Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 12 Nama yang Mulai Disebut**
Desa terasa lebih sempit.
Orang-orang yang biasanya menyapa kini berpaling. Tatapan yang dulu meremehkan berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam waspada, penuh bisik, dan berjarak. Nama Defit tidak diucapkan keras-keras, tapi terasa di udara, menggantung seperti bau busuk yang tidak mau hilang.
Maya merasakannya pertama kali saat pergi ke warung.
Langkahnya terhenti ketika dua perempuan di depan rak beras berbisik terlalu dekat.
“Sejak dia datang ke rumah Ratna, desa ini tidak tenang.”
“Katanya… menantu itu bukan orang biasa.”
Maya menelan ludah. Tangannya mengepal, tapi ia tetap berjalan maju, pura-pura tidak mendengar. Setiap langkah terasa seperti melewati pecahan kaca.
Saat ia membayar, pemilik warung tidak menatap matanya.
“Kalian sebaiknya… lebih banyak di rumah,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Sekarang banyak omongan.”
Maya pulang dengan dada sesak.
Defit duduk di teras saat Maya kembali. Dari kejauhan, ia sudah melihat bahu istrinya merosot, langkahnya tidak lagi ringan.
“Kamu kenapa?” tanyanya, berusaha tenang.
Maya tersenyum tipis, terlalu tipis. “Tidak apa-apa.”
Kebohongan itu lebih menyakitkan dari kebenaran.
Defit berdiri, mendekat. “Katakan.”
Air mata Maya jatuh tanpa suara.
“Mereka membicarakanmu,” katanya akhirnya. “Seolah kamu penyebab semuanya. Seolah kamu… kutukan.”
Kata itu menusuk.
Kutukan.
Defit merasakan sesuatu berdenyut di dadanya, segel yang berdarah itu kembali bergetar.
“Apa kamu percaya itu?” tanya Defit lirih.
Maya menggeleng cepat. “Tidak. Aku percaya kamu.”
Namun setelah itu, ia terdiam dan diam itu berbicara banyak.
Defit mengangguk pelan. “Kalau suatu hari… mereka menyakitimu karena aku ”
“Jangan katakan itu,” potong Maya, suaranya bergetar. “Aku tidak mau hidup tanpa kamu.”
Defit menutup mata.
Justru itulah ketakutannya.
Sore harinya, Ratna memanggil Defit ke ruang tengah.
Wajah perempuan itu tampak lebih tua dari biasanya. Matanya cekung, suaranya tidak lagi setegas dulu.
“Kamu tahu apa yang dibicarakan orang-orang?” tanyanya tanpa basa-basi.
Defit mengangguk. “Aku tahu.”
Ratna menarik napas panjang. “Sejak kamu masuk ke keluarga ini… masalah datang satu per satu.”
Defit tersenyum kecil bukan senyum bahagia, melainkan senyum pahit yang lahir dari luka lama.
“Masalah sudah ada sebelum aku datang,” jawabnya tenang. “Aku hanya… mengingatkan.”
Ratna terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya kata balasan.
Namun ketakutan lebih kuat dari rasa bersalah.
“Kamu membawa sesuatu,” bisik Ratna. “Aku tidak tahu apa itu… tapi aku bisa merasakannya.”
Defit menatapnya lama.
“Dan kamu membesarkannya,” jawab Defit pelan. “Dengan setiap hinaan.”
Ratna tersentak, wajahnya pucat.
Di sudut ruangan, bayangan Ratna bergerak sedikit lebih lambat dari tubuhnya sendiri.
Malam tiba bersama hujan.
Maya terbangun oleh suara ketukan pelan di jendela. Ia membuka mata perlahan, jantungnya berdegup kencang.
“Defit?” panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
Ketukan terdengar lagi kali ini lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
Maya bangkit, mendekat dengan tangan gemetar. Saat ia membuka tirai sedikit, ia melihat wajah-wajah samar di balik kaca bukan makhluk, melainkan manusia desa, berdiri dalam hujan, mata mereka kosong.
Bisikan terdengar, bercampur dengan suara hujan.
“Pergi…”
“Kutukan…”
“Bawa pergi dia…”
Maya menutup mulutnya, menahan jeritan.
Defit muncul di belakangnya, memeluk bahunya.
“Tenang,” bisiknya.
Ia membuka pintu.
Orang-orang mundur setapak saat melihat Defit. Beberapa memegang jimat, beberapa memegang obor kecil.
“Kami hanya ingin desa ini aman,” kata salah satu lelaki dengan suara gemetar. “Kalau kau memang sumbernya… pergilah.”
Defit menatap mereka satu per satu.
Wajah-wajah yang dulu menertawakannya.
Kini takut.
“Aku tidak akan pergi,” kata Defit tenang. “Dan aku tidak akan menyakiti siapa pun… kecuali kalian memaksa.”
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan ancaman. Justru itulah yang membuat mereka mundur lebih jauh.
Di tanah basah, bayangan Defit memanjang dan di dalamnya, sesuatu tersenyum puas.
Saat pintu ditutup, Maya memeluk Defit erat, tubuhnya gemetar.
“Aku takut,” isaknya. “Aku takut suatu hari… aku tidak mengenalmu lagi.”
Defit menutup mata, memeluknya lebih kuat.
“Aku juga takut,” bisiknya jujur. “Tapi aku akan bertahan… selama aku masih bisa mencintaimu.”
Di cermin kamar, bayangan itu berbisik:
“Cinta adalah penghalang terakhir.”
Dan jauh di bawah desa, segel berdarah itu retak sedikit lagi.
terus menarik ceritanya 👍