NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Zoro's Stand

"ZORO! JANGAN!" aku berteriak, mencoba berlari maju.

Tapi Sanji menahanku dengan tangan yang masih gemetar. "Jangan, Kenji. Percaya padanya."

"Tapi—"

"Dia benar," Sanji menginterupsi dengan suara rendah. "Kita harus bawa Luffy pergi. Kalau kapten mati... semuanya berakhir."

Aku menatap Zoro yang berdiri kokoh menghadapi Crocodile, lalu menatap Luffy yang tergeletak seperti mumi kering.

Damn it!

"...Baiklah," aku mengepalkan tinjuku dengan frustrasi. "Tapi Zoro! Jangan mati! Kita akan kembali untukmu!"

Zoro hanya menyeringai tanpa menoleh. "Siapa yang akan mati? Aku hanya akan mengulur waktu. Bajingan berpasir ini tidak akan membunuhku semudah itu."

Chopper sudah mengangkat Luffy dalam bentuk Heavy Point-nya. "Ayo! Cepat!"

Kami semua mulai berlari—Chopper membawa Luffy, Nami dan Vivi di sampingnya, Usopp dan aku di belakang, Sanji menutupi retreat kami sambil pincang karena kaki yang tadi mengering.

"Kalian pikir aku akan membiarkan kalian kabur?" Crocodile mengangkat tangannya.

Pasir mulai bergerak—membentuk dinding untuk menghalangi jalan kami!

Tapi Zoro sudah bergerak lebih dulu!

"Santoryu: Hyakuhachi Pound Ho!"

SLASH!

Tiga gelombang pedang memotong dinding pasir sebelum terbentuk sempurna!

"Lawanmu adalah aku!" Zoro berteriak sambil menyerang Crocodile dengan ketiga pedangnya!

Crocodile terpaksa fokus pada Zoro, mengabaikan kami yang berlari.

Kami terus berlari menyusuri jalanan yang masih penuh dengan pertempuran. Pemberontak dan tentara kerajaan masih bentrok di mana-mana, tapi kami tidak punya waktu untuk peduli.

"CHOPPER! KE SANA!" Nami menunjuk gang sempit yang lebih sepi. "Kita harus cari tempat aman untuk merawat Luffy!"

Kami membelok ke gang tersebut, terus berlari sampai menemukan bangunan tua yang tampak kosong—mungkin bekas toko yang ditinggal pemiliknya karena perang.

"DI SINI!" Vivi membuka pintu dengan paksa.

Kami semua masuk dan Sanji langsung menutup pintu, mendorongnya dengan meja besar.

Chopper menurunkan Luffy dengan hati-hati ke lantai.

Kondisi Luffy... mengerikan.

Kulitnya keriput seperti orang tua berumur seratus tahun. Bibirnya pecah-pecah dan berdarah. Matanya tertutup, napasnya sangat lemah.

"Luffy..." Nami berlutut di sampingnya, air mata menetes ke wajah Luffy yang kering.

"AIR! CEPAT!" Chopper berteriak dalam mode Doctor-nya yang serius. "Dia butuh hidrasi secepatnya atau organ dalamnya akan rusak permanen!"

Usopp langsung membuka semua botol air yang dia punya. "Ini! Aku punya lima botol!"

"Aku punya tiga!" Nami mengeluarkan botol dari tasnya.

"Berikan semua padaku!" Chopper mulai bekerja dengan cepat.

Dia membuka mulut Luffy dengan lembut dan perlahan menuangkan air sedikit demi sedikit.

Tapi masalahnya—Luffy tidak bisa menelan!

Air hanya mengalir keluar dari sudut bibirnya.

"TIDAK! Dia terlalu lemah untuk menelan!" Chopper mulai panik. "Aku butuh IV... aku butuh cairan intravena... tapi aku tidak punya peralatan!"

"Bagaimana dengan ini?" Vivi tiba-tiba merobek secarik kain dari bajunya dan membasahinya dengan air. "Kita bisa teteskan air dari kain basah ke mulutnya? Perlahan-lahan?"

Chopper mengangguk cepat. "Ya! Itu bisa berhasil! Lakukan!"

Vivi langsung memeras kain basah di atas mulut Luffy. Tetesan air jatuh ke mulut Luffy.

Tidak ada reaksi di awalnya... tapi setelah beberapa tetes—

Luffy reflex menelan!

"DIA MENELAN!" Nami berteriak dengan lega.

"Terus! Jangan berhenti!" Chopper memonitor denyut nadi Luffy. "Detak jantungnya masih sangat lemah!"

Vivi terus memeras kain, memberi Luffy air setetes demi setetes.

Sementara itu, aku dan Sanji menjaga pintu dan jendela, memastikan tidak ada yang mengganggu.

"Sanji, kakimu bagaimana?" tanyaku sambil melirik kaki Sanji yang tadi sempat kena kemampuan Crocodile.

Sanji menggerakkan kakinya, meringis sedikit. "Masih bisa dipakai. Untung cuma kena sebentar. Kalau lebih lama..." dia tidak melanjutkan, tapi kami berdua tahu—dia bisa berakhir seperti Luffy.

"Crocodile terlalu kuat," gumamku dengan frustrasi. "Bahkan Luffy tidak bisa menyentuhnya. Bagaimana kita bisa mengalahkan monster seperti itu?"

"Pasti ada cara," Sanji menyalakan rokok dengan tangan gemetar. "Setiap Devil Fruit punya kelemahan."

"Kelemahan..." aku berpikir keras.

Suna Suna no Mi... kemampuan untuk menjadi pasir dan mengendalikan pasir... kemampuan untuk menyerap kelembaban...

Tunggu.

Kelembaban.

"SANJI!" aku tiba-tiba menoleh padanya. "Aku punya ide!"

"Apa?"

"Crocodile bisa menyerap kelembaban kan? Itu berarti kemampuannya bergantung pada kekeringan! Bagaimana kalau... kita basahi dia?"

Sanji mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Pasir jadi keras dan lengket kalau basah!" aku menjelaskan dengan excited. "Kalau kita bisa basahi Crocodile dengan banyak air—mungkin dia tidak bisa berubah jadi pasir! Mungkin serangan fisik bisa mengenainya!"

Mata Sanji melebar dengan pengertian. "Itu... itu bisa berhasil!"

Nami yang mendengar percakapan kami menoleh. "Tapi masalahnya—kita di tengah gurun! Air sangat terbatas!"

Dia benar. Di Alabasta, air adalah komoditas langka.

"Aku punya sedikit air di Clima-Tact ku," Nami melanjutkan sambil memeriksa tongkatnya. "Tapi tidak cukup untuk membasahi seseorang sepenuhnya..."

"Bagaimana kalau darah?" Vivi tiba-tiba berbicara.

Kami semua menoleh padanya.

"Darah juga cairan kan?" Vivi menjelaskan. "Kalau tidak ada cukup air... darah bisa jadi penggantinya."

Sanji mengangguk perlahan. "Itu... benar. Tapi siapa yang akan—"

"Luffy," kataku dengan yakin. "Kalau Luffy pulih, dia pasti akan lakukan apapun untuk mengalahkan Crocodile. Termasuk menggunakan darahnya sendiri."

"Tapi itu berbahaya!" Chopper protes. "Kehilangan banyak darah di tengah pertempuran bisa fatal!"

"Aku tahu," aku mengangguk. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya cara untuk membuat Crocodile bisa diserang."

Hening sejenak.

Lalu Luffy—dengan suara serak yang hampir tidak terdengar—berbicara.

"La...kukan..."

"LUFFY!" Nami langsung mendekat. "Jangan bicara! Kau harus istirahat!"

Tapi Luffy membuka matanya—meskipun hanya sedikit. Matanya masih penuh tekad yang sama seperti biasa.

"La...kukan... itu..." dia berbisik. "A...ku... akan... hajar... Crocodile..."

Air mata Nami jatuh. "Luffy... kau bahkan belum pulih sepenuhnya..."

"Tidak... apa-apa..." Luffy mencoba tersenyum, meskipun bibirnya yang pecah-pecah membuatnya terlihat menyakitkan. "A...ku... Kapten... bajak... laut... Straw Hat... Aku... harus... lindungi... teman-teman..."

Chopper menghapus air matanya sendiri. "Luffy..."

"Berapa lama sampai dia bisa bergerak lagi?" Sanji bertanya pada Chopper.

Chopper memeriksa kondisi Luffy dengan seksama. "Kalau kita terus beri dia air... mungkin satu atau dua jam untuk pulih sebagian. Tapi untuk pulih sepenuhnya butuh setidaknya satu hari penuh."

"Kita tidak punya waktu satu hari," gumamku sambil menatap ke arah istana. "Zoro masih di luar sana sendirian."

BOOM!

Ledakan terdengar dari kejauhan—arah tempat kami meninggalkan Zoro.

"ZORO!" aku refleks ingin berlari keluar.

Tapi Sanji menahanku lagi. "Kenji. Kau sendiri juga tidak bisa mengalahkan Crocodile. Kita harus tunggu Luffy."

"Tapi—"

"Zoro kuat," Sanji memotong dengan suara rendah. "Dia bisa bertahan. Dia tidak akan mati semudah itu."

Aku mengepalkan tinjuku dengan frustrasi. Sanji benar—aku tahu dia benar. Tapi meninggalkan teman sendirian terasa sangat salah.

Tiba-tiba, pintu toko bergetar!

BAM BAM BAM!

"ADA ORANG DI DALAM?!" suara dari luar berteriak. "INI TENTARA KERAJAAN! KELUAR SEKARANG!"

Kami semua terdiam.

"Sial," Sanji mendesis. "Mereka menemukannya tempat ini."

"Bagaimana?" Usopp berbisik panik. "Kita tidak bisa berkelahi! Luffy masih sekarat!"

Vivi tiba-tiba berdiri. "Aku yang akan bicara dengan mereka."

"Vivi?!" Nami mencoba menahannya.

Tapi Vivi menggeleng. "Mereka tentara ayahku. Mereka akan dengarkan aku."

Dia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit.

Di luar, ada lima tentara kerajaan Alabasta dengan senjata teracung.

"Putri Vivi?!" salah satu tentara terkejut melihatnya. "Yang Mulia! Kami dengar Anda diculik oleh bajak laut Straw Hat!"

"Tidak," Vivi menggeleng tegas. "Aku tidak diculik. Mereka teman-temanku."

"Tapi—"

"DENGARKAN AKU!" Vivi berteriak dengan suara penuh otoritas—suara seorang putri kerajaan. "Crocodile adalah musuh! DIA yang menciptakan pemberontakan! DIA yang ingin menghancurkan Alabasta! Kalian harus percaya padaku!"

Tentara-tentara itu saling pandang dengan bingung.

"Tapi... Crocodile-sama adalah pahlawan kita..."

"DIA BUKAN PAHLAWAN!" Vivi hampir menangis. "Dia menggunakan kalian! Menggunakan kita semua! Kumohon... percaya padaku..."

Salah satu tentara—yang terlihat lebih tua dari yang lain—melangkah maju. Dia berlutut di depan Vivi.

"Yang Mulia," katanya dengan lembut. "Kami tentara Anda. Kami akan ikuti perintah Anda. Apa yang Anda inginkan kami lakukan?"

Vivi terdiam sejenak, lalu berbicara dengan tegas.

"Lindungi kami. Jangan biarkan siapapun masuk ke tempat ini. Temanku sedang terluka parah dan membutuhkan waktu untuk pulih."

Tentara itu mengangguk. "Kami mengerti."

Dia menoleh ke rekan-rekannya. "Kalian dengar Putri! Jaga area ini! Jangan biarkan siapapun lewat!"

Kelima tentara langsung mengambil posisi di sekitar toko.

Vivi menutup pintu dan kembali ke dalam dengan lega.

"Terima kasih..." dia berbisik sambil menghapus air mata.

Nami memeluknya. "Kau hebat, Vivi."

Chopper melanjutkan merawat Luffy dengan serius. "Dia mulai membaik. Kulitnya tidak sekering tadi. Tapi masih butuh banyak waktu."

Aku duduk di sudut ruangan, menatap tangan yang gemetar.

Kami sudah kalah sekali. Luffy hampir mati. Zoro masih di luar sana sendirian.

Dan kami harus menghadapi Crocodile lagi.

Monster yang bahkan Luffy tidak bisa sentuh.

"Kami akan menang," Luffy tiba-tiba berbicara dengan suara yang sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

Aku menoleh padanya.

Dia menatapku dengan mata penuh determinasi—meskipun tubuhnya masih lemah.

"Aku.. janji... Kami... akan... kalahkan... Crocodile... Dan... selamatkan... Alabasta.."

Dan melihat tekad di matanya..

Aku percaya.

Kami akan menang.

Entah bagaimana.

1
Bayu Setiawan
awal mula yang cukup bagus👍
Tiara Fani
cerita nya bagus
Tiara Fani
aku suka kok
Wahyu🐊
Oy kok Sepiii
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!