NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Sayap Merah

Angin kencang menyapu permukaan atap beton yang kasar, membawa aroma ozon dan partikel logam yang terasa tajam di indra penciuman. Li Wei berdiri di pinggiran gedung pencakar langit, menatap ke arah lautan bangunan Megacity yang seolah tidak berujung. Di atas sana, langit berwarna merah neon akibat polusi berat, memantulkan pendar dari lampu-lampu kota yang kini terasa seperti penjara raksasa.

"Jangan melihat ke bawah, Chen Xi," bisik Li Wei tanpa menoleh. Ia merasakan getaran halus dari tangan Chen Xi yang mencengkeram lengan zirah putihnya.

"Aku tidak melihat ke bawah, Li Wei. Aku hanya membayangkan betapa bodohnya kita memilih jalur ini," balas Chen Xi dengan suara yang sedikit bergetar. Napasnya pendek-pendek, dan wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. "Kenapa mekanik itu harus tinggal di Sektor B-12? Kenapa tidak di lantai dasar saja?"

"Karena zona kumuh adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa dipantau sepenuhnya oleh satelit Kekaisaran," Li Wei menarik Chen Xi menjauh dari tepian, membawanya berlindung di balik unit pendingin udara raksasa yang bergemuruh. "Dan kau tahu, blokade jalanan di bawah sana sudah ditutup total sejak kejadian di pipa induk. Unit pembersih sedang menyisir setiap inci gorong-gorong. Naik ke sini adalah satu-satunya pilihan kita."

"Pilihan yang sangat buruk bagi seseorang dengan vertigo," gumam Chen Xi. Ia menyandarkan punggungnya pada mesin yang bergetar, mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu. "Bagaimana dengan status zirahmu? Panas sarafmu masih terdeteksi?"

Li Wei melirik indikator pada pergelangan tangannya. "Sisa energi dari Neural Overclock saat melawan Han tadi masih tinggi. Sistem pendingin internal zirahku rusak akibat benturan di bunker. Jika aku bergerak terlalu cepat, spektrum panas tubuhku akan menyala seperti suar di radar mereka."

"Bagus," sinis Chen Xi sambil memejamkan mata. "Jadi kita punya satu orang yang takut ketinggian dan satu orang yang bisa meledak kapan saja. Tim yang hebat."

Li Wei terdiam sejenak. Ia teringat kembali pada chip saraf Han yang kini tersimpan aman di dalam sakunya. Memori Han yang dipanen secara paksa, tentang penderitaan yang diubah menjadi energi, menjadi bahan bakar amarah yang dingin di dalam dadanya. Ia tidak boleh gagal. Xiao Hu adalah satu-satunya kunci untuk memahami kenapa sahabatnya harus berakhir sebagai mesin pembantai.

"Dengar," Li Wei berjongkok di depan Chen Xi, memaksa wanita itu menatap matanya. "Kita hanya perlu melintasi tiga blok gedung lagi. Sektor B-12 ada di depan sana, di bawah bayangan menara transmisi yang patah itu. Aku akan memandu setiap langkahmu. Pegang tanganku, dan jangan lepaskan."

Chen Xi menatap tangan Li Wei yang terulur. Ada keraguan besar di matanya, namun saat deru mesin jet patroli terdengar mendekat dari arah utara, ia tidak punya pilihan lain. Ia meraih tangan Li Wei, merasakan sarung tangan logam yang dingin namun kokoh.

"Jika aku jatuh, aku bersumpah akan menyeretmu bersamaku," ancam Chen Xi, meski nadanya lebih terdengar seperti permintaan tolong.

"Adil bagi saya," balas Li Wei pendek.

Mereka mulai bergerak menyusuri tepian atap, melompat di antara celah-celah sempit yang memisahkan gedung-gedung tua. Setiap kali angin bertiup kencang, Chen Xi akan membeku, tubuhnya gemetar hebat. Li Wei akan berhenti, memberikan tekanan pada genggaman tangannya untuk memastikan Chen Xi tetap sadar.

"Fokus pada langkahku, bukan pada jarak ke tanah," instruksi Li Wei dengan nada komandan yang tenang.

"Mudah bagimu mengatakannya," sahut Chen Xi, giginya gemeletuk. "Kau dilatih untuk jatuh dari langit. Aku dilatih untuk membedah sistem dari ruang gelap yang aman."

Tiba-tiba, pendar cahaya merah menyapu permukaan atap di depan mereka. Li Wei seketika menarik Chen Xi jatuh ke lantai beton, berlindung di balik papan reklame holografik yang sudah rusak dan hanya menampilkan citra produk yang berkedip-kedip.

"Patroli Elit. Level 5," desis Li Wei.

Di atas mereka, tiga siluet jet Aero-Combat meluncur perlahan. Mesin jet mereka mengeluarkan suara dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Pemindai spektrum di bawah perut pesawat itu bergerak sistematis, mencari tanda-tanda kehidupan atau emisi energi yang tidak wajar.

"Mereka mencari kita, Chen Xi. Zhao Kun tidak akan membiarkan 'aset yang terbuang' berkeliaran terlalu lama," Li Wei menekan tubuhnya ke beton, mencoba meminimalisir profil panasnya.

"Mereka punya pemindai panas spektrum tinggi," bisik Chen Xi, kepalanya terbenam di antara lengannya. "Zirahmu... Li Wei, zirahmu mulai memancar."

Li Wei melihat ke arah dadanya. Pendar biru di sekitar inti Dragon Heart miliknya mulai berubah menjadi warna oranye kemerahan—tanda bahwa sistem sarafnya sedang mencoba melakukan regenerasi energi namun justru membuang panas berlebih ke permukaan zirah.

"Sial," umpat Li Wei. "Sensor mereka akan menangkap ini dalam hitungan detik."

"Li Wei, lihat itu," Chen Xi menunjuk ke arah katup uap besar milik sistem pemanas gedung yang berada sepuluh meter dari posisi mereka. "Jika kita bisa meledakkan katup itu, uap panasnya akan mengacaukan pemindai mereka. Itu strategi pilihan ketiga. Kita tidak melawan mereka, kita membutakan mereka."

"Kau bisa meretas katupnya dari sini?" tanya Li Wei.

Chen Xi mengeluarkan perangkat di pergelangan tangannya, jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa meski tangannya masih bergetar. "Beri aku waktu sepuluh detik. Tapi setelah uap itu keluar, kita harus melompat ke gedung sebelah tanpa melihat. Uapnya akan sangat tebal dan panas."

Li Wei mencabut Bailong-Jian dari punggungnya. Pedang itu tidak ia aktifkan, namun ia bersiap menggunakan daya dorong kinetiknya jika diperlukan. "Lakukan. Aku akan menangkapmu saat melompat."

"Lima... empat... tiga..." Chen Xi menekan tombol eksekusi pada layarnya.

BOOM!

Katup uap meledak, menyemburkan awan putih bersuhu tinggi yang seketika menelan seluruh permukaan atap. Suara jet patroli di atas sana terdengar kacau saat sistem radar mereka kehilangan kunci sasaran akibat gangguan termal yang mendadak.

"Sekarang! Lompat!" teriak Li Wei.

Li Wei menyambar pinggang Chen Xi, menariknya berlari menembus kabut panas. Mereka tidak bisa melihat ujung gedung, namun insting tempur Li Wei telah mengunci koordinat gedung di depan mereka. Saat kaki mereka menyentuh tepian beton, Li Wei menendang udara dengan sisa energi kinetik dari pedangnya, mendorong tubuh mereka melintasi jurang maut di antara dua pencakar langit.

Untuk sesaat, mereka melayang di tengah awan uap dan langit merah. Detak jantung Li Wei beresonansi dengan napas Chen Xi yang tertahan. Saat mereka mendarat di atap gedung sebelah, mereka berguling di atas permukaan yang kasar hingga menabrak pagar kawat.

Li Wei segera bangkit, memastikan Chen Xi masih bernapas. Wanita itu terengah-engah, matanya terbelalak karena syok, namun ia masih hidup.

"Kita... kita berhasil?" tanya Chen Xi dengan suara parau.

"Belum," Li Wei menatap ke atas. Jet-jet patroli itu masih berputar di atas awan uap, namun mereka tampak bingung mencari koordinat yang hilang. "Tapi kita sudah dekat. Sektor B-12 tepat di bawah kita."

Li Wei menatap sepatu Chen Xi yang sobek akibat gesekan saat mendarat. Tanpa sepatah kata pun, ia merobek bagian kain dari jubah zirahnya yang sudah rusak, lalu berlutut untuk membalut sepatu wanita itu agar ia bisa terus berjalan.

"Kenapa kau melakukan ini, Li Wei?" tanya Chen Xi pelan, menatap kepala Li Wei yang tertunduk di depannya. "Aku adalah musuhmu di menara sinyal itu. Aku adalah orang yang mencoba membunuhmu."

Li Wei berhenti sejenak, lalu mendongak. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan sesuatu yang lebih manusiawi. "Karena di dunia ini, hanya kau yang tahu bahwa aku bukan sekadar algojo milik Zhao Kun. Kau adalah saksi bahwa Han pernah hidup, dan dia mati sebagai pahlawan, bukan sebagai pengkhianat."

Chen Xi terdiam, rasa perih menjalar di dadanya mendengarnya. Ia menyadari bahwa di balik zirah logam dan reputasi berdarah sebagai perwira elit, Li Wei hanyalah seorang manusia yang sedang mencoba mengumpulkan kembali kepingan martabatnya yang hancur.

"Ayo," Li Wei berdiri kembali setelah selesai membalut sepatu Chen Xi. "Xiao Hu sudah menunggu. Dan aku tidak akan membiarkan satu nyawa lagi hilang karena rahasia ini."

Li Wei melangkah pelan melewati genangan air hujan yang tersisa di ceruk beton atap. Setiap langkahnya kini lebih berat, bukan hanya karena beban fisik zirahnya yang mulai kehilangan daya, tetapi karena setiap sentimeter perpindahan posisi membawa mereka lebih dekat ke pusat misteri yang menelan nyawa Han. Di belakangnya, Chen Xi berjalan dengan langkah yang masih kaku, matanya sesekali melirik ke arah bawah—ke arah lampu-lampu kota yang kini terlihat seperti titik-titik darah yang berserakan.

"Aku bisa merasakan getaran dari sayap-sayap mereka, Li Wei," bisik Chen Xi. "Unit Aero-Combat itu tidak akan menyerah hanya karena sedikit uap."

"Aku tahu. Mereka sedang melakukan pemindaian melingkar," Li Wei berhenti di dekat sebuah papan iklan holografik yang menampilkan wajah seorang pejabat Kekaisaran yang tersenyum statis. "Mereka akan kembali ke titik asal gangguan dalam tiga menit. Kita harus berada di bawah batas atap sebelum itu terjadi."

"Jarak ke Sektor B-12 tinggal delapan ratus meter. Tapi lihat itu," Chen Xi menunjuk ke sebuah celah lebar di antara gedung tempat mereka berdiri dan bangunan gudang rendah di depannya. "Itu bukan sekadar celah, Li Wei. Itu adalah kanal pembuangan udara panas dari reaktor kota. Angin vertikal di sana bisa mengempaskan kita seperti daun kering."

Li Wei menatap kanal gelap tersebut. Udara panas yang naik menciptakan distorsi visual, membuat bangunan di seberang tampak bergetar. "Kita tidak punya waktu untuk memutar. Sektor B-12 berada tepat di balik gudang itu."

"Kau gila jika berpikir kita bisa melompatinya dalam kondisi zirahmu yang panas begini," geram Chen Xi, tangannya kembali gemetar. "Satu kali dorongan thruster dari pedangmu akan membuat suhumu meledak di radar mereka."

"Maka kita tidak akan menggunakan thruster secara penuh," Li Wei berbalik, menatap Chen Xi dengan sorot mata yang tak tergoyahkan. "Aku akan menggunakan momentum jatuh. Kita akan meluncur di sepanjang kabel transmisi yang melintang di sana, lalu melepaskan diri di titik terendah."

Chen Xi menelan ludah, wajahnya kembali pucat. "Meluncur? Di atas kabel setinggi dua ratus lantai? Kau benar-benar ingin aku mati terkena serangan jantung sebelum peluru Kekaisaran mengenai kita?"

"Ini bukan tentang kematian, Chen Xi. Ini tentang kepercayaan," Li Wei mengulurkan lengannya, kali ini lebih tegas. "Pegang sabuk zirahku. Jangan tutup matamu. Aku butuh kau untuk memberi tahu koordinat pendaratan jika uap mulai menutup pandanganku."

Chen Xi menarik napas panjang, mencoba mengusir vertigo yang kembali menyerang saraf keseimbangannya. Dengan tangan yang berkeringat dingin, ia mencengkeram sabuk logam Li Wei. "Jika kita selamat dari ini, aku akan menuntut bayaran yang sangat mahal untuk setiap detik ketakutan ini."

"Simpan tagihanmu," ucap Li Wei tipis.

Mereka berlari menuju tepian. Saat kaki Li Wei menyentuh batas beton, ia tidak melompat ke atas, melainkan menjatuhkan diri ke arah kabel transmisi baja yang tebal. Suara gesekan logam zirah Li Wei dengan kabel menciptakan percikan api dan bunyi mendesing yang menyayat kesunyian malam. Mereka meluncur deras di atas jurang gelap, dengan angin yang menderu kencang di sekitar masker mereka.

Di atas sana, jet-jet patroli Aero-Combat menyalakan lampu pencari spektrum tinggi. Cahaya merah menyapu tepat di atas kepala mereka, hanya berselisih beberapa meter. Li Wei menahan napas, menekan emisi Dragon Heart hingga titik terendah, membiarkan tubuhnya mendingin secara paksa meski itu membuat otot-ototnya terasa kaku seperti es.

"Sekarang! Lepaskan!" teriak Li Wei saat mereka berada di atas atap gudang rendah yang tertutup jelaga.

Mereka jatuh berdentum di atas permukaan seng gudang yang berisik. Li Wei segera menarik Chen Xi berguling masuk ke dalam sebuah cerobong ventilasi yang sudah tidak terpakai tepat saat jet patroli melintas di atas posisi mereka. Suara mesin jet itu menggetarkan seluruh struktur bangunan, namun pemindai mereka gagal mengunci karena tertutup oleh material seng yang tebal dan berkarat.

Keheningan kembali turun, hanya menyisakan suara napas mereka yang memburu di dalam kegelapan ventilasi yang sempit.

"Kau... kau gila," desis Chen Xi, punggungnya merosot di dinding besi. "Benar-benar gila."

"Tapi kita sampai," jawab Li Wei parau. Ia bangkit, debu dan jelaga menempel pada zirah putihnya yang kini tampak kusam. "Lihat ke bawah."

Dari celah ventilasi, mereka melihat sebuah gang sempit yang remang-remang di bawah sana. Berbeda dengan pusat kota yang steril, tempat ini berbau oli, karet terbakar, dan bau besi tua yang akrab. Di ujung gang, sebuah pintu baja berat dengan simbol kepala harimau kecil yang tergores kasar tampak berdiri kokoh.

"Bengkel Void," bisik Chen Xi, ketakutannya perlahan digantikan oleh rasa ingin tahu yang tajam. "Tempat yang disebut oleh Han."

Mereka turun menggunakan tangga darurat yang berkarat, kaki Li Wei terasa berdenyut nyeri setiap kali menginjak anak tangga. Saat mereka sampai di depan pintu baja itu, Li Wei berhenti sejenak. Ia menyentuh chip saraf di sakunya, memastikan benda itu masih ada.

"Apa kau siap melihat apa yang Han lindungi dengan nyawanya?" tanya Li Wei tanpa menoleh.

"Aku lebih siap menghadapi apa pun daripada harus meluncur di kabel itu lagi," jawab Chen Xi, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya yang terkoyak oleh vertigo.

Li Wei mengetuk pintu baja itu dengan pola yang ia lihat di fragmen memori Han—tiga ketukan pendek, satu jeda, dan satu ketukan berat. Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban. Keheningan di gang itu terasa mencekam, seolah-olah bayangan di sekitar mereka memiliki mata yang mengawasi.

Tiba-tiba, suara mekanisme kunci yang berat berputar dari dalam. Pintu baja itu berderit terbuka sedikit, mengeluarkan embusan udara hangat yang beraroma pelumas mesin berkualitas tinggi. Seorang sosok kecil muncul dari balik celah, mengenakan kacamata pelindung besar dan memegang sebuah kunci inggris yang tampak terlalu besar untuk tangannya.

Sosok itu berhenti, menatap zirah Kekaisaran milik Li Wei dengan tatapan yang penuh ketakutan sekaligus kebencian.

"Kau... kau perwira Sektor 7?" suara anak itu kecil, namun tajam. "Di mana Kakak Han? Kenapa kalian yang datang?"

Li Wei terpaku. Pertanyaan itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada bilah pedang mana pun. Ia menatap gadis kecil di depannya—Xiao Hu—dan ia tahu bahwa saat ini, ia bukan lagi seorang komandan yang membawa berita kemenangan, melainkan seorang pembawa duka yang harus menghadapi konsekuensi dari tangannya yang berdarah.

"Kami datang karena Han memintaku menjagamu," ucap Li Wei, suaranya parau dan penuh beban.

Pintu itu terbuka lebih lebar, memperlihatkan interior bengkel yang penuh dengan suku cadang mesin kuno dan pendar lampu kerja yang hangat. Di dunia yang hancur oleh ideologi dan perang abadi, tempat ini terasa seperti satu-satunya rumah yang tersisa—dan Li Wei baru saja membawa bau kematian ke ambang pintunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!