Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Sampah dan Tangis yang Terbungkam
Malam itu, hujan turun rintik-rintik, menciptakan suasana melankolis di gang sempit tempat tinggal mereka. Namun, di dalam rumah kecil Hilman, ada secercah antusiasme yang tertahan. Hari ini adalah hari ulang tahun Andini yang ke-23. Bagi Hilman, ini bukan sekadar pergantian angka; ini adalah momen di mana ia ingin menunjukkan bahwa meskipun ia tidak kaya, Andini adalah ratu di hatinya.
Selama enam bulan terakhir, Hilman diam-diam menyisihkan uang dari jatah makan siangnya. Ia sering kali hanya memakan gorengan dua buah dan minum air keran di pabrik agar bisa menabung beberapa ribu rupiah setiap hari. Hasilnya, sebuah kotak beludru kecil berwarna merah kini ada di genggamannya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati kecil—bukan berlian, bukan emas murni, tapi itu adalah hasil dari rasa lapar yang ia tahan selama berbulan-bulan.
"Syifa, sini," bisik Hilman pada putrinya yang sedang mewarnai di lantai.
Syifa mendekat dengan mata berbinar. "Itu kado buat Mama, Yah?"
"Iya. Tapi Syifa yang kasih ya? Bilang selamat ulang tahun buat Mama. Ayah sudah buatkan nasi kuning sedikit di dapur," ucap Hilman sambil mengelus rambut anaknya. Ia tahu, jika ia yang memberikan langsung, kemungkinan besar Andini akan menolaknya dengan sinis. Namun, jika melalui tangan suci Syifa, mungkin hati Andini sedikit melunak.
Pintu depan terbuka. Andini masuk dengan wajah ditekuk. Ia baru saja pulang dari acara "nongkrong sore" bersama teman-temannya di sebuah kafe di mall. Wajahnya yang cantik tampak kesal, tas sepuluh jutanya ia letakkan dengan kasar di atas kursi.
"Capek banget! Jakarta macetnya nggak masuk akal," gerutunya.
Syifa segera berlari menghampiri ibunya dengan tangan menyembunyikan kotak merah di balik punggung. "Mama! Selamat ulang tahun!" teriak Syifa riang.
Andini berhenti sejenak, wajahnya sedikit melunak melihat keceriaan anaknya. "Oh, iya. Makasih, Syifa."
"Ini... ada kado dari Syifa dan Ayah," ucap Syifa sambil menyodorkan kotak merah itu.
Andini menerima kotak itu dengan alis bertaut. Ia membukanya perlahan. Saat melihat kalung perak yang tipis dan liontin hati yang sederhana, ekspresinya langsung berubah. Bukan senyum haru yang muncul, melainkan tarikan garis bibir yang penuh penghinaan.
"Ini apa?" tanya Andini ketus.
Hilman muncul dari arah dapur, masih mengenakan kaus oblongnya yang sudah mulai kekuningan karena keringat. "Itu kalung perak, Dek. Mas cari yang modelnya paling bagus. Selamat ulang tahun ya..."
Andini mengangkat kalung itu dengan dua jari, seolah-olah sedang memegang benda yang menjijikkan. Di bawah lampu neon yang berkedip, perak itu memang tidak berkilau seperti emas putih milik teman-temannya.
"Perak? Mas, kamu nggak malu kasih aku barang murahan kayak begini?" suara Andini mulai meninggi. "Kamu lihat nggak di Instagram-ku tadi sore? Siska dapat jam tangan Rolex dari suaminya buat kado anniversary. Rosa dapat tas seri terbaru. Dan aku? Istrimu yang cantik ini, kamu kasih kalung perak yang paling-paling harganya cuma tiga ratus ribu?"
"Tapi Dek, itu Mas kumpulkan uangnya lama sekali..."
"Lama sekali untuk barang sampah begini?" Andini tertawa sinis, tawa yang menusuk jantung Hilman lebih dalam dari belati mana pun. "Ini tuh bikin gatal leher! Bahan murahan begini pasti bikin kulitku iritasi. Mas mau aku pakai ini terus dibilang pakai perhiasan dari pasar kaget?"
"Mama, itu bagus kok... Ayah sampai nggak makan siang buat beli itu," bela Syifa dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu anak kecil nggak usah ikut campur!" bentak Andini pada Syifa.
Andini menatap Hilman dengan penuh kebencian. "Tahu nggak Mas? Memberi kado kayak gini itu lebih menghina daripada nggak kasih kado sama sekali. Ini menunjukkan kalau Mas memang nggak punya kelas! Mas nggak pernah mikirin perasaan aku yang harus pamer di depan teman-teman!"
Dengan gerakan yang sangat cepat dan disengaja, Andini berjalan menuju dapur. Hilman dan Syifa mengikuti dengan pandangan bingung. Andini berhenti tepat di depan tempat sampah yang penuh dengan sisa kulit bawang dan plastik bekas makanan.
"Andini, jangan..." bisik Hilman, seolah tahu apa yang akan terjadi.
Plung.
Andini menjatuhkan kotak merah beserta isinya ke dalam tumpukan sampah itu. Ia bahkan menggunakan kakinya untuk menginjak sampah di atasnya agar kotak itu terbenam semakin dalam.
"Nah, di situ tempat yang cocok buat barang murahan ini. Sama-sama sampah," ucap Andini dingin.
Syifa berteriak kecil, ia langsung berlutut di depan tempat sampah, mencoba merogoh kembali kotak itu. Namun, Andini menarik lengan Syifa dengan kasar.
"Nggak usah diambil! Biarin saja! Syifa, masuk kamar sekarang!" perintah Andini.
Syifa menangis histeris. Ia melihat ayahnya yang hanya berdiri mematung. Hilman tidak marah, ia tidak membalas teriakan Andini. Ia hanya menatap tempat sampah itu dengan tatapan kosong. Pria itu tampak seolah-olah seluruh energinya telah dicabut paksa dari tubuhnya.
"Mas juga! Nggak usah pasang muka sedih begitu. Kalau mau dihargai, kasih barang yang berharga! Bukan perak pinggir jalan!" Andini berlalu masuk ke kamar utama dan membanting pintu.
Suasana dapur menjadi sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Syifa yang diredam oleh bantal di kamarnya. Hilman perlahan berlutut di depan tempat sampah. Tangannya yang kasar dan penuh luka karena kerja pabrik mulai merogoh ke dalam tumpukan sampah yang kotor.
Ia menemukan kotak itu. Beludrunya sudah terkena kuah sayur yang basi. Ia membukanya; kalungnya masih ada di sana, namun sudah tampak kusam terkena kotoran. Hilman mengambil kalung itu, membawanya ke wastafel, dan mencucinya dengan air mengalir.
Tangannya gemetar hebat. Setetes darah menetes dari hidungnya, jatuh ke wastafel, menyatu dengan air dan sabun. Hilman segera membasuh wajahnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di atas wastafel. Ia terlihat sangat tua, sangat hancur.
"Maafkan aku, Andini..." bisiknya pada udara kosong. "Maaf karena cintaku hanya seharga perak."
Ia tidak membuang kalung itu. Ia mengeringkannya dengan bajunya, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Kalung itu kini menjadi saksi bisu dari penolakan yang paling menyakitkan.
Malam itu, Hilman tidak masuk ke kamar. Ia duduk di meja makan, menatap nasi kuning yang sudah dingin yang ia bentuk dengan cetakan kecil untuk istrinya. Ia tidak memakannya. Ia hanya duduk di sana, di kegelapan, ditemani suara detak jam yang seolah menghitung sisa waktu hidupnya.
Di dalam kamar, Andini tertidur pulas setelah mengunggah status galau di media sosial tentang "wanita yang salah memilih pasangan". Ia merasa dirinya adalah korban, tanpa tahu bahwa di luar sana, suaminya sedang memegangi dadanya yang terasa seolah diremas oleh tangan raksasa.
Syifa diam-diam keluar dari kamarnya tengah malam. Ia melihat ayahnya masih duduk di dapur. Syifa mendekat dan memeluk pinggang ayahnya.
"Ayah... jangan sedih. Nanti kalau Syifa sudah besar, Syifa yang pakai kalungnya. Syifa sayang Ayah," bisik anak itu.
Hilman memeluk Syifa erat. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga, membasahi pundak kecil putrinya. "Makasih ya, Nak. Syifa harus jadi orang baik ya... jangan kayak Ayah yang nggak bisa bikin orang bahagia."
Hilman tidak tahu bahwa di dalam kotak rahasia di bawah tempat tidur, surat cinta berikutnya yang ia tulis malam itu akan menjadi surat yang paling sering dibaca Andini bertahun-tahun kemudian, sambil meratap dan memohon agar waktu bisa diputar kembali.
"Untuk Andini, ratuku... Hari ini kalungnya masuk ke tempat sampah. Mungkin memang perak tidak pantas di lehermu yang indah. Aku sudah menabung lagi di deposito rahasia kita. Suatu hari nanti, kamu bisa beli emas paling murni dengan uang itu. Tapi tolong, saat hari itu tiba, ingatlah bahwa ada pria tua yang pernah mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri, meskipun ia hanya mampu memberimu sampah."
Kematian terasa semakin dekat, dan Hilman mulai merasa bahwa ulang tahun Andini kali ini adalah yang terakhir yang bisa ia rayakan, meskipun hanya dengan sisa-sisa kehinaan di dasar tempat sampah.