Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diri Yang Mulai Terbangun
Hari Sabtu pagi itu, langit Jakarta terlihat seperti selembar kertas kalkir yang pudar, cahaya matahari tersaring tipis melalui lapisan polusi.
Amara berdiri di depan cermin lemari pakaiannya, menatapi tiga pilihan baju yang digelarnya di atas tempat tidur. Sebuah keputusan sederhana—apa yang harus dikenakan ke pertemuan orang tua di sekolah Luna—tiba-tiba terasa seperti pernyataan sikap.
Akhirnya, dia memilih sesuatu yang berada di tengah: celana trousers linen berwarna khaki yang elegan namun nyaman, dipadukan dengan blus sutra bermotif geometris abstrak berwarna biru baja. Sebuah jaket blazer linen pendek menyelesaikan penampilannya.
Itu bukan pakaian 'istri pengusaha sukses' yang terlalu dicoba, juga bukan penampilan 'ibu rumah tangga yang lelah'.
Ini adalah pakaian Amara si desainer. Dia menyisir rambutnya yang ikal hingga tergerai natural, hanya memakai alas bedak tipis dan lipstik nude.
Di tangannya, dia membawa tas selempang kulit yang ringkas, berisi notebook, pulpen, dan ponselnya. Tidak ada sketchbook hari ini. Ini wilayah netral.
Rafa, setelah malam di kamar tamu dan dua hari komunikasi yang dingin namun sopan, sudah pergi lebih awal dengan alasan
"kerjaan numpuk di kantor, Sabtu ini perlu lembur." Dia tidak menawarkan untuk ikut ke sekolah.
Amara bahkan tidak bertanya. Sebuah gencatan senjata yang rapuh terbentuk: dia tidak menyinggung Bandung, dia tidak mengomeli pekerjaannya; dia pergi, dia pulang, mereka berinteraksi seperlunya untuk Luna.
Sekolah 'Cahaya Bangsa' adalah sebuah kampus modern dengan gedung-gedung rendah bercat putih dan jendela-jendela besar. Taman-tamannya tertata rapi, penuh dengan patung-patung kecil dan bunga warna-warni.
Suasana di sini selalu membuat Amara merasa sedikit… kurang. Seperti dia harus membuktikan sesuatu. Kebanyakan ibu-ibu di sini adalah wanita karir dengan kartu nama mengkilap, atau istri-istri dari keluarga yang bahkan lebih mapan daripada mereka, yang bisa dengan santai membicarakan liburan ke Swiss atau koleksi tas terbaru.
Ruang pertemuan kelas 3B sudah ramai saat Amara masuk. Suara gemuruh obrolan, tawa, dan sapaan memenuhi ruangan ber-AC yang sejuk. Kursi-kursi plastik biru disusun berbaris menghadap ke meja guru.
Amara menyapa Bu Tari, wali kelas Luna, dengan senyum, lalu mencari tempat duduk di baris tengah—tidak terlalu depan agar tidak mencolok, tidak terlalu belakang agar tidak terkesan tidak peduli.
Duduk di sebelah kirinya adalah Ibu Ririn, mama dari teman sekelas Luna yang paling cerewet. Perempuan dengan potongan bob pendek dan kacamata frameless yang selalu terlihat sibuk dengan jadwal les anaknya yang padat. Di sebelah kanan, kosong.
"Sibuk ya, Bu Amara? Jarang ketemu nih di arisan kompleks," sapa Ibu Ririn ramah.
"Lumayan, Bu. Luna juga banyak kegiatan," jawab Amara sopan, membuka notebooknya.
Pertemuan dimulai dengan laporan akademis dari Bu Tari, dilanjutkan dengan rencana kegiatan kelas dan pengumuman iuran. Amara mencatat dengan rapi, pikirannya sesekali melayang ke moodboard digital untuk koleksi musim dingin yang sudah dia mulai di laptopnya. Pikirannya tentang tekstur wool melawan chiffon, tentang detail jahitan yang bersembunyi.
Sesi tanya jawab dimulai.
Pertanyaan-pertanyaan berputar di sekitar remedial matematika, ekstrakurikuler coding, dan rencana field trip ke planetarium. Amara duduk tenang, merasa cukup aman dalam perannya sebagai pendengar.
Lalu, giliran seorang ibu di depan barisnya berdiri. Ibu Dewi, mama dari anak yang baru pindah. Dia berbalik sedikit, mungkin untuk memastikan suaranya terdengar, dan matanya tertuju pada Amara.
"Maaf, Bu Tari, izinkan saya menyela sebentar. Ini mungkin di luar agenda," ucap Ibu Dewi dengan suara ramah. Dia lalu menoleh sepenuhnya ke Amara. Senyumnya hangat dan polos, tanpa pretensi.
"Bu Amara, kan? Saya Dewi. Kebetulan, kemarin saya sedang riset kecil-kecilan untuk desain kantor suami saya yang baru. Saya lihat di portofolio lama salah satu studio desain, dan ternyata ada nama Anda di sana sebagai desainer utama untuk beberapa proyek retail yang sangat bagus! 'Amara S. Dewanto', betul?"
Ruangan menjadi hening sejenak. Beberapa ibu menoleh, penasaran.
Amara merasa darahnya naik ke wajah. Dia tersenyum kaku, mengangguk. "Iya, betul. Itu… dulu sekali."
"Ih, luar biasa!" seru Ibu Dewi, antusias. Matanya berbinar.
"Desain butik 'Kain & Rupa' di Kemang itu karya Anda, ya? Saya suka sekali konsep ruang fluid-nya. Sangat ahead of its time!"
Amara tersipu, campur antara bangga yang terlupakan dan rasa tidak nyaman yang mendadak. "Terima kasih. Itu project waktu masih aktif di dunia desain."
Ibu Dewi mengangguk-angguk, lalu melontarkan pertanyaan itu. Dengan nada bersahabat, penuh rasa ingin tahu yang tulus, tanpa sedikit pun niat menyakiti, dia bertanya:
"Wah, berarti sekarang Anda full-time mom saja? Tidak melanjutkan lagi? Sayang sekali bakatnya."
Full-time mom saja.
Kata "saja" itu menggantung di udara, ringan tapi tajam seperti silet. Itu meluncur begitu saja, terucap dengan nada yang mungkin bermaksud memuji pengorbanan, tapi di telinga Amara, itu terdengar seperti vonis. Sebuah pengurangan.
Semua mata tertuju padanya. Ibu Ririn di sampingnya berhenti membuka-buka catatannya. Bu Tari tersenyap, menunggu.
Amara merasa mulutnya kering. Identitas yang selama ini dia pelan-pelan coba bangun kembali di ruang kerja sunyi tiba-tiba disorot di bawah lampu neon ruang pertemuan kelas 3B. Dia merasa terbuka. Terkelupas.
"Eh, iya… sementara fokus ke keluarga dulu," jawabnya akhirnya, suaranya terdengar kecil dan jauh di telinganya sendiri.
"Pintar juga sih, pilihannya," sahut seorang ibu lain dari baris belakang, Ibu Lisa, istri seorang dokter. Suaranya bernada bijak.
"Daripada kerja keras, anak terlantar. Kan sekarang ada yang cari nafkah." Dia tersenyum simpatik pada Amara.
Senyuman itu terasa seperti tamparan.
Ada yang cari nafkah. Seolah-olah kontribusinya selama ini adalah nol. Seolah-olah pilihannya (atau lebih tepat, kondisi yang terbentuk) untuk tinggal di rumah adalah sebuah kemewahan, bukan sebuah pengorbanan diam-diam.
"Tapi kan zaman sekarang banyak yang bisa remote kerja, ya," timpal Ibu Dewi, masih dengan ketulusannya yang membabi buta.
"Kalau skill seperti Ibu Amara, pasti banyak yang butuh. Saya aja langsung offer kalau tahu Anda available!" Dia tertawa ringan.
Tawaran itu, yang seharusnya terdengar menggembirakan, justru membuat Amara makin sesak. Ini seperti sebuah intervensi publik terhadap hidupnya yang pribadi.
Dia terkepung: di satu sisi, simpati yang merendahkan dari Ibu Lisa; di sisi lain, pujian yang tanpa sadar menyoroti kekosongannya dari Ibu Dewi.
"Terima kasih, Bu Dewi. Saya… pertimbangkan," gumam Amara, berusaha mengakhiri percakapan.
Bu Tari dengan sigap mengambil alih, mengembalikan fokus ke field trip. Tapi untuk Amara, suara Bu Tari seperti bergemuruh dari bawah air. Pikirannya berputar-putar.
Full-time mom saja.
Dia melihat sekeliling ruangan. Ibu-ibu lain dengan percaya diri membicarakan karir mereka sebagai akuntan, psikolog, pengusaha katering. Atau, mereka yang 'hanya' ibu rumah tangga seperti dirinya, tampak begitu nyaman dengan peran itu, membicarakannya dengan bangga.
Amara merasa terjebak di tengah. Dia bukan ibu rumah tangga sepenuh hati, juga bukan wanita karir yang utuh. Dia adalah bekas. Mantan. Sebuah karya yang belum selesai dan disimpan di gudang.
Pertemuan berakhir. Amara bergegas keluar, menghindari kemungkinan percakapan lanjutan. Di koridor yang terang, dia berhenti di depan sebuah pameran karya seni anak-anak.
Lukisan-lukisan cerah Luna dan teman-temannya dipajang.
Lalu, matanya tertangkap pada sebuah kolase foto di dinding dekat pintu keluar: "Profil Orang Tua Berprestasi". Ada foto seorang ayah yang memenangkan penghargaan inovasi, seorang ibu yang menerbitkan buku.
Di bawah setiap foto, ada caption: "Ayah dari…", "Ibu dari…", diikuti nama anak dan kelasnya.
Identitas mereka di sini, di dinding sekolah ini, tetap diturunkan kepada peran mereka sebagai orang tua. Prestasi mereka sendiri ada, tapi ditempatkan dalam konteks keluarga. Apakah itu membuat prestasi itu kurang? Atau justru lebih bermakna?
Amara merasa lebih bingung.
Dia sampai di gerbang sekolah, masuk ke mobil taksi online yang sudah dipesan nya. Dia tidak menyapa driver online tersebut, bahkan sapaan dan pertanyaan dari driver diabaikan. Ia hanya duduk, menatap kosong, napasnya sedikit tersengal.
Pertanyaan Ibu Dewi terus bergema. Sayang sekali bakatnya.
Apakah sayang? Selama ini, dia merasa bakatnya itu seperti anggota tubuh yang lama tidak digunakan—layu, kaku. Tapi proyek dari Clara membuktikan otot-otot itu masih ada, masih bisa sakit, masih bisa kuat.
Tapi siapa dia sekarang? Jika bukan desainer andal seperti dulu, dan bukan juga ibu rumah tangga yang sepenuhnya puas seperti Ibu Lisa, lalu siapa?
Dia mengeluarkan ponselnya. Tanpa berpikir panjang, dia membuka aplikasi kamera dan mengubahnya ke mode selfie. Dia melihat wajahnya sendiri di layar: wanita berusia akhir tiga puluhan, dengan mata yang terlalu besar untuk wajahnya yang sedikit lebih tirus dari dulu, garis halus di sudut mata.
Dia melihat blus geometrisnya, potongan yang dulu dia pilih dengan penuh keyakinan.
"Siapa kamu?" bisiknya pada bayangan di layar.
Jawabannya tidak datang.
Tapi sebuah tekad muncul, tumbuh dari rasa malu dan kebingungan tadi. Dia tidak ingin lagi harus tersipu dan gagap ketika ditanya siapa dirinya. Dia tidak ingin lagi identitasnya diringkas menjadi 'istri dari' atau 'ibu dari' atau yang lebih buruk, 'full-time mom saja'.
Ia kembali ke dunia nyata, dia membuka aplikasi pesan dan menemukan chat dengan Clara. Jarinya mengetik cepat, dengan sebuah kepastian yang baru:
"Clara, brief sudah saya pelajari. Saya akan kirim moodboard dan konsep awal dalam tiga hari. Tertarik untuk eksplorasi material tekstur yang kontras. Bisa kita meeting virtual minggu depan?"
Dia menekan kirim.
Lalu, dia mengetik pesan lain, untuk Rafa. Ini lebih sulit. Dia menatap layar lama sebelum akhirnya mengetik:
"Pertemuan selesai. Luna baik-baik saja. Aku pulang. Malam ini, kita perlu bicara. Tentang kita. Bukan untuk bertengkar. Tapi untuk benar-benar bicara."
Dia mengirimnya sebelum keberaniannya hilang.
Mobil meluncur meninggalkan sekolah, Amara melihat sekeliling. Jakarta yang hiruk-pikuk, penuh dengan orang-orang yang punya tujuan, punya label: karyawan, pedagang, pengemudi, eksekutif.
Dia adalah salah satu dari mereka, namun juga bukan.
Tapi mungkin, pikirnya, identitas bukanlah sesuatu yang tetap. Mungkin itu adalah sebuah karya yang selalu dalam proses. Seperti desain di sketchbooknya—bisa dihapus, diarsir ulang, direvisi.
Dan langkah pertamanya adalah berhenti menjadi 'saja'. Dia akan menjadi ibu Luna, tapi juga desainer Amara. Dia akan menjadi istri Rafa, tapi juga seorang wanita dengan dunianya sendiri. Entah bagaimana caranya.
Pertanyaan yang menusuk tadi, yang awalnya terasa seperti luka, kini justru seperti panggilan bangun tidur. Saat dia memasuki gerbang rumahnya yang sunyi, dia tidak lagi merasa seperti penghuni museum. Dia merasa seperti seorang arsitek yang baru saja diberikan izin untuk merenovasi.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.