NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Gema di Hutan Beton

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam ini, kota itu terasa seperti sedang menahan napas sebelum sebuah ledakan besar terjadi. Di dalam sebuah warnet remang-remang di kawasan Jakarta Barat yang berbau rokok dan kopi instan, Gia dan Rian duduk berdampingan. Layar monitor di depan mereka memancarkan cahaya biru yang menerangi wajah-wajah penuh determinasi.

Gia menarik napas panjang, jemarinya gemetar saat kursor tetikusnya berada tepat di atas tombol 'Upload' terakhir. Ini adalah folder paling krusial—berisi rekaman percakapan suara antara Tuan Mahendra dan beberapa oknum pejabat terkait suap proyek jembatan layang yang roboh setahun silam.

"Siap, Rian?" tanya Gia pelan.

Rian mengangguk, sorot matanya tajam. "Lakukan, Gia. Kembalikan kebenaran pada tempatnya."

Klik.

Dalam hitungan detik, ribuan dokumen digital terkirim ke alamat surel redaksi media-media besar, LSM antikorupsi, dan yang paling mematikan: ke sebuah akun anonim di platform X (dahulu Twitter) yang memiliki jutaan pengikut dan dikenal sebagai 'hakim digital' Indonesia.

Mereka menunggu. Satu menit, dua menit. Awalnya sunyi. Namun, masuk ke menit kelima, jagat maya mulai bergetar.

Tagar #SkandalMahendra mulai muncul di barisan trending topic. Dokumen-dokumen yang diunggah Gia mulai diunduh, dibagikan, dan dibedah oleh para netizen. Video-video analisis mulai bermunculan. Foto-foto dokumen asli yang memperlihatkan tanda tangan Mahendra menjadi viral. Di layar TV gantung di sudut warnet, berita sela (breaking news) muncul: "Kebocoran Data Besar-Besaran Mengguncang Industri Konstruksi Nasional."

"Lihat, Rian! Berhasil!" Gia membekap mulutnya sendiri, tak percaya melihat apa yang baru saja mereka picu.

Rian tidak tersenyum. Ia justru bangkit dan mulai mematikan komputer. "Belum, Gia. Ini baru permulaan. Mahendra punya pasukan hukum dan keamanan yang bisa melacak kita dalam hitungan jam. Kita harus segera pindah."

Mereka keluar dari warnet tepat saat sebuah mobil hitam dengan kaca gelap melambat di depan gang. Tanpa bicara, Rian menarik Gia masuk ke jalan tikus yang sempit, memutar lewat dapur sebuah warung makan, dan menghilang di antara kerumunan pasar malam.

Sementara itu, di lantai teratas Mahendra Tower, suasana menyerupai medan perang. Tuan Mahendra berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menghadap kerlip lampu Jakarta, tetapi kali ini pemandangan itu terasa seperti jeruji penjara. Di belakangnya, belasan staf humas dan pengacara sibuk berteriak di telepon.

"Tuan, kita tidak bisa membendungnya! Data ini valid, akun-akun bank luar negeri Anda sudah tersebar luas di internet!" teriak salah satu pengacara.

Mahendra berbalik, wajahnya yang biasanya tenang kini tampak keriput dan kelelahan. "Cari siapa yang melakukannya. Aku tahu ini kerjaan Rian. Pria itu tidak mungkin mati secepat itu. Cari dia, dan hentikan dia sebelum dia mencapai kantor kejaksaan besok pagi!"

Gia dan Rian menghabiskan malam itu di sebuah motel murah di dekat stasiun kereta. Mereka tidak tidur. Gia terus memantau pergerakan berita di ponselnya, sementara Rian sibuk membersihkan sisa luka di tangannya dan menyiapkan rencana untuk esok hari.

"Rian," panggil Gia pelan di tengah kegelapan kamar. "Apa kamu pernah menyesal?"

Rian yang sedang duduk di lantai bersandar pada tempat tidur, menoleh. "Menyesal soal apa?"

"Soal karirmu. Soal firma itu. Kalau saja kamu nggak jujur waktu itu, kamu mungkin masih jadi arsitek paling sukses di Jakarta sekarang. Kamu nggak perlu tidur di motel murah atau jadi kuli di desa."

Rian terkekeh pelan, suara tawanya terdengar rendah dan hangat. "Gia, sukses itu ada harganya. Kalau harganya adalah nyawa orang yang lewat di bawah gedung yang aku bangun, aku nggak mau beli sukses itu. Di desa... meskipun utang kopiku banyak, aku bisa tidur nyenyak. Kecuali pas kamu galak menagih utang, sih."

Gia tersenyum tipis. "Besok semuanya akan selesai. Setelah kita ke Kejaksaan Agung, kamu bisa kembali jadi Rian Ardiansyah. Bukan Rian si tukang utang lagi."

Rian terdiam cukup lama. "Gia, setelah semua ini beres... apa kamu mau tetap di Jakarta? Karirmu bisa pulih. Dengan bukti yang kita punya, kamu bisa tuntut balik perusahaan lamamu dan Niko."

Gia bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, menatap Rian yang berada di bawahnya. "Jakarta itu berisik, Rian. Penuh sama orang-orang kayak Niko dan ayahnya. Aku sudah belajar satu hal di desa; kebahagiaan itu bukan soal seberapa tinggi gedung kantor kita, tapi soal seberapa jujur kopi yang kita minum dan siapa yang ada di depan kita saat meminumnya."

Rian meraih tangan Gia, menggenggamnya erat. "Jadi, kamu mau balik ke kedai?"

"Aku mau balik ke tempat di mana ada kamu," jawab Gia dengan suara yang mantap. "Entah itu di kedai, di proyek bangunan, atau di manapun."

Momen romantis itu terinterupsi oleh getaran ponsel Rian. Sebuah pesan masuk dari Pak Jaka.

“Rian, hati-hati. Mereka sudah tahu posisi kalian di area Barat. Mereka menyisir semua motel. Keluar lewat pintu belakang sekarang!”

"Gia, ayo!" Rian menyambar tas punggungnya.

Mereka berlari menuruni tangga darurat tepat saat dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit masuk lewat pintu depan motel. Mereka berhasil melompat ke dalam sebuah bus malam yang sedang melambat di depan terminal bayangan. Di dalam bus yang penuh sesak dan berbau minyak kayu putih itu, Gia menyandarkan kepalanya di bahu Rian.

"Sedikit lagi, Gia. Besok pagi, matahari akan terbit dengan cara yang berbeda," bisik Rian.

Pagi harinya, kawasan Kejaksaan Agung sudah dipenuhi wartawan. Kabar bahwa "Sang Arsitek Hilang" akan datang membawa dokumen asli telah bocor ke publik. Tuan Mahendra juga ada di sana, di dalam mobilnya, menunggu dengan pasukan pengawal, berharap bisa mencegat Rian sebelum ia menginjakkan kaki di tangga gedung.

Namun, Rian dan Gia tidak datang dengan mobil mewah. Mereka turun dari sebuah ojek daring beberapa blok sebelumnya, mengenakan jaket hoodie dan masker, berbaur dengan para pegawai kantoran yang sedang berjalan kaki.

Saat mereka sampai di gerbang depan, para pengawal Mahendra mengenali mereka. Tiga pria berbadan besar segera merangsek maju.

"Rian! Ikut kami!" teriak salah satu dari mereka.

Namun, Rian tidak lari. Ia justru menarik maskernya dan berteriak sekuat tenaga, "SAYA RIAN ARDIANSYAH! SAYA MEMBAWA BUKTI KORUPSI MAHENDRA GROUP!"

Dalam sekejap, puluhan wartawan yang tadinya lesu langsung menyerbu ke arah suara itu. Ratusan lampu kilat kamera menyala, menciptakan pagar cahaya yang melindungi Gia dan Rian. Para pengawal Mahendra terpaku, mereka tidak bisa menyentuh Rian di bawah sorotan ribuan lensa kamera.

Gia berjalan di samping Rian, memegang tas berisi dokumen fisik tambahan. Ia menatap ke arah kerumunan dan melihat mobil Mahendra di kejauhan. Melalui kaca jendela yang terbuka sedikit, ia melihat wajah Niko dan ayahnya yang hancur. Gia memberikan satu senyuman tipis—senyuman kemenangan seorang wanita yang pernah mereka remehkan sebagai "orang rendahan".

Di depan pintu utama, seorang jaksa senior menyambut mereka. Rian menyerahkan seluruh dokumen itu secara resmi.

"Tugas saya selesai, Pak," ujar Rian dengan suara lantang yang terdengar sampai ke mikrofon wartawan. "Sekarang, biarkan hukum yang bekerja."

Setelah berjam-jam memberikan keterangan awal, Gia dan Rian keluar lewat pintu belakang untuk menghindari kerumunan. Mereka berjalan kaki di trotoar Jakarta yang mulai teduh oleh bayangan gedung.

"Jadi... sekarang apa?" tanya Gia, merasa hampa sekaligus lega.

Rian melepas jaket hoodie-nya, menampakkan kaus oblongnya yang—entah bagaimana—selalu ia pakai di balik pakaian apapun. "Sekarang? Aku lapar. Kita cari warung nasi rames, lalu kita pulang ke desa. Aku kangen nagih utang kopi sama kamu."

Gia tertawa lepas, merangkul lengan Rian. "Nggak ada utang-utang lagi. Kamu sudah bayar semuanya hari ini, Rian Ardiansyah."

"Eh, nggak bisa gitu," canda Rian. "Bunga utangnya kan jalan terus. Kamu harus bayar aku dengan kopi seumur hidup, gimana?"

Gia tersipu, wajahnya merona merah. "Deal. Tapi jangan harap kopinya manis kalau kamu masih suka jail."

Mereka terus berjalan menjauh dari pusat kekuasaan, menuju stasiun kereta, meninggalkan Jakarta yang kini sedang sibuk membersihkan kotorannya sendiri. Di saku Rian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan muncul. Akun banknya yang dulu dibekukan, kini mulai diproses untuk dipulihkan. Namun Rian tidak peduli. Baginya, kekayaan sesungguhnya adalah wanita yang sedang tertawa di sampingnya ini.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!