NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyongsong Akhir Perjalanan

“Dokter pengobatan tradisional?” Karaeng Fatimah mendengus. “Itu lelucon, Ayah. Pengobatan tradisional saja sudah tidak dapat diandalkan, apalagi dilakukan oleh anak semuda ini.”

Ia dibesarkan dalam sistem pendidikan Barat, logika dan data adalah segalanya baginya. Bagi Karaeng Fatimah, teori Energi Vital, Keseimbangan dan Kestabilan, serta titik-titik terdalam yang tersembunyi di tubuh manusia hanyalah mitos kuno yang tak layak dipercaya.

Ia lalu berbalik dan melambaikan tangan ke arah pintu. “Ayah, izinkan aku memperkenalkan seseorang. Ini temanku, Dokter Aldo Barreto—seorang ahli jantung dan paru-paru yang aku undang langsung dari Ibu Kota.”

Barulah Karaeng Araba menyadari kehadiran seorang pria paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya penuh keyakinan, dagunya terangkat sedikit, sorot matanya menyiratkan kebanggaan intelektual. Di belakangnya berdiri empat hingga lima asisten berbaju putih, masing-masing membawa koper berisi peralatan medis canggih yang berkilau di bawah cahaya lampu.

Karaeng Fatimah melanjutkan dengan nada penuh kebanggaan, “Dokter Aldo adalah lulusan doktoral dari Spanyol, pakar penyakit dalam terkemuka di Ibu Kota, dengan penelitian khusus di bidang jantung dan paru. Ia telah menerbitkan lebih dari dua puluh makalah ilmiah di jurnal yang disponsori Asosiasi Medis Dunia. Bahkan beberapa hari lalu, ia menerima undangan resmi untuk menjadi anggota asosiasi tersebut.”

Setiap kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan deretan medali kehormatan yang dipamerkan tanpa ragu.

“Kali ini,” lanjutnya, “Dokter Aldo menolak banyak undangan penting dan meluangkan waktunya yang berharga untuk datang memeriksa kakek.”

Mendengar rentetan gelar itu, Karaeng Araba segera melangkah maju dan menundukkan kepala sedikit. “Dokter Aldo, terima kasih atas kesediaan Anda. Kami sangat menghargainya.”

Aldo Barreto mengangguk dengan senyum tipis penuh superioritas. “Dengan saya di sini, tidak perlu lagi mencari dokter lain untuk kondisi Tuan Tua. Terlebih lagi,” katanya sambil melirik Fauzan dan Sanro Maega, “dokter-dokter pengobatan tradisional yang tidak jelas asal-usulnya. Apakah akar-akaran dan kulit pohon busuk bisa menyembuhkan penyakit?”

Ucapan itu jatuh bagaikan petir di siang bolong.

Wajah Fauzan Arfariza langsung mengeras. Sorot matanya yang tenang berubah pekat, seperti danau dalam yang terusik badai. Di sampingnya, Sanro Maega—yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada seni pengobatan leluhur, warisan Leluhur Tua—mengepal tangan. Wajahnya memerah menahan amarah.

Bagi Sanro Maega, pengobatan tradisional bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan hidup, sumpah suci, dan warisan darah yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mendengar hinaan semacam itu sama saja dengan meludahi kehormatan seluruh leluhur.

Karaeng Fatimah sama sekali tidak menggubris perubahan ekspresi mereka. Ia menoleh kepada Aldo Barreto dan berkata tegas, “Dokter Aldo, kondisi kakek saya saya serahkan sepenuhnya kepada Anda.”

“Tenang saja,” jawab Aldo Barreto dengan nada penuh keyakinan. “Saya akan memberikan perawatan paling mutakhir di dunia untuk kakek anda.”

Para asistennya segera bergerak. Alat-alat medis modern dikeluarkan satu per satu: monitor denyut jantung, alat pemindai, dan berbagai instrumen berteknologi tinggi. Ruangan itu seketika berubah menjadi laboratorium bergerak. Mereka mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Karaeng Galesong, yang terbaring lemah di atas ranjang, napasnya tipis namun masih bertahan.

Karaeng Araba menoleh ke arah Sanro Maega dan Fauzan dengan wajah serba salah. “Paman Sanro, Dokter Fauzan… aku minta maaf. Kalian tahu sifat gadis ini. Ia berbicara tanpa berpikir panjang. Tolong jangan dimasukkan ke hati.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih hati-hati, “Silakan kalian beristirahat sebentar. Setelah mereka selesai, aku akan meminta kalian untuk ikut mendiagnosis ayahku.”

Kata-katanya terdengar sopan, namun maknanya jelas terbaca. Di antara Aldo Barreto dan Fauzan Arfariza, pilihannya telah condong.

Sanro Maega tersenyum pahit. “Jika sudah ada yang menangani kondisi Tuan Galesong,” katanya pelan namun tegas, “maka kami tidak perlu lagi tinggal di sini.”

Fauzan tidak menambahkan sepatah kata pun. Ia hanya menoleh sekali lagi ke arah Karaeng Galesong. Dalam pandangannya, ia melihat bukan sekadar tubuh renta yang sakit, melainkan medan pertempuran besar antara dua dunia: dunia ilmu modern yang pongah dan dunia pengobatan leluhur yang tenang namun dalam, menyentuh shencang → terdalam yang tersembunyi dari hakikat kehidupan.

Di lubuk hatinya, Fauzan tahu—ini belumlah akhir. Ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar. Saat Energi Vital bertabrakan dengan logika dingin, saat Keseimbangan dan Kestabilan dipertaruhkan oleh kesombongan manusia, maka nasib seorang manusia akan menjadi taruhannya.

Dan mungkin, jika takdir terus dipaksa berjalan di jalur yang salah, maka persiapan bukan lagi untuk kesembuhan—melainkan untuk menyongsong akhir perjalanan hidup itu sendiri.

-------

Fauzan Arfariza telah mewarisi peninggalan agung dari Leluhur Tua, sebuah warisan pengobatan kuno yang tidak hanya memuat teknik penyembuhan, tetapi juga memikul sumpah suci: menyelamatkan manusia dan menolong dunia. Namun meskipun tujuan hidupnya luhur, sebagai seorang Dokter, ia memiliki harga diri yang tak tergoyahkan. Seorang tabib sejati tidak pernah mengemis untuk menyembuhkan orang lain.

Jika keluarga Karaeng Galesong tidak mempercayainya, maka tidak ada alasan baginya untuk tetap bertahan di tempat itu.

Setelah kata-kata itu terucap, Fauzan berbalik hendak melangkah pergi. Namun sebelum ia sempat menjauh, lengannya ditahan oleh Sanro Maega.

“Fauzan,” ucap Sanro Maega dengan suara rendah namun sarat makna, “jangan terburu-buru pergi. Menurut pandangan orang tua ini, orang-orang itu sama sekali tidak akan mampu menyembuhkan Karaeng Galesong.”

Tatapan Sanro Maega menembus ke arah Aldo Barreto dan rombongannya. Di matanya, para ahli Barat itu hanyalah manusia yang terpaku pada mesin dan angka, namun buta terhadap denyut Energi Vital yang mengalir di dalam tubuh manusia.

“Selama bertahun-tahun,” lanjutnya, “Karaeng Galesong telah menemui banyak pakar pengobatan Barat, profesor demi profesor. Namun tidak satu pun yang mampu memberikan solusi. Pada akhirnya, kami tetap harus merepotkanmu, Fauzan, untuk turun tangan.”

Nada suaranya menyimpan ketidakpuasan yang mendalam terhadap sikap keluarga Karaeng. Namun karena yang dipertaruhkan adalah hidup dan mati sahabat lamanya, ia memilih menelan amarah itu dalam-dalam.

Fauzan menghela napas perlahan. “Sanro Maega,” katanya tenang, “bukan berarti aku tidak menghormatimu. Namun aku selalu percaya bahwa dalam mengobati manusia, ada takdir yang menyertainya. Aku tidak pernah memiliki kebiasaan memohon-mohon agar diizinkan menyembuhkan orang.”

Sanro Maega menatap Fauzan dengan sorot mata yang dalam, seolah hendak menembus sanubari → terdalam dari hatinya. “Fauzan,” katanya lagi, “jika kita pergi sekarang, itu sama saja dengan mengakui bahwa pengobatan leluhur kita kalah dari pengobatan Barat. Itu hanya akan membuat mereka semakin congkak, semakin menindas warisan yang telah bertahan ribuan tahun.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada bergetar oleh semangat, “Yang seharusnya kita lakukan adalah menyembuhkan Karaeng Galesong. Gunakan kemampuanmu untuk menampar wajah mereka dengan kenyataan. Biarkan pengobatan leluhur kembali menegakkan kepala, berdiri sejajar, bahkan lebih tinggi.”

Kata-kata itu menghantam batin Fauzan Arfariza seperti dentuman genderang perang.

Benar.

Pengobatan leluhur kini berada di ambang kemunduran. Dipandang sebelah mata, dianggap takhayul, diremehkan oleh mereka yang memuja teknologi dan gelar akademis. Sebagai pewaris Sekolah Medis Kuno, Fauzan memang memiliki tanggung jawab—bukan hanya menyembuhkan satu orang, tetapi menjaga martabat sebuah warisan.

“Aldo Barreto,” batinnya bergejolak, “bukankah kau merasa hebat? Bukankah kau bangga sebagai pakar pengobatan Barat? Bukankah namamu menggema di seluruh Spanyol?”

Maka hari ini…

Aku akan menampar wajahmu.

Aku akan menunjukkan apa itu pengobatan leluhur sejati.

Apa itu seni penyembuhan yang diwariskan oleh Leluhur Tua, yang memahami Keseimbangan dan Kestabilan tubuh manusia, yang mampu menyentuh akar kehidupan, bukan sekadar membaca layar mesin.

Dengan keputusan itu, Fauzan tidak lagi melangkah pergi. Ia berdiri kembali di sisi Sanro Maega, diam namun kokoh, laksana gunung yang telah memutuskan untuk tidak bergeser meski badai datang.

Karaeng Araba memperhatikan adegan itu dengan hati yang dipenuhi tanda tanya. Ia benar-benar terkejut melihat betapa Sanro Maega begitu menghargai Fauzan. Dalam benaknya muncul pertanyaan besar: kebajikan dan kemampuan macam apa yang dimiliki pemuda ini hingga seorang tabib tua seperti Sanro Maega begitu menjunjungnya?

Sementara itu, di sisi lain ruangan, Aldo Barreto dan para asistennya telah menyelesaikan serangkaian pemeriksaan terhadap Karaeng Galesong. Satu per satu laporan medis terkumpul di tangannya.

Ia membacanya dengan saksama.

Semakin lama, kerutan di dahinya semakin dalam.

Karaeng Fatimah, yang sejak tadi menahan napas, akhirnya tidak mampu lagi menunggu. “Dokter Aldo,” tanyanya dengan suara gemetar, “bagaimana kondisi kakek saya? Apakah… apakah masih ada harapan?”

Aldo Barreto menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepala perlahan, lalu berkata dengan nada datar namun mematikan, “Kondisinya sudah sangat kritis. Segeralah bersiap untuk pemakaman.”

Kalimat itu jatuh seperti palu godam, menghancurkan harapan yang tersisa.

“Apa?” Karaeng Fatimah terkejut, matanya membelalak. “Dokter Aldo, tidak adakah cara lain?”

Hubungannya dengan Karaeng Galesong adalah yang paling dekat di antara seluruh keluarga. Ia tidak sanggup membayangkan dunia tanpa sosok kakek yang selalu menjadi pelindung dan teladannya.

Karaeng Araba pun maju dengan wajah pucat. “Dokter Aldo,” katanya tergesa, “Anda adalah pakar jantung dan paru. Anda pasti punya cara. Selama ayah saya bisa diselamatkan, keluarga kami bersedia membayar berapa pun—dalam Rupiah, atau apa pun yang Anda inginkan.”

Namun Aldo Barreto kembali menggeleng. “Saya sungguh minta maaf,” ujarnya. “Saya memang seorang pakar, tetapi saya bukan malaikat. Penyakit Tuan Galesong telah berlangsung terlalu lama. Usianya sudah lanjut, fungsi tubuhnya menurun drastis. Bahkan jika seorang makhluk abadi turun tangan, tidak akan ada yang bisa dilakukan. Lebih baik bersiap menghadapi perpisahan.”

Keputusasaan menyelimuti wajah Karaeng Araba dan Karaeng Fatimah. Di lubuk hati terdalam, mereka berdua tidak ingin menerima kenyataan ini. Namun kata-kata seorang ‘pakar’ terasa seperti vonis tak terbantahkan.

Tepat pada saat itu, sebuah suara dingin terdengar dari samping.

“Jadi ini yang disebut pakar pengobatan Barat?” suara itu berkata pelan namun tajam. “Setelah bertahun-tahun belajar di Spanyol, yang kau kuasai hanyalah menyuruh keluarga pasien bersiap untuk pemakaman?”

Semua kepala menoleh serempak.

Fauzan Arfariza melangkah maju.

Tatapannya tajam, suaranya penuh ejekan yang tertahan. Sejak awal, ia telah muak dengan kesombongan Aldo Barreto—dengan sikap merendahkan, dengan nada ilahi seolah ia memegang hidup dan mati manusia.

Dan sekarang?

Setelah semua kesombongan itu, hasilnya hanyalah satu kalimat dingin: bersiaplah untuk mati.

“Hei anak muda,” bentak Aldo Barreto, wajahnya memerah oleh amarah, “apa omong kosong yang kau ucapkan?”

Sebagai pakar penyakit dalam ternama, ke mana pun ia pergi selalu disambut sanjungan. Tidak pernah sekalipun ia ditegur, apalagi dihina, oleh seorang pemuda tak dikenal.

“Dokter bukanlah dewa!” lanjutnya dengan nada tinggi. “Tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Kondisi pasien ini terlalu parah. Ini bukan soal ketidakmampuan saya, tetapi memang tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menyembuhkannya!”

Fauzan mencibir. Senyum dingin terukir di bibirnya.

“Tidak ada seorang pun?” katanya perlahan. “Siapa yang memberimu keberanian untuk mengatakan hal semacam itu?”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, auranya berubah, seperti Pedang yang keluar dari sarungnya.

“Apakah kau mewakili semua dokter di dunia?”

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!