Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Rapat Mencekam
Raisa berbalik tanpa sepatah kata pun, berjalan menuju pintu dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Namun, sebelum ia sempat memutar kenop pintu, suara Arash kembali menghentikannya.
"Dan satu lagi, Raisa. Buang semua baju tidur yang tertutup rapat itu. Aku sudah menyuruh pelayan meletakkan beberapa set baru di lemarimu. Pastikan kau memakainya jika Kakek tiba-tiba berkunjung malam ini."
Raisa menoleh dengan mata menyala karena amarah yang tak terbendung. "Kau pikir aku ini apa? Boneka pajanganmu?"
Arash hanya menatapnya datar, kembali fokus pada layar komputernya. "Bukan. Kau adalah investasi termahal yang pernah kubeli. Dan aku ingin investasiku terlihat sempurna."
Raisa keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruang CEO. Di luar, ia bersandar pada dinding koridor, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia merasa seolah-olah jaring laba-laba yang ditenun Arash mulai menutup rapat, dan kali ini, ia benar-benar tidak punya celah untuk melarikan diri
***
Lampu neon di ruang rapat utama lantai 40 berpendar putih pucat, menciptakan suasana yang kaku dan steril. Raisa berdiri di ujung meja oval panjang yang terbuat dari kayu jati berlapis kaca. Di hadapannya, sepuluh pria berpakaian jas gelap—para komisaris yang memiliki kuasa untuk menghancurkan karier seseorang dalam satu jentikan jari—menatapnya seolah ia adalah terdakwa di pengadilan tinggi.
Di kursi kebesaran, Arash duduk dengan pose yang sangat santai namun memancarkan aura predator. Ia tidak menatap Raisa, matanya tertuju pada layar proyektor yang menampilkan tabel statistik administrasi yang baru saja Raisa presentasikan.
"Jadi," Arash membuka suara, suaranya rendah namun bergema di setiap sudut ruangan yang kedap suara itu. Ia memutar pulpen Montblanc di sela jarinya. "Kau ingin kami percaya bahwa keterlambatan laporan triwulan ini disebabkan oleh 'sinkronisasi sistem'? Bukan karena inkompetensi staf administrasinya?"
Raisa mencengkeram pinggiran podium kecil di depannya hingga buku jarinya memutih. "Benar, Pak Arash. Ada migrasi data dari server pusat yang menyebabkan beberapa entri tertunda selama empat puluh delapan jam."
"Dua hari?" Seorang komisaris senior, Pak Broto, menggebrak meja dengan pelan namun cukup untuk membuat jantung Raisa mencelos. "Di perusahaan ini, dua hari berarti kehilangan miliaran rupiah, Nona Raisa. Apakah Anda sadar posisi Anda di sini?"
Arash mendengus sinis, sebuah suara yang lebih menyakitkan daripada bentakan mana pun. Ia akhirnya mengangkat wajah, menatap Raisa dengan iris mata yang tajam seperti sembilu. "Jangan menyalahkan sistem jika otak pengelolanya yang lamban. Aku sudah membaca laporanmu, dan sejujurnya, ini adalah sampah paling rapi yang pernah kulihat."
Tawa kecil yang merendahkan terdengar dari beberapa sudut meja. Raisa merasa wajahnya panas, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolaknya dengan keras. Ia tahu, di gedung ini, air mata adalah pengakuan kekalahan.
"Saya sudah melakukan verifikasi ulang sebanyak tiga kali, Pak," jawab Raisa, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegas.
"Tiga kali?" Arash berdiri, berjalan perlahan mengitari meja oval itu. Setiap langkah sepatunya yang mengilap di atas lantai granit terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Ia berhenti tepat di samping Raisa, aroma parfumnya yang mahal menyerbu indra penciuman wanita itu—sebuah aroma yang biasanya menenangkan di rumah, namun kini terasa mencekik.
Arash menarik salah satu lembar dokumen dari podium Raisa, lalu melemparkannya ke tengah meja. "Lihat halaman empat puluh. Ada selisih nol koma nol lima persen di kolom audit. Kau mungkin pikir itu kecil, tapi bagi kami, itu adalah lubang yang bisa menenggelamkan kapal ini." Ia mencondongkan tubuh, berbisik cukup keras agar didengar semua orang. "Jika kau tidak mampu mengerjakan pekerjaan dasar seperti ini, mungkin tempatmu bukan di gedung ini, tapi di pasar tradisional sebagai juru ketik."
Dua jam berlalu seperti siksaan abadi. Setiap penjelasan yang keluar dari bibir Raisa dipatahkan dengan kritik pedas oleh Arash. Pria itu tidak memberinya napas, mencecarnya dengan pertanyaan teknis yang sangat sulit, seolah Arash sedang berusaha menghapus fakta bahwa wanita di depannya adalah istrinya. Arash bersikap seolah ia ingin membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa tidak ada ruang bagi perasaan di ruang rapat ini.
"Rapat selesai," ujar Arash dingin tepat saat jarum jam menyentuh angka dua siang. "Raisa, perbaiki sampah ini sebelum jam pulang, atau kau tidak perlu datang lagi besok."
Tanpa menoleh sedikit pun, Arash melangkah keluar dengan angkuh, diikuti oleh para komisaris yang berbisik-bisik mengenai kegagalan Raisa. Pintu besar itu tertutup, meninggalkan Raisa yang lemas di atas kursinya. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke atas meja kaca.
"Raisa?"
Sebuah suara lembut memecah keheningan. Raisa mendongak dan mendapati Vino masih berada di sana. Pria itu tidak ikut keluar bersama yang lain. Vino berjalan mendekat, menyodorkan sebotol air mineral dingin.
"Minumlah. Kamu sudah berjuang hebat di dalam sana," ucap Vino, suaranya memberikan kehangatan yang kontras dengan kekejaman Arash tadi.
Raisa menerima botol itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak Vino. Aku ... aku hanya tidak menyangka Pak Arash akan sesadis itu."
Vino menarik kursi di sebelah Raisa dan duduk dengan posisi menyamping, menunjukkan empati yang tulus. "Dia memang monster kalau soal angka. Tapi bagiku, presentasimu tadi sangat jelas. Dia hanya terlalu perfeksionis. Jangan dimasukkan ke hati, ya? Kamu tahu kan, banyak orang di sini yang sebenarnya mengagumi ketangguhanmu."
Vino mengulurkan tangan, hendak menepuk bahu Raisa untuk menyemangati, namun tangannya berhenti di udara saat ia melihat Raisa tampak sangat rapuh. "Kalau kamu butuh bantuan untuk memperbaiki data itu, datang saja ke mejaku. Aku akan membantumu mengecek kolom auditnya."
Raisa tersenyum tipis, merasa sedikit lega. "Terima kasih, Pak. Kamu selalu baik padaku."
Tepat pada saat itu, pintu ruang rapat terbuka dengan dentum yang keras. Suasana hangat yang baru saja terbangun seketika pecah berkeping-keping.
Arash berdiri di ambang pintu. Matanya yang tadinya dingin kini menyala dengan amarah yang murni. Ia menatap tangan Vino yang masih menggantung di dekat bahu Raisa, lalu beralih ke wajah Raisa yang masih merah karena sisa tangis.
"Vino," suara Arash terdengar seperti geraman harimau. "Apakah divisi marketing sudah kehabisan pekerjaan sampai-sampai kau punya waktu untuk menjadi relawan emosional di ruang rapatku?"
Vino tersentak dan segera berdiri, merapikan jasnya. "Maaf, Pak Arash. Saya hanya ingin memastikan staf administrasi kita tidak pingsan setelah rapat yang ... cukup intens tadi."
"Keluar," perintah Arash, jarinya menunjuk ke arah koridor dengan tegas. "Sekarang."
Vino memberikan tatapan khawatir terakhir pada Raisa sebelum akhirnya menunduk dan melangkah pergi dengan terburu-buru. Setelah pintu tertutup kembali, Arash berjalan mendekati Raisa dengan langkah yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia mencengkeram lengan kursi Raisa, memutar kursi itu agar wanita itu menghadapnya.
"Aku baru pergi lima menit, dan kau sudah menemukan bahu untuk bersandar?" desis Arash, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Raisa.
"Dia hanya teman, Arash! Dia menghiburku karena kau baru saja menghancurkanku di depan semua orang!" teriak Raisa, kemarahannya akhirnya meledak.
Arash tidak bergeming. Ia justru menarik Raisa untuk berdiri, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat namun tidak sampai menyakiti. "Ke ruanganku. Sekarang. Kita akan bicara soal 'persahabatan' dan kontrak yang kau langgar dengan bersikap terlalu intim dengan pria lain di kantorku."
Raisa mencoba melepaskan diri, namun tenaga Arash jauh lebih besar. Pria itu menyeretnya keluar dari ruang rapat, mengabaikan tatapan mata para staf yang penasaran di koridor. Di dalam lift menuju lantai CEO, Arash melepaskan tangan Raisa namun tetap mengurungnya di sudut lift, menatapnya dengan penuh posesivitas yang membahayakan.
"Jangan pernah berpikir kau bisa mencari perlindungan pada pria lain, Raisa," bisik Arash saat pintu lift terbuka. "Karena hanya aku yang berhak menghancurkanmu, dan hanya aku yang berhak menyelamatkanmu."