NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa Terharu

Semalaman Dreven tidak pulang ke Mansion. Shahinaz yang merasa menumpang di tempat laki-laki itu, tentu saja merasa tidak enak. Apa lagi dia juga merasa sedikit khawatir, Apakah Dreven sekarang baik-baik saja? Apakah Dreven terluka cukup parah hingga tidak bisa pulang, tapi kenapa dia tidak memberitahukan keberadaannya dimana?

Entahlah, Shahinaz cukup bingung dengan situasi yang sedang berlangsung di dalam hidupnya ini. Dreven seperti sudah menyedot sebagian perhatiannya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mendesah pelan, mencoba menenangkan diri saja.

"Bilang aja udah cinta. Lo khawatir banget sama Dreven kan? Lo lagi nungguin dia pulang kan? Makanya lo nolak check up bareng gue sama Arsenio, demi bisa ke rumah sakit bareng sang pujaan hati." ledek Kaendra yang jelas membuat Shahinaz ingin menyumpal mulut laki-laki itu rapat-rapat.

"Siapa yang bilang nggak mau ke rumah sakit? Gue kan udah bilang jadwalnya besok. Buat apa gue minta balik, jika tiap hari harus ke rumah sakit!" seru Shahinaz kesal.

Arsenio menggelengkan kepalanya, "Tapi lo kemarin pingsan di tengah jalan Sha. Gue rasa kepala lo perlu diperiksa sekali lagi, obat yang harusnya dikonsumsi juga ketinggalan di mobil itu kan?"

"Aishhh, besok aja. Gue udah nggak apa-apa kok, kepalanya juga udah nggak sakit lagi. Yang sekarang perlu kita pikiran tuh Dreven sama Vincent tau. Kenapa kalian jadi ngekhawatirin gue!" balas Shahinaz lagi sambil berkacak pinggang.

Kaendra dan Arsenio saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Shahinaz. Mereka yakin Shahinaz sebenarnya juga mulai memiliki perasaan kepada Dreven, tapi dia belum yakin dengan perasaannya sendiri.

"Jujur, lo pasti udah mulai cinta sama Dreven kan? Gue tau perasan cinta udah mulai tumbuh di dalam hati lo, cuma ketutup gengsi aja." ujar Kaendra selanjutnya.

"Kapan gue bilang begitu? Nggak ada urusannya sama cinta ya! Gue cuma khawatir karena dia yang nolongin gue di rooftop kemarin." jawab Shahinaz defensif, meskipun pipinya sedikit merona. Ditambah, gue ngelihat dengan mata kepala gue sendiri, kalau bahunya ke tembak, dan darahnya merembes kemana-mana. Kalian paham nggak semudah!"

Kaendra terkekeh, mana dia tau Shahinaz akan menolak dengan penuh emosi seperti itu. Tapi semoga saja, ini perkembangan yang baik untuk hubungan mereka, dia yakin secepatnya cinta Dreven akan terbalaskan oleh gadis itu.

"Jujur, sebenarnya Dreven nggak nolongin lo secara langsung sih, kita masih dalam perjalanan menuju ke sekolah saat itu. Tapi berkat Dreven yang ngasih PIN khusus buat masuk lift, lo akhirnya nggak jadi sekarat dan mati muda deh." jawab Kaendra meluruskan peristiwa saat itu.

Shahinaz mengernyit sebentar, jadi ada sedikit kesalah pahaman dengan nalarnya. Dia pikir Dreven yang murni membantunya secara keseluruhan, ternyata masih ada campur tangan orang lain yang turut membantunya juga.

"Dreven nggak nolongin gue secara keseluruhan, terus yang nolongin gue pertama kali siapa?" tanya Shahinaz ingin tau. Dia berhutang budi dengan siapapun yang menolongnya bukan? Dia ingin tau, karena setidaknya ucapan terimakasih harus terlontar dari mulutnya lantaran berhasil selamat dari kematian di kehidupan keduanya.

"Lo nggak perlu tau Sha, lagian Dreven udah ngasih bingkisan terimakasih buat mewakili lo kok. Jangan coba cari-cari perkara, Dreven ngamuk, lo nggak bisa ngebayangin dia bakalan ngelakuin apa sama cowok-cowok yang udah nolongin lo kemarin pagi." kali ini Arsenio lah yang membuka suaranya.

Shahinaz mendesah pelan. Dreven benar-benar di luar nalar, tingkat keposesifannya juga benar-benar tinggi. Shahinaz jadi tidak yakin bisa hidup berdampingan cukup lama dengan laki-laki seperti itu!

"Dreven dalam keadaan terluka gitu aja kalian masih santai, dan nggak ada khawatir-khawatirnya sama sekali. Gue jadi berpikir kalau Dreven itu manusia jadi-jadian. Jujur aja, dia itu vampir, manusia serigala, atau makhluk lain yang udah hidup di dunia selama beratus-ratus tahun?" tanya Shahinaz sambil menyipitkan matanya, bisa saja kan dia tiba-tiba tersangkut dalam dunia fantasi.

Kaendra menjitak dahi Shahinaz sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir, "Lo mikirnya nyeleneh, kebanyakan baca novel ya! Di dunia ini nggak ada vampir, makhluk dengan keistimewaan berumur panjang atau sejenisnya, jadi nggak usah ngada-ngada dan mengkhayal lagi! Dreven masih manusia biasa pada umumnya, dia punya kepercayaan, dia masih punya Tuhan."

Shahinaz meringis pelan. Dia tahu Kaendra pasti akan menanggapinya dengan skeptis, apalagi pertanyaan yang dilontarkan olehnya terlampau konyol dan nyeleneh juga. Tapi dia bingung, kenapa mereka seolah santai dan tidak khawatir dengan keadaan sahabatnya se diri? Itu saja, tidak lebih!

"Kalau lo khawatir sama Dreven, tenang aja, semuanya aman terkendali kok. Suatu saat lo pasti bakal ngerti dengan sendirinya siapa Dreven sebenarnya. Gue yakin, lo bakal jadi orang yang paling kaget sih, setelah tau kehidupan Dreven secara keseluruhan kayak gimana," Arsenio menambahkan dengan senyuman kecil yang terpancar, "Makanya lo jangan ada niatan main-main sama perasaan tulus Dreven, karena gue yakin lo bakal jadi orang yang paling menyesal setelah Dreven pergi sepenuhnya dari hidup lo."

Deg.

Kata-kata Arsenio menggema di benak Shahinaz, membuatnya tertegun. Ada sesuatu dalam nada suara Arsenio yang membuat kata-kata itu terdengar lebih serius dari yang seharusnya. Seolah ada peringatan tersirat di balik ucapannya, sebuah ancaman halus bahwa jika Shahinaz tidak berhati-hati, dia bisa kehilangan Dreven selamanya.

"Pergi sepenuhnya dari hidup gue?" gumam Shahinaz dengan suara nyaris berbisik. Jika Dreven sepenuhnya pergi dari hidupnya, dia akan berakhir sendirian di dunia asing ini.

Arsenio tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia hanya menatap balik ke arah Shahinaz dengan pandangan tenang tapi tegas, seolah mengatakan bahwa dia sudah mengatakan semua yang perlu dikatakan. Kaendra yang sedari tadi hanya menyaksikan percakapan ini dengan senyum di wajahnya, akhirnya memutuskan untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa berat.

"Udah lah, jangan terlalu dipikirin Sha, Dreven nggak bakal pergi ninggalin lo kok. Mulut Arsenio emang kadang perlu dijahit, soalnya sering banget ngomong ceplas-ceplos kayak begitu. Ayo ke rumah sakit, luka dikepala lo harus di cek lagi kan?" ajak Kaendra berikutnya.

"Harus banget ke rumah sakit ya?" tanya Shahinaz sambil mengangkat alisnya.

"Kepala lo mau gue jitak lagi? Kemarin lo pingsan selama pelarian, dan lo masih nanya kenapa harus ke rumah sakit? Kalau Dreven tau masalah ini, justru kita yang bakalan dijitak dan nggak ada jaminan berumur panjang." balas Kaendra sambil mengangkat tangannya berancang-ancang.

Shahinaz hendak membalas, tapi teriakan dari lantai atas membuat mereka yang berada dilantai dasar langsung bungkam. Teriakan itu bahkan makin terasa, ketika ada seorang wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh turun dari tangga. Penampilannya benar-benar memprihatinkan, seolah tidak pernah terurus selama bertahun-tahun.

"Pergi-pergi! Aku benci kalian! Jalang! Kamu pengkhianat Mas! Dasar brengsek! Tega-teganya kamu mengkhianati pernikahan kita! Aku benci semuanya! Hahaha!"

Shahinaz memiringkan kepalanya. Apa dia Ibu Dreven yang dibicarakan Kaendra kemarin? Yang katanya gila karena perselingkuhan suaminya? Dia menatap Kaendra tanda bertanya, dan dijawab anggukan pelan oleh laki-laki itu.

Shahinaz menelan ludah, melihat wanita paruh baya itu meracau dengan suara yang pecah dan penuh kepahitan. Bahkan dua petugas medis yang mengikuti dari belakang, tidak bisa mengambil alih. Wanita yang kecantikannya tidak memudar itu, terus meracau sambil menuruni tangga Mansion dengan langkah limbung.

"Nyonya, minum obatnya dulu yuk. Di sini tidak asa laki-laki dan wanita brengsek itu lagi, jadi kembali ke kamar lagi saja yuk." mohon salah satu petugas medis itu menenangkan.

Wanita itu berhenti sejenak di tangga, menoleh ke arah petugas medis dengan pandangan yang tajam namun kosong, seperti seseorang yang hidup di dunianya sendiri, terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu.

"Aku tidak butuh obat! Kalian semua pembohong! Aku harus menghukum mereka sekarang huga!" jeritnya lagi, suaranya memekik, membuat Shahinaz menggigil tanpa sadar. Perasaan tidak nyaman semakin menguasai hatinya.

Bagaimana bisa seseorang menderita begitu dalam hanya karena cinta yang dikhianati?

Petugas medis menghela napas panjang, mencoba mendekat dengan hati-hati, tapi wanita itu segera mengangkat tangannya, menolak mereka dengan isyarat kasar.

"Jangan mendekat! Aku akan menghancurkan kalian semua jika mencoba menghalangiku! Dimana laki-laki brengsek itu hah!" ancamnya dengan nada dingin, seolah ancaman itu adalah kebenaran mutlak yang harus ditakuti.

Shahinaz merasa simpati semakin dalam kepada wanita itu, namun dia juga mulai memahami betapa mengerikannya situasi ini bagi Dreven. Wanita ini tidak hanya kehilangan suaminya karena pengkhianatan, tetapi juga jiwanya. Dan dalam hati, Shahinaz bertanya-tanya bagaimana Dreven menghadapi ini selama bertahun-tahun? Keluarganya yang lain benar-benar aneh dan gila!

Kaendra mendekat perlahan, mengambil langkah hati-hati sebelum berbicara dengan lembut. "Tante, ini Kaendra. Nggak ada siapa-siapa lagi di sini, cuma kami. Nggak ada yang berusaha menyakiti Tante. Ayo kita kembali ke kamar, biar Tante bisa istirahat. Obatnya sudah siap di sana," bujuknya, senyum penuh pengertian menghiasi wajahnya.

Wanita itu menunjuk Kaendra dengan tetapan tajamnya, "Kamu pasti bawahan laki-laki brengsek itu kan! Dimana laki-laki itu, saya harus membunuhnya dan membawanya ke neraka!"

Di lain sisi, Arsenio berbisik di telinga Shahinaz, "Dreven aja nggak dikenali sama Mamahnya sendiri. Fisik dan mentalnya seolah udah stuck ketika dia tau Ayah Dreven mengkhianati dia."

Shahinaz menelan ludah saat mendengar ucapan Arsenio. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melupakan anaknya sendiri? Tapi jelas sekali bahwa wanita paruh baya di depannya ini telah terperangkap dalam trauma yang begitu mendalam hingga tidak lagi mampu mengenali realitas di sekitarnya. Shahinaz menatap Kaendra yang masih berusaha menenangkan ibu Dreven dengan suara lembut, sepertinya itu tidak akan berhasil.

"Terus kita harus gimana?" bisik Shahinaz, jelas merasa khawatir.

Arsenio hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah, "Itu kenapa sebelum ini, Mamahnya Dreven ditempatin di rumah sakit jiwa terbaik di negara ini," jawab Arsenio pelan. "Setiap kali kondisinya memburuk, pasti ada sesi seperti ini. Terkadang lebih parah, dia bisa ngehancurin semua barang yang ada disekitarnya."

Pranggg...

Sebuah vas bunga berbahan kaca yang ada disekitaran mereka akhirnya raib juga. Untung saja Kaendra segera menghindar dan menjauh dari sana. Tapi kondisinya semakin tidak terkendali sekarang.

"Dimana laki-laki brengsek itu! Dimana!" teriak wanita paruh baya itu penuh emosi. "Kurang cantik apa diriku hah? Sampai-sampai berani membawa pulang pelakor ke Mansion ini?!"

Teriakan wanita itu terus menggema di dalam Mansion, dan tidak ada yang bisa menanganinya, terus para pekerja yang berada di Mansion ini.

Emosinya semakin tidak terkendali, dan membuat petugas medis tampak kebingungan harus melakukan apa. Mereka tak bisa terlalu dekat atau memaksanya minum obat, karena itu bisa membuat situasinya bertambah buruk.

"Kurang apa aku Mas, aku kurang apa! Kenapa kamu menggantikanku dengan wanita rendahan seperti itu!"

Shahinaz memandang ke arah Kaendra dan Arsenio, merasakan ketidakberdayaan mereka menghadapi situasi yang tengah terjadi. Namun di balik kebingungan itu, Shahinaz mendapati ada sesuatu yang lebih dalam, yang jelas membuat dirinya merasa tersentuh diwaktu yang bersamaan. Wanita paruh baya itu menjadi seperti ini karena cinta yang tulus kepada suaminya, Shahinaz merasa cukup takjub dengan perasaan itu.

Tanpa sadar, Shahinaz perlahan melangkah maju, mendekati wanita paruh baya yang terus meracau itu tanpa takut lagi. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah ada beban tak terlihat yang menariknya mundur. Namun, entah mengapa, hatinya berkata bahwa dia harus mendekat.

Dia harus mencoba sesuatu, setidaknya hanya untuk memahami sedikit penderitaan yang dialami wanita paruh baya itu!

"Hai, Tante... Pasti berat ya..." ucap Shahinaz lembut, suaranya terukir banyak ketulusan di sana, "Hati Tante merasa sakit dan dihancurkan secara bertubi-tubi. Shahinaz juga pernah merasakannya, itu benar-benar menyakitkan dan rasanya ingin mati saja."

Wanita paruh baya itu mendadak terdiam saat mendengar suara lembut Shahinaz. Mata kosongnya yang tadinya dipenuhi amarah kini beralih menatap Shahinaz, sedikit terkejut mendengar seseorang menyentuh rasa sakitnya dengan begitu tulus. Ruangan seketika hening, bahkan petugas medis, para pekerjaan Kaendra, dan Arsenio tampak membeku, seakan waktu berhenti sejenak.

Shahinaz melanjutkan, hatinya bergetar karena ia tak pernah merasakan empati sedalam ini sebelumnya. "Shahinaz tau rasanya ditinggalkan Tante, meski Shahinaz belum sepenuhnya memahami rasa sakit yang Tante rasakan sebenarnya."

"Orang-orang yang Shahinaz cintai dengan sepenuh jiwa dan raga Shahinaz, semuanya pergi ninggalin Shahinaz tanpa permisi Tante. Tuhan ngambil semua kebahagiaan Shahinaz, bahkan Shahinaz masih ingat dengan jelas bagaimana caranya mereka pergi ninggalin Shahinaz sendirian di dunia ini dalam waktu yang bersamaan." lanjut Shahinaz yang kemudian terdiam, menerawang jauh ke dalam ingatannya, dan mengusap air matanya yang tiba-tiba sudah membanjiri pipinya tanpa sadar.

Suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi sunyi, hanya isak tangis pelan Shahinaz yang terdengar. Mata wanita paruh baya itu menatapnya tajam, namun ada keraguan dan kesedihan yang perlahan merayap ke dalam tatapannya. Seolah hatinya yang telah lama membeku dan dipenuhi kebencian, perlahan-lahan mencair oleh ketulusan yang Shahinaz pancarkan.

"Kamu... merasakan sakit itu juga?" Wanita itu berbicara, suaranya kini lebih tenang, meskipun masih penuh dengan kepahitan.

Shahinaz mengangguk pelan, masih berusaha mengendalikan emosinya sendiri, "Iya, hati Shahinaz sakit Tante. Mereka masuk jurang, Shahinaz cuma bisa ngelihatin dan nangis dibawah guyuran hujan, nggak ada satupun yang nolongin Shahinaz padahal Shahinaz udah teriak minta tolong saat itu!"

"Semua orang nyalahin Shahinaz kenapa masih selamat, padahal Seharusnya mereka merangkul kan? Bukan menghakimi Shahinaz? Kata mereka, seharusnya Shahinaz ikut mati saja, Shahinaz akan jadi beban mereka katanya. Tapi kenapa mereka semua merampas hak yang seharusnya menjadi milik Shahinaz?" lanjut Shahinaz sambil terisak, mengingat semua memori yang begitu menyakitkan dikehidupannya dulu.

Benar, semua sanak saudara yang terikat dengannya justru menghakiminya kenapa tidak ikut mati saja saat itu. Tapi itu bukan kehendaknya sendiri bukan? Takdir sudah ada yang menentukan, tugas kita hanya menjalankan. Itu kenapa dia akhirnya melanjutkan hidup dengan penuh trauma, dan hanya Venelattie saja yang masih mau berada disisinya.

"Shahinaz benar-benar hidup sendirian Tante, semua orang jahatin Shahinaz dan ngelukain hati Shahinaz. Padahal Shahinaz merasa nggak melakukan kesalahan apa-apa saat itu. Untung saja masih ada yang mau merangkul Shahinaz, jadi Shahinaz merasa tidak sendirian di dunia ini." lanjut Shahinaz sambil tersenyum tipis dan menghapus jejak air matanya sebaik mungkin.

Wanita paruh baya itu terdiam sesaat, memandang Shahinaz dengan tatapan yang lebih lembut meski masih diliputi kesedihan. Perlahan, tubuhnya yang tadinya tegang mulai melemas, dan tangannya yang terangkat penuh amarah jatuh ke sisi tubuhnya. Dia menunduk, seakan apa yang dikatakan Shahinaz telah menembus benteng kebenciannya.

"Kamu... kamu benar-benar merasakan itu?" gumam wanita paruh baya itu, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya yang tadinya penuh amarah kini berkilat dengan air mata yang tak bisa dia tahan lagi. "Aku... aku tidak sendirian?"

Shahinaz melangkah lebih dekat, mengambil kesempatan yang diberikan oleh hati yang mulai terbuka itu. Dia mengulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, menyentuh bahu wanita itu dengan lembut.

"Tante nggak sendirian," bisik Shahinaz, "Kita sama-sama pernah terluka, pernah merasa ditinggalkan. Tapi kita masih di sini, Tante. Kita masih hidup."

Wanita paruh baya itu menatap Shahinaz dengan mata yang kini dipenuhi oleh air mata yang tumpah ruah. Dia menggenggam tangan Shahinaz yang ada di bahunya, jemarinya bergetar seakan takut jika kehangatan itu akan lenyap begitu saja. "Aku... aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu," isaknya. "Aku hanya ingin... cinta itu kembali."

Shahinaz mengangguk pelan, merasakan betapa dalam luka yang dihadapi oleh wanita ini. "Cinta yang dulu mungkin tidak akan kembali, Tante. Tapi kita masih bisa menemukan cinta yang baru. Cinta dari orang-orang di sekitar kita yang peduli dan ingin melihat kita bahagia lagi."

Ruangan mendadak sunyi, namun ketegangan yang tadinya mendominasi perlahan mulai menghilang. Wanita paruh baya itu, menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Shahinaz dengan penuh isak, seakan semua beban yang dipendamnya selama bertahun-tahun akhirnya terangkat dalam waktu singkat.

Semua orang terpana dengan apa yang telah dilakukan Shahinaz. Termasuk Dreven, yang dari awal sudah berdiri jauh dibelakang mereka, menyaksikan kejadian itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan!

Tapi satu hal yang pasti, Dreven merasa terharu disaat yang bersamaan!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!