NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahasa debaran jantung

Kepindahan Yoga ke Surabaya menjadi babak baru yang jauh lebih tenang namun penuh ambisi. Di rumah baru berlantai dua yang asri, Ibu Sekar perlahan mulai merasakan kedamaian yang selama ini hilang dari wajah putranya. Meski sempat kaget, Ibu Sekar mendukung penuh keputusan Yoga; baginya, kebahagiaan Yoga jauh lebih berharga daripada kemewahan semu di Jakarta.

Karier Baru di Rumah Sakit Sehati

Bergabungnya Yoga dengan Rumah Sakit Sehati membawa dampak besar. Yudha, sahabat lamanya saat menempuh studi di Australia, memberikan sambutan luar biasa.

"Surabaya beruntung punya dokter sepertimu, Yo. Gue tahu dedikasimu nggak main-main," ujar Yudha sambil menjabat erat tangan Yoga.

Kehadiran Yoga segera menjadi buah bibir.

Pasien-pasien di Surabaya sangat menyukai cara komunikasinya yang lembut namun tegas. Yoga dikenal sebagai dokter yang tidak hanya mengobati fisik, tetapi juga memberikan ketenangan jiwa bagi pasiennya. Di balik kesibukannya itu, Yoga tetap memantau perkembangan Aditama Yoga Medika secara rahasia melalui Cakra.

Di Jakarta dan Jepang, badai besar sedang melanda. Gugatan cerai yang diajukan Yoga melalui pengacara kondang tidak bisa dibantah lagi. Bukti perselingkuhan yang disodorkan Yoga sangat telak, membuat Dinda tidak memiliki celah untuk melawan di pengadilan.

Dokter Reza yang sudah pulih, meski masih lemah, sangat murka. Saat Dinda pulang dari Jepang dan bersujud di kakinya sambil menangis histeris, Reza hanya menatapnya dengan kekecewaan mendalam.

"Papa menyekolahkanmu tinggi-tinggi bukan untuk menjadi pengkhianat, Dinda! Kamu sudah menyia-nyiakan laki-laki terbaik yang pernah ada di keluarga ini," ucap Reza dingin.

Tanpa perlawanan berarti, palu hakim akhirnya diketuk. Yoga resmi bercerai dari Dinda Dewi. Yoga melepaskan semua hak gono-gini; ia tidak mengambil sepeser pun harta keluarga Dewi. Ia keluar dari pernikahan itu dengan kepala tegak dan hati yang bersih.

Kini, dengan status yang sudah bebas, Yoga merasa sudah saatnya ia menemui Anindya dengan identitas aslinya—bukan sebagai suami orang, bukan sebagai dokter kiriman, melainkan sebagai Yoga Aditama yang mencintainya.

Suatu sore, Yoga memanggil Cakra ke kantornya di Rumah Sakit Sehati.

"Cakra, bagaimana kondisi Anindya sekarang?" tanya Yoga sambil menatap jendela yang menampilkan senja kota Surabaya.

"Sangat baik, Dok. Dia baru saja menyelesaikan audit tahunan perusahaan. Tapi sepertinya dia mulai curiga karena setiap kali ada kendala teknis, solusinya datang terlalu cepat. Dia juga sering bertanya, siapa sebenarnya pemilik Aditama Yoga Medika yang tidak pernah muncul ke kantor," lapor Cakra.

Yoga tersenyum tipis. "Sampaikan padanya, pemilik perusahaan ingin bertemu secara pribadi untuk memberikan penghargaan atas kinerjanya yang luar biasa. Atur pertemuan di restoran favoritnya besok malam."

Malam itu, sebuah restoran tenang dengan pemandangan lampu kota Surabaya menjadi saksi rencana besar Yoga. Anindya datang dengan kursi rodanya, mengenakan tunik sederhana namun tetap memancarkan kecantikan yang anggun. Di hatinya, ia merasa berdebar sekaligus bingung; ia ingin melihat siapa sosok di balik Aditama Yoga Medika yang selama ini menyokong hidupnya.

Cakra mengantar Anindya ke sebuah meja privat di sudut balkon. Saat Cakra berpamitan, seorang pria yang membelakangi pintu masuk perlahan membalikkan badannya.

Anindya terpaku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Di depannya berdiri Yoga Aditama, mengenakan kemeja biru navy yang rapi, memegang buket bunga lili putih kesukaan Anindya.

"Mas Yoga?" suara Anindya bergetar. "Jadi selama ini... Mas adalah bos saya? Kenapa Mas melakukan ini? Kenapa Mas mempermainkan saya lagi?"

Anindya mulai memutar kursi rodanya, hendak pergi dengan perasaan terluka karena merasa dijadikan objek belas kasihan. Namun, Yoga dengan cepat melangkah dan berlutut di depan kursi roda Anindya, menghalangi jalannya.

"Anin, tolong... dengarkan aku sekali saja. Aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu," ucap Yoga dengan nada memohon yang sangat tulus.

Yoga meletakkan bunga itu di pangkuan Anindya, lalu ia mengeluarkan sebuah amplop biru dari sakunya. Ia membukanya dan memperlihatkan selembar kertas berkekuatan hukum tetap kepada Anindya.

"Ini bukan tentang pekerjaan, Anin. Ini tentang aku yang ingin menemuimu tanpa beban," Yoga menyodorkan kertas itu. "Ini akta cerai saya dengan Dinda. Saya sudah resmi bercerai. Saya melepaskan semua kemewahan di Jakarta hanya untuk bisa berdiri di depanmu sebagai laki-laki bebas."

Anindya membaca surat itu dengan tangan gemetar. Air matanya mulai menetes.

"Kenapa, Mas? Kenapa sampai sejauh ini? Aku hanya wanita lumpuh..."

"Karena bagiku, kamu bukan wanita lumpuh. Kamu adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui. Kamu membuktikan di perusahaan itu bahwa kamu cerdas dan mandiri tanpa tahu aku pemiliknya," Yoga menggenggam tangan Anindya.

"Aku membangun Aditama Yoga Medika bukan untuk membalas kasihanimu, tapi untuk memberimu panggung yang layak kamu dapatkan."

Anindya menatap mata Yoga yang berkaca-kaca. Ia melihat kejujuran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Keseriusan Yoga melepaskan jabatan Direktur dan keluarga terpandang di Jakarta hanya demi dirinya membuat dinding pertahanan di hati Anindya perlahan retak.

"Aku masih takut, Mas... Aku masih merasa bersalah pada Mas Arka," bisik Anindya pelan.

"Mas Arka ingin kamu bahagia, Anin. Dan aku ingin menjadi orang yang mewujudkan keinginan terakhirnya itu. Aku tidak memintamu melupakan Arka, karena dia juga saudaraku. Aku hanya memintamu memberiku satu ruang kecil di hatimu untuk menjagamu," balas Yoga lembut.

Anindya terdiam cukup lama, memandangi buket bunga di pangkuannya dan surat cerai di tangan Yoga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Anindya tidak lagi memutar kursi rodanya untuk pergi. Ia membiarkan Yoga tetap berlutut di depannya, menanti sebuah harapan baru di kota Surabaya.

Suasana restoran yang tenang itu seakan berhenti berputar. Di bawah temaram lampu gantung, hanya ada Yoga dan Anindya yang terkurung dalam dunianya sendiri.

Genggaman tangan Yoga terasa hangat, namun jantungnya berpacu seperti genderang perang.

"Anindya... apakah kamu mau menikah denganku?" Pertanyaan itu meluncur dengan penuh beban harapan.

Anindya menunduk, air matanya jatuh membasahi punggung tangan Yoga. "Mas... aku ini lumpuh. Aku tidak pantas bersanding dengan dokter hebat sepertimu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang sempurna."

Yoga tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh keyakinan. Ia memberi isyarat pada Cakra yang sejak tadi bersiaga di kejauhan. Dengan sigap, Cakra menyerahkan sebuah stetoskop medis yang selalu dibawa Yoga.

Yoga memasangkan bagian earpiece ke telinga Anindya, lalu menempelkan bagian diaphragm ke dadanya sendiri. "Dengarkan, Anin. Ini bukan suara mesin. Ini suara kejujuran."

Deg... deg... deg...

Suaranya begitu keras dan berisik, menandakan debaran jantung yang sangat cepat karena rasa cinta dan kegelisahan.

Anindya terpaku, mendengar irama yang begitu jujur dari balik dada pria di depannya.

Kemudian, dengan gerakan lembut, Yoga membalikkan posisi stetoskop itu. Ia menempelkan ujungnya ke dada Anindya. Yoga memejamkan mata, mendengarkan irama yang sama cepatnya, seolah kedua jantung mereka sedang melakukan percakapan rahasia.

"Debaran kita sama, Anin. Kamu tidak bisa membohongi detak jantungmu sendiri," bisik Yoga sambil menatap lekat mata Anindya.

Anindya merasa dinding pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ketulusan Yoga, pengorbanannya melepaskan segalanya di Jakarta, dan debaran jantung yang ia dengar tadi membuatnya menyerah. Tanpa kata, Anindya mencondongkan tubuhnya dan memeluk leher Yoga dengan erat.

Yoga membalas pelukan itu, menghirup aroma rambut Anindya yang menenangkan. "Jadi, apa jawabanmu, hmm?" pancing Yoga, pura-pura tidak mengerti.

Anindya mengangguk pelan di bahu Yoga.

"Aku sungguh tidak mengerti, Anindya. Apa arti anggukan ini? Apakah kamu sedang mengusir lalat atau menjawab pertanyaanku?" goda Yoga dengan nada humoris yang mengingatkan Anindya pada sifat almarhum Arka.

Anindya gemas. Sifat jahil Yoga benar-benar persis seperti Arka dulu saat melamarnya. Dalam kegemasan itu, Anindya menarik kerah kemeja Yoga, memaksa pria itu mendekat, dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Yoga sebagai jawaban yang paling nyata.

Yoga sempat terkejut, matanya membelalak sesaat. Namun, sedetik kemudian, ia memejamkan mata dan membalas ciuman itu dengan penuh kerinduan.

Ciuman yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi luapan perasaan yang dalam, sedikit liar, seolah-olah mereka berdua sedang melepaskan semua beban dan penderitaan yang selama ini mereka simpan sendirian.

Setelah beberapa saat, Yoga melepaskan tautan mereka, menempelkan keningnya ke kening Anindya sambil mengatur napas yang terengah.

"Aku anggap itu sebagai jawaban 'Iya'," bisik Yoga dengan napas hangat.

Anindya tersenyum malu-malu, rona merah di pipinya jauh lebih cantik daripada bunga lili yang ia pegang. "Iya, Mas. Aku mau."

Yoga tertawa lepas, ia mengangkat tangan Anindya dan menciumnya berkali-kali. Malam itu, di Surabaya, kisah sedih tentang kehilangan Arka dan penderitaan akibat keluarga Dewi resmi mereka tutup. Sebuah lembaran baru telah dibuka, di mana Dokter Yoga Aditama tidak akan pernah lagi membiarkan wanita di depannya ini berjalan atau beroda, sendirian.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!