Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan
Apartemen itu hening, jenis keheningan yang memiliki berat. Hanya ada dengung rendah dari kompresor kulkas yang menyala dan mati secara berkala, serta suara samar lalu lintas Jakarta di kejauhan yang terdengar seperti ombak statis.
Raka meletakkan kantong belanjaan plastik di atas meja dapur. Suara kresek plastik itu terdengar terlalu nyaring di ruangan yang sepi. Ia berdiri di sana sejenak, menatap isi kantong itu seolah-olah baru saja membawa pulang bom waktu, bukan kebutuhan sehari-hari.
Susu kotak rasa stroberi dan sabun cuci piring aroma jeruk nipis.
Dua benda asing di antara tumpukan mi instan, kopi saset, dan roti tawar yang biasa ia beli. Raka menghela napas panjang, lalu mulai membongkar belanjaannya. Gerakannya mekanis. Roti masuk ke wadah kedap udara. Mi instan masuk ke laci. Kopi diletakkan di samping ketel listrik.
Namun, tangannya berhenti saat memegang botol sabun cuci piring berwarna hijau cerah itu.
Botol sabun yang lama—aroma lemon—sebenarnya belum benar-benar habis. Masih ada sisa sedikit di dasar botol, cukup untuk mencuci piring dua atau tiga hari lagi. Logika Raka yang biasanya efisien akan menyuruhnya menghabiskan yang lama dulu. Tapi hari ini, logika itu kalah telak oleh dorongan impulsif yang aneh.
Raka membuka tutup botol baru itu. Ia mendekatkan hidungnya sedikit.
Aroma jeruk nipis yang tajam dan segar seketika menyeruak.
Itu bukan sekadar bau sabun. Bagi Raka, itu adalah aroma "rumah" yang dulu pernah ia definisikan bersama seseorang. Aroma itu membawa ingatannya melesat mundur ke sebuah dapur sempit di kontrakan lamanya, tempat di mana ia sering berdiri di samping wastafel, mengeringkan piring sementara *dia* membilasnya.
*"Jeruk nipis itu lebih bersih, Ka. Lemon itu baunya kayak pengharum mobil,"* kata suara di kepalanya, begitu jernih seakan orangnya berdiri tepat di samping kulkas.
Raka memejamkan mata sesaat, membiarkan aroma kimia itu menipu otaknya. Ada rasa perih yang menjalar di dada, tapi anehnya, ia menikmatinya. Ia menuangkan sabun baru itu ke spons cuci piring, mengabaikan botol lama yang masih bersisa.
Ia mulai mencuci satu-satunya piring kotor bekas sarapan tadi pagi. Busa melimpah di tangannya. Aroma jeruk nipis memenuhi area dapur yang sempit. Raka menggosok piring itu lebih lama dari yang seharusnya, seolah sedang mencoba mencuci bersih noda yang tak kasat mata.
Setelah piring itu bersih dan diletakkan di rak pengering, Raka melihat tangannya sendiri. Keriput karena air dan busa. Ia mencium telapak tangannya. Aroma itu menempel di sana. Aroma *dia*.
Raka beralih ke meja makan kecil di sudut ruangan. Matahari sore mulai masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis oranye di lantai vinyl yang dingin. Ia duduk, menatap kotak susu stroberi yang masih tergeletak di meja.
Warna merah mudanya terlihat kekanak-kanakan dan mencolok di apartemen Raka yang didominasi warna abu-abu dan putih.
Raka tidak suka susu stroberi. Rasanya terlalu manis, artifisial, dan meninggalkan rasa lengket di tenggorokan. Dulu, ia selalu mengejek mantannya karena meminum "gula cair" itu.
*"Kamu tuh hidupnya terlalu pahit. Butuh yang manis dikit biar nggak cemberut terus,"* begitu dulu sanggahan wanita itu setiap kali Raka mengomentari pilihan minumannya.
Dengan tangan yang sedikit ragu, Raka menusukkan sedotan ke kotak susu itu. Bunyi *plop* kecil terdengar saat segelnya tertembus. Ia mengangkat kotak itu dan menyesapnya.
Cairan dingin dan manis membanjiri mulutnya.
Raka meringis. Rasanya persis seperti yang ia ingat: terlalu manis, membuat gigi ngilu. Tapi ia tidak berhenti. Ia menelan tegukan pertama, lalu tegukan kedua. Rasa stroberi sintetik itu perlahan menutupi rasa pahit kopi hitam yang ia minum pagi tadi.
Ia duduk diam di sana, di apartemen lantai tujuh, meminum sesuatu yang ia benci hanya karena itu membuatnya merasa tidak sendirian.
Setiap sedotan adalah upaya menyedihkan untuk menghidupkan kembali hantu. Raka sadar betapa menyedihkannya hal ini. Seorang pria dewasa, karyawan perusahaan mapan, duduk sendirian di Minggu sore meminum susu anak-anak sambil menatap dinding kosong, hanya karena ia merindukan seseorang yang sudah tidak ada di garis waktunya saat ini.
Ponselnya di atas meja bergetar, memecah lamunan Raka.
Layar menyala. Nama "Ibu" tertera di sana.
Raka menatap layar itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya. Ia berdehem pelan untuk memastikan suaranya tidak terdengar serak.
"Halo, Bu," sapa Raka. Ia berusaha terdengar normal, seolah ia tidak baru saja melakukan ritual pemanggilan arwah melalui sabun cuci piring dan susu kotak.
"Halo, Ka. Kamu lagi apa? Tumben lama angkatnya," suara ibunya terdengar renyah di seberang sana, diiringi suara televisi samar-samar. Mungkin sinetron sore atau berita.
"Lagi beres-beres belanjaan, Bu. Baru sampai," jawab Raka. Ia memutar-mutar kotak susu stroberi dengan jari telunjuknya.
"Oh, sudah makan?"
"Sudah."
"Makan apa? Jangan mi instan terus loh, Ka. Kamu itu kerja keras, badan harus diurus."
"Bukan mi, Bu. Tadi beli... nasi rames," Raka berbohong. Ia bahkan lupa makan siang karena terlalu sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri di supermarket.
Hening sejenak. Raka tahu jeda ini. Ini adalah jeda sebelum ibunya masuk ke topik inti. Topik yang selalu muncul setiap kali mereka menelepon di akhir pekan.
"Ka," suara ibunya melembut, nada yang justru membuat Raka waspada. "Bulan depan sepupumu, Si Dinda, mau lamaran. Kamu bisa pulang nggak?"
Raka memijat pelipisnya. "Bulan depan sibuk banget, Bu. Lagi banyak proyek akhir tahun. Belum tahu bisa cuti apa nggak."
"Usahakan lah, Ka. Nggak enak sama Pakde kamu. Sekalian..." Ibunya berhenti sebentar, seolah menimbang kata-kata. "Sekalian siapa tahu kamu ketemu teman lama di sana. Atau dikenalin sama temannya Dinda."
Raka menatap kotak susu stroberi yang kini sudah kosong setengah. Cairan di dalamnya berguncang pelan.
"Bu, Raka lagi nggak mikirin itu sekarang," potongnya halus tapi tegas.
"Sampai kapan, Ka?" Nada ibunya berubah, ada campuran antara kekhawatiran dan ketidaksabaran. "Ibu tahu itu berat. Ibu tahu kamu sayang banget sama yang dulu. Tapi hidup kan jalan terus, Nak. Garis waktu nggak nunggu kamu siap."
Kalimat itu menghantam Raka tepat di ulu hati. *Garis waktu tidak menunggu.*
Raka tahu ibunya benar. Dunia berputar. Bayu sudah merencanakan liburan dengan pacarnya. Rekan-rekan kerjanya sibuk membicarakan cicilan rumah dan rencana pernikahan. Sementara Raka? Raka terjebak di sini, membeli sabun cuci piring aroma jeruk nipis hanya untuk mencium bau masa lalu.
"Iya, Bu. Nanti Raka pikirin," jawab Raka akhirnya, suara yang ia keluarkan terdengar kosong bahkan di telinganya sendiri. "Raka harus lanjut beres-beres dulu ya, Bu. Nanti ditelepon lagi."
"Ya sudah. Jaga kesehatan ya, Ka. Jangan lupa makan sayur."
Sambungan terputus.
Raka meletakkan ponselnya kembali ke meja. Layar menjadi gelap, memantulkan bayangan wajahnya yang terlihat lelah.
Ia kembali mengangkat kotak susu stroberi itu dan menghabiskan sisanya dalam satu sedotan panjang. Bunyi *srrruup* dari sedotan yang menyedot udara menandakan kotak itu sudah kosong. Rasa manis yang berlebihan kini terasa mual di perutnya.
Ia bangkit, berjalan ke tempat sampah di bawah wastafel, dan melempar kotak kosong itu.
Matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya. Apartemennya mulai gelap, tapi Raka tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan bayang-bayang memanjang, menelan sudut-sudut ruangan.
Besok hari Senin. Alarm akan berbunyi pukul enam pagi. Ia akan mandi, memakai kemeja yang sudah disetrika, naik kereta yang penuh sesak, dan menjadi Raka yang profesional lagi. Raka yang tidak peduli pada aroma sabun cuci piring atau rasa susu stroberi.
Tapi malam ini, di sisa-sisa hari Minggu yang sekarat ini, ia membiarkan dirinya kalah.
Raka berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka. Saat ia menyalakan keran wastafel dan menampung air dengan kedua tangannya, ia menciumnya lagi. Aroma jeruk nipis itu masih menempel kuat di kulitnya, menolak untuk hilang, seolah mengejek usahanya untuk melupakan.
Ia membasuh wajahnya kasar, berharap air dingin bisa membekukan isi kepalanya. Namun saat ia mengangkat wajah dan menatap cermin, matanya menangkap pantulan handuk biru muda yang tergantung di belakang pintu. Handuk itu sudah tua, benangnya mulai terurai di pinggirannya. Itu handuk *couple* yang dulu dibeli mantannya saat diskon besar-besaran. Pasangannya, yang berwarna merah muda, sudah lama hilang—mungkin terbawa oleh mantannya, atau mungkin Raka buang, ia lupa. Tapi yang biru masih di sini.
Raka mengeringkan wajahnya dengan handuk itu. Kasar, tidak lagi lembut.
"Bodoh," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Ia keluar dari kamar mandi, mematikan semua lampu kecuali lampu tidur di sudut kamar, dan menarik selimut sampai sebatas dada. Ia berharap tidur akan datang cepat malam ini, tanpa mimpi, tanpa kenangan. Tapi rasa manis susu stroberi masih tertinggal di lidahnya, sebuah pengingat kecil yang keras kepala bahwa dia masih merindukan hal-hal yang tidak ia sukai, hanya karena hal-hal itu pernah dicintai oleh orang yang ia cintai.
Garis waktu mungkin tidak bisa dihapus, tapi malam ini, Raka merasa dirinya lah yang sedang terhapus perlahan-lahan oleh kenangan.
***