NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Mematahkan Pedang Sang Naga

​Gunung Pedang Surgawi menjulang tinggi menembus awan, puncaknya selalu diselimuti salju abadi yang tajam seperti bilah senjata. Di sanalah berdiri Sekte Pedang Langit, tempat di mana setiap ksatria terbaik kekaisaran ditempa. Bagi rakyat Phoenix, sekte ini adalah benteng keadilan; namun bagi Lin Xiao, ini adalah sarang anjing-anjing setia Long Tian yang telah membantu membantai klan Mawar Hitam sepuluh tahun lalu.

​Lin Xiao berdiri di gerbang utama yang terbuat dari batu giok putih. Angin gunung yang membekukan menerpa jubah hitamnya, namun dinginnya es tak sebanding dengan aura kematian yang memancar dari tubuhnya. Di belakangnya, Kepala Paviliun Gu tampak waspada, sementara Yun'er telah diamankan di kuil tua di kaki gunung agar tidak terkena dampak badai energi yang akan segera pecah.

​"Nona, sekte ini memiliki 'Formasi Seribu Pedang' yang dijaga oleh para tetua," bisik Gu, uap napasnya membeku di udara. "Mungkin lebih bijak jika kita—"

​"Tidak ada lagi persembunyian, Gu," potong Lin Xiao tajam. Ia mengangkat pedang Nightshade.

"Hari ini, aku tidak hanya datang untuk menang. Aku datang untuk mematahkan kebanggaan mereka."

​Lin Xiao menghentakkan kakinya ke tanah. BOOM! Gelombang energi ungu pekat meledak, menghancurkan gerbang giok setinggi sepuluh meter itu menjadi serpihan kecil. Suara ledakan itu mengguncang seluruh gunung, memicu lonceng peringatan sekte yang berdentang tujuh kali—tanda adanya serangan tingkat tinggi yang mengancam eksistensi sekte.

​Dalam hitungan detik, ratusan murid berpakaian putih salju melesat turun dari tangga-tangga batu, pedang mereka terhunus, menciptakan lautan kilatan logam yang menyilaukan. Di depan mereka berdiri seorang pemuda angkuh dengan zirah perak, Ye Chen, murid utama sekte sekaligus sepupu jauh Long Tian.

​"Xiao Lan! Berani sekali kau mengotori tanah suci ini dengan kakimu yang penuh dosa!" teriak Ye Chen, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau pikir karena kau menghancurkan gudang senjata klan Feng, kau bisa meremehkan kami? Di sini, kami adalah hukum!"

​Lin Xiao menatap Ye Chen seolah-olah pria itu hanyalah serangga yang mengganggu. "Tanah suci? Tempat ini hanyalah tempat jagal yang dipoles dengan kemewahan. Di mana gurumu, si tua bangka Jian?"

​"Beraninya kau menghina Master Sekte!" Ye Chen meradang. "Murid-murid! Bentuk Formasi Pedang Matahari!"

​Ratusan murid itu segera bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna. Mereka membentuk lingkaran besar, memusatkan energi spiritual mereka ke langit. Sebuah pedang raksasa yang terbuat dari cahaya emas murni mulai terbentuk di udara, memancarkan panas yang sanggup melelehkan salju di seluruh puncak gunung.

​"Mati kau!" Ye Chen mengayunkan pedangnya, dan proyeksi pedang raksasa itu menghujam turun ke arah Lin Xiao dengan kecepatan kilat.

​Lin Xiao tidak bergerak. Ia membiarkan rambut hitamnya perlahan berubah menjadi perak berkilau, tanda bahwa ia memanggil kekuatan Inti Dewa Kegelapan. Ia mengangkat satu tangannya ke arah pedang raksasa itu.

​'Nirwana: Penelan Cahaya!'

​Bukannya meledak, pedang cahaya emas itu justru tersedot ke dalam pusaran lubang hitam kecil yang muncul di telapak tangan Lin Xiao. Dalam sekejap, serangan terkuat para murid itu lenyap tanpa sisa, seolah-olah ditelan oleh kegelapan yang tak berdasar.

​Seluruh murid sekte terbelalak kaget. Ketakutan mulai merayap di wajah mereka.

​"Sekarang giliranmu," ucap Lin Xiao dingin.

​Ia menghilang dari pandangan.

Sret! Sret! Sret!

​Lin Xiao bergerak seperti kilat hitam di antara barisan murid. Ia tidak membunuh mereka semua, melainkan dengan presisi yang mengerikan, ia memotong pergelangan tangan kanan mereka—tangan yang mereka gunakan untuk memegang pedang. Ratusan pedang jatuh ke tanah secara bersamaan, menciptakan suara dentingan logam yang menyedihkan.

​Ye Chen mencoba menyerang, namun Lin Xiao muncul tepat di hadapannya dan mencengkeram lehernya. "Kau ingin menjadi pahlawan bagi Long Tian? Jadilah saksi bagaimana aku meruntuhkan duniamu."

​Lin Xiao melemparkan Ye Chen ke dinding batu, lalu ia melompat menuju puncak tertinggi, tempat aula meditasi Master Sekte berada.

​Di sana, seorang pria tua dengan rambut putih yang menjuntai hingga ke lantai sedang duduk dengan pedang kayu di pangkuannya. Dia adalah Master Jian, praktisi Inti Emas Tingkat Enam yang legendaris.

​"Kau akhirnya datang, putri dari klan Mawar," ucap Jian tanpa membuka matanya. "Bau dendammu sudah tercium bahkan sebelum kau menginjakkan kaki di gunung ini."

​"Kau tahu kenapa aku di sini, Jian," desis Lin Xiao.

"Kau adalah orang yang memberikan teknik 'Pedang Naga' pada Long Tian, teknik yang ia gunakan untuk mengkhianatiku."

​Master Jian berdiri, aura di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat tajam, seolah-olah setiap partikel udara telah berubah menjadi bilah pedang. "Long Tian adalah takdir kekaisaran ini. Dan kau... kau hanyalah anomali yang harus dihapuskan."

​Pertarungan tingkat tinggi pun pecah. Master Jian menggunakan teknik pedang yang lambat namun setiap gerakannya mampu membelah ruang dan waktu. Lin Xiao, di sisi lain, menggunakan energi kegelapan yang agresif dan tak terduga.

​Setiap benturan pedang mereka menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan bangunan-bangunan indah di sekitar aula. Lin Xiao menyadari bahwa meskipun kultivasinya masih di bawah Jian secara teori, Inti Dewa Kegelapan miliknya memberikan keunggulan dalam hal kualitas energi.

​"Pedang Langit: Hujan Bintang!" Jian melepaskan jutaan jarum cahaya dari langit.

​Lin Xiao menjawab dengan teknik terlarangnya. 'Seni Nirwana Dewa: Pedang Pemutus Takdir!'

​Ia menebas secara horizontal. Sebuah garis hitam raksasa membelah aula meditasi, membelah hujan cahaya milik Jian, dan terus melaju hingga memotong pedang kayu legendaris milik Sang Master.

​Jian terbelalak melihat pedangnya yang tak terkalahkan kini patah. "Bagaimana mungkin... energi ini..."

​"Energi ini adalah kumpulan rasa sakit dari orang-orang yang kalian injak," jawab Lin Xiao. Ia melesat maju dan menusukkan Nightshade tepat ke jantung Master Jian.

​Darah segar mengalir, membasahi lantai giok yang putih. Master Jian jatuh berlutut, matanya menatap Lin Xiao dengan penuh penyesalan yang terlambat.

​Lin Xiao tidak membiarkannya mati begitu saja. Ia menghisap seluruh esensi energi Jian ke dalam pedangnya, membuat kekuatannya sendiri semakin meningkat. Ia kemudian berjalan menuju bagian terdalam aula dan menemukan sebuah kotak perak yang disegel dengan mantra naga.

​Di dalamnya, terdapat sebuah permata merah yang berdenyut panas—Jantung Phoenix. Ini adalah sumber energi utama yang digunakan Long Tian untuk mengaktifkan armada perang udara kekaisaran yang mematikan.

​Lin Xiao menggenggam permata itu, merasakan panasnya yang membakar. Ia keluar dari aula yang kini mulai runtuh, berdiri di tepi puncak gunung yang terbelah dua akibat tebasannya tadi. Di bawah sana, ribuan murid yang terluka menatapnya dengan penuh kengerian.

​Ia melemparkan jasad Master Jian ke bawah.

"Katakan pada Long Tian! Pedang terkuatnya sudah kupatahkan. Jantung Phoenix-nya kini ada di tanganku. Jika dia ingin mengambilnya kembali, aku menunggunya di Gerbang Ibu Kota dalam tiga hari!"

​Suara Lin Xiao menggelegar ke seluruh pegunungan, membawa pesan kehancuran bagi siapa pun yang masih setia pada klan Long.

Dengan Jantung Phoenix di tangannya, Lin Xiao telah melumpuhkan kekuatan udara kekaisaran.

​Kini, jalannya menuju istana sudah terbuka lebar.

Sang Mawar Hitam siap untuk melakukan pengeksekusian terakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!