NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Wajah

Keheningan di dalam gua itu absolut, hanya terganggu oleh tetesan air yang jatuh dari stalaktit setiap beberapa detik, menciptakan irama yang lambat dan menghipnotis. Namun, di dalam tubuh Han Luo, terjadi badai yang kacau balau.

Matahari di luar gua mulai terbenam, membiaskan cahaya oranye redup yang perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan malam yang pekat. Han Luo tidak bergerak seinci pun sejak sore tadi. Slip giok di dahinya sudah diturunkan, tergenggam erat di tangan kanannya hingga urat-uratnya menonjol.

Dia sudah menghafal mantra pembuka dari Sutra Seribu Wajah Tanpa Rupa.

"Qi adalah pisau, wajah adalah kanvas. Hancurkan untuk membangun kembali."

Prinsip teknik ini sederhana namun brutal. Kultivator harus mengalirkan Qi mereka ke meridian wajah yang sangat halus dan rapuh—area yang biasanya dihindari dalam kultivasi normal karena risiko kelumpuhan saraf. Qi itu kemudian dipadatkan menjadi jarum-jarum mikroskopis untuk merangsang otot dan tulang rawan wajah agar menjadi lunak, seperti tanah liat, sebelum dibentuk ulang sesuai keinginan.

Bagi kultivator tingkat tinggi, rasa sakit ini mungkin bisa ditoleransi. Tapi bagi Han Luo, yang hanya berada di Pembentukan Qi Tingkat 3 dengan saluran meridian yang sempit dan kotor, ini adalah siksaan neraka.

"Ayo mulai," bisiknya pada kegelapan.

Han Luo menutup mata. Dia mulai menggerakkan sedikit Qi yang dia miliki di dantian. Arus hangat itu mengalir naik, melewati dada, leher, dan akhirnya mencapai rahangnya.

"Hmph!"

Erangan tertahan lolos dari bibirnya. Saat Qi itu memasuki area wajah, rasanya seperti ada ribuan semut api yang merayap di bawah kulitnya, menggigit daging bagian dalam.

Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membasahi punggungnya. Tubuhnya gemetar hebat. Insting alaminya berteriak untuk menghentikan sirkulasi Qi itu, untuk melarikan diri dari rasa sakit.

Tidak. Jangan berhenti.

Han Luo menggertakkan gigi begitu keras hingga gusi berdarah. Bayangan Long Tian yang tersenyum arogan melintas di benaknya. Bayangan dirinya yang mati seperti anjing di penjara bawah tanah melintas silih berganti.

Sakit ini nyata. Tapi kematian konyol itu lebih menyakitkan.

Dia memaksa Qi itu terus bergerak. Rasa sakitnya meningkat. Dari gigitan semut, kini berubah menjadi sayatan pisau silet. Dia bisa merasakan otot-otot wajahnya berkedut liar, berkontraksi dan melonggar secara paksa. Tulang pipinya terasa panas, seolah-olah sedang dipanggang di atas bara api.

"ARGHHH!"

Han Luo tidak bisa menahannya lagi. Dia menjerit, suaranya parau dan putus asa, memantul di dinding-dinding gua. Tangannya mencakar tanah gua yang keras hingga kuku-kukunya patah dan berdarah.

Dia berguling di lantai gua, tubuhnya melengkung seperti udang. Rasanya wajahnya sedang ditarik lepas dari tengkoraknya.

"Lagi... belum cukup..." desisnya di antara napas yang tersengal-sengal.

Dia kembali duduk bersila dengan paksa. Dia merobek sobekan kain dari jubah murid luarnya, menggulungnya, dan menggigitnya keras-keras untuk meredam teriakannya sendiri. Dia tidak ingin menarik perhatian binatang buas atau patroli sekte—meskipun area ini sangat terpencil.

Malam berlalu dengan lambat. Bagi Han Luo, setiap detik terasa seperti satu tahun.

Dia pingsan dua kali karena rasa sakit yang tak tertahankan, hanya untuk bangun kembali karena dinginnya lantai gua dan melanjutkan prosesnya. Dia tidak punya pil pemulihan. Dia tidak punya bimbingan guru. Dia hanya punya kebencian dan keputusasaan sebagai bahan bakar.

Menjelang fajar hari kedua, sensasi panas di wajahnya mulai berubah.

Rasa sakit tajam itu perlahan memudar, digantikan oleh sensasi kebas yang aneh. Wajahnya terasa tebal dan berat, seolah-olah bukan miliknya lagi.

Han Luo membuka matanya. Pandangannya kabur karena kelelahan, tapi pikirannya jernih. Dia merasakan meridian di wajahnya telah terbuka, membentuk jalur sirkulasi baru yang sesuai dengan deskripsi di Sutra Seribu Wajah.

Dia mengarahkan tangannya yang gemetar ke wajahnya. Kulitnya terasa panas dan sedikit berminyak karena kotoran yang dikeluarkan dari pori-pori, tapi di bawah sentuhannya, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Otot-otot di bawah kulitnya terasa... patuh.

"Berubah," perintahnya dalam hati, memvisualisasikan wajah yang sedikit berbeda—hidung yang lebih mancung, rahang yang lebih tegas.

Krak. Krek.

Suara tulang rawan yang bergeser terdengar mengerikan di keheningan gua. Itu bukan ilusi. Wajahnya benar-benar bergerak. Rasa sakitnya masih ada, tapi sekarang dia yang memegang kendali atas rasa sakit itu.

Han Luo merangkak mendekati genangan air yang terbentuk dari tetesan stalaktit semalam. Cahaya pagi yang remang-remang membantunya melihat refleksi di air keruh itu.

Pria di dalam air itu bukan Han Luo.

Wajah itu tampak lebih tua, sekitar tiga puluh tahunan, dengan alis tajam dan bekas luka tipis di pipi kiri yang dia ciptakan dengan sengaja. Itu adalah wajah yang dingin dan kejam. Wajah yang cocok untuk seorang pembunuh bayaran.

Han Luo menyentuh pipi barunya. Dia mencoba tersenyum. Refleksi itu ikut tersenyum, sebuah senyuman asing yang penuh bahaya.

"Berhasil..."

Dia tertawa. Awalnya pelan, lalu semakin keras hingga bergema di seluruh gua. Tawa itu bercampur dengan kelegaan dan sedikit kegilaan. Dia telah menaklukkan tahap pertama: Kulit Palsu.

Namun, euforia itu tidak bertahan lama.

Grukk.

Perutnya berbunyi keras, melilit menyakitkan. Rasa lapar yang ekstrem menyerangnya. Kultivator tahap Pembentukan Qi belum bisa berpuasa sepenuhnya. Mereka masih butuh makanan, terutama setelah menguras energi fisik dan mental seberat ini.

Han Luo memeriksa meridiannya. Kosong. Qi-nya benar-benar kering. Menggunakan Sutra Seribu Wajah ternyata memakan konsumsi Qi yang boros.

"Masalah baru," gumam Han Luo, mengembalikan wajahnya ke bentuk asli—proses yang untungnya tidak sesakit mengubahnya, hanya terasa seperti melepas topeng ketat. "Tanpa sumber daya, tanpa Batu Roh, tanpa Pil, aku tidak bisa mempertahankan penyamaran ini lebih dari satu jam."

Di novel, Long Tian mendapatkan sumber daya dari keberuntungan. Dia akan menemukan tanaman spiritual saat buang air di semak-semak, atau diberi hadiah oleh Tetua karena 'bakatnya'.

Han Luo merogoh saku jubahnya. Hanya ada tiga keping koin tembaga dan sekeping roti kering yang sudah keras seperti batu.

"Aku miskin," simpulnya datar. "Sangat miskin."

Untuk menjalankan rencananya, dia butuh modal. Dia tidak bisa merekrut penjahat dengan tangan kosong.

Dia menatap ke arah pintu gua. Hari sudah terang. Ini adalah hari kedua. Besok, Long Tian akan tiba.

"Aku harus kembali ke sekte," pikirnya, menyusun rencana. "Aku harus hadir saat pembagian tugas besok pagi, atau Tetua Pengawas akan curiga. Dan aku harus mulai mengumpulkan modal... dengan cara apa pun."

Han Luo berdiri, kakinya goyah sejenak sebelum dia menemukan keseimbangannya. Dia membungkuk sekali lagi pada kerangka "Wajah Seribu Iblis".

"Terima kasih atas tekniknya, Senior. Aku berjanji, wajah ini akan menjadi mimpi buruk bagi mereka yang duduk di puncak."

Dengan langkah tertatih namun pasti, Han Luo keluar dari gua. Cahaya matahari menusuk matanya, tapi dia tidak berpaling. Dia bukan lagi sekadar murid luar yang lemah. Dia adalah aktor yang baru saja mendapatkan topeng pertamanya, dan panggung dunia ini sedang menunggu pertunjukannya.

Di perjalanan turun, otaknya yang ensiklopedis mulai memutar kembali memori novel.

Bab 18: Pasar Gelap di Kaki Gunung Sekte Pedang Awan. Ada seorang pedagang bodoh yang menjual 'Pedang Patah' seharga 5 koin perak. Pedang itu sebenarnya berisi pecahan teknik pedang kuno.

Han Luo menyeringai tipis, meski wajahnya pucat pasi.

"Maaf, Long Tian. Pedang itu milikmu di cerita asli. Tapi karena aku butuh modal... anggap saja itu biaya pendaftaranmu ke neraka."

1
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
Efendi Riyadi
cerita macam apa ini guru, season 1-3 sangat menarik knapa season ke 4 jdi gini ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!