Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan membuangku?
Sebuah becak berhenti.
Ki Joyo diturunkan dengan kaki yang dibebat kayu dan kain sarung. Wajahnya kuyu, matanya bengkak.
"Ya ampun! Beneran patah!"
"Bocah itu sakti!"
Ki Joyo menatap Tari dengan pandangan memohon.
"Nduk... Cah Ayu... sampeyan tahu gimana kaki saya bisa begini?"
Tari menatap mata Ki Joyo.
Dalam mata batinnya, dia melihat selokan sempit di Losmen Melati.
"Bapak jatuh di selokan kecil belakang losmen saat mau buang hajat, kan?"
Ki Joyo menangis sesenggukan. Dia bersujud dengan susah payah.
"Nduk... saya ngaku salah. Seumur hidup saya nipu orang. Sekarang saya harus gimana?"
Tari melihat aura hitam pekat menyelimuti Ki Joyo, namun ada secercah cahaya di arah Utara.
"Pergilah merantau ke Utara," suara Tari terdengar berwibawa.
"Lakukan seratus kebaikan tanpa pamrih. Di sana Bapak akan menemukan jawaban."
"Maturnuwun, Nduk. Terima kasih." Ki Joyo bersumpah akan berhenti menjadi penipu.
Di tengah suasana haru itu, Yu Ratmi menyeruak masuk sambil menyeret Narti.
"Minggir, minggir!" Yu Ratmi mendorong Narti ke depan Tari.
"Eh, Bocah Sakti! Ini anakku, si Narti. Beneran dia bisa jadi Jenderal? Kamu nggak bohong kan biar aku seneng doang?"
Yu Ratmi butuh kepastian untuk "investasi" masa depannya.
Tari menatap Narti.
Dalam mata batinnya, dia tidak melihat sihir, melainkan energi tekad baja yang memancar sangat kuat.
Narti adalah tipe orang yang akan merangkak menembus neraka demi mencapai tujuannya.
Tari tersenyum ramah, bukan senyum peramal, melainkan senyum seorang kawan.
"Percayalah pada pilihanmu sendiri, Mbak," kata Tari lembut namun tegas.
"Jalanmu akan terjal, tapi kamu akan sampai di puncak. Jangan pernah ragu."
Narti terpaku.
Kalimat itu bukan sekadar ramalan baginya, itu adalah izin untuk mulai percaya pada dirinya sendiri.
Di dalam dadanya, api semangat yang nyaris padam kini kembali berkobar hebat.
Sri Lestari menatap wanita paruh baya di sebelah Narti itu dengan tatapan teduh.
Ia mengangguk pelan.
"Iya, Bu. Mbak Narti nanti bakalan jadi Jenderal. Orang besar."
Tapi Ibu tak punya nasib untuk menyaksikan kesuksesan anaknya itu.
Usia wanita itu tak panjang.
Sifatnya yang angin-anginan dan penuh curiga menggerogoti rezekinya sendiri.
Tari tahu, wanita itu tak akan sempat melihat hari kejayaan Narti. Namun, Tari memilih bungkam.
Yu Ratmi, mendengar ucapan Tari langsung sumringah.
Ditariknya Narti ke dalam pelukannya dengan bangga.
"Dengar itu! Biarpun aku bukan ibu kandungmu, aku yang mungut kamu dari bayi! Utang budinya sampai putus kepala pun tak akan lunas!" celoteh Yu Ratmi berapi-api.
Membayangkan dirinya bakal jadi ibu seorang Jenderal, tawa Yu Ratmi makin pecah.
Pantas saja anak ini makannya banyak dan tenaganya persis kerbau, ternyata memang balungan Jenderal!
"Mulai sekarang aku harus baik-baikin dia," batin Ratmi.
"Kalau dia jadi orang pangkat, tujuh turunan keluargaku bisa ongkang-ongkang kaki. Narti harus disayang layaknya pusaka."
"Narti! Cepat sungkem sama 'Orang Pintar' ini! Bilang matur nuwun!" Ratmi mendorong punggung anaknya hingga terhuyung ke depan Tari.
Tanpa membantah, Narti langsung bersimpuh di tanah berdebu pasar itu.
Ia hendak mencium kaki mungil Tari.
Namun, Tari sudah lebih dulu bergeser, menghindari penghormatan itu.
Ia menarik tangan Abah Kosasih yang kapalan.
"Abah Kung, ayo pulang."
"Lho, Cah Ayu! Kalau mau meramal lagi carinya di mana?" teriak kerumunan orang yang baru sadar dari takjub mereka, melihat punggung kecil itu menjauh.
Abah Kosasih menunduk menatap cucunya.
Tari tersenyum, matanya menyipit jenaka.
"Di Jalan Selatan, tempat Ibu jualan sate baso ikan."
Abah Kosasih terkekeh, menggenggam tangan mungil itu erat-erat.
Awalnya ia khawatir cucunya kelelahan karena "melihat" nasib orang, tapi mendengar tarif yang dipatok Tari, kekhawatirannya sirna.
Siapa yang mau bayar segitu di zaman susah begini?
Paling hanya satu-dua orang kaya nyasar di kota kabupaten ini yang mau buang duit.
Bagi Kosasih, Tari tak perlu cari uang.
Biar Abah dan Ibunya saja yang banting tulang.
Tari cukup jadi anak kecil yang bahagia.
Sesampainya di lapak dagangan di Jalan Selatan, Kinar menghela napas lega melihat bapak dan anaknya kembali dengan selamat.
Tari merengek minta Abah Kosasih membuatkan spanduk kecil dari kain blacu.
Biar kayak peramal beneran, katanya.
"Iya, nanti sampai rumah Abah buatkan spanduk yang bagus ya, Nduk," janji Kosasih dengan nada sayang.
Tari mengangguk patuh, duduk manis di dingklik kayu kecil di samping gerobak ibunya.
"Mbah Uti yang baik, hati-hati di jalan ya," lambaian tangan Tari membuat seorang nenek pembeli tersenyum lebar.
Saat dagangan hari itu ludes, bahu Tari sedikit merosot.
"Kok nggak ada yang minta diramal lagi ya, Bah? Padahal Tari jitu lho."
Abah Kosasih hanya tersenyum simpul.
Ia menggendong cucunya ke atas bak terbuka mobil pick-up tua sewaan tetangga desa yang kebetulan lewat, bersiap pulang.
Mobil tua itu berjalan tersendat-sendat melewati jalan aspal yang berlubang.
Saat melintasi sebuah Rumah Makan besar yang terkenal dengan menu Sate Kuda, mereka melihat pemandangan menyedihkan.
Seorang pelayan restoran sedang menarik paksa seekor kuda hitam legam.
Kuda itu meronta, kaki depannya menjejak aspal, menolak masuk ke gerbang belakang restoran yang berbau amis darah.
"Dasar binatang! Kenapa susah sekali diatur? Apa kau tahu ajalmu sudah dekat?" umpat pelayan itu sambil menyeka keringat.
"Eh Kuda, dengar ya. Bukan aku yang mau menyembelihmu. Juraganmu sendiri yang jual kau karena kakimu pincang! Hidupmu sudah habis buat ditunggangi, sekarang waktunya masuk panci, jadi sate! Sudahlah, pasrah saja!"
Si pelayan mengeluh panjang pendek. "Tolonglah jangan bikin susah aku. Aku cuma kuli, nggak punya duit buat nebus nyawamu."
Seolah mengerti bahasa manusia, kuda yang tadinya meronta hebat itu tiba-tiba berhenti.
Kepalanya tertunduk lesu.
Matanya yang besar dan basah menatap nanar ke arah jalan raya. Kakinya yang pincang menyeret langkah, pasrah digiring menuju area penyembelihan.
Pelayan itu tertegun sejenak.
"Pintar juga ini kuda. Sayang, nasibmu apes. Siapa sangka kuda kesayangan Juragan Suryo Wibowo berakhir di piring sate?"
Di atas bak mobil pick-up, Abah Kosasih terhenyak.
"Suryo..." gumamnya pelan. Ia mengenali kuda itu. Itu kuda Sumba kebanggaan Suryo, mantan menantunya. Dulu Suryo sering memamerkan kuda itu saat berkunjung ke desa, berlagak bak pangeran.
Kini, karena kakinya cedera dan tak gagah lagi, Suryo membuangnya begitu saja.
Tiba-tiba, ujung baju Kosasih ditarik kencang.
"Abah... berhenti," suara Tari terdengar bergetar.
Kosasih menoleh.
Ia melihat mata cucunya berkaca-kaca.
Tanpa pikir panjang, ia mengetuk kaca kabin pengemudi, meminta berhenti.
Kinar yang duduk di depan ikut turun, bingung.
"Ada apa, Bah?"
"Abah, boleh kita beli kudanya?" tanya Tari lirih.
Telinga batin Tari mendengar jeritan hati hewan itu.
Jeritan yang memilukan.
'Tuan... Tuan Suryo pasti sedang mencariku. Aku tidak boleh mati. Siapa yang akan menjaga Tuan kalau aku jadi sate? Tuan pasti sedih...'
Namun saat pelayan itu menyebut Suryo yang menjualnya, hati kuda itu hancur.
'Tuan membuangku? Karena aku pincang? Jadi ini takdirku... Baiklah, aku ikut saja...'
Tari ingat kuda ini.
Dulu, saat ia masih tinggal di rumah gedong ayahnya, kuda inilah satu-satunya makhluk hidup selain ibunya yang menatapnya dengan lembut.
Kuda ini sering meringkik pelan saat Tari kecil menangis sendirian di kandang belakang karena dimarahi Nenek Darmi.
"Tentu boleh, Nduk. Kita butuh tenaga buat bantu angkut dagangan ke pasar," jawab Abah Kosasih tegas, meski ia tahu uang mereka pas-pasan.
Ia tak tega melihat cucunya sedih.
Kinar, yang hatinya selembut kapas langsung melangkah menuju gerbang restoran.
Ia paham betul tatapan anaknya.
"Tunggu, Mas!" seru Kinar lantang.
Pelayan yang baru saja hendak menutup mata kuda dengan kain hitam itu menoleh.
"Ada apa, Bu?"
"Saya mau beli kuda itu," ucap Kinar tegas.
Kuda hitam itu mengangkat kepalanya sedikit, telinganya bergerak-gerak.
"Beli? Wah, Bu. Ini bukan kuda sembarangan. Ini bekas kuda pacu orang kaya. Harganya mahal. Dagingnya banyak. Bos saya minta lima belas juta," kata pelayan itu.