NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pengejaran di Laut

Tubuhku melayang di udara setelah melompat dari kapal Drake Pirates. Angin laut menerpa wajahku dengan keras, dan untuk sesaat, aku merasakan kebebasan mutlak—tidak ada yang mengikatku selain gravitasi.

Tapi aku tidak punya waktu untuk menikmati sensasi itu.

Spider Sense ku masih berdering keras. Tiga kapal Marine semakin mendekat, dan aku harus segera mengalihkan perhatian mereka dari kapal Kapten Drake.

Sebelum tubuhku menyentuh air, aku menembakkan jaring ke permukaan laut dengan pola menyebar. Jaring-jaring itu mendarat di air dan mengeras, menciptakan platform jaring tipis yang mengapung.

Aku mendarat di platform itu dengan sempurna. Kaki ku sedikit melesak, tapi jaring menahan beratku.

"Berhasil!" pikirku lega. "Platform jaring bisa digunakan di laut!"

Ini teknik baru yang kubaru sadari kemungkinannya. Dengan membuat platform jaring yang cukup luas dan kuat, aku bisa "berjalan" di atas air—atau setidaknya, di atas jaring yang mengapung di air.

Kapal Marine sudah sangat dekat. Aku bisa melihat para Marine di dek dengan jelas, meriam-meriam mereka sudah diarahkan ke kapal Drake.

"Hei, MARINE!" aku berteriak sekeras mungkin sambil melambaikan tangan. "KALIAN MENCARI BAJAK LAUT? AKU DI SINI!"

Untuk memastikan mereka melihatku, aku menembakkan jaring ke udara, menciptakan pola jaring raksasa yang sangat mencolok—seperti bendera laba-laba di tengah laut.

Itu berhasil.

Semua kapal Marine tiba-tiba mengubah arah, menuju ke arahku. Aku bisa mendengar teriakan komando dari kapten mereka.

"TARGET DITEMUKAN! PENGGUNA BUAH IBLIS! TANGKAP HIDUP ATAU MATI!"

"Sempurna," gumamku sambil tersenyum. "Sekarang, mari kita lihat seberapa cepat kalian bisa mengejar ku."

Aku langsung berlari di atas platform jaring, menuju arah yang berlawanan dari kapal Drake. Sementara berlari, aku terus menembakkan jaring baru ke depan, menciptakan jalur jaring yang terus memanjang di atas laut.

Ini seperti membuat jalan sendiri di tengah lautan.

Kapal Marine mengejar ku dengan kecepatan penuh. Mereka mulai menembakkan meriam.

BOOM! BOOM! BOOM!

Bola-bola meriam melayang ke arahku. Spider Sense berdering—aku bisa merasakan jalur setiap proyektil!

Aku melompat, berguling, meluncur—menghindari semua bola meriam dengan gerakan akrobatik. Beberapa bola menghantam platform jaring dan menciptakan lubang besar, tapi aku sudah jauh sebelum platform itu tenggelam.

"Mereka serius ingin menangkapku," pikirku sambil terus berlari. "Tapi kenapa? Aku bahkan belum punya bounty!"

Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat kapal Drake sudah jauh, berlayar ke arah yang aman. Mereka selamat. Misi pengalihanku berhasil.

"Sekarang masalahnya," gumamku. "Bagaimana aku lolos dari tiga kapal Marine ini?"

Salah satu kapal Marine tiba-tiba menembakkan jaring besi ke arahku!

"Mereka punya jaring?!" terkejut, aku melompat tinggi. Jaring besi melewati di bawahku dan jatuh ke laut.

"Pengguna Buah Iblis!" suara menggelegar dari kapal terdepan. Seorang Marine berdiri di haluan dengan megafon. Dia mengenakan jubah Justice dan topi kapten. "Menyerahlah! Kau tidak bisa lari selamanya! Laut adalah kelemahan kalian!"

Dia benar. Aku tidak bisa lari selamanya. Platform jaring memang membuat ku bisa bergerak di atas laut, tapi aku juga menggunakan banyak energi untuk terus membuat jaring baru. Cepat atau lambat, aku akan kelelahan.

Aku butuh strategi.

Spider Sense tiba-tiba berdering lagi—bahaya dari arah berbeda!

Aku menoleh ke kiri dan melihat kapal Marine kedua sudah mengepung dari samping. Mereka menembakkan jaring besi lagi, kali ini dari dua arah sekaligus!

"Sial!"

Aku tidak punya pilihan. Aku menembakkan jaring ke salah satu kapal Marine—bukan untuk menyerang, tapi untuk ayunan. Aku menarik diriku dengan kekuatan penuh, tubuhku melesat melewati dua jaring besi yang saling bersilangan di belakangku.

Aku mendarat di dek kapal Marine kedua dengan keras.

Para Marine langsung mengepung ku dengan senjata teracung—pedang, senapan, dan tombak.

"JANGAN BERGERAK!" teriak salah satu Marine.

Tapi aku sudah bergerak.

THWIP THWIP THWIP THWIP!

Jaring melesat ke segala arah, mengikat kaki, tangan, dan senjata para Marine. Dalam hitungan detik, lebih dari dua puluh Marine sudah tidak bisa bergerak, terjerat dalam jaring yang kuat.

"Maaf," kataku sambil berlari melintasi dek. "Aku tidak punya waktu untuk bertarung!"

Aku melompat ke tiang layar, memanjatnya dengan cepat, lalu melompat lagi ke kapal Marine ketiga yang ada di sebelah.

Kapal ketiga ini lebih siap. Para Marine sudah dalam formasi, dan mereka langsung menyerang saat aku mendarat.

Seorang Marine dengan pedang besar mengayunkan senjatanya ke arahku. Aku menghindar dengan mudah berkat Spider Sense, lalu menembakkan jaring ke pedangnya dan menariknya lepas.

"Hey!" Marine itu berteriak kesal.

Aku melempar pedangnya ke laut. "Kau tidak membutuhkan itu."

Lima Marine lainnya menyerang bersamaan. Aku melompat ke udara, menembakkan jaring ke meriam di dek, dan mengayunkan tubuhku melingkar. Kaki ku menendang kelima Marine itu secara berurutan—wajah, dada, perut, kaki—semuanya dengan presisi.

Mereka terjatuh seperti domino.

"Dia terlalu cepat!" teriak salah satu Marine.

"GUNAKAN JARING SEASTONE!" perintah kapten.

Seastone?! Itu batu laut yang melemahkan pengguna Buah Iblis!

Aku harus pergi sekarang!

Tapi sebelum aku bisa melompat, Spider Sense berdering sangat keras—bahaya ekstrem dari belakang!

Aku berbalik dan melihat kapten kapal Marine ketiga ini sudah tepat di belakangku, tangannya yang mengenakan sarung tangan besi bergerak cepat.

WHAM!

Pukulannya mengenai perutku!

"GUAH!" Aku terpental ke belakang, menghantam tiang layar dengan keras.

Sakit. Sangat sakit. Pukulan itu jauh lebih kuat dari yang kubayangkan.

Kapten Marine itu—pria tinggi dengan kumis tebal dan mata tajam—melangkah maju dengan tenang. "Bocah, kau cepat dan punya kemampuan yang mengesankan. Tapi kau masih terlalu hijau untuk laut ini."

Aku meludah darah dan berdiri dengan susah payah. "Siapa... kau?"

"Kapten Hagane," jawabnya. "Marine Headquarters, rank Kapten. Aku sudah menangkap lebih dari 50 bajak laut dalam karierku. Dan hari ini, kau akan jadi yang ke-51."

Hagane maju dengan cepat—lebih cepat dari yang kuharapkan untuk tubuh sebesar itu. Dia meninju lagi, kali ini ke arah wajahku!

Spider Sense berdering! Aku menunduk, tinjunya melewati kepalaku dan menghantam tiang layar di belakang.

CRACK!

Tiang layar retak!

"Kekuatan monster," pikirku sambil mundur. "Aku tidak bisa kena pukulan lagi!"

Hagane tidak memberi ku waktu bernafas. Dia menyerang dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang brutal. Aku menghindari semuanya berkat Spider Sense, tapi ruang gerakku semakin sempit—aku terpojok di dek kapal.

"Kau hanya bisa menghindar?" Hagane tersenyum sinis. "Menyerang balik, bocah! Atau kau akan mati di sini!"

Dia benar. Aku tidak bisa hanya menghindar. Aku harus menyerang balik.

Saat Hagane meninju lagi, aku tidak menghindar. Sebaliknya, aku melompat maju, menembakkan jaring ke wajahnya!

Tapi Hagane lebih cepat. Dia menangkap jaringku dengan tangan kosong dan menarikku ke arahnya!

"Terjebak!"

Aku terseret ke arahnya. Hagane mengangkat tinjunya yang lain, bersiap untuk pukulan yang akan menghancurkan ku.

Tapi aku punya rencana.

Saat hampir sampai di hadapannya, aku menembakkan jaring ke dek di bawah kakinya dan menarik keras.

Dek kayu terkoyak, membuat Hagane kehilangan keseimbangan sejenak.

Sejenak itu cukup.

Aku memutar tubuh di udara dan menendang wajahnya dengan kekuatan penuh!

WHAM!

Hagane terpental ke belakang, menghantam tumpukan kotak di dek.

Aku mendarat dengan napas terengah. "Hah... hah... aku... kena..."

Tapi Hagane langsung berdiri lagi, wajahnya hanya sedikit lebam. Dia menyeka darah di sudut bibirnya dan tersenyum lebar.

"Bagus! Akhirnya kau menyerang balik!" Dia meregangkan lehernya. "Tapi tendanganmu masih terlalu lemah untuk melukaiku. Kau butuh sesuatu yang lebih dari itu, bocah."

Lebih dari itu? Apa maksudnya?

Hagane tiba-tiba mengambil sesuatu dari pinggangnya—sepasang borgol yang terbuat dari material gelap yang aneh.

"Seastone cuffs," katanya sambil mengayunkan borgol itu. "Satu sentuhan, dan kekuatan Buah Iblismu akan hilang. Menyerahlah sekarang, atau aku akan memaksamu."

Seastone. Musuh alami semua pengguna Buah Iblis.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus kabur dari kapal ini sekarang juga.

Tapi bagaimana? Hagane menghalangi jalur ke pinggir kapal. Para Marine lainnya sudah mulai pulih dan mengepung ku dari samping.

Spider Sense ku berdering lagi—tapi kali ini bukan warning bahaya. Ini... kesempatan?

Aku merasakan perubahan angin. Badai kecil mendekat dari utara.

"Itu dia," pikirku.

"Kapten Hagane," aku berbicara sambil mengambil posisi siaga. "Kau kuat. Jauh lebih kuat dariku sekarang. Tapi ada satu hal yang kau lupa."

"Apa?"

"Aku bukan tipe orang yang menyerah."

Aku menembakkan jaring ke semua tiang layar kapal, menciptakan jaringan jaring yang kompleks di atas dek. Lalu aku menarik semuanya sekaligus dengan kekuatan penuh!

CRACK! CRACK! CRACK!

Ketiga tiang layar kapal patah bersamaan dan jatuh ke dek, menciptakan kekacauan total!

"APA?! DIA GILA!" teriak para Marine sambil berlarian menghindari tiang yang jatuh.

Hagane mencoba mengejar ku, tapi dia juga harus menghindari tiang-tiang yang runtuh.

Aku memanfaatkan kesempatan itu. Aku berlari ke pinggir kapal dan melompat ke laut—tapi tidak jatuh ke air. Aku menembakkan jaring ke kapal Marine pertama yang masih utuh dan mengayunkan tubuhku melewati laut.

"JANGAN BIARKAN DIA KABUR!" teriak Hagane.

Tapi sudah terlambat. Aku sudah jauh dari kapal mereka, berayun dari kapal ke kapal menggunakan jaring, lalu akhirnya kembali membuat platform jaring di atas laut.

Aku berlari sekuat tenaga, menjauhi tiga kapal Marine. Badai kecil yang kurasakan tadi mulai datang—hujan turun, ombak membesar, dan visibilitas menurun.

Sempurna.

Dalam hujan dan ombak besar, kapal Marine kehilangan jejakku. Aku terus berlari di atas platform jaring, menggunakan badai sebagai kamuflase.

Setelah merasa cukup jauh, aku akhirnya berhenti dan duduk di platform jaring yang lebih besar. Tubuhku gemetar kelelahan. Napas ku terengah-engah.

"Hah... hah... aku... selamat..."

Tapi aku juga menyadari sesuatu yang penting dari pertarungan itu.

Aku masih terlalu lemah.

Kapten Hagane hanya seorang Kapten Marine biasa—bukan Admiral, bukan bahkan Commodore. Tapi dia hampir mengalahkanku dengan mudah.

Jika aku ingin berlayar bersama Luffy di Grand Line, jika aku ingin menghadapi musuh-musuh kuat seperti Crocodile, Enel, atau bahkan Admiral... aku harus jauh lebih kuat dari sekarang.

"Aku butuh menguasai Haki," gumamku sambil menatap tanganku. "Dan aku butuh mengembangkan Spider Fruit lebih jauh. Masih banyak teknik yang belum kueksplorasi."

Hujan mulai reda. Aku berdiri dan menatap cakrawala. Di kejauhan, aku bisa melihat siluet pulau.

Loguetown.

Aku sampai.

"Tunggu aku, Luffy," kataku dengan senyum lelah. "Aku akan menemukanmu."

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!