NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 8

Bunyi decit sepatu karet beradu dengan lantai kayu yang mengilap memenuhi GOR sekolah. Hentakan bola basket menggema, menciptakan ritme yang agresif dan kacau. Raka bergerak seperti badai di tengah lapangan, mendribel bola dengan kecepatan yang tidak wajar untuk sesi latihan biasa. Keringat membanjiri pelipisnya, menetes ke rahang yang mengeras.

Dia butuh ini. Dia butuh fisik yang mengambil alih ketika otaknya terasa mau meledak. Penyangkalan yang dia lontarkan pada Keyra kemarin sore masih terasa pahit di lidahnya. Dia ingin percaya bahwa dia hanya gila. Dia ingin percaya bahwa Keyra hanya gadis aneh yang terlalu banyak membaca buku sci-fi. Tapi jauh di lubuk hatinya, Raka tahu kebenaran sedang mengejarnya.

"Woah, santai, Ka! Ini cuma latih tanding, bukan final NBA!" Bagas, rekan setimnya, berteriak sambil mencoba menghadang laju Raka.

Raka tidak peduli. Dia melakukan *crossover* tajam ke kiri, membuat Bagas kehilangan keseimbangan, lalu melesat menuju ring. Dia melompat, tubuhnya melayang sejenak di udara sebelum melakukan *lay-up* yang mulus. Masuk.

Saat kakinya mendarat kembali di bumi, matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Bukan karena lelah, tapi karena rasa jengkel yang familier.

Di tribun penonton, tepat di barisan ketiga, Keyra duduk dengan tenang. Tidak ada sorakan, tidak ada tepuk tangan. Gadis itu hanya duduk dengan kaki disilangkan, sebuah buku catatan tebal di pangkuan, dan stopwatch di tangan kiri. Tatapan Keyra setajam laser, mengikuti setiap gerak-gerik Raka seolah dia adalah spesimen di bawah mikroskop.

Raka menyambar handuk di pinggir lapangan dan berjalan menghampiri tribun dengan langkah lebar. Napasnya masih memburu.

"Gue bilang kita jadi orang asing," desis Raka, suaranya rendah agar tidak didengar anak-anak lain yang sedang istirahat minum. "Ngapain lo di sini? Jadi stalker?"

Keyra tidak tersentak sedikit pun. Dia justru menekan tombol di stopwatch-nya. "Detak jantung lo pasti di atas 140 bpm sekarang. Emosi bikin lo main kasar, Raka. Pola permainan lo jadi berantakan, tapi..." Keyra mengetuk pulpennya ke dagu, "...sangat mudah diprediksi."

"Pulang, Key."

"Gue di sini buat ngasih bukti yang lo minta. Atau lebih tepatnya, bukti yang lo butuhin supaya lo berhenti bohongin diri sendiri," Keyra merobek selembar kertas dari buku catatannya, melipatnya rapi, dan menyodorkannya pada Raka. "Simpan ini."

Raka menatap kertas itu dengan jijik. "Apa ini? Surat cinta?"

"Skor akhir pertandingan ini. Detik demi detik kejadian krusial dalam sepuluh menit ke depan," jawab Keyra datar. Nada bicaranya begitu faktual, seolah dia sedang membacakan ramalan cuaca yang sudah terjadi.

Raka tertawa pendek, tawa yang kering dan tanpa humor. "Lo pikir lo dukun?"

"Buka setelah game selesai. Kalau gue salah satu poin aja, gue bakal berhenti ganggu lo selamanya. Gue bakal anggap teori *time loop* gue sampah, dan gue bakal pindah tempat duduk di kelas biar nggak ngerusak pemandangan lo," tantang Keyra. Matanya berkilat penuh pertaruhan. "Tapi kalau gue benar 100 persen... lo harus dengerin penjelasan gue sampai habis. *Deal*?"

Raka menyambar kertas itu dengan kasar dan memasukkannya ke saku celana basketnya yang basah oleh keringat. "*Deal*. Siap-siap aja lo angkat kaki dari hidup gue."

Raka kembali ke lapangan dengan api di matanya. Dia akan membuktikan Keyra salah. Dia akan bermain seacak mungkin. Dia akan melakukan hal-hal yang tidak biasa dia lakukan. Dia akan menghancurkan prediksi konyol itu.

Peluit berbunyi. Pertandingan latihan 3-on-3 dimulai lagi.

Raka memegang bola. Niat awalnya adalah mengoper ke kanan, tapi mengingat Keyra, dia memutar badan dan mengoper jauh ke kiri, ke arah Doni. Doni menangkapnya dengan kaget tapi berhasil menembak. Meleset.

Raka menyeringai tipis ke arah tribun. *Satu prediksi pasti sudah salah*, pikirnya.

Tapi Keyra di tribun tidak tampak panik. Dia justru sedang menulis sesuatu lagi, wajahnya tanpa ekspresi.

Menit demi menit berlalu. Intensitas permainan meningkat. Raka mencoba memanipulasi setiap gerakannya. Dia sengaja melakukan *foul* kecil. Dia sengaja menahan bola lebih lama. Dia merasa memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri di lapangan 28x15 meter ini.

"Sisa sepuluh detik!" teriak pelatih dari pinggir lapangan. Skor sementara 18-18.

Bagas memegang bola, dihalangi dua pemain lawan. Dia terdesak. Raka berlari ke area *three-point*, melambaikan tangan meminta bola. Ini momennya. Dia akan mencetak *three-point* kemenangan. Keyra pasti memprediksi dia akan melakukan *lay-up* seperti kebiasaannya.

Bagas melempar bola. Raka menangkapnya. Waktu seolah melambat. Raka melompat, membidik ring. Sudutnya sempurna. Tenaganya pas. Dia melepaskan bola tepat saat peluit panjang hampir berbunyi.

Bola melayang membentuk parabola indah.

*Masuklah*, batin Raka.

Bola menghantam bibir ring bagian depan, memantul keras ke atas, lalu jatuh... di luar jaring. Meleset.

Bersamaan dengan itu, peluit panjang berbunyi. Skor berakhir imbang 18-18.

Raka mendarat dengan napas tertahan. Dia menatap tangannya sendiri dengan tak percaya. Bagaimana bisa meleset? Itu posisi favoritnya.

Dari tribun, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Keyra berjalan mendekat, tas punggung sudah tersampir di bahunya. Dia tidak terlihat sombong, hanya... benar.

"Buka kertasnya," kata Keyra saat sampai di hadapan Raka yang masih mematung.

Raka merogoh saku celananya dengan tangan gemetar. Kertas itu sedikit lembap karena keringat, tapi tulisannya masih terbaca jelas. Tinta hitam yang tegas.

*Menit 0-3: Raka mencoba pola acak. Operan ke Doni meleset.*

*Menit 5: Foul taktis oleh Raka pada jersey nomor 7.*

*Menit 8: Skor imbang 14-14.*

*Detik terakhir: Raka mencoba three-point dari sudut 45 derajat kanan untuk membuktikan ego. Bola akan memantul di bibir ring depan. Meleset.*

*SKOR AKHIR: 18-18 (Draw).*

*CATATAN TAMBAHAN: Lo nggak bisa ngalahin probabilitas cuma dengan emosi, Raka.*

Dunia Raka serasa runtuh seketika. Suara pantulan bola di latar belakang memudar menjadi dengungan statis di telinganya. Dia membaca baris terakhir itu berulang-ulang.

*Bola akan memantul di bibir ring depan.*

Itu bukan sekadar tebakan. Itu presisi yang mengerikan. Raka mendongak, menatap Keyra dengan horor yang nyata. Wajah gadis itu tenang, namun ada kilatan simpati di sana.

"Ba—bagaimana?" suara Raka tercekat. "Gue... gue sengaja ngoper ke Doni di awal. Gue sengaja ngerubah gaya main gue. Gimana lo bisa tahu?"

"Karena ini bukan pertama kalinya lo nyoba ngelawan arus, Raka," jawab Keyra dingin namun tajam. Dia melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka. "Di iterasi sebelumnya—yang lo lupa—lo lakuin hal yang persis sama. Lo pikir lo bikin keputusan baru karena ingin membuktikan gue salah? Nggak. Lo cuma mengulangi pola reaksi lo terhadap provokasi gue."

Keyra menunjuk dada Raka dengan telunjuknya. "Lo terjebak dalam algoritma perilaku lo sendiri. Dan gue... gue satu-satunya orang yang mencatat datanya."

Raka mundur selangkah, punggungnya menabrak tiang ring basket. Kakinya lemas. Realitas yang dia pertahankan mati-matian—bahwa hari ini adalah hari baru, bahwa dia memiliki kehendak bebas—hancur berkeping-keping di hadapan secarik kertas basah itu.

"Lo... lo ingat?" bisik Raka. "Lo ingat apa yang terjadi sebelum hari ini?"

"Gue ingat pola," koreksi Keyra, meski matanya menyiratkan dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan. "Jadi, sesuai perjanjian. Lo harus dengerin gue. Mulai sekarang, lo bukan korban nasib. Lo adalah subjek penelitian gue, dan kita bakal bedah anomali ini sampai ke akar-akarnya."

Raka menatap gadis itu. Bukan sebagai musuh, bukan sebagai orang asing. Untuk pertama kalinya, dia melihat Keyra sebagai satu-satunya jangkar di tengah lautan waktu yang menggila ini. Rasa takutnya belum hilang, tapi sekarang bercampur dengan rasa takjub yang membingungkan.

"Oke," Raka akhirnya menghela napas panjang, menyerah. Bahunya turun. "Oke, Profesor. Kita mulai dari mana?"

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!