Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 – Jejak yang Terhapus
Suara langkah kaki mereka menggema di antara pepohonan, namun hutan seolah menelan suara itu. Setiap langkah terasa semakin dalam, semakin jauh dari apa yang mereka kenal. Defit dan Maya terus berjalan dalam diam, dibimbing oleh Wuras yang tampaknya tidak merasa lelah meskipun sudah berjam-jam mereka berjalan. Kegelapan semakin menyelimuti mereka, dan meskipun langit sudah mulai memudar menjadi kelabu, ada sesuatu yang menekan dada mereka, memberi rasa bahwa apa yang mereka cari tidak akan mudah ditemukan.
Hutan semakin lebat, dan udara semakin berat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan tidak ada suara burung, tidak ada angin yang berhembus. Hanya ada keheningan yang mencekam, seakan alam itu sendiri sedang menunggu sesuatu yang besar terjadi. Maya merasakan sesuatu yang ganjil di dalam dirinya, seperti ada sesuatu yang mengamati mereka, sesuatu yang telah lama terpendam.
“Kenapa semakin jauh kita berjalan, semakin gelap?” tanya Maya, suaranya hampir tak terdengar.
Wuras menoleh sejenak, matanya tajam dan penuh makna. “Karena kita menuju tempat yang terlarang. Tempat di mana segalanya bermula. Segalanya yang kalian tidak tahu.”
Defit menggenggam tangan Maya dengan erat, seakan itu satu-satunya yang mengikatnya pada dunia nyata. Semua ini terasa begitu asing, begitu jauh dari kenyataan yang mereka jalani. Mereka sedang berjalan menuju sesuatu yang bahkan Wuras tidak bisa jelaskan sepenuhnya. Sebuah tempat yang mengubah segalanya dan entah apa yang akan mereka temui di sana, mereka tidak bisa menghindarinya.
Maya mendongak, berusaha menatap lebih jauh ke depan, tetapi yang ia lihat hanya kegelapan yang menghalangi penglihatannya. Setiap langkah mereka terasa semakin berat, seolah tanah itu sendiri menahan mereka untuk tidak melangkah lebih jauh. Seperti ada kekuatan tak terlihat yang berusaha menarik mereka mundur.
“Maya,” Defit berkata, suaranya penuh kelembutan, namun ada ketegangan yang tak terelakkan di sana, “Aku tahu ini menakutkan. Tetapi kita harus melewati ini. Kita harus tahu apa yang ada di ujung jalan ini.”
Maya menatapnya, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. “Defit, apa yang sebenarnya sedang kita cari? Apa yang akan kita temukan di sini?”
Defit menunduk, perasaan yang begitu gelap merayapi dadanya. “Aku tidak tahu, Maya. Aku tidak tahu apa yang kita cari. Aku hanya tahu satu hal kita tidak bisa berhenti sekarang. Kita harus menemukan kebenarannya.”
Wuras berhenti di depan mereka, membalikkan tubuhnya untuk menatap mereka. Wajahnya tampak lebih tua dari sebelumnya, dan tatapannya mengandung beban yang tidak terucapkan. “Tempat ini tidak hanya menyembunyikan kebenaran. Tempat ini menyembunyikan segalanya yang kalian takuti segala yang kalian coba lupakan.”
Kata-kata Wuras mengalir seperti air yang dingin, menyentuh dasar hati mereka dengan tajam. Maya merasakan ketakutan yang semakin menggerogoti hatinya. “Apa yang kami takuti?” tanyanya pelan, hampir tak ingin mendengar jawabannya.
Wuras menatap keduanya dengan tatapan penuh penyesalan. “Kalian berdua… kalian bukan hanya manusia biasa. Kalian terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari kalian sesuatu yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan dunia ini. Kalian adalah kunci untuk membuka segalanya, tetapi kalian juga bisa menjadi pemicu kehancuran.”
Defit terdiam, rasa cemas menggelayuti dirinya. Segalanya yang mereka jalani, segala keputusan yang ia buat, mulai terlihat seperti rantai yang mengarah pada sebuah tujuan yang jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan. Mereka bukan hanya berlari dari masa lalu mereka mereka berlari dari takdir yang sudah tertulis.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya Maya dengan suara yang nyaris putus asa.
“Keputusan ada di tangan kalian,” jawab Wuras, suaranya berat, seperti memberi mereka beban yang tidak dapat mereka hindari. “Kalian bisa menghentikan kekuatan itu atau kalian bisa membiarkannya bebas, mengubah segalanya menjadi kehancuran.”
Wuras berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam hutan, meninggalkan mereka di belakang. Defit dan Maya hanya bisa mengikuti langkahnya, meskipun hati mereka dipenuhi dengan pertanyaan yang tak terjawab. Mereka tahu bahwa apa yang mereka hadapi bukan hanya pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan dengan diri mereka sendiri.
Maya menggenggam tangan Defit lebih erat, merasakan keringat yang mengalir di telapak tangannya. “Defit… apakah kita benar-benar bisa menghentikannya?” tanyanya dengan suara penuh keraguan.
Defit menoleh padanya, wajahnya keras, namun di dalam hatinya, ada perasaan yang lebih gelap daripada yang ia rasakan sebelumnya. “Aku tidak tahu, Maya. Tetapi kita tidak punya pilihan lain.”
Mereka terus berjalan, menuju tempat yang tak mereka ketahui. Langkah demi langkah, kegelapan semakin menyelimuti mereka. Dan semakin mereka berjalan, semakin kuat rasa tertekan yang mengikat mereka. Hutan ini bukan hanya gelap karena kurangnya cahaya tetapi gelap karena sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih menakutkan sedang menunggu mereka di ujung perjalanan.
Maya menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan diri. Namun hatinya masih berdebar, perasaan takut yang menggerogoti jiwa semakin tak terkendali. Ia tahu mereka sedang berjalan menuju takdir yang tak bisa dihindari.
Namun, satu hal yang pasti mereka tidak akan mundur. Mereka harus melangkah, apapun yang ada di depan mereka.
terus menarik ceritanya 👍