnya. "Makan atau dimakan. Membunuh atau dibunuh."

Aku menelan ludah. Bibirku tiba-tiba terasa kering.

"A-aku tidak mau ikut," bisikku.

Damian tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Kau tidak punya pilihan, Sayang."

***

Mobil melaju menembus jalanan kota yang sudah mulai gelap. Aku duduk di samping Damian dengan tangan terkepal di pangkuan. Kuku menancap ke telapak tangan sampai sakit.

Tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa takut yang menggerogoti dadaku.

"Kemana kita akan pergi?" tanyaku. Suaraku gemetar.

"Hotel Peninsula," jawab Damian sambil menatap ke luar jendela. "Ada pertemuan dengan salah satu direktur perusahaan afiliasiiku."

"Kenapa aku harus ikut?"

Dia akhirnya menatapku. "Karena kau istriku. Karena kau harus belajar, karena suatu hari nanti, kau akan menjalankan semua ini bersamaku."

Aku menatapnya. Mencari tanda bahwa dia bercanda. Tapi tidak ada. Dia serius. Sangat serius.

"Aku tidak bisa," bisikku. "Aku bukan sepertimu. Aku tidak bisa."

"Kau pasti bisa," potongnya. Tegas. "Karena kau harus, dan aku akan mengajarimu."

Mobil berhenti di depan hotel mewah. Bangunan megah dengan cahaya keemasan memenuhi setiap sudut. Doorman membukakan pintu untuk kami.

Damian turun dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap tangannya. Tangan yang akan membimbingku masuk ke neraka lain malam ini.

Tapi aku mengambilnya. Karena aku tidak punya pilihan. Kami berjalan masuk. Melewati lobi mewah dengan lampu kristal besar. Orang-orang menoleh menatap kami. Berbisik. Senyum hormat.

Mereka melihat pasangan sempurna. CEO sukses dengan istri cantiknya. Mereka tidak tahu monster yang berjalan di antara mereka.

Kami naik lift ke lantai paling atas. Lantai khusus untuk ruang pertemuan pribadi. Marco sudah menunggu di sana dengan dua pengawal lain.

"Sudah siap, Tuan," katanya sambil membungkuk sedikit.

Damian mengangguk. Tangannya menggenggam pinggangku. Menarikku lebih dekat.

"Apapun yang kau lihat nanti," bisiknya di telingaku, "Jangan berteriak, jangan lari, dan jangan pingsan. Kalau kau lakukan salah satu dari itu, hukumannya akan sangat berat."

Aku mengangguk kecil. Tubuh sudah gemetar sebelum melihat apapun. Marco membuka pintu ruang pertemuan.

Dan kami masuk. Ruangannya besar. Meja meeting panjang dari kayu mahoni. Kursi-kursi kulit mewah. Jendela besar menghadap pemandangan kota yang berkelap-kelip.

Tapi yang menarik perhatianku adalah pria yang duduk di ujung meja.

Pria gemuk berusia sekitar lima puluh tahun. Wajah berkeringat. Mata merah seperti habis menangis. Tangannya terikat di sandaran kursi. Kaki juga terikat di kaki kursi.

Di meja di depannya ada tumpukan dokumen. Dan sesuatu yang lain. Gunting kebun. Besar dengan mata pisau yang mengkilat di bawah cahaya lampu. Perutku langsung mual.

"Pak Hartono," sapa Damian dengan nada ramah. Seperti menyapa teman lama. "Maaf membuatmu menunggu."

Pria itu mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat. Bibir bergetar.

"Pa-pak Damian," suaranya serak. "Ku-kumohon. Ini salah paham. Aku bisa jelaskan."

"Jelaskan?" Damian menarik kursi dan duduk dengan santai. Menarikku duduk di kursi sampingnya. "Silahkan, aku akan mendengarkannya."

Aku duduk dengan tubuh kaku. Tangan mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jari memutih.

Pria itu menarik napas gemetar. "Uang itu aku pinjam. Untuk biaya operasi istriku. Aku akan kembalikan. Aku bersumpah akan kembalikan semuanya."

"Tiga miliar," kata Damian. Suaranya masih tenang. "Kau menggelapkan tiga miliar dari perusahaanku. Untuk operasi istri katamu?"

"Ya! Ya, Pak Damian. Istriku sakit keras. Kanker stadium empat. Biaya operasinya mahal sekali dan aku tidak punya pilihan lain."

"Dan kau pikir itu membenarkan penggelapan?" tanya Damian. Masih dengan nada tenang yang menakutkan.

"Bu-bukan. Bukan membenarkan. Tapi kumohon, pahami situasiku. Istriku saat itu sedang sekarat."

Damian mengangguk perlahan. Seperti memahami.

"Aku paham," katanya. Lalu dia meraih gunting kebun di meja. Mengangkatnya. Membuka dan menutup mata pisau beberapa kali. Bunyi logam bergesekan mengisi ruangan. "Tapi, kau pasti sudah tahu aturannya, kan?"

Pria itu mulai menangis. "Kumohon jangan. Aku punya anak. Istriku butuh aku. Kumohon."

"Aturannya sederhana," lanjut Damian sambil berdiri. Berjalan mengelilingi meja. Mendekat ke arah pria itu. "Siapa pun yang mencuri dariku akan kehilangan apa yang mereka gunakan untuk mencuri."

Dia berhenti di samping pria itu. Menatap tangan yang terikat.

"Dalam kasusmu," katanya sambil membuka gunting itu lebar-lebar, "tanganmu."

"TIDAK! KUMOHON! JANGAN!"

Tapi Damian tidak peduli. Dia meraih tangan kiri pria itu. Memisahkan jari kelingking dari yang lain. Dan memasukkannya di antara mata pisau gunting.

"Damian, jangan!" aku berteriak tanpa sadar. Berdiri dari kursi.

Damian berhenti. Menoleh menatapku. Matanya gelap. Sangat gelap.

"Duduk," perintahnya. Suaranya dingin seperti es.

"Tapi, dia istrinya sedang sakit. Dia butuh uang untuk..."

"DUDUK!" teriaknya. Kali ini lebih keras.

Aku jatuh kembali ke kursi. Tubuh gemetar hebat. Damian kembali menatap tangan pria itu. Lalu dia menekan pegangan gunting.

KRAK!

Bunyi tulang patah. Bunyi daging robek. Bunyi yang akan menghantuiku selamanya. Pria itu menjerit. Jerit yang memekakkan telinga. Darah menyembur dari jari yang terputus. Mengucur ke meja. Ke lantai.

Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Menekan muntah yang naik ke tenggorokan. Damian melempar potongan jari itu ke meja. Jatuh dengan bunyi basah yang menjijikkan.

"Satu," katanya tenang. Seperti sedang menghitung uang. "Masih ada sembilan lagi."

"KUMOHON! HENTIKAN! AKU AKAN KEMBALIKAN UANGNYA! SEMUA! DENGAN BUNGA! APAPUN YANG KAU MINTA!"

"Terlambat. Kau sudah terlambat untuk itu," jawab Damian. Dia meraih jari manis pria itu.

KRAK!

Jeritan lagi, lebih keras, lebih putus asa. Darah semakin banyak di meja. Menggenang. Menetes ke lantai dengan bunyi tip tip tip yang lambat.

Aku ingin menutup mata. Tapi aku ingat ancaman Damian. Jangan berteriak. Jangan lari. Jangan pingsan. Jadi aku hanya duduk di sana. Menatap. Sambil jiwaku perlahan mati.

Jari ketiga.

KRAK!

"Aarrghhhhh!!"

Jari keempat.

KRAK!

"Aarrghhhhh!! Ku-kumohon, hentikan ini. A-ampun!"

Jeritan demi jeritan keluar dari mulut Hartono. Dan sekarang, jari kelima. Seluruh tangan kiri sudah tidak punya jari lagi. Hanya telapak dengan luka berdarah di mana jari-jari seharusnya ada. Pria itu sudah tidak berteriak lagi. Hanya menangis lemah. Tubuhnya bergetar. Shock.

"Bagaimana, Pak Hartono?" tanya Damian sambil berjalan ke sisi lain. Meraih tangan kanan yang masih utuh. "Apa kau sudah kapok untuk mencuri lagi?"

"Ka-kapok, kumohon! hentikan!"

"Bagus," kata Damian. "Tapi tetap saja, aturan adalah aturan."

Jari keenam.

KRAK!

Aku tidak tahan lagi. Aku berdiri dan berlari ke sudut ruangan. Muntah di tempat sampah mewah yang ada di sana.

Semua isi perutku keluar. Tapi masih ada yang keluar. Cairan asam. Empedu. Sampai tidak ada yang tersisa.

Tapi suara itu masih terdengar.

KRAK!

KRAK!

KRAK!

Sampai akhirnya senyap. Aku berbalik perlahan. Menatap ke arah meja. Pria itu sudah tidak sadarkan diri. Kepala terkulai. Kedua tangannya hanya telapak tanpa jari. Sepuluh potongan jari berserakan di meja seperti sosis berdarah.

Darah di mana-mana. Di meja. Di lantai. Di kemeja Damian yang putih. Damian menaruh gunting itu kembali ke meja. Mengambil serbet putih. Membersihkan tangannya dengan gerakan lambat dan teliti.

"Marco," panggilnya. "Bawa dia ke rumah sakit. Pastikan dia dirawat dengan baik. Bayar semua biayanya. Dan biaya operasi istrinya juga."

Marco mengangguk. "Baik, Tuan."

"Tapi setelah istrinya sembuh," lanjut Damian sambil menatap pria yang tidak sadar itu, "dia akan bekerja untukku seumur hidupnya. Gratis. Sebagai budak. Sampai utangnya lunas."

Lalu dia berbalik menatapku.

"Alexa," panggilnya. "Kemarilah, Sayang."

Aku tidak bergerak, tubuhku seolah tidak bisa bergerak.

"Kemarilah!" ulangnya lebih keras.

Kakiku bergerak sendiri. Melangkah ke arah meja. Ke arah genangan darah. Ke arah potongan-potongan jari yang masih hangat. Damian mengambil serbet bersih dari meja samping. Menyodorkannya padaku.

"Bersihkan ini," perintahnya.

Aku menatap serbet itu, lalu menatap meja yang penuh darah.

"A-apa, ini?" tanyaku dengan sedikit gemetar.

"Bersihkan meja ini," ulangnya. Suaranya tidak memberikan ruang untuk menolak. "Kau harus belajar, karena ini pelajaran pertamamu."

Air mata mulai mengalir di pipiku. "Kumohon! Jangan paksa aku untuk..."

"BERSIHKAN!" teriaknya.

Aku tersentak, lalu mengambil serbet itu dengan tangan gemetar. Dan aku mulai membersihkan.

Darah yang lengket. Yang sudah mulai mengering di tepi tapi masih basah di tengah. Yang berbau anyir dan membuat perutku mual lagi. Tapi aku terus membersihkan. Sambil menangis. Sambil gemetar. Sambil merasa jiwaku tercabik setiap detik.

Damian berdiri di sampingku. Menonton. Seperti guru yang mengawasi muridnya mengerjakan ujian.

"Bagus," katanya ketika aku hampir selesai. "Kau harus terbiasa dengan darah. Karena di duniaku, darah adalah hal yang akan paling sering kau lihat."

Aku selesai membersihkan. Serbet putih itu sekarang merah seluruhnya. Basah. Berat dengan darah orang lain. Damian mengambilnya dari tanganku. Melemparnya ke tempat sampah.

Lalu dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang hangat. Yang seharusnya menenangkan. Tapi aku hanya merasakan mual, jijik, dan benci.

"Kau melakukannya dengan sangat baik," bisiknya sambil mengelus rambutku. "Aku bangga padamu, Sayang."

Bangga. Dia bangga karena aku membersihkan darah orang yang dia siksa. Dia bangga karena aku tidak lari. Tidak pingsan. Dia bangga karena aku mulai berubah menjadi sepertinya.

"Kenapa?" tanyaku dengan suara serak. Wajah masih tertanam di dadanya. "Kenapa kau lakukan ini padaku?"

Damian diam sebentar. Tangannya terus mengelus rambutku dengan lembut.

"Karena aku tidak ingin kau lemah," jawabnya akhirnya. "Dunia ini kejam, bahkan sangat kejam. Dan kalau kau lemah, kau akan mati. Atau yang lebih buruk lagi, kau akan dimanfaatkan, disiksa, bahkan kau akan dihancurkan dengan mudah."

Dia mencium puncak kepalaku.

"Aku mengubahmu menjadi kuat," bisiknya. "Supaya kau bisa bertahan. Supaya tidak ada yang bisa menyakitimu. Supaya kau bisa berdiri di sampingku sebagai ratu, bukan sebagai korban."

Aku ingin percaya itu. Ingin percaya dia melakukan ini untuk melindungiku. Tapi bagian dari diriku yang masih waras tahu ini bohong.

Dia melakukan ini karena dia ingin aku menjadi sepertinya. Monster tanpa hati. Pembunuh tanpa nurani. Dia ingin menghancurkan kemanusiaanku. Supaya aku bisa bertahan di neraka yang dia ciptakan.

Dan yang paling menakutkan adalah, itu mulai berhasil. Karena ketika aku melihat jari-jari yang dipotong tadi, yang aku rasakan bukan hanya jijik dan takut.

Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dadaku panas. Sesuatu seperti sebuah kekuasaan?

Tidak.

Tidak.

Aku bukan seperti ini, tapi suara kecil di kepalaku berbisik, bukankah kau sudah berubah?

***

Kami pulang dengan mobil yang sama. Tapi aku bukan orang yang sama. Ada sesuatu yang patah di dalamku malam ini. Sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi. Damian duduk di sampingku. Meraih tanganku. Menggenggamnya dengan lembut.

"Kau melakukannya dengan sangat sempurna," katanya. "Besok kita akan mulai pelajaran yang berikutnya."

Pelajaran berikutnya, masih ada lagi, bahkan mungkin masih banyak lagi. Dan aku tahu, setiap pelajaran akan membunuh sedikit demi sedikit diriku yang lama, sampai tidak ada yang tersisa. Sampai yang tersisa hanya cangkang kosong, yang telah diisi dengan kebencian dan darah.

Tapi satu pertanyaan terus menghantui pikiranku yang sudah mulai retak.

Apakah ini semua benar-benar pelajaran untuk membuatku kuat? Atau ini cara Damian mengikatku padanya, untuk selamanya. Dan mengubahku menjadi monster yang hanya bisa hidup di dunianya, sehingga aku tidak akan pernah bisa meninggalkannya bahkan jika pintu terbuka lebar?

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, apakah aku masih ingin tetap menjadi diriku yang lama, atau bagian gelap di dalam diriku mulai menikmati kekuasaan yang dia tawarkan?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!