"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: PERANGKAP DI ATAS SAMUDERA
BAB 35: PERANGKAP DI ATAS SAMUDERA
Angin laut yang asin menusuk kulit Alana saat ia berdiri di dermaga yang dingin. Di hadapannya, kapal pesiar mewah milik keluarga Dirgantara bersandar dengan angkuh, lampunya berpijar keemasan, kontras dengan kegelapan malam yang baru saja mereka lalui. Tuan Besar Dirgantara berdiri di atas dek, menatap Alana dan Kenzo seperti seorang kolektor yang sedang melihat permata yang sempat hilang.
"Naiklah, Alana. Kenzo," suara Tuan Besar terdengar tenang namun penuh otoritas. "Jangan biarkan drama keluarga Adiwangsa yang memuakkan itu merusak malam kita. Di sini, kalian aman. Di sini, kalian akan mendapatkan apa yang seharusnya kalian miliki."
Kenzo mencengkeram tangan Alana, menahannya. "Jangan percaya padanya, Alana. Kapal ini bukan tempat perlindungan. Ini adalah laboratorium berjalan."
"Kenzo, Putraku," Tuan Besar tertawa kecil. "Kau masih saja keras kepala. Apakah kau lebih suka melihat Alana mati di tangan kakak-kakaknya yang serakah di dalam terowongan tadi? Aku menyelamatkannya! Elvan dan Bastian hampir saja meledakkanmu bersama generator itu."
Alana menatap ke arah terowongan yang kini gelap total. Ia tahu kakak-kakaknya masih di sana, mungkin sedang saling serang untuk merebut kekuasaan yang sudah runtuh. Dengan berat hati, Alana melangkah naik ke atas kapal. Ia butuh waktu untuk mengatur strategi, dan untuk saat ini, kapal ini adalah satu-satunya jalan keluar dari kepungan Unit Mawar Putih yang ada di darat.
Di Dalam Ruang Utama Kapal Pesiar
Interior kapal itu luar biasa mewah, namun bagi Alana, setiap dinding berlapis emas ini terasa seperti jeruji penjara. Tuan Besar Dirgantara duduk di kursi kulitnya, menyesap wine merah yang warnanya semerah darah.
"Satya, kau boleh duduk. Aku tahu kau yang paling pintar di antara semua 'kakak' palsu Alana," ujar Tuan Besar pada Satya yang masih waspada memegang laptop rusaknya.
"Aku tidak butuh keramahanmu, Tuan," desis Satya.
"Terserah kau saja," Tuan Besar beralih pada Alana. "Alana, kau pasti bertanya-tanya... kenapa aku begitu menginginkanmu? Kenapa aku bekerja sama dengan Wilhelm? Jawabannya ada di dalam buku harian yang kau peluk itu. Ibumu, Elena, bukan hanya seorang peneliti. Dia adalah cinta pertama saya, jauh sebelum saya menikahi ibu Kenzo."
Kenzo tersentak. "Apa?!"
"Ya, Kenzo. Alana adalah bukti bahwa Elena pernah mencoba melarikan diri dari kegilaan Wilhelm. Dia meminta bantuan saya sepuluh tahun lalu. Tapi Wilhelm terlalu kuat. Dia mengancam akan menghancurkan Dirgantara Group jika saya tidak menyerahkan Elena kembali," Tuan Besar menunduk, tampak ada penyesalan palsu di wajahnya. "Sekarang, aku hanya ingin menebus kesalahan itu. Aku ingin menyempurnakan penelitian Elena agar kau, Alana, bisa hidup tanpa harus terus dikejar oleh Wilhelm."
Alana menyipitkan mata. "Dan sebagai imbalannya, kau ingin mematenkan serum itu atas nama Dirgantara Group? Kau ingin menguasai pasar medis dunia dengan darahku?"
Tuan Besar tersenyum lebar. "Kau memang cerdas. Like father, like daughter, mungkin?"
Pengkhianatan yang Tak Terduga
Saat suasana sedang tegang, pintu ruang utama terbuka. Seorang wanita cantik dengan gaun malam yang elegan masuk. Ia membawa sebuah nampan berisi suntikan medis. Alana mengenali wanita itu—dia adalah Mika, sekretaris pribadi Elvan yang selama ini selalu membantu Alana mengurus perceraiannya dengan Raka. Mika yang selama ini terlihat polos dan sangat perhatian.
"Mika? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alana kaget.
Mika tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berdiri di samping Tuan Besar Dirgantara dan meletakkan tangannya di bahu pria tua itu dengan mesra.
"Mika adalah agen tingkat tinggi saya yang saya tanam di samping Elvan sejak lima tahun lalu," jelas Tuan Besar. "Dia yang memastikan Elvan tertekan secara finansial, dia yang membisikkan pada Bastian tentang 'peluang' di luar negeri, dan dia yang memastikan kau selalu berada dalam jangkauan radar kami, Alana."
Mika tersenyum tipis, matanya dingin. "Maafkan saya, Nona Alana. Tapi bekerja untuk keluarga Adiwangsa yang sedang runtuh itu membosankan. Tuan Besar memberikan saya masa depan yang jauh lebih cerah."
Alana merasa dikelilingi oleh ular. Dari pembantu, kepala keamanan, kakak-kakak, hingga sekarang sekretaris kepercayaan. Tidak ada tempat yang aman.
"Sekarang, Mika... lakukan tugasmu," perintah Tuan Besar.
Mika mendekati Alana dengan jarum suntik itu. "Ini hanya obat penenang, Nona. Agar Anda tidak merasa sakit saat kami mengambil sampel pertama."
Kenzo mencoba menerjang, namun dua pengawal bertubuh raksasa segera menahannya dan memukul perut Kenzo hingga ia tersungkur. "KENZO!" teriak Alana.
"Diamlah, Alana. Atau aku akan memerintahkan mereka untuk mematahkan kaki Kenzo," ancam Tuan Besar.
Momen Penjebakan
Tepat saat jarum itu nyaris menyentuh kulit Alana, kapal pesiar itu berguncang hebat. Suara ledakan terdengar dari bagian mesin bawah.
"Apa lagi ini?!" teriak Tuan Besar panik.
Layar monitor di ruang utama menyala secara otomatis. Muncul wajah Bastian yang tampak berlumuran darah namun tersenyum penuh kemenangan. Ia rupanya berhasil meretas sistem kapal dari daratan sebelum tenaganya habis.
"Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja?" suara Bastian terdengar lewat speaker. "Jika aku tidak bisa memiliki Alana, maka tidak ada satu pun dari kalian yang bisa! Aku sudah memasang bom magnetik di lambung kapal ini sejak kalian bersandar di dermaga Adiwangsa!"
"Bastian, kau gila! Kau akan membunuh adikmu sendiri!" teriak Tuan Besar.
"Dia bukan adikku! Dia hanya tiket yang hangus!" balas Bastian. "Selamat tinggal, Ayah Dirgantara! Selamat tinggal, Kak Elvan yang pecundang! Kita semua akan bertemu di neraka!"
Suara alarm kapal meraung-raung. Kapal mulai miring ke arah kanan. Dalam kekacauan itu, Mika kehilangan keseimbangannya dan jatuh, jarum suntiknya pecah di lantai.
Alana melihat kesempatan. Ia menendang salah satu pengawal yang menahan Kenzo dan membantu Kenzo berdiri. "Satya! Cari sekoci! Kita harus keluar dari sini!"
"Tidak ada sekoci, Al! Bastian mengunci semua sistem peluncuran!" teriak Satya sambil mencoba meretas pintu dek yang terkunci.
Di tengah kepanikan itu, Mika merangkak menuju Tuan Besar, meminta perlindungan. Namun Tuan Besar justru menendang Mika menjauh. "Kau tidak berguna lagi, jalang!"
Tuan Besar Dirgantara berlari menuju helipad di dek atas, meninggalkan semua orang di dalam ruangan yang mulai dipenuhi air laut.
Pelarian yang Mustahil
Alana, Kenzo, dan Satya berlari menyusuri lorong kapal yang mulai miring. Air laut mulai masuk ke koridor. Di belakang mereka, Siska—yang ternyata juga menyelinap ke kapal tadi—muncul dengan napas terengah-engah.
"Lewat sini! Jendela di ruang makan adalah kaca tempered yang bisa dipecahkan dengan palu darurat!" teriak Siska.
Mereka berempat sampai di ruang makan yang sudah separuh terendam. Kenzo mengambil kursi kayu berat dan menghantamkannya ke kaca jendela berkali-kali. KRAK! Kaca pecah, dan air laut langsung menghujam masuk dengan kekuatan besar.
"Lompat!" perintah Kenzo.
Satu per satu mereka melompat ke tengah laut yang gelap dan ganas, tepat sebelum ledakan kedua menghancurkan bagian atas kapal pesiar itu.
Alana terombang-ambing di tengah ombak, memegangi sepotong puing kapal. Di kejauhan, ia melihat kapal pesiar mewah itu tenggelam perlahan ke dasar samudera, membawa semua kemewahan, pengkhianatan, dan mungkin... impian Tuan Besar Dirgantara bersamanya.
Namun, saat ia menoleh ke samping, ia melihat Kenzo dan Satya masih ada bersamanya. Dan di kejauhan, sebuah lampu sorot dari helikopter mendekat. Bukan helikopter Dirgantara, melainkan helikopter dengan logo Grup Roseline—keluarga asli ibunya dari Jerman yang selama ini diam diam memantau.
"Apakah ini akhir, atau awal yang baru?" bisik Alana dalam hati sebelum kesadarannya menghilang karena dinginnya air laut.