NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. 'Rumah' Baru

🛑

#

Pada ruangan bobrok yang kumuh itu, penderitaan yang dirasakan Astrid telah lebih dari sangat buruk. Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya terperangkap dalam ikatan yang tidak bisa dilepaskan selama berhari-hari lamanya. Jangan tanya tentang bagaimana menyengatnya aroma yang dihasilkan dari urine dan sisa-sisa metabolisme yang dibiarkan mengendap dan lambat laun menggerogoti kewarasan Astrid.

Tapi bagi Astrid, kesunyian yang membuatnya hampir gila itu tak ada apa-apanya dibanding ketika pria bertudung itu muncul. Dan sebenarnya, sosok itulah akar dari semua masalah yang dialami Astrid sekarang ini.

Derap langkah kaki yang sangat Astrid benci itu kini kembali menggema di telinganya. Setiap malam, sosok itu selalu muncul membawa sebuah pil, sebotol air, dan jarum suntik yang nantinya akan diberikan pada Astrid secara paksa. Jauh dalam hatinya, Astrid sangat ingin berlari dan pergi sejauh mungkin dari tempat itu, dari pria bertudung itu.

Tapi kini, Astrid hanya bisa terdiam. Tubuhnya terlalu lelah untuk melakukan keinginannya. Bahkan untuk menolak pil yang disuapkan pria itu saja Astrid tak kuasa. Lalu pada akhirnya, Astrid jatuh terlelap beberapa saat setelah sebuah suntikan zat asing mengalir ke dalam pembuluh darahnya.

“Teruslah mencoba bermimpi, baby girl. Selama aku memberimu zat adiktif ini, kamu akan selalu bisa bebas bermimpi dalam tidur nyenyakmu...” bisik pria itu tepat di depan wajah Astrid yang telah kehilangan kesadaran.

#

Biasanya, hal pertama yang dilihat oleh Astrid ketika ia membuka matanya adalah bangunan bobrok penuh debu disertai udara lembab yang aromanya menusuk hidung.

Tapi pada pagi itu, hal yang pertama dirasakannya bahkan ketika kedua matanya masih terpejam adalah lantai yang dingin dan halus. Lalu ketika Astrid membuka kedua matanya, ia sangat tercengang ketika mendapati dirinya terbangun di atas lantai marmer yang mengkilat. Kedua matanya mengerjap cepat seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat itu Astrid juga sadar bahwa tak ada lagi kain yang menyumpal mulutnya dan tubuhnya juga telah terlepas dari tali yang selalu mengikatnya pada tiang itu.

Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, Astrid bisa melihat bahwa saat itu dirinya berada di dalam kamar mandi yang sangat luas bahkan dilengkapi sebuah bathtub. Di dekat bathtub besar itu terdapat sebuah gaun putih yang digantung. Sebuah catatan kecil menempel di dinding.

“MANDI DAN PAKAI BAJU INI”

Namun Astrid tak mengindahkan gaun dan tulisan itu. Menyadari lokasinya sekarang terlihat ‘naik kelas’, seketika itu muncul pertanyaan dalam benaknya tentang tempat itu. Apakah ia berada di hotel, rumah, atau tempat seperti apa yang sebenarnya ditempatinya sekarang?

Dari sana, Astrid mencoba merangkak ke luar untuk menuntaskan rasa penasarannya.

Astrid mengedarkan pandangannya menyapu ruangan. Di sana, terdapat sebuah tempat tidur yang terlihat sangat nyaman, lengkap dengan selimut tebal yang hangat. Kemudian di sebelah kasur itu terdapat sebuah lemari kaca yang memperlihatkan banyak gaun putih menggantung di dalamnya. Astrid kini benar-benar berada di tempat yang berbeda 180° dari sebelumnya.

Tapi satu hal besar yang baru Astrid sadari adalah setiap jendela di ruangan itu telah dipasang tralis besi. Astrid berjalan mendekati pintu dan ia juga melihat pengamanan di sana sangatlah ketat.

Celaka! Pikirnya.

Saat itu Astrid tahu bahwa tidak ada jalan untuk dirinya pergi dari sana. Dirinya lagi-lagi terkurung dalam ketidak pastian meski kini tak ada ikatan yang mengekang tubuhnya.

#

Memiliki pekerjaan dengan kesibukan yang tidak terduga kadang mengharuskan para petugas untuk menatap di tempat kerja mereka. Tak heran jika pagi itu Panji telah meminta Mahesa menemuinya di ruang kerja.

“Semoga kamu cepat beradaptasi dan memberi hasil yang melebihi harapan.” Panji mengulurkan surat yang kemarin Mahesa serahkan.

Lengkungan senyum yang tulus terbit dari sudut bibir Mahesa. Sambil menerima kembali dokumen itu, ia menunduk hormat. “Terima kasih, Pak. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Bapak berikan!”

Mahesa keluar dari ruangan itu dengan dada yang terasa lebih ringan tapi juga dengan beban baru, sebab sekarang tak ada lagi alasan baginya untuk mundur.

Mahesa masih berada di dekat pintu itu ketika atasannya mendadak muncul. Keduanya sama-sama terkejut.

“Lho? Kamu masih di sini?” Panji bertanya lebih dulu.

Mahesa hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Ya sudah. Kamu ikut saya ke ruangan tim, sekarang.” ucap Panji tegas dan terburu-buru.

Tanpa bertanya apapun lagi, Mahesa segera mengikuti perintah Panji dan berjalan tepat di belakangnya.

Kedua pria itu kini memasuki sebuah ruangan yang terdapat beberapa orang anggota tim di sana.

Hampir semua orang yang berada di ruangan itu menatap kedatangan Mahesa dengan sorot mata yang nyaris sama. Tatapan penuh pertanyaan tentang siapa gerangan pria tegap yang berjalan di belakang Panji.

“Oke, semuanya. Mari kita lanjutkan lagi penyelidikan tentang laporan kasus kemarin. Tapi sebelum itu, kita kedatangan anggota baru. Kenalkan, Mahesa. Dia anggota yang ditunjuk Pak Kepala untuk membantu tim ini,” tutur Panji di hadapan anggota timnya.

Mahesa sempat terhenyak mendengar ucapan Panji barusan. Ada kebenaran yang disembunyikan Panji dari orang-orang di ruangan itu, termasuk Mahesa sendiri.

“Nah, Mahesa. Yang ini Arya, Gilang, Bagus, Wulan, Revi,” Panji menunjuk pria yang duduk di meja paling kanan hingga wanita yang berdiri di ujung kiri, “nanti kamu bisa tanya Bagus–Ketua Tim–soal laporan penyelidikan tahap awal.”

Mahesa tampak menerbitkan senyum lebar lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Sederhana tapi semua orang di sana memahami maksud gestur itu. Mahesa melakukannya karena ia merasa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk menambah banyak kalimat perkenalan.

“Jadi, bagaimana? Rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi sudah ditemukan?” tanya Panji sambil menatap satu persatu anggotanya.

Tampak di sana pria yang bernama Gilang menggelengkan kepalanya pelan. “Kamera pengawas yang dipasang di lokasi hanya menyimpan rekaman selama satu hari. Setelahnya, data tersebut akan terhapus dari memori sistem. Jadi, kami tidak mendapatkan rekamannya pada sekitar perkiraan waktu kejadian,” ungkapnya dengan raut wajah yang menampilkan rasa tidak puas terhadap perkataannya sendiri.

Panji mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu pria itu menyugar rambutnya. “Keterangan pengurus kos gimana, Wulan?”

“Menurut keterangan pengurus kos, penghuni kamar yang bernama Ajeng itu memang sempat memberi tahunya bahwa Ajeng akan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Jadi pengurus kos tidak curiga ketika ia tidak melihat keberadaan Ajeng. Selain itu, jasad korban yang telah diberi pengawet juga menjadi salah satu penyebab penghuni sekitar baru mencium aroma tidak sedap dari kamar korban beberapa hari setelah korban diperkirakan meninggal...” tutur Wulan.

Bersamaan dengan itu, Mahesa berjalan mendekati pria bernama Bagus yang tadi Panji sebutkan. Saat itu Bagus lalu menyodorkan sebuah dokumen tebal pada Mahesa.

“Ini laporan penyelidikan tahap awal kasusnya,” kata Bagus singkat.

Mahesa mengangguk. “Oke. Terima kasih…”

Lembar demi lembar dokumen itu lalu Mahesa cermati dengan seksama.

Identitas korban:

Nama: Ajeng Indah Rahayu

Jenis kelamin/usia: Perempuan/23 tahun

Domisili: Jl. Gunung Bambu, Jakarta.

Pekerjaan: Karyawan retail

Hingga ketika Mahesa melihat dokumentasi TKP, jantung pria itu seperti berhenti berdetak karena rasa terkejut yang hebat menghantam dadanya.

Pada dokumen itu Mahesa melihat sesuatu mengerikan yang terasa tidak asing. Potret wanita yang menjadi korban pada kasus itu mengingatkannya pada pesan yang pernah ditunjukkan Addam.

Tubuh wanita malang itu memang tidak terlihat berada dalam sebuah koper seperti yang pernah dilihatnya, tapi pola ikatan yang mengikat kedua tangan dan kakinya tampak sangat serupa. Diam-diam Mahesa memotret gambar itu untuk nanti ia bisa memastikan keraguannya.

“Semuanya. Perhatikan!” Panji berkacak pinggang. “Sekarang publik menganggap kasus ini sebagai pembunuhan berantai yang tersambung dengan dua kejadian sebelumnya. Menanggapi hal itu, sudah seharusnya kita tidak membuang waktu, bekerja cepat dan serapi mungkin. Gilang, Revi, kalian cek informasi dari ponsel korban. Sisanya, kalian cari informasi dari orang-orang terdekat korban,” tegasnya.

“Siap, Pak” jawab keenam anggotanya dengan kompak.

Pertemuan mereka saat itu terbilang lancar. Banyaknya pertanyaan besar yang membebani pundak mereka tak mengurangi semangat Panji dan anggotanya menghadapi kasus itu. Satu hal yang menjadi pedoman mereka adalah tak boleh ada satupun nyawa yang tidak mendapatkan keadilan.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!