Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
#System
#Transmigrasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Serangan
Kamar Archduke – Pagi Hari, Tiga Hari Setelah Kembali
DING.
╔══════════════════════════════════╗
║ PEMBARUAN STATISTIK ║
╚══════════════════════════════════╝
Peningkatan dari insiden penagih utang dan penanganan wilayah yang kelaparan:
◈ Reputasi di Wilayah: 99% → 100% (MAKSIMUM!)
Rakyat Vancroft kini memiliki kepercayaan dan loyalitas penuh kepada Archduke. Kisah tentang bagaimana ia membela Ibu Marta menyebar ke seluruh kota dan desa, ditambah keberhasilannya mengatasi krisis kelaparan yang sebelumnya melanda wilayah vancroft.
◈ Poin Reputasi: +300 PR
Total PR: 752
◈ Aura Natural: +24 poin
Efek: Kehadirannya semakin memancarkan kewibawaan. Orang-orang merasa lebih terdorong untuk mendengarkan dan mengikuti arahannya.
◈ Wibawa (Metrik Baru Terbuka!): +17 poin
WIBAWA adalah kewenangan yang dipancarkan sebagai seorang pemimpin—hasil dari reputasi, tindakan, dan pencapaian. Semakin tinggi wibawa, semakin mudah kebijakan diterapkan dan kerja sama didapatkan.
Wibawa Saat Ini: 87/100
◈ Pemulihan Fisik: +11,7% untuk seluruh sistem
Kekuatan Keseluruhan: 21% → 32,7%
Inti Mana: Retakan berkurang menjadi 48% (dari 54%)
Jantung Mana: Fungsi meningkat menjadi 36% (dari 30%)
Jalur Sihir: 7 jalur masih terputus (dari 9—dua telah tersambung kembali!)
Catatan:
Tubuh merespons dengan sangat positif. Tindakan membela rakyat tidak hanya meningkatkan reputasi, tetapi juga memberikan kepuasan emosional yang mempercepat proses penyembuhan.
Estimasi pemulihan penuh: 5–7 bulan (sebelumnya 6–8 bulan)
╔══════════════════════════════════╗
...----------------...
Arthur menatap angka-angka itu dengan mata melebar.
Lebih dari tiga puluh persen… berarti sudah lebih dari sepertiga kekuatan sihirku kembali.
Ia dapat merasakan perubahan itu dengan jelas. Setiap langkah terasa lebih mantap, setiap otot bekerja lebih baik dibandingkan tiga hari lalu. Dengan kondisinya sekarang, ia tidak perlu khawatir lagi kalau tiba-tiba di ajak duel. Walaupun mungkin punya batas karena kondisi letak mananya belum sepenuhnya pulih, tapi ini sudah cukup.
Arthur berjalan menuju jendela.
Cahaya pagi menyinari wajahnya.
Dan tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamnya—mengingatkan kembali pada janji enam bulan yang telah ia buat.
Aku punya enam bulan untuk membuktikan bahwa wilayah ini bisa menghasilkan surplus dua juta koin emas.
Ia menarik napas dalam.
Dengan kondisi wilayah saat ini? Itu mustahil.
…Kecuali…
Pikirannya mulai bekerja cepat—menyusun strategi dan merancang kebijakan. Ia tahu, setiap keputusan yang diambil akan memengaruhi jutaan orang.
Kecuali aku melakukan reformasi total dan Restrukturisasi penuh dari dasar.
Ia berbalik dari jendela, berjalan menuju meja kerja, mengambil perkamen dan pena, lalu mulai menulis dengan cepat.
Reformasi ekonomi. Restrukturisasi militer. Program sosial. Infrastruktur—
KREK.
Pintu kamar terbuka.
Arthur langsung membeku—seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue.
Valerine melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan—roti, keju, buah, dan teh panas yang masih mengepul.
Ia berhenti sejenak saat melihat Arthur berdiri di depan meja kerja, sudah berpakaian rapi, dengan pena di tangan dan perkamen terbentang di hadapannya.
Matanya menyipit.
“Kau… seharusnya beristirahat.”
“Aku beristirahat. Aku tidur delapan jam.”
“Beristirahat berarti tidak bekerja.”
“Aku hanya menulis catatan—”
“Arthur.”
Satu kata. Namun disampaikan dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Arthur menghela napas pelan, lalu meletakkan pena dengan enggan.
“Aku merasa jauh lebih baik. Sungguh. Tubuhku—”
“Tubuhmu baru saja pulih dari hampir mati dua kali dalam satu minggu,” potong Valerine, sambil meletakkan nampan di meja samping dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari yang diperlukan.
“Kau butuh setidaknya satu minggu penuh untuk benar-benar beristirahat sebelum kembali bekerja.”
“Tapi aku punya tenggat waktu—”
“Tenggat waktu bisa menunggu. Kesehatanmu tidak.”
Mereka saling menatap.
Sejak kejadian jantung Arthur sempat berhenti berdetak selama lebih dari lima belas detik, Valerine menjadi jauh lebih protektif.
Arthur akhirnya mengalah, menghela napas panjang.
“Baiklah. Aku akan… beristirahat lebih banyak.”
“Bagus.”
Valerine berbalik untuk keluar. Namun sebelum mencapai pintu—
“Tapi besok aku harus mulai bekerja,” tambah Arthur cepat.
“Aku punya taruhan enam bulan yang harus dijalankan, dan setiap hari itu berharga.”
Valerine berhenti. Tidak berbalik.
“Dua hari lagi. Minimal.”
“…Sepakat.”
Tanpa menoleh lagi, Valerine keluar dan menutup pintu.
Arthur menatap pintu yang kini tertutup rapat, lalu mengalihkan pandangannya ke catatan di atas meja.
Dua hari lagi katanya?…aku akan pergi secara diam-diam. Dia tidak perlu tahu.
Senyum kecil, bercampur rasa bersalah, muncul di wajahnya.
Malam Itu — Pukul 23.00
Arthur mengendap-endap keluar dari kamarnya seperti remaja yang kabur diam-diam.
Ia telah berganti pakaian—kemeja hitam sederhana dan celana kasual. Tidak ada jubah formal yang biasanya berdesir setiap kali ia melangkah.
Langkahnya sangat pelan saat menyusuri koridor yang gelap, hanya diterangi lampu kristal yang diredupkan untuk malam hari.
Ini konyol, pikirnya sambil berjalan hati-hati.
Aku adalah Archduke. Aku bisa pergi ke mana pun aku mau di kastilku sendiri.
Ia berhenti sejenak, memastikan tidak ada penjaga atau pelayan di sekitar.
…Tapi kalau Valerine tahu aku menyelinap keluar hanya untuk rapat kerja…
Ia sedikit bergidik, membayangkan ceramah panjang yang pasti akan diterimanya.
Ya… menyelinap adalah pilihan yang lebih aman.
Dengan langkah yang semakin hati-hati, Arthur melanjutkan perjalanannya menembus keheningan malam.
...***...
Arthur mengerutkan kening.
Sejak tadi ia memang sengaja menghindari para penjaga dan pelayan. Namun justru itu yang terasa janggal—di sepanjang lorong, tidak ada siapa pun. Tidak satu langkah kaki, tidak satu napas selain miliknya sendiri. Keheningan itu terlalu bersih.
Tiba-tiba bulu kuduk di tengkuknya berdiri.
Kepalanya terasa berat, seolah tekanan tak kasatmata menekan dari segala arah. Nalurinya menjerit—memperingatkannya akan bahaya.
Tanpa ragu, Arthur mengulurkan tangan ke samping.
Pedang yang ia tinggalkan di kamar bergetar, lalu meluncur menembus udara, pintu terbuka dengan sendirinya saat senjata itu melesat keluar dan menuju ke arahnya.
Pada saat yang sama—
SERANGAN DARI BELAKANG.
Arthur melompat ke samping, gerakannya santai namun presisi. Sebuah tebasan gelap menghantam udara tempat ia berdiri sesaat sebelumnya dan membentur dinding transparan seperti kaca.
“Domain…?” gumamnya.
Ia menoleh cepat.
Serangan berikutnya datang hampir bersamaan dengan pedangnya yang kini meluncur lurus ke arahnya. Arthur menangkap gagang pedang itu tepat waktu dan—tanpa mencabutnya dari sarung—menangkis serangan tersebut.
KRAAANG!
Percikan api menyembur dari benturan senjata dan cakar bayangan.
Tidak ada jeda.
Bayangan itu menyerang lagi, lebih cepat, lebih liar. Arthur berputar, menepis, lalu melangkah masuk ke jarak dekat. Satu hantaman siku menghantam sisi tubuh lawan, disusul pukulan keras ke leher.
Bayangan itu terpental.
Untuk sesaat, wujudnya mulai terlihat jelas—tubuh tinggi, proporsi tidak manusiawi, kulit gelap seperti asap yang dipadatkan. Bentuknya menyerupai iblis, tetapi auranya… berbeda. Tidak sepenuhnya iblis. Ada sesuatu yang asing dan terdistorsi. Arthur tidak bisa mendefinisikannya.
“Siapa kau?” tanya Arthur dingin.
Makhluk itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mengaum pelan dan menyerang lebih brutal. Setiap gerakannya dipenuhi niat membunuh.
Arthur tetap tenang.
Ia bisa merasakan tekanan domain ini—sihirnya ditekan, jalur mana seolah dibungkam. Tapi itu tidak membuatnya panik.
Tak perlu menghancurkan domain, pikirnya.
Kalau pemiliknya tumbang, domain akan runtuh sendiri.
Serangan datang bertubi-tubi. Arthur menangkis, menghindar, lalu masuk ke celah kecil yang muncul sesaat.
Ia membungkuk rendah dan menghantam perut makhluk itu dengan gagang pedang, menghantamnya seperti palu baja.
DUAGH!
Makhluk itu terlempar jauh dan menabrak dinding domain, retakan halus menjalar di permukaannya dan mulutnya mengeluarkan darah.
Namun ia tetap bangkit kembali.
“Kau sangat hebat,” katanya akhirnya, suaranya serak.
“Tapi hari ini, meski aku tak bisa membunuhmu… setidaknya aku harus membuatmu terluka.”
Tubuhnya berubah.
Ia tumbuh sedikit lebih tinggi, otot-ototnya menegang, dan garis-garis ungu menyala menjalar di seluruh tubuhnya. Auranya melonjak tajam, menekan udara di sekitarnya.
Ia menerjang dengan cepat.
Tapi Arthur malah memejamkan matanya.
Saat serangan itu hampir mengenainya—
Arthur membuka mata.
Ledakan energi putih meletus dari tubuhnya, menghantam makhluk itu seperti gelombang murni kehendak. Tubuh bayangan itu kembali terpental dan menghantam dinding domain dengan keras.
Arthur menghembuskan napas perlahan.
Jika sihir tak bisa digunakan…maka aku bisa menggunakan niat pedang.
Ia menarik pedangnya.
Pedang hitam itu keluar dari sarungnya dengan suara rendah dan tajam. Seketika, niat membunuh yang pekat menyebar, membuat udara di dalam domain terasa berat dan menyesakkan.
Arthur menatap lawannya dengan tatapan dingin.
“Aku ingin melihat,” ucapnya pelan, penuh tekanan,
“sekuat apa dirimu… sampai berani berkata bisa melukaiku.”
...***...