"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita mandul
Malam itu, jalan raya Jakarta seperti aliran air sungai yang tenang, membawakan Yasmin menuju arah pulang dengan perlahan. Lampu jalan menyala bergantian, melukis bayangan yang berayun di kaca mobilnya, seolah mencerminkan ketidakstabilan yang tiba-tiba merasuk jiwanya ketika notifikasi ponsel menyala.
"Suamimu mabuk, cepat datang ke club malam Paradise." Pesan dari Dokter Javier. Kalimat itu terulang-ulang di mata Yasmin, seperti puing-puing yang menimpa dirinya satu per satu. Mabuk, bukanlah kebiasaan dari Jacob.
Tanpa ragu, Yasmin membanting stir dengan kekuatan yang tidak disangka. Roda mobil memutar dengan bunyi menggeram, mengubah arah dari jalan menuju rumah ke jalan yang mengarah Paradise, club malam yang dikenal dengan cahaya neon yang memikat dan irama musik yang merobek malam. Tempat di mana Jacob, suaminya berada.
Begitu mobil berhenti, Yasmin langsung melompat keluar. Kaki jenjangnya melangkah dengan langkah yang cepat, bahkan sedikit berlari, menuju pintu masuk yang dipenuhi orang yang sibuk mencari kesenangan duniawi.
Bau alkohol yang menyengat menyatu dengan aroma parfum yang beragam, menyambut kedatangan Yasmin begitu berada di dalam. Sementara musik keras membunyikan irama yang membuat dada berdebar lebih kencang. Di tengah lautan manusia yang asing, Yasmin mencari sosok sang suami.
"Permisi nona, apa Anda sedang mencari seseorang?" Suara pelayan yang ramah menarik perhatian Yasmin. Yasmin mengangkat wajah, matanya penuh kekhawatiran yang tersembunyi. Dengan cepat Yasmin membuka galeri ponselnya, menunjuk foto Jacob yang tersimpan di sana.
"Aku mencari suamiku, namanya Dokter Jacob Anderson. Pernahkah Anda melihatnya?" Yasmin betanya pada sang pelayan.
Pria muda di hadapan Yasmin tampak berpikir sebentar, raut mukanya sedikit meruncing.
"Sepertinya iya, nona. Beliau bersama teman-temannya sedang merayakan ulang tahun Dokter Keeny. Mereka menyewa ruang VVIP di lantai atas." Beritahu sang pelayan.
Yasmin hanya bisa mengucapkan terima kasih sebelum melangkah cepat ke lift. Setiap langkahnya terasa berat, tapi tekadnya semakin kuat untuk segera bertemu dengan Jacob.
"Jacob, kenapa kamu mabuk-mabukan seperti ini? Sebenarnya kamu punya masalah apa? Kenapa selalu memendamnya sendirian? Kenapa tidak membaginya denganku?" Gumam Yasmin. Yasmin tahu selama ini Jacob selalu memendam masalahnya sendirian, termasuk memendam keinginannya untuk segera menjadi seorang ayah.
Di lantai dua, Yasmin segera membuka pintu ruang VVIP satu persatu.
"Maafkan aku, sepertinya aku salah memasuki ruangan." Tak Jarang Yasmin harus meminta maaf dengan cepat ketika memasuki ruangan yang salah.
"Jacob... Di mana kamu sebenarnya?" gumam Yasmin, suaranya hilang di balik musik yang menggema.
Begitu tiba di pintu ruangan yang terakhir, Yasmin menarik nafas sejenak, Yasmin sangat yakin suaminya berada di dalam karena suara seseorang yang sangat Yasmin kenal terdengar dari dalam, suara Jacob, tapi dengan nada yang asing, lemah karena pengaruh alkohol. Yasmin mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka, hatinya mulai berdebar semakin kencang.
"Mutiara? Maksudmu Ara anak dari pasien gagal jantung yang kau tangani itu?" tanya Dokter Anjas penasaran.
"Benar. Memangnya ada berapa banyak nama Mutiara di dunia ini?" Jawab Jacob, suaranya tidak jelas tapi penuh kebanggaan yang menyakitkan.
"Wah, kau hebat! Aku selalu gagal menggodanya, Ara selalu dingin padaku. Bagaimana caramu merayunya?" Anjas semakin kagum dengan kemampuan Jacob dalam merayu wanita.
Jacob tertawa, suara tawanya terdengar kasar.
"Bukan aku yang merayunya. Dia sendiri yang datang menawarkan diri padaku." Walaupun dalam keadaan mabuk, tapi ingatan Jacob tentang kejadian malam kelam itu malah semakin jelas.
"Waktu itu... adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan Yasmin. Dan Ara... dia seperti hadiah yang tiba-tiba datang menawarkan dirinya padaku." Ucap Jacob dengan suara lemah, wajahnya juga memerah karena terlalu banyak minum.
Deg!
Jantung Yasmin seakan berhenti berdetak. Wajahnya tetap datar, tapi di balik itu, dunia Yasmin seolah runtuh. Air mata sudah mengembang di sudut matanya, siap meluncur kapan saja, tapi Yasmin menahannya sekuat tenaga.
"Ternyata kau lebih bajingan dari kami, Jacob!" Keeny mendorong Jacob hingga pria itu jatuh tersungkur di atas lantai.
"Meskipun kami brengsek, tapi kami selalu menghormati istri kami! Kami tidak pernah tidur dengan wanita lain di hari anniversary!" Lanjut Keeny dengan rahangnya yang mengeras.
Mendengar umpatan Keeny, tawa Jacob malah semakin keras, tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Tapi wajar saja, kan? Ara masih sangar muda dan cantik, tentunya sangat subur juga. Sekali disentuh saja langsung hamil. Ara akan mewujudkan impian Jacob untuk menjadi seorang ayah." Anjas bicara dengan antusias, lalu matanya membelok ke arah yang tidak jelas.
"Sedangkan Dokter Yasmin...dia sangat cantik, badannya juga seperti gitar Spanyol yang indah, tapi sayangnya, dia hanya wanita mandul yang tak lebih dari sekedar pajangan."
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat sempurna di rahang Anjas, darah segar mengucur di sudut bibirnya. Pria berbadan tambun itu meringis karena kesakitan.
"Jangan pernah menyebutnya begitu." Suaranya terdengar tenang, tapi penuh kemarahan yang membara. Matanya yang sudah penuh air mata akhirnya meluncur, menetes di lantai yang berkilau.
"Kau tidak tahu apa-apa, Anjas. Kalian semua tidak tahu apa-apa tentang Yasmin." Suara dokter Javier bergetar.
Bersambung...