NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Itu Ada

"Hati keluarga itu memang sudah busuk sampai ke akar..." Mak Sari ikut geram, tangannya mengepal di sisi kebaya lusuhnya.

Tanpa sadar, ia menoleh ke arah suaminya, Abah Kosasih.

Abah Kosasih Hidayat mengerutkan kening, wajah tuanya tampak keruh namun tenang.

Ia menatap putranya, Kang Jaka.

Ayah dan anak itu saling pandang, berbagi kekhawatiran yang sama tanpa perlu bicara.

"Ini salahku... semua salahku..." Kinar mulai terisak, bahunya terguncang.

"Hush, Nduk. Kok malah nyalahin diri sendiri?" Mak Sari segera merangkul bahu putrinya itu, mendekapnya erat.

"Orang kalau niatnya sudah jahat, ya memang dasarnya serigala berbulu domba. Kalau mau disalahkan, salahkan Bapak sama Simbok yang dulu matanya rabun, nggak bisa bedain mana berlian mana beling."

"Mbok... gimana caraku ngelindungin Tari? Gimana kalau mereka maksa?" dada Kinar terasa sesak.

Meski enggan mengakui, kenyataan pahit itu ada di depan mata.

Suryo Wibowo itu pejabat teras, orang kaya baru yang koneksinya sampai ke pusat kota.

Kakak-kakaknya, Bagyo dan Darso, bisnisnya menggurita di mana-mana.

Lawan mereka adalah raksasa.

Mira, kakak ipar Kinar, juga merasa dadanya sesak, tapi ia tak bisa menemukan solusi.

Semakin dipikir, semakin gelap rasanya masa depan.

"Sudah, jangan panik. Ada hujan ada payung. Selama Tari nggak lepas dari pengawasan kita, Suryo nggak akan berani main culik terang-terangan. Dia itu pejabat, gila hormat, takut nama baiknya rusak," suara Abah Kosasih memecah ketegangan.

Nadanya berat dan berwibawa, jangkar bagi kapal yang oleng.

"Lagipula, Tari sekarang sudah masuk Kartu Keluarga kita. Namanya bukan Sulastri Wibowo lagi, dia sekarang Sri Lestari Hidayat. Cucu Abah."

Abah tahu, kalau dia ikut panik, rumah ini akan runtuh.

"Suryo itu licik, dia pasti main belakang. Tapi rezeki kita Gusti Allah yang atur, tangan Suryo nggak akan bisa nutup langit."

"Bener kata Abahmu. Kita jagain Tari 24 jam. Insya Allah aman." Mak Sari menimpali, hatinya sedikit tenang mendengar suara suaminya.

Kinar mengangguk, menyeka air matanya kasar.

Demi anaknya, ia akan jadi benteng baja.

Abah Kosasih bangkit, melangkah keluar menuju kandang sapi di belakang rumah yang kini jadi tempat bermain cucunya.

Di sana, Sri Lestari, atau Tari, sedang duduk jongkok, menopang dagu memperhatikan anak anjing kampung yang sedang makan lahap.

Abah tersenyum tipis.

Ia melihat sesuatu yang ganjil namun menyejukkan.

Di sekitar tempat Tari duduk, rumput liar yang tadinya kering kerontang dan kuning, kini tampak segar menghijau. Seolah-olah tanah tandus itu baru saja disiram air kehidupan, padahal kemarau sedang terik-teriknya. Tapi Abah diam saja, menyimpan keajaiban itu dalam hati, lalu kembali ke ruang tengah.

Keluarga Wibowo punya kuasa dan uang.

Dia? Dia cuma lulusan Sekolah Rakyat yang gagal jadi pegawai.

Abah membuka lemari jati tua yang engselnya sudah berdecit.

Ia mengeluarkan tumpukan buku-buku berdebu.

Jemarinya yang kasar karena mencangkul, mengelus sampul buku itu sambil menghela napas panjang.

Dulu, ia pernah bermimpi jadi pegawai pemerintah, jadi orang yang punya 'nama'.

Tapi nasib berkata lain.

Tes pertama, dia sakit perut hebat di kota sampai lembar jawabannya kosong melompong.

Tes kedua, di jalan kakinya patah kecelakaan.

Tes ketiga, kepalanya pening luar biasa seperti dipukul palu godam.

Berkali-kali gagal membuat hatinya mati.

Dia seorang ayah, tak tega melihat uang dapur habis hanya untuk ambisinya.

Demi biaya berobat orang tuanya dulu, ia kubur mimpi itu dalam-dalam. Cukup jadi petani cerdas yang bisa baca tulis, mengajari anak-anak desa mengaji dan berhitung, menjadi guru honorer puluhan tahun di SD Inpres, itu sudah cukup.

Tapi sekarang?

Cucu kesayangannya terancam. Musuhnya adalah orang berpangkat.

Abah menatap buku-buku itu lagi. Apa aku masih bisa?

Jarak antara mereka dan keluarga Wibowo adalah jabatan dan kekuasaan.

Kalau Hidayat tidak punya taji, dia cuma bisa melindungi Tari sebentar, tidak selamanya.

"Bah, jangan ragu. Maju lagi. Abah itu pinter, Mak yakin kali ini pasti lolos."

Mak Sari ternyata sudah berdiri di ambang pintu, memperhatikan suaminya yang galau hendak memasukkan kembali buku itu ke lemari.

Wajah Abah memerah, malu seperti anak kecil ketahuan mencuri gula.

"Ah, Mak. Aku cuma liat-liat. Udah bau tanah begini, mau ujian apa..."

Mak Sari masuk, meletakkan tangannya di atas tangan suaminya yang memegang buku.

"Bau tanah apanya? Umurmu belum seket Bah. Badanmu masih kekar, jarang sakit. Liat tuh anak-anak muda zaman sekarang, baru kena angin malam dikit udah masuk angin. Lah Abah? Tahun lalu waktu ujian Pamong Desa, si Agus anak Pak RT malah pingsan di tengah jalan. Abah masih gagah."

"Coba inget-inget, siapa yang kuat manggul gabah dua kuintal bolak-balik pas panen raya? Siapa yang bisa nebak kapan hujan turun cuma dari liat arah angin? Cuma Abah," cerocos Mak Sari penuh semangat.

Abah Kosasih mengelus jenggot putihnya, sudut bibirnya terangkat.

"Emang aku sehebat itu, Mak?"

"Ya jelas to! Mana ada orang sekampung ini yang panennya selalu melimpah kayak kita kalau bukan karena itungan Abah yang pinter? Pas paceklik kemarin, cuma lumbung kita yang masih ada isinya."

Mak Sari bicara dari hati.

Di matanya, suaminya adalah yang terbaik.

Orang pintar yang tidak sombong, mau nyangkul, mau ngarit. Adanya Abah bikin hati tentram.

"Mak yakin aku bisa ikut Ujian Penyetaraan atau Pamong lagi?" tanya Abah ragu.

Mak Sari mengangguk mantap.

"Yakin. Dulu itu cuma sial. Dulu kita miskin, pikiran bercabang mikirin obat orang tua. Sekarang? Anak-anak udah mentas, utang nggak ada. Abah belajar aja yang tenang. Sekali ini aja, Bah. Buktikan."

Abah menatap mata istrinya yang teduh namun tegas.

Ia membulatkan tekad.

Dua tahun.

Ia beri waktu dirinya dua tahun.

Ia akan sikat semua buku ini, belajar dua jam setiap malam di bawah lampu petromak. Ia harus punya jabatan, sekecil apapun, untuk jadi perisai cucunya.

"Ya wis, Mak. Atas restumu, aku maju lagi."

Keluarga Wibowo boleh punya uang, tapi keluarga Hidayat punya nyawa yang alot.

Kelinci kalau didesak pun berani menggigit.

Mak Sari tersenyum lebar, menyodorkan segelas teh tubruk hangat.

"Nah, gitu dong. Urusan dapur sama ladang, biar aku sama anak-anak yang nangani."

Sementara itu, suasana di rumah gedong keluarga Wibowo di kota terasa suram dan mencekam.

Di kamar utama yang mewah, Bu Darmi Wibowo mengerang kesakitan.

Kepalanya rasanya mau pecah.

Dokter spesialis mahal sudah didatangkan, obat paten sudah ditelan, tapi sakit kepalanya tak kunjung reda. Rasanya seperti ada jarum yang menusuk-nusuk otak.

Ketiga putranya, Suryo, Bagyo, Darso, beserta para menantu berkumpul di kamar dengan wajah masam.

"Lilis, coba kamu pijitin Ibu. Dulu Kinar kalau mijit Ibu langsung enak, coba kamu tiru," perintah Bu Darmi sambil merintih.

Lilis, istri Bagyo, cemberut.

Ia melirik suaminya, enggan.

Tangannya yang penuh cincin emas itu malas menyentuh kulit mertuanya yang keriput. Tapi Bagyo menyenggolnya kasar.

"Tunggu apa lagi? Pijit sana!" bentak Bagyo.

Lilis mendengus, memijat kening mertuanya dengan asal-asalan.

Bukannya sembuh, Bu Darmi malah makin mengaduh kesakitan.

"Ambar! Kamu juga! Jangan diem aja kayak patung! Kinar dulu telaten ngurus Ibu, kalian ini mantu orang kaya bisanya cuma habisin duit!" omel Bagyo lagi, kali ini pada istri Darso.

Suasana rumah itu panas.

Sejak Kinar dan Sulastri pergi, hawa rumah terasa pengap.

Tanaman Anggrek Bulan mahal koleksi Suryo di teras depan mendadak layu dan menguning satu per satu, padahal sudah disiram rutin.

Ikan koi di kolam belakang banyak yang mati mengambang tanpa sebab.

Ajeng Wibowo, si bungsu yang manja, angkat bicara dengan wajah cemas.

"Mas Suryo, Mas Bagyo... bener kata 'Orang Pintar' dari Banten itu. Katanya 'Jimat Penolak Bala' rumah ini hilang. Kinar itu bawa pergi 'Payung' kita. Makanya bisnis Mas Bagyo kainnya luntur semua satu gudang, sawah Mas Darso gagal panen kena wereng. Ibu sakit-sakitan, Bapak asam uratnya kumat parah."

Ajeng sangat khawatir.

Dia baru 15 tahun, sudah bertunangan dengan anak pejabat tinggi.

Kalau bisnis keluarganya bangkrut, bisa-bisa dia diremehkan di rumah mertuanya nanti.

"Pokoknya itu anak harus balik. Dia darah daging Wibowo, masa dibiarin hidup melarat di desa sama keluarga tani itu?" celetuk Pak Wibowo dari kursi rodanya.

Kakinya yang bengkak membuatnya uring-uringan.

"Suryo, itu anakmu. Ambil paksa aja apa susahnya sih?" kompor Bagyo.

Dia pusing tujuh keliling karena rugi bandar bulan ini.

Suryo memijat pangkal hidungnya.

"Aku akan coba lagi. Tapi nggak bisa main kasar. Kalian pikir aku nggak mau bawa dia balik? Anak itu... aneh. Sakit-sakitan, tapi kata dukun itu, justru sakitnya dia yang bikin rezeki kita lancar. Energinya dia kesedot buat kita."

"Masalahnya, bulan depan aku harus ke Jakarta, ada pelantikan. Sebelum itu, urusan ini harus beres," tambah Suryo dingin.

"Aku punya rencana lain. Kita tekan dari kebutuhan mereka."

"Maksud Mas?"

"Obat. Anak itu butuh obat mahal buat jantung lemahnya. Kinar biasa beli di Apotek Sumber Waras di kota. Aku akan 'titip pesan' sama pemilik apotek. Jangan jual obat ke mereka, atau kasih harga yang nggak masuk akal." Suryo tersenyum licik.

"Kinar nggak bakal tega liat anaknya sekarat. Dia pasti bakal ngesot balik ke sini minta tolong."

Keluarga Wibowo tersenyum puas. Rencana jahat tersusun rapi.

Sementara itu, Bu Darmi akhirnya tertidur setelah minum obat penenang dosis tinggi.

Dalam tidurnya ia gelisah.

Ia ingat mimpi masa lalu saat Sulastri lahir: cahaya keemasan jatuh ke atap rumah Wibowo. Dulu ia benci karena yang lahir perempuan, tapi sekarang ia sadar, cucu yang ia sia-siakan itu adalah sumber keberuntungan yang nyata.

Di desa, Kinar tidak tahu rencana busuk mantan suaminya.

Ia sedang sibuk menata masa depan.

Setelah berdiskusi semalam, Kinar memutuskan berjualan camilan.

Resep andalannya: Kerupuk Tulang Ikan dan Sate baso ikan goreng.

"Resepmu ini enak banget, Nduk. Bismillah, kita coba," dukung Abah Kosasih.

"Iya, Nar. Nanti Mbok bantuin ngaduk adonan," tambah Mak Sari.

"Ibu, Tari mau bantu icip-icip!" seru Tari, mengangkat tangan mungilnya tinggi-tinggi.

Wajahnya yang biasanya pucat, pagi ini tampak sedikit bersemu merah, lebih segar sejak tinggal di rumah kakeknya.

Kinar tersenyum haru.

Dukungan keluarga ini adalah bahan bakar utamanya.

Ia membuat dua baskom besar adonan. Modal awalnya pas-pasan, sekitar lima ratus ribu rupiah untuk tepung, minyak, dan bumbu, kertas minyak dan lainnya. Kalau mau untung, ia harus jual seratus ribu per baskom.

Pagi buta, Kang Jaka sudah meminjam gerobak sapi tetangga untuk mengangkut dagangan ke pasar kecamatan.

Jaraknya lumayan jauh, tapi semangat mereka membara.

Sesampainya di sudut pasar yang ramai, Kinar justru gemetar.

Ia biasa hidup di dalam rumah gedong, tak pernah teriak-teriak jualan.

Melihat orang berlalu-lalang, lidahnya kelu.

Kang Jaka melihat adiknya yang keder. Ia tertawa kecil, menepuk bahu Kinar.

"Dik, wajar kalau malu. Namanya juga pertama. Biar Mas yang buka suara."

Kang Jaka, yang sehari-hari cuma bicara sama sapi dan padi, menarik napas panjang.

Wajahnya memerah menahan malu, tapi demi adiknya, ia berteriak lantang dengan logat medoknya.

"Yoo, mari Bapak-Ibu! Dicoba, dicoba! Jajanan baru, rasanya kelas pejabat harga rakyat! Kerupuk Ikan sama Sate baso ikan gorengnya! Gurih, nyoi, mantap! Monggo diicip dulu, gratis icipnya!"

Suara Kang Jaka yang menggelegar seperti toa masjid membuat orang-orang kaget dan menoleh.

Awalnya mereka bingung, tapi melihat wajah Kang Jaka yang tulus dan sedikit memerah malu, beberapa orang mulai mendekat penasaran.

"Mas, beneran boleh icip?" tanya seorang ibu-ibu yang membawa keranjang belanja.

"Boleh, Bu! Kalau nggak enak jangan dibeli, kalau enak borong sekalian!" sahut Kang Jaka makin percaya diri.

Di sudut gerobak, Tari duduk manis.

Diam-diam, tangan kecilnya menyentuh tiang gerobak kayu itu.

Tak ada yang melihat, serat-serat kayu tua gerobak itu seolah memancarkan hawa hangat yang memikat orang untuk datang.

Pembeli pertama mencicipi, matanya membelalak.

"Wah, ini enak banget, Mbak! Bumbunya meresap!"

Kinar tersenyum lega.

Harapan itu ada.

Dan baunya harum, seharum adonan Baso ikan yang baru matang.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!