Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham Tentang Tante Mia
"Ma aku tidak suka dia ada disini." ucap anak itu sembari menunjuk Mia dengan jarinya. Sedangkan Mia terkejut mendengar ucapan anak itu.
Sama hal nya dengan Mia, Rose juga terkejut mendengar ucapan puteranya. "Memangnya kenapa Noah?"
Noah menunduk, memainkan jemarinya dengan gugup. "Kata kakak, Tante Mia mau merebut papa."
Ah sekarang Mia paham. Sepertinya Sophia sudah memberitahu Noah tentang kesalahpahaman itu.
Rose tersenyum lalu menangkup wajah anaknya dengan lembut. "Tante Mia tidak pernah merebut papa mu, tapi mama yang merebut papa dari Tante Mia."
Sekarang Mia yang melongo. Dia tidak menyangka jika Rose akan jujur didepan Noah. Anak laki-laki itu memiringkan kepalanya. Tanda dia tidak mengerti.
"Rose, seharusnya kau tidak perlu memberitahunya." ujar Mia yang merasa tidak enak.
"Aku hanya tidak ingin anak-anak salah paham, dan maaf jika ucapan Noah menyinggung mu Mia."
Mia tersenyum lebar lalu mendekati anak itu, mengelus kepalanya pelan. "Tante tidak pernah berniat mengambil papa mu Noah karena Tante sudah memiliki calon suami yang lebih baik dari papamu."
Plak....
Dengan cepat Rose menggeplak tangan wanita itu. "Jangan bicara omong kosong lagi, aku muak mendengarnya."
Mia terkekeh geli, Rose kemudian pergi menuju kamar putrinya, diikuti oleh Mia di belakangnya.
Sama seperti Noah, gadis itu seketika cemberut melihat keberadaan Mia. Wanita yang sudah dia anggap sebagai perusak keluarganya.
"Ma kenapa dia ada disini." rengek gadis itu lemah. Rose duduk diatas ranjang Sophia, kemudian memeriksa suhu tubuh anak itu dengan punggung tangannya.
"Kakakmu sudah makan kan Noah?" tanyanya yang menoleh ke arah putranya.
Noah mengangguk. "Sudah ma." dia sudah memastikan bahwa kakaknya itu sudah makan.
Mendengar jawaban Noah, dengan cepat Rose mengeluarkan sebuah pil yang dia simpan disaku celananya. Paracetamol dari ibu Sarah. Dia segera menyobek bukusan obat itu lalu memberikannya pada Sophia yang langsung membuka mulutnya.
Rose bersyukur karena Sophia tidak pernah menyulitkan dirinya. Anak itu meminum obatnya dengan tenang.
Setelah selesai minum, Sophia kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tapi tatapannya tetap tajam saat melihat Mia.
Wanita itu menghela nafas lelahnya. "Sampai kapan kau mau memusuhi ku Sophia?" dia penasaran sekali, apa yang membuat anak itu begitu membencinya, padahal selama dia tinggal di rumah Marcus, dia tidak pernah aneh-aneh ataupun menyinggung perasaan anak itu.
"Ma, dia sudah menghancurkan hubungan mama dan papa, kenapa mama tidak mengusirnya." ucap Sophia yang membuat Rose sedikit tidak enak dengan Mia.
Sepertinya dia harus meluruskan sesuatu.
Rose tersenyum lalu mendekat kepada sang anak. "Sophia, selama ini hubungan mama dan papa memang tidak pernah baik, bukan karena Tante Mia, tapi karena mama." dia berharap sang anak mengerti.
Benar saja, wajah Sophia terlihat bingung.
Mia menepuk pundak Rose, meminta wanita itu untuk tidak melanjutkan ceritanya karena dia tidak ingin membuka luka lama wanita itu. Tapi Rose menoleh ke arahnya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Wanita itu kembali menatap Sophia. "Mama yang sudah merebut papa mu dari Tante Mia Sophia, jadi jangan benci Tante Mia." bukan hanya Sophia yang diam, Noah pun ikut diam.
Mata Sophia mulai berkaca-kaca. Benarkah yang dikatakan mama nya, apa selama ini mama nya orang jahat. Lalu ucapan om Jesper dan Tante Emma itu benar? Tentang mama nya yang jahat.
Tapi melihat wajah teduh wanita itu membuatnya tidak mudah percaya.
"Ma, jadi ucapan om Jesper dan Tante Emma benar." tatapannya mulai kosong.
Rose mengangguk, dia tidak akan menutupinya dari Sophia dan juga Noah. Dia cukup sadar diri, semua kesakitan yang dia rasakan adalah buah dari keserakahan yang dia lakukan selama ini.
Mungkin jika dia tidak menjebak Marcus dan memaksa pria itu menikahinya, dia tidak akan hancur seperti ini.
"Itu hanya masalalu Sophia, sekarang mama mu sudah berubah menjadi orang yang baik." tambah Mia yang takut jika setelah mendengar ini Sophia jadi membenci mamanya.
Sophia beralih menatap Mia dengan tatapan mata sendu. "Tante maafkan Sophia ya jika selama ini jahat sama Tante." masih teringat dibenaknya saat dia mendorong Tante Mia hingga wanita itu hampir jatuh dari atas tangga, bukan hanya itu, dia juga pernah memberikan obat pencahar di makanan wanita itu dan berakhir Tante Mia yang mengalami diare hingga tiga hari lamanya.
Rose memang tidak tahu jika anak nya itu sudah berbuat jahat pada penghuni rumah. Dan Sophia baru sadar selama ini Tante Mia hanya diam saat dia ganggu, padahal wanita itu bisa mengadu pada papanya ataupun mama nya, tapi Tante Mia memilih diam.
"Emm Noah, lupakan apa yang aku katakan tentang Tante Mia tadi." dan Noah seketika mengangguk.
Tapi berbeda dengan Rose, kening wanita itu mengerut, dia langsung menoleh ke arah Mia. "Apa Sophia pernah mengganggumu Mia?" tanyanya penasaran.
deg.....
Jantung Sophia seketika berdegup kencang. Dia takut sekali jika mamanya tahu tentang kenakalan nya.
Mia tersenyum geli melihat ekspresi panik di wajah Sophia. "Tidak, Sophia anak yang baik Rose."
Akhirnya gadis itu bisa bernafas lega. dia menatap Tante Mia dengan senyuman tulus. Mulai detik ini dia akan menganggap wanita itu pahlawannya.
Terimakasih Tante Mia.
.....
"Bu, aku ada urusan sebentar." pamit Marcus yang baru saja mengantar sang ibu pulang ke rumah. Catherine yang pusing hanya mengiyakan ucapan anak itu, dia bergegas masuk ke dalam rumahnya sementara Marcus sudah menginjak gas mobilnya.
Tujuannya hanya satu.
Ke rumah sakit.
Matanya melirik pada sebuah plastik kecil bening yang berisi sehelai rambut milik anak laki-laki yang memanggil istrinya dengan sebutan mama.
Sejak awal dia sangat curiga dengan kemunculan anak itu. Apalagi melihat wajahnya yang hampir mirip seperti dirinya.
"Aku akan memeriksanya." dia berencana untuk tes DNA, dan jika terbukti anak itu adalah anaknya, maka tidak ada cara lain untuk kembali memiliki Rose selain mengancamnya.
Katakanlah dia jahat, asal dia bisa kembali mendapatkan keluarga kecilnya.
.....
"Aduh kepalaku pusing." keluh Catherine yang duduk di atas sofa, tidak lama Aurora muncul dengan segelas air hangat ditangannya.
Setelah meletakkan gelas itu di atas meja. "Bu di minum dulu."
Catherine membuka matanya, melihat wajah Aurora yang sendu itu membuatnya teringat dengan Rose. Selama ini dia terlalu abai dengan mereka, padahal Aurora juga anaknya, begitupun dengan Rose yang merupakan menantunya.
Mengabaikan semuanya dia menyuruh Aurora duduk disampingnya. Wanita itu terlihat kebingungan tapi tetap menuruti perintah ibunya.
Grep....
Dengan cepat Catherine menggenggam tangan anak itu "Maafkan semua perbuatan ibu padamu ya Aurora."
deg...