Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Jenderal Es
Ledakan putih dari protokol penghancuran identitas itu perlahan surut, menyisakan keheningan yang perih di aula gerbang Kota Void. Li Wei berdiri di tengah kawah kecil yang masih mengepulkan uap panas. Napasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menelan pecahan kaca karena paru-parunya mulai membeku dari dalam. Di hadapannya, Jenderal Han-Bing tidak bergeming, meski jubah putihnya yang elegan kini ternoda jelaga dan retakan halus mulai merayap di pelindung bahu kristalnya.
"Hanya itu?" suara Han-Bing terdengar seperti gesekan es pada logam. "Kau menghancurkan satu-satunya bukti sejarah klanmu demi ledakan kecil yang bahkan tidak mampu menggores zirahku, Li Wei?"
Li Wei tidak menjawab. Ia merasakan Bailong-Jian bergetar di tangannya. Pedang itu kini tidak lagi mengeluarkan percikan ungu, melainkan pendar putih pucat yang menyerap hawa dingin dari sekitar. Sistem saraf Void di dalam tubuhnya sedang berteriak, memberikan peringatan merah tentang hipotermia internal yang mulai menyerang organ-organ vitalnya.
"Martabat klan Li tidak terletak pada sekeping logam, Jenderal," bisik Li Wei, suaranya parau. "Tapi pada apa yang aku pilih untuk dilindungi hari ini."
"Dan kau memilih untuk melindungi sekelompok desersi di dalam lubang tikus ini?" Han-Bing mengangkat tombak peraknya. Seketika, suhu di aula itu merosot tajam. Stalaktit es yang menggantung di langit-langit mulai tumbuh memanjang, seolah-olah ditarik oleh gravitasi yang salah. "Kasihan sekali. Zhao Kun benar, kau adalah produk gagal yang terlalu banyak memiliki cacat emosional."
"Setidaknya aku masih memiliki emosi untuk dirasakan," balas Li Wei. Ia memaksakan kakinya melangkah maju. Lantai yang membeku berderak di bawah botnya. "Berapa banyak bagian dari dirimu yang sudah kau buang demi menjadi mesin es milik Kekaisaran, Han-Bing?"
"Aku membuang apa yang tidak berguna. Rasa sakit, keraguan, dan kenangan tidak akan memenangkan perang," Han-Bing menerjang. Tombaknya melesat, bukan lagi sekadar tusukan fisik, melainkan gelombang pembekuan yang membekukan partikel udara di jalurnya.
Li Wei mengangkat pedangnya, namun gerakannya terasa lambat. Neuro-Sync miliknya terhambat oleh lapisan es yang mulai menyelimuti sambungan saraf di pergelangan tangannya. Benturan kedua senjata itu menghasilkan denting nyaring yang memekakkan telinga. Li Wei terdorong ke belakang, kakinya terseret menciptakan jalur di atas lantai yang licin.
"Li Wei! Jangan lawan esnya dengan tenaga!" suara Chen Xi bergema dari interkom zirah yang retak. "Dia menggunakan energi kinetikmu untuk memperkuat proses kristalisasi! Kau harus meningkatkan suhu inti pedangmu!"
"Aku sedang mencobanya, Chen Xi!" teriak Li Wei sambil menghindari serangan susulan yang hampir merobek lehernya. "Tapi sistem pendingin aula ini rusak! Semakin aku memanaskan pedang, semakin kuat Han-Bing menarik energi termal dari sekitarnya!"
"Gunakan sirkulasi termal dari pipa yang kau ledakkan tadi!" Chen Xi kembali berteriak. Di monitornya, ia melihat grafik detak jantung Li Wei yang tidak stabil. "Jika kau bisa menarik uap panas itu kembali ke pusat resonansi pedangmu, kau bisa menciptakan anomali suhu!"
Han-Bing tertawa kecil, suara yang jarang terdengar dan sama sekali tidak memiliki kehangatan. "Strategi yang cerdik dari seorang mata-mata Naga Laut. Tapi uap panas tidak ada gunanya jika aku membekukan darah di dalam nadinya terlebih dahulu."
Tombak perak itu berputar, menciptakan badai salju mikroskopis yang mengaburkan pandangan Li Wei. Setiap butiran salju itu setajam silet, menggores kulit Li Wei yang tidak terlindungi zirah. Rasa perih itu segera berganti dengan mati rasa yang menakutkan.
"Kau tahu, Li Wei," Han-Bing melangkah perlahan di tengah badai yang ia ciptakan. "Keluargamu tidak mati sebagai pahlawan. Mereka menyerah secara sukarela di laboratorium bawah tanah itu karena mereka takut pada kematian. Mereka memohon pada Zhao Kun untuk dijadikan apa pun, asalkan mereka tetap bernapas."
Li Wei membeku. Bukan karena es, tapi karena kebenaran pahit yang dilemparkan Han-Bing. Bayangan tabung-tabung berisi cairan biru di laboratorium rahasia tempat ia membantai subjek eksperimen yang ternyata adalah kerabatnya sendiri kembali menghantui pikirannya.
"Kau bohong," desis Li Wei. Pedangnya bergetar hebat.
"Apakah itu kebohongan, atau hanya kenyataan yang terlalu berat untuk dipikul oleh martabatmu?" Han-Bing mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. "Lihatlah dirimu. Bertarung demi hantu, dilindungi oleh seorang pengkhianat, dan membawa anak kecil sebagai beban. Kau adalah aib bagi seragam yang pernah kau pakai."
"Tutup mulutmu!" Li Wei meraung.
Ia melepaskan seluruh limiter pada Neuro-Sync-nya. Cahaya putih dari protokol Hantu Teratai yang sempat meredup kini kembali berkobar, kali ini dengan rona merah menyala—warna dari panas tubuhnya yang dipaksa keluar secara paksa. Limit Break ini mengonsumsi oksigen di sekitarnya dengan rakus.
"Kau gila! Kau akan membakar sarafmu sendiri!" Han-Bing terkejut saat melihat es di sekitar kaki Li Wei mencair secara instan, berubah menjadi uap yang menderu.
"Jika aku harus terbakar untuk menghancurkan esmu, maka biarlah!" Li Wei menerjang. Kali ini kecepatannya melampaui batas visual manusia.
Bailong-Jian menghantam tombak perak Han-Bing dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan pilar bangunan. Gelombang panas dan dingin beradu, menciptakan ledakan uap yang menggetarkan seluruh gua. Li Wei bisa merasakan sirkuit di lengan kanannya mulai hangus, namun ia tidak peduli. Di matanya hanya ada bayangan Han yang tewas di pipa induk dan wajah Xiao Hu yang ketakutan.
"Ini untuk setiap nyawa yang kau jadikan baterai!" Li Wei menekan pedangnya lebih keras.
Han-Bing terpaksa berlutut satu kaki, perisai es di zirahnya mulai retak di bawah tekanan panas yang tidak masuk akal. Matanya yang dingin kini menunjukkan kilatan kecemasan untuk pertama kalinya. "Bagaimana mungkin... level sinkronisasimu seharusnya sudah hancur..."
"Aku bukan lagi sekadar angka dalam sistemmu, Jenderal!" Li Wei memutar pedangnya, menggunakan uap air yang terperangkap untuk menciptakan ledakan tekanan gas tepat di depan wajah Han-Bing.
BOOM!
Han-Bing terlempar ke arah dinding aula yang membeku, menghancurkan kristal es raksasa yang ada di sana. Li Wei berdiri terengah, darah segar mengalir dari hidung dan telinganya, namun matanya tetap tertuju pada titik di mana musuhnya jatuh.
"Li Wei, cukup! Kau sudah mencapai ambang kematian!" Chen Xi berlari keluar dari tempat persembunyiannya, mengabaikan bahaya. Ia melihat tubuh Li Wei yang mengeluarkan asap, tanda bahwa suhu tubuhnya terlalu tinggi untuk ukuran manusia normal.
"Dia belum selesai, Chen Xi," bisik Li Wei. Ia mencoba melangkah, namun lututnya goyah. "Mesin seperti dia... tidak akan berhenti sebelum intinya dihancurkan."
Benar saja, dari balik reruntuhan es, Han-Bing berdiri kembali. Meskipun zirahnya hancur di bagian dada dan wajahnya terluka, aura dinginnya justru semakin pekat. Ia menatap Li Wei dengan kebencian yang murni.
"Kau berhasil merusak ziraku," ucap Han-Bing pelan. "Tapi kau juga baru saja membuka kunci terakhir dari sistem pendinginku. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menahan suhu nol mutlak ini."
Aula gerbang Kota Void mulai bergetar hebat. Stalaktit es di langit-langit berjatuhan, hancur berkeping-keping sebelum menyentuh lantai karena udara di sekeliling mereka kini menjadi begitu padat oleh hawa dingin yang mematikan.
"Chen Xi, bawa Xiao Hu masuk lebih dalam ke labirin," perintah Li Wei tanpa menoleh. "Apapun yang terjadi setelah ini... jangan kembali."
"Tidak! Kita pergi bersama!" Chen Xi mencengkeram lengan Li Wei, mencoba membagi panas tubuhnya yang tersisa.
"Pergilah!" Li Wei mendorongnya menjauh. "Ini adalah konfrontasi level enam. Kau hanya akan membeku dalam hitungan detik jika tetap di sini!"
Di ujung lorong, Xiao Hu berdiri dengan mata berkaca-kaca, memegang kotak musik yang pernah ia temukan di laboratorium. Ia melihat dua orang yang paling ia percayai berada di ambang kehancuran.
"Kak Li... Kak Chen..." bisik Xiao Hu.
Han-Bing mengangkat tangannya, dan seluruh uap panas di aula itu seketika membeku menjadi debu es yang tajam. Ia bersiap untuk serangan terakhir yang akan mengubah seluruh area itu menjadi makam kristal.
Han-Bing menurunkan tangannya perlahan, dan seketika itu juga, hawa dingin yang tak kasat mata menyapu seluruh aula seperti dinding kaca yang runtuh. Udara tidak lagi hanya terasa beku; ia terasa padat, seolah-olah setiap molekul oksigen telah dikunci oleh rantai kristal. Ini adalah nol mutlak, sebuah kondisi di mana mesin dan daging seharusnya berhenti berfungsi.
"Li Wei, sistem sarafmu tidak akan bertahan lebih dari sepuluh detik dalam suhu ini," suara Han-Bing bergema, kini tanpa bantuan pengeras suara, karena udara itu sendiri telah menjadi konduktor suara yang sempurna. "Menyerahlah pada keheningan es ini. Itu jauh lebih terhormat daripada mati terbakar oleh ambisimu sendiri."
Li Wei tidak bisa lagi merasakan kakinya. Di penglihatannya, HUD Neuro-Sync sudah mati total, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh pendar putih dari bilah Bailong-Jian. Ia melihat Chen Xi yang berjarak beberapa meter darinya mulai jatuh terduduk, kulitnya berubah pucat kebiruan dalam hitungan detik.
"Jangan... sentuh... dia," desis Li Wei. Setiap kata yang ia ucapkan mengeluarkan serpihan es kecil dari bibirnya.
Ia memejamkan mata, bukan untuk menyerah, melainkan untuk melakukan sinkronisasi terakhir yang pernah diajarkan Zhao Kun—sebuah teknik yang seharusnya hanya digunakan sebagai protokol bunuh diri. Ia membalikkan aliran energi dari Dragon Heart langsung ke sumsum tulang belakangnya. Panas yang luar biasa meledak di dalam tubuhnya, sebuah kontras yang begitu brutal hingga Li Wei berteriak tanpa suara.
"Satu serangan," gumam Li Wei pada dirinya sendiri.
Dengan satu entakan yang memecahkan lantai es di bawahnya, Li Wei melesat. Ia bukan lagi manusia yang berlari; ia adalah garis cahaya putih yang membelah kebekuan aula. Han-Bing mengangkat tombaknya, menciptakan barikade es setebal satu meter dalam sekejap, namun Li Wei tidak menghindar.
Bailong-Jian menghantam barikade itu. Bukannya hancur, pedang itu justru seolah-olah "memakan" hawa dingin tersebut, mengubah energi kriogenik menjadi dorongan kinetik yang masif. Inilah evolusi pedang yang tidak terduga—kemampuan untuk beresonansi dengan elemen musuh.
"Apa?!" Han-Bing terkesiap saat melihat barikade esnya menguap menjadi gas dalam satu tebasan vertikal.
Bilah pedang Li Wei menghantam bahu kiri Han-Bing, merobek zirah kristal itu hingga ke intinya. Ledakan energi panas-dingin yang terjadi menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa pilar di aula. Han-Bing terlempar menghantam altar Void, tombaknya patah menjadi dua.
Li Wei terjatuh dengan posisi berlutut, pedangnya tertancap di lantai untuk menopang tubuhnya. Seluruh zirahnya kini mengeluarkan asap hitam. Saraf di tangan kanannya telah hangus total, menyisakan rasa sakit yang kini mulai digantikan oleh kekosongan sensorik yang menakutkan.
"Kau... kau menggunakan hidupmu sebagai bahan bakar," Han-Bing terbatuk, darah biru—hasil dari augmentasi kimia Kekaisaran—merembes dari balik helmnya yang retak. "Bodoh. Kau menang di sini, tapi kau sudah kehilangan segalanya."
Han-Bing bangkit dengan susah payah, menekan tombol di pergelangan tangannya. "Penarikan taktis. Koordinat sudah terkunci. Zhao Kun... dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan dari pelacak itu sebelum kau menghancurkannya."
Dalam sekejap, tubuh Han-Bing diselimuti oleh pendar cahaya teleportasi jarak pendek dan menghilang, meninggalkan aula yang kini perlahan mulai menghangat karena kebocoran uap dari pipa bawah tanah yang kembali mengalir.
Li Wei mencoba berdiri, namun dunia di sekitarnya mulai berputar. Ia merasakan tangan yang hangat—benar-benar hangat—merangkul bahunya.
"Li Wei! Bangun! Jangan berani-berani kau menutup mata!" suara Chen Xi terdengar panik. Wanita itu memeluknya erat, mencoba memberikan sisa panas tubuhnya ke dalam zirah Li Wei yang sudah mendingin.
"Xiao... Hu..." gumam Li Wei lemah.
"Aku di sini, Kak Li!" Xiao Hu berlari mendekat, ia melepaskan selimut pemanas dari tasnya dan membungkus tubuh Li Wei yang gemetar hebat. "Jangan pergi... tolong jangan pergi."
Li Wei menatap langit-langit aula yang runtuh. Di balik celah reruntuhan itu, jauh di atmosfer atas, ia melihat sebuah titik cahaya merah yang berkedip secara ritmis. Itu bukan bintang. Itu adalah mata satelit orbital milik Zhao Kun.
"Dia... dia melihat kita," bisik Li Wei sebelum kegelapan benar-benar menelan kesadarannya.
Tepat saat itu, sebuah proyeksi hologram raksasa muncul di tengah aula yang hancur. Bukan lagi sosok Han-Bing, melainkan wajah tua Zhao Kun yang tampak tenang namun mematikan. Wajah itu menatap ke arah kawah ledakan, ke arah Li Wei yang tak berdaya di pelukan Chen Xi.
"Permainan yang bagus, Muridku," suara Zhao Kun bergetar di udara yang mulai berdebu. "Kau telah melampaui limit L4. Kau sudah siap untuk tahap selanjutnya. Mari kita lihat, apakah kau bisa bertahan saat aku meruntuhkan surga kecilmu ini langsung dari langit."
Suara dentuman besar terdengar dari arah langit, menandakan bahwa serangan orbital telah diluncurkan.