Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kreatifitas Untuk Bumi Yang Hidup
Setelah mendapatkan kabar tentang dampak perubahan iklim dan tawaran untuk membuat program "Kreativitas untuk Bumi", tim Bumi Kreatif segera berkumpul – kali ini dengan menghadirkan juga Reza yang datang khusus dari Afrika untuk membahas keputusan penting ini.
"Saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perubahan iklim merusak komunitas dan budaya mereka," ucap Dito dengan suara yang penuh kesedihan. "Di Brasil, kita harus membangun kembali pusat kreatif yang hampir terbakar habis. Anak-anak bahkan kehilangan rumah dan karya seni mereka yang menjadi bagian dari identitas budaya."
Reza yang juga pernah melihat dampak kekeringan di beberapa daerah di Afrika menambahkan, "Di Kenya, banyak komunitas yang harus berpindah tempat karena sumber air habis. Mereka kehilangan akses ke bahan seni tradisional mereka dan bahkan mulai melupakan cara membuat karya seni yang telah diwariskan dari nenek moyang."
MEMUTUSKAN UNTUK BERGERAK
Setelah berdiskusi selama beberapa hari dan berkonsultasi dengan anak-anak dari program serta pemimpin komunitas yang terdampak, mereka akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran kerja sama dengan organisasi lingkungan internasional.
"Tidak ada yang bisa kita capai jika Bumi kita sendiri tidak sehat," ucap Nara dengan tekad yang kuat. "Kita tidak perlu mengalihkan sumber daya dari program yang sudah ada – kita bisa mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam setiap bagian dari pendidikan kreatif kita."
Mereka mengembangkan program "Kreativitas untuk Bumi" yang terdiri dari beberapa bagian utama:
- Seni untuk Pemulihan Lingkungan – anak-anak diajarkan untuk membuat karya seni dari bahan daur ulang dan membantu membersihkan lingkungan sekitar mereka
- Dokumentasi Budaya yang Terancam – anak-anak menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan budaya dan seni tradisional dari komunitas yang terdampak perubahan iklim
- Proyek Kreatif untuk Lingkungan – anak-anak bekerja sama dengan ahli lingkungan untuk membuat karya seni yang meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim dan memberikan solusi kreatif untuk mengatasinya
- Jaringan Global Anak-anak Pelindung Bumi – anak-anak dari seluruh dunia bisa bekerja sama secara daring untuk membuat proyek kolaboratif yang membantu melindungi lingkungan dan budaya mereka
MENGELOLA PROGRAM DI BERBAGAI DAERAH TERDAMPAK
Di Brasil, mereka bekerja sama dengan komunitas suku Amazon untuk membuat proyek besar – sebuah taman seni yang juga berfungsi sebagai area reboisasi. Anak-anak menggunakan bahan daur ulang untuk membuat patung dan dekorasi taman, sementara juga menanam pohon-pohon yang penting bagi kehidupan suku mereka.
"Kita tidak hanya membuat tempat yang indah," ucap Carlos dari Brasil saat sedang membantu anak-anak menanam pohon. "Kita juga membangun rumah bagi banyak hewan dan tumbuhan, serta melestarikan tanah yang menjadi bagian dari identitas kita."
Di Indonesia, mereka mengadakan lokakarya seni di daerah yang terdampak banjir dan tanah longsor. Anak-anak diajarkan untuk membuat karya seni dari puing-puing rumah yang rusak dan menggunakan lukisan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan dan sumber air.
"Karya seni ini membantu kita mengatasi rasa sakit karena kehilangan rumah," ucap Rizky dari Indonesia saat menunjukkan lukisan tentang pemulihan daerahnya. "Dan juga membantu orang lain memahami apa yang kita alami dan mengapa kita harus menjaga Bumi kita."
Di Kenya, mereka mengembangkan program untuk membuat karya seni dari bahan alam yang tahan kekeringan. Anak-anak juga membuat video dokumenter tentang bagaimana komunitas mereka beradaptasi dengan perubahan iklim dan memelihara seni tradisional mereka.
"Kita tidak bisa menghentikan perubahan iklim dengan sendirian," ucap Amina dari Kenya. "Tapi dengan seni dan kreativitas kita, kita bisa menginspirasi banyak orang untuk bergerak dan membantu kita melindungi rumah kita."
KEPUTUSAN BESAR REZA
Sementara itu, Reza sedang dalam pertimbangan mendalam tentang tawaran untuk menjadi direktur regional pendidikan kreatif untuk seluruh Afrika. Dia berkumpul dengan Nara, Dito, dan Rendra di tempat khusus mereka – Kafe Kreatif yang kini sudah memiliki cabang di berbagai negara.
"Saya sangat ingin kembali tinggal bersama kalian di Indonesia," ucap Reza dengan suara yang lembut. "Tapi saya juga merasa bahwa Afrika membutuhkan saya di sana. Banyak negara di sana baru saja mulai mengembangkan program pendidikan kreatif, dan mereka membutuhkan orang yang paham dengan kondisi mereka."
Nara mengambil tangannya dengan lembut. "Kita mengerti rasamu, Reza. Kita tidak akan pernah memaksamu untuk memilih antara kita dan pekerjaanmu yang kamu cintai."
Dito menambahkan, "Kita sudah membuktikan bahwa jarak tidak bisa memisahkan kita. Kamu bisa tinggal di Afrika dan tetap menjadi bagian penting dari tim kita dan keluarga kita."
Rendra tersenyum. "Kita bahkan bisa mengembangkan sistem kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Afrika. Kamu bisa menjadi jembatan yang menghubungkan program kita di kedua benua tersebut."
Setelah berpikir matang, Reza akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Tapi dia juga membuat kesepakatan bahwa dia akan datang ke Indonesia setiap tiga bulan sekali untuk berkumpul dengan mereka, dan mereka akan mengunjunginya di Afrika secara teratur.
"Afrika adalah rumah kedua saya sekarang," ucap Reza dengan senyum lebar. "Tapi Indonesia akan selalu menjadi rumah saya yang pertama, dan kalian akan selalu menjadi keluarga saya yang paling penting."
Untuk memperkuat hubungan mereka, mereka membuat "Kantor Bergerak Bumi Kreatif" – di mana setiap bulan salah satu dari mereka akan bekerja di negara yang berbeda untuk membantu mengelola program dan menjaga komunikasi tetap erat.
FESTIVAL "KREATIVITAS UNTUK BUMI" PERTAMA
Setelah beberapa bulan mengembangkan program, mereka mengadakan festival internasional pertama bertajuk "Kreativitas untuk Bumi" di Bali – yang dihadiri oleh anak-anak dari lebih dari 50 negara yang terdampak perubahan iklim.
Festival ini tidak hanya menampilkan karya seni anak-anak, tapi juga menjadi ajang untuk berbagi solusi dan ide tentang bagaimana melindungi lingkungan dan budaya kita. Anak-anak bekerja sama untuk membuat karya seni kolaboratif besar yang menggambarkan Bumi yang sehat dan damai.
Salah satu karya paling menarik adalah patung besar yang dibuat dari bahan daur ulang dari berbagai negara, dengan motif yang menggabungkan budaya dari seluruh dunia. Di bagian tengah patung ada sebuah layar digital yang menampilkan video tentang bagaimana anak-anak dari berbagai komunitas bekerja sama untuk melindungi lingkungan mereka.
"Seni adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang," ucap Sofia dari Peru yang kini telah menjadi pengajar di pusat kreatif mereka. "Dengan seni, kita bisa menginspirasi orang untuk berbuat baik bagi Bumi kita."
Pada malam puncak festival, seluruh peserta berkumpul untuk menyanyi lagu bersama yang dibuat oleh anak-anak dari berbagai negara – lagu tentang cinta kita terhadap Bumi dan janji kita untuk melindunginya. Suara mereka yang penuh semangat menggema di seluruh tempat dan membuat banyak orang menangis haru.
Festival berjalan dengan sangat sukses dan menarik perhatian dunia internasional. Banyak pemerintah dan perusahaan mulai menyadari pentingnya menggabungkan pendidikan kreatif dengan aksi lingkungan, dan mereka ingin bekerja sama dengan Bumi Kreatif Global.
Namun saat mereka siap untuk meluncurkan program secara global, mereka mendapatkan kabar bahwa sebuah penyakit menular baru mulai menyebar di beberapa negara yang menjadi lokasi program mereka. Ini membuat mereka harus menghentikan semua aktivitas tatap muka dan kembali ke pembelajaran daring semata.
"Kita sudah bisa beradaptasi dengan baik dengan teknologi," ucap Rendra yang sedang mengelola sistem daring mereka. "Tapi anak-anak membutuhkan interaksi langsung dan sentuhan manusia yang tidak bisa digantikan oleh layar digital."
Selain itu, mereka mendapatkan tawaran dari pemerintah sebuah negara besar untuk membuat program pendidikan kreatif yang hanya fokus pada teknologi dan inovasi, tanpa memperhatikan nilai-nilai budaya dan lingkungan. Tawaran ini datang dengan dukungan finansial yang sangat besar, tapi jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip mereka.
Apakah mereka akan berhasil menemukan cara untuk tetap memberikan pendidikan kreatif yang berkualitas meskipun harus bekerja secara daring? Dan bagaimana mereka akan menolak tawaran yang tidak sesuai tanpa kehilangan dukungan finansial yang mereka butuhkan untuk membantu komunitas terdampak?
Di samping itu, hubungan antara Nara, Dito, Reza, dan Rendra menghadapi ujian baru ketika salah satu dari mereka mengalami masalah kesehatan yang membuatnya harus beristirahat untuk waktu yang lama. Mereka harus menemukan cara untuk menjaga program berjalan dan juga memberikan dukungan penuh bagi teman mereka yang sedang sakit...