Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: VONIS KELUARGA.
Revan menoleh ke arah pintu kamar utamanya yang masih tertutup rapat. Di dalam sana, Valerie masih terlelap, mungkin untuk pertama kalinya setelah tiga bulan ia bisa tidur di kasur yang layak. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, namanya dan nama pria yang ia panggil 'Paman' sedang diseret ke dalam lumpur kehinaan.
Ponsel Revan kembali bergetar. Nama Arini muncul lagi di layar.
Revan tahu ia tidak bisa menghindar lagi. Dengan berat hati, ia menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. Belum sempat ia mengucap salam, suara lengkingan penuh amarah langsung menyerang pendengarannya.
"REVAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK PEMBAWA SIAL ITU?!" suara Arini bergetar karena emosi. "KAU TAHU APA YANG ORANG-ORANG KATAKAN SEKARANG? KAU MENGHANCURKAN NAMA KELUARGA KAMI!"
Revan memejamkan mata, mencoba menahan emosinya sendiri agar tetap stabil. "Kak, dengarkan aku dulu. Valerie sedang bersamaku. Aku menemukannya di kelab semalam dalam kondisi bahaya, aku hanya menolongnya."
"MENOLONG?" Arini tertawa sinis, tawa yang terdengar menyakitkan. "Foto-foto kalian sudah tersebar di grup yayasan universitas! Suamiku baru saja mendapat teguran dari kolega bisnisnya! Aku tidak mau tahu, Revan. Aku tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi. Intinya, aku tidak mau nama suamiku dan nama Adrian hancur karena skandal memuakkan ini!"
"Lalu apa maumu?" tanya Revan, suaranya kini terdengar sangat dingin.
"Bawa dia ke sini sekarang! Ayah sudah memutuskan. Hanya ada satu cara untuk membungkam mulut semua orang dan menyelamatkan reputasi kita."
Sinar matahari pagi yang menerobos celah tirai terasa begitu menyengat di mata Valerie. Ia mengerang pelan, memegangi kepalanya yang terasa seperti dihantam, mungkin efek sisa alkohol dan tangisan semalam. Saat matanya mulai terbiasa dengan cahaya, ia menyadari bahwa ia tidak berada di kamar kosnya yang sempit dan pengap. Ia berada di sebuah kamar luas dengan aroma kayu manis yang menenangkan.
Pintu kamar berderit terbuka perlahan. Revan muncul di ambang pintu, masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam, namun kini lengannya digulung hingga siku dan kancing atasnya terbuka, memperlihatkan gurat kelelahan yang nyata di wajahnya.
"Bangunlah, Erie. Bersihkan dirimu, lalu keluar untuk sarapan," ucap Revan datar.
Valerie tertegun sejenak. Panggilan itu. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Revan memanggilnya Erie. Itu adalah panggilan khusus yang diciptakan Revan sejak Valerie masih balita, sebuah nama kecil yang hanya boleh diucapkan oleh pria itu. Mendengarnya kembali di tengah situasi kacau ini membuat dada Valerie berdenyut nyeri.
Valerie menurut tanpa sepatah kata pun. Ia merasa terlalu lemah untuk mendebat. Setelah mandi dan mengenakan kembali pakaiannya yang sudah dicuci dan dikeringkan oleh mesin otomatis milik Revan, ia melangkah ke ruang makan. Di atas meja, sudah tersaji dua piring nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi yang masih mengepulkan uap.
"Makanlah," perintah Revan seraya mendorong piring itu ke arah Valerie.
Mereka makan dalam keheningan yang menyesakkan. Revan hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa benar-benar memakannya, sementara Valerie mencoba menelan setiap suapan meski tenggorokannya terasa tercekat. Revan sengaja menunda berita buruk itu; ia ingin Valerie memiliki tenaga sebelum dunia gadis itu kembali runtuh.
Setelah piring mereka kosong, Revan meletakkan sendoknya. Ia menatap Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang yang terpendam dan rasa bersalah yang amat besar.
"Erie," panggilnya lembut, kali ini lebih pelan. "Ada sesuatu yang harus kau ketahui."
Revan menyodorkan ponselnya ke atas meja. Valerie mengerutkan kening, lalu mulai membaca berita dan melihat video yang kini sedang menjadi trending topic di media sosial. Wajahnya perlahan memucat, tangannya gemetar hebat hingga ponsel itu hampir jatuh jika Revan tidak segera menahannya.
"Ini... ini tidak benar," bisik Valerie dengan suara bergetar. "Aku cuma pingsan, Paman. Kau hanya menolongku. Kenapa mereka menulis hal-hal menjijikkan seperti ini?"
"Aku tahu itu tidak benar, Erie. Tapi bagi orang-orang di luar sana, kebenaran tidak sepenting skandal yang menarik," Revan menarik napas panjang, mencoba mengatur nada bicaranya agar tidak terdengar terlalu emosional. "Ibumu sudah menelepon berkali-kali. Kakek juga sudah tahu."
Mendengar kata 'Kakek', tubuh Valerie menegang. Ayah angkat Revan adalah sosok yang paling ditakuti di keluarga mereka, pria tua yang sangat menjunjung tinggi martabat keluarga di atas segalanya.
"Kakek... apa katanya?" tanya Valerie lirih.
"Mereka sudah mengambil keputusan untuk membungkam skandal ini. Reputasi Kak Adrian, posisi Ayahmu, dan karierku... semua dipertaruhkan hanya karena rekaman beberapa detik itu," Revan menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata cokelat Valerie yang mulai berkaca-kaca. "Kita harus pergi ke rumah utama sekarang. Mereka menunggu kita untuk menjalankan 'solusi' yang telah diputuskan."
"Solusi apa, Paman?"
Revan tidak menjawab. Ia hanya berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "akupun belum tau, kita akan mendengarnya sendiri dari mulut mereka. Ayo, jangan biarkan mereka menunggu lebih lama."
Perjalanan menuju kediaman utama keluarga Adiwijaya terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan bagi Valerie. Saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang megah, suasana terasa begitu mencekam. Di sana, sudah duduk melingkar Ayah, Ibu, dan Kakek yang duduk di kursi kebesarannya dengan tongkat kayu di tangan.
Tidak ada pelukan rindu setelah tiga bulan menghilang. Yang menyambut Valerie hanyalah tatapan benci dari Ibunya.
"Sudah puas kau mempermalukan kami, Valerie?" suara Ibu memecah keheningan, tajam seperti belati. "Kabur dari rumah, menjadi sampah di kelab malam, dan sekarang kau menyeret Revan ke dalam kehancuranmu!"
"Cukup!" Kakek mengetukkan tongkatnya ke lantai marmer dengan keras. Pria tua itu menatap Revan, lalu beralih ke Valerie. "Skandal ini tidak bisa dibersihkan dengan kata-kata. Satu-satunya cara agar video itu tidak lagi dianggap sebagai skandal asusila adalah dengan mengubah status hubungan kalian. Jika kalian adalah pasangan sah, maka video itu hanya akan dianggap sebagai suami yang sedang mengurus istrinya yang sakit."
Mata Valerie membelalak. "Kakek... apa maksud Kakek?"
Kakek menatap Revan dengan dingin. "Revan, kau adalah anak yang ku besarkan dengan nama keluargaku. Sekarang, bayar hutang budi itu. Kau akan menikahi Valerie secara sah secepatnya. Dengan begitu, nama baikmu dan keluarga ini tetap terjaga."
Valerie merasa dunianya berputar. Ia menoleh ke arah Revan, berharap pria itu akan menolak. "Paman... kau tidak akan setuju, kan? Katakan pada mereka kalau ini gila!"
Revan perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada penolakan di sana. "Aku akan melakukannya, Kek. Aku akan menikahi Erie."
Valerie merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak, saat mendengar jawaban itu. Ia berdiri tersentak, kursi kayu jati yang didudukinya tergeser ke belakang hingga menimbulkan suara decit yang nyaring dan memuakkan.