NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beralih Jadi Guru

Fauzan Arfariza menutup telinga batinnya dari segala riuh di sekeliling. Tatapan orang-orang—antara harap, ragu, dan cemooh—tak lebih dari bayang-bayang yang melintas di tepi kesadarannya. Yang ia dengar hanyalah denyut Energi Vital yang beredar di nadi kehidupan, mengalun perlahan seperti kidung purba yang diwariskan Leluhur Tua. Di hadapannya terbaring Karaeng Galesong, tubuh renta yang nyaris kehilangan pijar, terpenjara di antara batas napas terakhir dan kehendak untuk kembali hidup.

Dengan tangan mantap, Fauzan menggerakkan jarum-jarum perak. Gerakannya tidak tergesa, tidak pula ragu. Setiap tusukan bukan sekadar teknik, melainkan sumpah sunyi antara Tabib dan kehidupan. Sanro Maega, yang berdiri tak jauh darinya, mengenali teknik itu—Kebangkitan Sembilan Jarum—namun apa yang mengalir dari Fauzan jauh melampaui sekadar jarum. Di balik ketenangan wajah pemuda itu, Energi Vital Chaotic berputar, menyatu dengan jarum-jarum, menjadi harta magis penyembuhan yang tak tertulis di kitab mana pun. Jika Kebangkitan Sembilan Jarum adalah Pedang, maka Energi Vital itu adalah sarungnya—melindungi, menajamkan, dan menggenapkan daya.

Keheningan menyelimuti ruangan. Waktu seolah melangkah dengan kaki telanjang. Detik demi detik merambat, mengendap, lalu meleleh menjadi kesabaran. Sekitar dua puluh menit berlalu. Fauzan mencabut jarum-jarum perak satu per satu, gerakannya halus, nyaris tanpa suara. Ia lalu berkata, datar namun pasti, “Sudah selesai. Karaeng Galesong telah sembuh.”

Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang bolong.

“Apa?” Aldo Barreto melangkah maju, wajahnya memerah. “Sembuh? Jangan menganggap kami semua bodoh! Penyakit paru-paru separah ini—hanya dengan beberapa jarum?”

Aldo, otoritas yang selama ini dielu-elukan di bidang jantung dan paru, tak mampu menerima kenyataan. Dalam benaknya, data dan grafik lebih sakral dari doa. Ia memang terkesima oleh teknik tusuk jarum Fauzan, tetapi mempercayai kesembuhan seketika pada pasien yang barusan berada di ambang kematian—itu baginya mustahil.

Karaeng Fatimah menahan napas. “Tapi… kakek masih belum sadar.”

“Sebentar lagi,” jawab Fauzan singkat.

Ia mengangkat tangan, menepuk satu titik—terdalam yang tersembunyi—di pusat kehidupan Karaeng Galesong. Tubuh renta itu bergetar. Dari bibirnya terhembus asap Energi Vital keruh, seperti kabut malam yang diusir matahari. Seketika, warna pucat di wajahnya berubah menjadi kemerahan sehat. Matanya terbuka. Dengan gerakan tiba-tiba, ia duduk tegak.

Aldo terhuyung mundur beberapa langkah. Andai malam, ia mungkin akan bersumpah melihat arwah bangkit. Ia paling tahu kondisi Karaeng Galesong—data pemeriksaan barusan menyatakan tingkat keparahan ekstrem. Namun kini, orang itu duduk, bernapas, dan menatap dunia.

“Bapak!” seru Karaeng Araba, suaranya pecah oleh haru.

“Kakek!” tangis Karaeng Fatimah pecah, air mata jatuh seperti hujan pertama.

Keduanya menggenggam tangan Karaeng Galesong. Getar bahagia mengalir dari sentuhan itu.

“Sudah, sudah,” kata Karaeng Galesong sambil tersenyum. “Biarkan orang tua ini turun dan berjalan. Terlalu lama berbaring, tulang-tulangku berkarat.”

Ia bangkit, melepaskan pegangan, dan melangkah. Awalnya pelan, lalu kian mantap. Beberapa langkah kemudian, ia berjalan seperti biasa. Seisi ruangan terperangah. Barusan mereka menyiapkan perpisahan, kini menyaksikan kelahiran kembali.

Aldo berdiri terpaku. Lama ia menelan ludah sebelum berkata, “Ini… ini mungkin lonjakan energi terakhir. Saya perlu melakukan pemeriksaan ulang.”

“Lonjakan energi, ndasmu!” geram Karaeng Galesong. “Aku tahu tubuhku. Setidaknya sepuluh tahun ke depan, Malaikat pencabut nyawa takkan menoleh padaku.”

Aldo tersenyum malu dan  kaku. “Maaf, saya keliru bicara. Tapi pemeriksaan tetap perlu.”

Karaeng Fatimah mengangguk. “Kakek, lebih baik diperiksa. Kami akan tenang setelah itu.”

“Baik,” kata Karaeng Galesong. Ia berbaring kembali.

Instrumen kembali bekerja. Aldo dan asistennya memeriksa dengan teliti. Tak lama, hasil keluar. Aldo menatap kertas itu—matanya nyaris meloncat dari rongga. Jika bukan ia sendiri yang memeriksa, ia akan menyangka data milik orang berbeda. Semua normal. Fungsi paru sempurna. Cairan menghilang. Tak ada fibrosis.

“Mustahil… ini mustahil,” gumamnya berulang.

Karaeng Galesong duduk kembali dan menoleh ke Sanro Maega. “Terima kasih, Sanro. Tanpa kau, mungkin aku tak tertolong.”

Sanro Maega tersenyum pahit. “Sahabat, kali ini bukan aku. Yang menarikmu kembali dari ambang kematian adalah Dokter muda ini —Fauzan Arfariza.”

Karaeng Galesong menatap Fauzan, takzim terpahat. “Anak muda, engkau sungguh menonjol. Tak kusangka di usia semuda ini, engkau memiliki kepiawaian setinggi itu. Hidupku adalah anugerah darimu. Mulai hari ini, urusanmu adalah urusan keluarga Karaeng.”

Fauzan mengangguk rendah hati. “Karaeng terlalu berlebihan. Dalam Tabib warisan kami, penyakit ini bukan apa-apa.”

Ia lalu menoleh pada Aldo. “Dokter Aldo, saatnya menepati taruhan.”

Semua mata tertuju pada Aldo. Wajahnya berubah warna seperti hati babi. Ia terkesima oleh kepiawaian Fauzan, namun sejuta Rupiah bukan angka kecil. Karaeng Araba melangkah maju, suaranya dingin. “Saya saksi. Jangan berniat ingkar.”

Aldo menggigil. Ia tahu kedudukan keluarga Karaeng di Kota Jakarta—bahkan di seluruh Jakarta. Menentang mereka berarti mengakhiri karier. Dengan tangan gemetar, ia menulis cek dan menyerahkannya.

Fauzan menerimanya. “Uang sudah diterima. Jangan lupa janji.”

“Besok,” kata Aldo, pahit. “Saya akan meminta maaf kepada seluruh Pengobatan Tradisional di media nasional.”

Ia pergi dengan langkah gontai.

Begitu Aldo lenyap, Sanro Maega melangkah ke depan. Dengan suara bergetar oleh tekad, ia berkata, “Fauzan, terimalah aku sebagai murid.”

Ia hampir berlutut.

Fauzan terkejut dan cepat menahan. “Jangan, Sanro. Aku tak berani.”

Ia menghormati Sanro — seorang tua yang mengabdikan hidup pada pengembangan pengobatan. Namun Sanro menggeleng keras. “Aku sungguh ingin belajar. Dalam dunia Tabib, yang terampil adalah guru. Usia bukan ukuran.”

Fauzan terdiam. Tatapan Sanro kukuh, tak memberi ruang mundur. Akhirnya ia tersenyum getir. “Baiklah. Aku tak berani menerimamu sebagai muridku. Namun aku akan menerimamu atas nama guruku. Engkau menjadi murid di bawah guruku.”

Sejenak hening. Lalu Sanro Maega tersenyum—senyum seorang pencari kebenaran yang akhirnya menemukan arah. Di ruangan itu, bukan hanya satu nyawa yang diselamatkan. Sebuah garis Keseimbangan dan Kestabilan baru terukir, menyebar dari Jakarta ke penjuru negeri, seperti legenda yang baru saja dilahirkan.

Sanro Maega adalah sosok yang sejak muda menutup seluruh pintu dunia selain satu: ilmu pengobatan. Sejak rambutnya masih hitam legam hingga kini memutih dimakan usia, ia tidak pernah tergoda oleh kilau emas, tidak pernah goyah oleh rayuan kekuasaan, dan tidak pernah silau oleh sanjungan manusia. Baginya, semua itu hanyalah debu rapuh yang akan lenyap ketika napas terakhir diembuskan. Yang ia kejar hanyalah jejak kebijaksanaan para leluhur, warisan terdalam dari dunia Dokter, warisan yang berakar pada Energi Vital, mengalir dalam nadi, berdenyut di tulang, dan berpadu dalam keseimbangan Keseimbangan dan Kestabilan yang tak kasatmata namun menentukan hidup dan mati.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!