Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Tiga bulan berlalu seperti hembusan angin di antara kelopak bunga, begitu cepat namun meninggalkan jejak yang mendalam. Selama waktu itu, setiap detiknya adalah persiapan menuju satu janji abadi.
Tiga bulan berlalu, secepat embun pagi yang menyapa mentari,
Di setiap detaknya, namamu kusematkan dalam doa yang paling sunyi.
Tak lagi ada jarak yang memisahkan dua jiwa yang sempat hilang,
Karena hari ini, cintaku padamu telah menemukan jalan pulang.
Bab Terakhir: Pelabuhan Terakhir Sang Bunga Han
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Langit di atas pesisir pantai tampak begitu biru, seolah-olah semesta sedang tersenyum merestui penyatuan dua jiwa yang telah menempuh perjalanan melintasi dimensi. Deburan ombak yang tenang menjadi musik latar yang alami, beradu dengan aroma harum bunga melati dan bunga Han yang sengaja didatangkan Kaelen khusus untuk hari ini.
Aku berdiri di depan cermin besar di dalam ruang rias pengantin. Gaun putih panjang berbahan brokat halus membalut tubuhku dengan sempurna. Di jari manisku, cincin permata biru itu kini akan segera didampingi oleh sebilah cincin emas murni yang akan mengikatku selamanya.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Ibu sambil merapikan kerudung transparan yang menutupi wajahku. Matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak menyangka, pria dingin yang membawamu pulang hari itu benar-benar akan menjadi pelindungmu selamanya."
Aku hanya bisa tersenyum haru, menahan air mata agar tidak merusak riasan. Jantungku berdegup kencang saat pintu terbuka dan Ayah masuk dengan setelan jas hitam yang gagah. Ia mengulurkan lengannya padaku.
"Sudah siap, Putri Kecil Ayah? Kaelen sudah menunggumu di sana. Dia terlihat seperti pria yang tidak akan melepaskan pandangannya darimu bahkan jika dunia runtuh hari ini," goda Ayah, meski suaranya sedikit bergetar karena emosi.
Kami berjalan perlahan menuju altar yang didirikan tepat di tepi pantai. Jalanku beralaskan kelopak bunga putih yang lembut. Di kejauhan, aku melihat sosok itu. Kaelen.
Ia berdiri di sana, mengenakan tuksedo hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya. Rambutnya tertata rapi, dan untuk pertama kalinya, ia tidak mengenakan kacamata hitamnya di bawah sinar matahari. Mata biru elektriknya yang tajam kini tampak basah dan penuh dengan kerinduan yang membuncah. Saat matanya bertemu denganku, aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun—ia sedang menelan emosi yang luar biasa.
Ayah menyerahkan tanganku ke tangan Kaelen. Sentuhan kulitnya yang hangat dan kokoh seketika menghilangkan seluruh kegugupanku. Kaelen menggenggam tanganku begitu erat, seolah-olah jika ia sedikit saja melonggarkannya, aku akan menghilang kembali ke dunia lama.
"Kamu sangat cantik, Kazumi," bisiknya pelan, suaranya parau karena haru. "Terima kasih telah memilihku di dunia ini."
Pendeta mulai membacakan doa, namun duniaku seolah menyempit hanya pada pria di depanku ini. Tiba saatnya untuk pengucapan janji suci. Kaelen mengambil napas dalam, ia tidak membaca teks, ia menatap langsung ke dalam mataku.
"Kazumi," ucapnya, suaranya menggema di antara deru ombak. "Di dunia yang luas ini, di antara jutaan jiwa dan lintasan waktu yang tak masuk akal, aku menemukanmu. Dulu aku adalah ksatria yang hanya tahu cara berperang, namun bersamamu, aku belajar cara mencintai. Aku berjanji di depan Tuhan dan semesta, untuk menjadi pelindungmu saat kamu rapuh, menjadi rumahmu saat kamu lelah, dan menjadi alasanmu untuk selalu tersenyum. Aku akan mencintaimu, bukan hanya sampai maut memisahkan, tapi sampai jiwaku menemukanmu kembali di kehidupan selanjutnya. Kamu adalah bunga Han-ku yang paling indah, dan aku akan menjagamu agar tidak akan pernah layu lagi."
Air mataku jatuh tak tertahankan. Dengan suara bergetar, aku membalas janjinya.
"Kaelen... kamu adalah keajaiban yang nyata dalam hidupku. Terima kasih telah mencariku, terima kasih telah menungguku. Aku berjanji untuk selalu ada di sampingmu, menjadi cahaya di setiap langkahmu, dan mencintaimu dengan seluruh keberadaanku. Mulai hari ini, hidupku adalah hidupmu."
Saat Kaelen menyematkan cincin emas di jariku, ia menarikku ke dalam pelukannya. Ia tidak hanya menciumku di depan semua tamu yang bersorak, tapi ia membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat tangisku semakin pecah.
"Kita sudah pulang, Sayang. Benar-benar pulang."
Resepsi pernikahan berlangsung dengan penuh kehangatan. Salsa dan Ren sibuk mengambil foto, sementara orang tua kami tertawa bahagia. Di sudut taman pantai, Kaelen membawaku sedikit menjauh dari keramaian. Kami berdiri menatap matahari yang mulai terbenam di cakrawala, menciptakan warna jingga yang romantis di atas air laut.
Kaelen memelukku dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggangku dan menyandarkan dagunya di bahuku—posisi favorit kami.
"Tugas pertamaku sebagai suamimu sudah menunggu," bisiknya sambil mencium pipiku.
"Apa itu?" tanyaku sambil tersenyum.
"Membawamu ke rumah baru kita. Taman bunga Han-mu sudah mekar sempurna pagi ini. Aku ingin kita melihatnya bersama saat bulan muncul nanti."
Aku berbalik di dalam pelukannya, melingkarkan tanganku di lehernya. "Kamu benar-benar menyiapkan segalanya, ya?"
"Untukmu, aku akan memberikan dunia ini jika aku bisa," jawabnya serius, lalu ia mencium bibirku dengan penuh kelembutan, sebuah ciuman yang menandai akhir dari pencarian panjang dan awal dari kebahagiaan abadi.
Malam itu, di bawah saksi ribuan bintang, Kazumi bukan lagi bunga yang rapuh sendirian. Ia telah menemukan akar dan pelindungnya. Novel hidup mereka di dunia lama mungkin telah usai dengan duka, namun di dunia ini, cerita mereka baru saja dimulai dengan kata "selamanya".
**TAMAT**