Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 34 - TITAH RATU
Tiga hari Ash pulang pergi ke Greenhaven-Vairlion.
Bukan untuk memaksa Gargo memutuskan apapun. Tapi itu karna pekerjaannya. Entah itu soal reruntuhan atau membuat roti bulat sempurna.
Ia selalu melakukan hal yang sama selama tiga hari itu, menjelajah reruntuhan, memetakan nya dan setelah selesai membantu di dapur, ngobrol tentang hal-hal yang tidak penting, makan siang bersama Bu Hana yang selalu punya cerita tentang penduduk desa lain, lalu pulang.
Hari kedua, Eveline ikut bantu di dapur. Dia tidak banyak bicara, duduk di sudut dapur sambil mengasah belatinya dan sesekali memberi komentar pendek yang membuat Gargo tidak tahu apakah itu pujian atau kritik. Tapi ogre kecil itu tetap memasak dengan lebih semangat dari biasanya.
Hari ketiga, bahkan Razen ikut. Mantan ksatria itu duduk di depan dengan secangkir teh dan membaca satu-satunya buku yang dia bawa. Tapi saat Gargo lewat membawa nampan makanan, Razen menatapnya sejenak dan berkata, "Sup kemarin adalah sup terbaik yang pernah kumakan sejak lama." Lalu kembali membaca.
Gargo hampir menjatuhkan nampannya.
---
Malam ketiga, Adalah malam terakhir nya di Greenhaven. Itu karna semua pekerjaannya sudah selesai di sini, entah itu soal reruntuhan atau membuat roti bulat sempurna.
Ash berpamitan dengan kepala desa dan bu hana. Namun sayangnya gargo tak ada disana, bu hana bilang dia sedang mengumpulkan sayur untuk bahan makanan.
Ash merasa seperti ada sesuatu yang kurang dari perpisahannya itu, namun ia tetap menerima. Mungkin Gargo memang tak ingin ikut bertualang bersamanya.
Namun saat ia berjalan pulang. Seseorang memanggilnya.
Napasnya terengah. Keranjang sayurannya masih di tangan karena dia rupanya langsung lari mengerjar Ash, setelah tau bahwa ini adalah malam terakhirnya.
"Ash!"
Ash berhenti.
Gargo muncul dari tikungan jalan desa dengan cara seseorang yang tidak terbiasa berlari tapi memaksakan dirinya. Kakinya yang selaras dengan tubuh ogre-nya yang kecil itu ia paksa lari sekuat tenaga, dan setiap langkah terdengar seperti ada yang mau jatuh. Tapi dia tidak berhenti sampai ia bisa menjangkau Ash. keranjang sayuran dipeluk erat ke dada.
"G-Gargo mau ikut."
Kata-katanya keluar cepat, seperti kalau tidak diucapkan sekarang dia tidak akan pernah berani mengucapkannya lagi.
"Tapi bukan sekarang, belum." lanjutnya sebelum Ash sempat menjawab. "Gargo masih perlu bilang ke Bu Hana dulu. Dan ke Kepala Desa Gerald. Dan membereskan beberapa hal di dapur." Dia berhenti sebentar. "Tapi Gargo mau ikut."
Ash tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu tentang cara Gargo berdiri di sana yang membuatnya tersenyum. Ogre kecil itu tidak terlihat gagah. Tidak terlihat siap. Tangannya masih gemetar memegang keranjang dan matanya yang besar menatap Ash dengan ekspresi seperti seseorang yang baru saja melompat dari tebing.
"Gargo takut," ucapnya pelan.
"Aku tahu."
"Sangat takut." Gargo menelan ludah. "Gargo adalah seorang pengecut, tak bisa di andalkan, tak bisa bertarung, dan tak bisa-"
"Tapi kau bisa memandu kami di reruntuhan itu."
"Itu cuma jalan. Gargo hanya tunjukkan jalan."
"Tetap membantu."
Gargo menggeleng pelan. "Gargo tahu perbedaannya. Menunjukkan jalan berbeda dengan ikut berjuang." Dia menatap keranjang di tangannya. "Selama ini Gargo tinggal di sini karena aman. Karena Bu Hana baik. Karena tidak ada yang minta Gargo jadi seseorang yang Gargo tidak suka."
Dia berhenti sebentar, seperti sedang mencari kata yang tepat.
"Tapi semalam Gargo mimpi," lanjutnya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Gargo sudah tua. Masih di sini. Masih masak untuk orang yang sama di dapur yang sama. Dan Gargo tanya ke diri sendiri dalam mimpi itu, 'apakah kamu bahagia?' Dan jawabannya..." Dia menggigit bibirnya. "Jawabannya tidak. Bukan karena tempat ini buruk. Bu Hana baik. Desa ini baik. Tapi Gargo belum pernah tahu seperti apa rasanya memilih sesuatu yang Gargo sendiri yang pilih. Bukan karena tidak ada pilihan lain."
Malam itu tidak ada angin. Jalan desa sepi karena semua orang sudah masuk rumah. Di kejauhan ada suara jangkrik dan satu dua anjing yang menggonggong ke arah yang tidak jelas.
"Gargo lebih takut kalau tidak coba," ucapnya. "Selama ini Gargo selalu memilih yang aman, yang tidak menyakitkan, yang tak membuat Gargo merasa berguna, tapi Gargo sadar itu.. Itu cuma..." Dia memeluk keranjangnya lebih erat. "Berhenti hidup sambil masih bernapas."
Ash tidak menjawab. Dia membiarkan Gargo untuk menyelesaikan semua perkataan nya.
"Gargo tidak janji bisa bertarung," lanjut ogre kecil itu cepat, seperti perlu mengklarifikasi sebelum Ash berubah pikiran. "Gargo tidak janji tidak akan lari kalau ada monster. Gargo mungkin akan sering jadi beban." Matanya mengerjap sekali. "Tapi Gargo bisa masak. Gargo bisa jaga barang. Gargo bisa pikul barang. Dan Gargo..." Suaranya sedikit patah di tengah kalimat. "Gargo mau belajar. Pelan-pelan. Kalau kalian mau memberi waktu."
Ash menatapnya.
Ogre biru kecil dengan keranjang sayuran yang dipeluk erat di tengah jalan desa di malam hari. Kaki masih bergetar, entah takut atau lelah.
"Dua hari," ucap Ash akhirnya. "Selesaikan urusan di sini. Kami tunggu di Vairlion."
Gargo mengedipkan matanya beberapa kali dengan sangat cepat.
"Sungguh?"
"Sungguh."
Sesuatu di wajah Gargo berubah. Bukan langsung senang, lebih seperti tali yang mengikat dadanya di lepas perlahan. Bahunya turun. Melonggarkan pelukannya dari keranjang.
Lalu dua matanya yang besar mulai berkilat.
"Gargo..." dia menghentikan kalimatnya, menghela napas sekali, lalu memutuskan bahwa tidak perlu ada kata-kata untuk ini. Tangannya yang bebas mengusap matanya dengan punggung tangan yang kasar. Sekali. Dua kali.
"Terima kasih," ucapnya akhirnya, dengan suara yang agak basah.
Ash mengangkat satu tangan. "Jangan sampai telat."
Gargo mengangguk cepat. Lalu berbalik dan berlari kembali ke desa dengan cara yang sama tidak elegannya seperti tadi, tapi kali ini sedikit lebih ringan di langkahnya.
Ash memandanginya sampai menghilang di tikungan.
---
Eveline yang berdiri di sampingnya dari tadi akhirnya bicara.
"Kau tahu dia akan jadi beban di awal."
"Iya."
"Dan kau tidak peduli."
"Bukan tidak peduli. Aku peduli dengan cara yang berbeda." Ash mulai berjalan lagi. "Razen juga dulu dianggap beban oleh orang-orang di LightOrder sebelum dia keluar. Aku juga dianggap beban di tes guild pertama."
Eveline berjalan di sampingnya, sedikit lebih dekat dari biasanya. "Kau ingat itu?"
"Cara Theron menatapku saat kristal tes hancur. Seperti ada yang salah dengan alatnya, bukan orangnya. Lama sebelum dia akhirnya bilang 'potensi tidak terukur'."
"Kau marah saat itu?"
"Tidak. Aku bingung." Ash menatap jalan di depannya. "Aku tidak mengerti kenapa aku berbeda. Sampai sekarang pun tidak sepenuhnya mengerti."
Eveline tidak menjawab. Tapi tangannya bergerak sedikit, menyentuh pundak Ash selama dua detik sebelum melepaskannya lagi.
Singkat, tanpa kata, namun seperti itulah caranya perduli.
---
Keesokan harinya, Ash mendapat pesan dari guild.
Tapi itu kurang tepat jika di bilang surat. Hanya ada satu baris kata di kertas kecil dengan cap resmi guild di sudutnya.
*Diminta hadir ke kantor Guild Master pukul sembilan pagi. Theron.*
Ash membaca itu tiga kali karena rasanya seperti surat tilang.
"Ada apa?" tanya Eveline dari ujung meja makan.
"Dipanggil Theron." Ash menaruh kertas itu di meja. "Tidak ada keterangan lebih."
Razen tidak menoleh dari tehnya. "Kau melakukan sesuatu yang salah?"
"Aku terlalu jenius untuk salah."
"Kalimat itu tidak meyakinkan."
---
Kantor Guild Master Theron ada di lantai dua gedung guild, di ujung koridor yang berbeda dari ruang meeting biasa. Ash pernah ke sini sekali waktu proses kenaikan rank, dan waktu itu dia merasa seperti dipanggil ke ruangan kepala sekolah.
Meja besar. Rak buku yang penuh sampai hampir jatuh. Satu jendela yang menghadap ke halaman latihan guild di belakang.
Dan dua orang di dalamnya.
Theron di balik mejanya seperti biasa. Dan satu orang lagi yang duduk di kursi tamu.
Wanita dengan rambut merah panjang yang berkilau bahkan di cahaya ruangan yang tidak terlalu terang. Mata merah. Bahu tegak. Aura yang tidak mengancam tapi tidak bisa diabaikan, seperti api yang bisa menghangatkan mu jika kau duduk di sebelahnya, namun tetap tau kau akan terbakar jika menyentuhnya.
Ash berhenti di ambang pintu.
"Tutup pintunya," ucap Theron.
Ash menutup pintu. Duduk di kursi tamu yang tersisa.
"Ini Seraphine," ucap Theron langsung ke intinya, "Crimson Witch. Salah satu The Roots. Sedang di Vairlion untuk keperluan pribadi."
Seraphine tidak langsung bicara. Dia menatap Ash dengan cara yang terasa seperti sedang menimbang sesuatu yang belum dia putuskan hasilnya.
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop dari lipatan jaketnya.
Stempel lilin ungu dengan ukiran bunga lily di ujungnya.
Lunaria.
"Dari Ratu Violet," ucapnya, meletakkan amplop itu di tepi meja ke arah Ash. "Dia memintaku yang menyerahkan langsung padamu."
Ash mengambil amplop itu. Membukanya di tempat.
*Kepada Ash,*
*Seraphine, Crimson Witch dari The Roots, sedang berada di Vairlion untuk urusan pribadi. Aku sudah menghubunginya dan memintanya untuk meluangkan waktu memperhatikan perkembanganmu selama dia ada di sana. Bukan sebagai pengawas, tapi sebagai sesama orang yang tahu seperti apa rasanya punya kekuatan yang tidak sepenuhnya kau pahami.*
*Salam,*
*V.*
Ash membaca sampai akhir. Lalu membacanya lagi karena ada satu bagian yang rasanya kurang bisa dia percaya: Ratu Violet menulis *salam, V.* seperti seseorang yang mengirim pesan pada teman lama.
"Violet menulis dengan tanda tangan 'V'," ucapnya lebih ke dirinya sendiri
Sesuatu di sudut bibir Seraphine bergerak. Hampir senyum. "Memang seperti itu beliau."
Theron berdiri dari kursinya. "Aku ada urusan di luar. Nikmati waktu kalian disini." Dia keluar dan menutup pintu dengan tenang, seperti sudah paham bahwa ini tak ada hubungannya dengannya.
Seraphine menatap Ash. "Sudah baca?"
"Sudah."
"Keputusanmu?"
Ash menatap surat itu sebentar lagi. Khususnya bagian *sesama orang yang tahu seperti apa rasanya punya kekuatan yang tidak sepenuhnya kau pahami.*
"Aku mau coba," ucapnya. Lalu menoleh ke Seraphine langsung. "Jujur saja aku tak mengerti apa maksudnya, tapi karna ini adalah saran Violet maka aku akan melakukannya."
Seraphine diam sebentar. Matanya menatapnya dengan cara yang sama seperti tadi, menimbang.
"Berdiri," ucapnya. "Ikut aku ke halaman latihan. Tunjukkan apa yang kau bisa, biar aku mengerti kenapa Ratu begitu memperhatikanmu."
---
Halaman latihan guild di belakang gedung kosong jam segini, semua petualang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Seraphine berdiri di tengahnya dan mengamati Ash dengan ekspresi yang tidak berubah banyak dari di dalam kantor tadi.
"Gabungkan api dan petir," ucapnya.
Ash ragu. "Ledakannya tidak terkontrol."
"Aku tahu. Tunjukkan bagaimana tidak terkontrolnya."
Cara Seraphine bicara tidak memberi Ash ruang untuk negosiasi. Bukan karena arogan. Tapi karena dia sudah tahu bahwa ragu adalah musuh dalam latihan.
Ash mengambil posisi. Tangan kanan mengumpulkan api. Tangan kiri mengumpulkan petir. Listrik berderak di antara jari-jarinya, kecil tapi tidak stabil.
Saat keduanya bertemu, mana bergetar keras. Seperti dua orang yang tidak suka satu sama lain dipaksa bekerja di ruangan yang sama.
Ash melepasnya ke target kayu di ujung halaman.
BOOM.
Tanah ikut meledak. Debu mengepul sampai menutupi target.
Sebelum ledakan melebar ke luar batas halaman, Seraphine mengangkat satu jari. Dinding api tipis muncul melingkari area ledakan, menyerap energi yang tersebar.
"Hemmm," ucapnya sambil berjalan mendekat, sama sekali tidak terganggu oleh asap yang masih mengepul. "Masalahmu bukan kekuatan. Kekuatanmu sudah lebih dari cukup untuk orang yang baru beberapa saat belajar sihir." Dia mengangkat tangannya sendiri. Api muncul di telapaknya, merah cerah. "Api ingin menyebar. Petir ingin meledak. Mereka tidak cocok secara sifat." Api di tangannya berganti menjadi petir tanpa jeda transisi. "Tapi naluri bisa dibicarakan."
Dia menyatukan kedua tangannya.
Bola energi berputar di antara telapaknya. Merah dan biru bercampur tanpa saling mendorong, seperti dua warna cat yang dicampur.
"Mereka bukan budak yang bisa kau paksa. Mereka mitra yang perlu kau yakinkan bahwa bekerja sama menguntungkan dua belah pihak." Bola itu terbang ke target kayu dan meledak dengan sangat presisi. Target hancur, tapi tidak ada tanah di sekitarnya yang ikut terkena. "Mengerti perbedaannya?"
Ash menatap kawah kecil yang tertinggal. Bersih. Hanya target yang kena. "Itu butuh berapa lama kau pelajari?"
"Aku tak tau orang lain, tapi dalam kasusku satu bulan pertama hanya meledak. Bulan berikutnya mulai bisa diprediksi kapan meledaknya." Seraphine berjalan mendekat. "Kau mungkin lebih lama atau lebih cepat. Tapi kau punya sesuatu yang kebanyakan orang tidak punya."
"Apa?"
"Mana yang bereaksi dengan cara yang tidak seharusnya." Mata merahnya menatap Ash dengan cara yang terasa seperti sedang melihat sesuatu yang lain. "Ratu tidak menjelaskan detailnya padaku. Tapi aku mengerti cukup untuk tahu bahwa latihan standar mungkin tidak cukup untukmu."
Ash tidak menjawab.
"Kalau kau mau," lanjut Seraphine, "datang ke kediamanku besok pagi. Aku di Vairlion untuk beberapa waktu ke depan. Tiga kali seminggu, pagi hari."
"Kenapa kau mau repot-repot?"
Seraphine terdiam sebentar. dia seperti mempertimbangkan apakah jawabannya perlu diucapkan atau tidak.
"Karena Ratu meminta." Dia berbalik berjalan ke arah pintu halaman. "Dan karena murid dengan mana yang tidak biasa menarik minatku sebagai penyihir."
Ash memandangi punggungnya yang menjauh.
*karena Violet meminta.*
Entah mengapa itu seperti sebuah kebohongan.
kalau bisa crazy up thor🤭🤭🤭