Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidik Amatir
Matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit Uptown, meninggalkan semburat warna merah darah yang seolah meramalkan bencana yang akan datang. Di parkiran bawah tanah gedung Dirgantara Group, Vino duduk di dalam mobilnya yang gelap, mesinnya sengaja dimatikan. Matanya yang tajam dan dipenuhi rasa curiga tak lepas dari pintu keluar lift eksekutif.
Sejak kejadian di ruang rapat dan lembur paksa yang menyiksa Raisa, Vino tidak bisa lagi tinggal diam. Ada sesuatu yang sangat salah. Logika profesional mana pun tidak bisa menjelaskan mengapa seorang CEO sekelas Arash harus mengurusi setiap detail kecil kehidupan seorang staf administrasi. Kecurigaan Vino bukan lagi sekadar insting seorang teman; itu sudah menjadi obsesi seorang penyelidik amatir yang merasa ada nyawa yang sedang terancam.
Vino telah mencatat selama tiga hari terakhir. Setiap kali Arash meninggalkan kantor, Raisa akan menyusul tepat sepuluh menit kemudian melalui lift pribadi yang sama. Tidak ada mobil jemputan, tidak ada ojek. Raisa seolah menghilang ditelan bumi di lantai parkir VIP.
Pintu lift terbuka. Vino menahan napas. Arash keluar dengan langkah lebar, auranya tetap angkuh meski hari sudah gelap. Dan benar saja, beberapa langkah di belakangnya, Raisa berjalan dengan kepala tertunduk, membawa tas mewah yang sempat menjadi bahan gunjingan Pak Surya. Arash membukakan pintu mobil sedan hitamnya—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Raisa.
Rahang Vino mengeras hingga giginya bergemeretak. "Jadi benar ... kau menyekapnya di dalam hidupmu, Arash," desis Vino pelan.
Vino segera menyalakan mesin mobilnya saat sedan Arash mulai bergerak. Ia menjaga jarak yang aman, tiga mobil di belakang, memastikan ia tidak tertangkap oleh spion Arash yang waspada. Rute yang mereka ambil bukanlah rute menuju lingkungan lama Raisa yang sederhana. Mereka meluncur menuju pusat Uptown, area di mana hanya orang-orang dengan kekayaan tak berseri yang bisa tinggal.
Jantung Vino berdegup kencang. Setiap belokan yang diambil mobil Arash semakin mengonfirmasi ketakutannya. Saat mobil itu berbelok masuk ke gerbang sebuah apartemen mewah yang paling eksklusif di pusat kota, Vino terpaksa menghentikan mobilnya di seberang jalan. Ia tahu ia tidak bisa masuk tanpa akses khusus.
Vino mematikan lampu mobilnya, keluar, dan berjalan cepat menuju area taman terbuka di samping lobi utama yang hanya dibatasi oleh pagar tanaman tinggi. Ia mengendap-endap, mencari celah di antara daun-daun untuk melihat apa yang terjadi di area drop-off lobi.
Sedan hitam Arash berhenti tepat di depan pintu kaca raksasa yang dijaga oleh petugas keamanan berseragam lengkap. Petugas itu membungkuk sangat dalam—penghormatan untuk pemilik unit tertinggi di sana.
Vino melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Pintu penumpang terbuka. Raisa turun dari sana dengan gerakan yang tampak lelah dan rapuh. Detik berikutnya, Arash keluar dari pintu kemudi. Tanpa memedulikan tatapan para staf lobi, Arash melingkarkan tangannya di pinggang Raisa, sebuah gerakan yang sangat posesif dan intim, seolah sedang menegaskan pada dunia bahwa wanita itu adalah miliknya.
Raisa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Arash sebelum mereka berjalan masuk bersama menuju lift privat yang langsung menuju unit mereka.
Dunia Vino seolah runtuh. Pemandangan itu jauh lebih menyakitkan daripada bayangan kekerasan fisik yang ia takutkan dialami Raisa. "Raisa ... kenapa?" bisik Vino, suaranya pecah oleh kekecewaan yang mendalam. "Kenapa kau memilih tinggal di sangkar monster itu?"
Kemarahan yang murni kini menggantikan rasa takutnya.
Vino tidak percaya Raisa melakukan ini karena cinta. Ia melihat bagaimana Raisa menangis di kantor, bagaimana Raisa gemetar di bawah tatapan Arash. Ini adalah pemerasan. Ini adalah perbudakan modern yang dibungkus dengan kemewahan.
Vino kembali ke mobilnya, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Ia menyambar ponselnya dan membuka galeri foto. Di sana ada beberapa jepretan buram yang sempat ia ambil saat Raisa turun dari mobil tadi.
"Aku akan menarikmu keluar dari sana, Raisa. Meskipun aku harus menghancurkan Dirgantara Group bersamamu," gumam Vino dengan mata berkilat penuh dendam.
Sementara itu, di dalam lift privat yang bergerak naik menuju lantai tertinggi, suasana hening menyelimuti Arash dan Raisa. Arash masih belum melepaskan tangannya dari pinggang Raisa. Ia bisa merasakan tubuh Raisa yang sedikit rileks, namun tetap ada ketegangan yang tertinggal dari kejadian di koridor kantor semalam.
"Kau sangat diam sejak tadi," suara Arash memecah kesunyian lift, nadanya tidak lagi sedingin di kantor, namun tetap penuh dengan otoritas yang mendominasi.
Raisa mendongak, menatap bayangan mereka di dinding lift yang mengkilap seperti cermin. "Aku hanya lelah, Arash. Aku lelah dengan sandiwara ini, lelah dengan kemarahanmu pada Vino, dan lelah dengan matamu yang selalu mengawasiku seolah aku akan melarikan diri."
Arash memutar tubuh Raisa agar menghadapnya. Lift berhenti, namun pintunya belum terbuka karena Arash menahan sensornya. "Kau memang akan melarikan diri jika aku memberimu celah sedikit saja, bukan? Kau akan lari pada pria yang memberimu kopi murah dan kata-kata manis itu."
"Vino adalah temanku!" Raisa membalas dengan suara bergetar. "Dia satu-satunya orang di kantor itu yang memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti tawanan atau aset kontrak!"
"Teman tidak menatapmu seolah ingin menelanjangimu dengan matanya, Raisa!" bentak Arash. Ia memajukan tubuhnya, memojokkan Raisa di sudut lift, mengulang posisi intimidasi yang sama seperti semalam. "Aku melihat bagaimana dia mengikutiku dari parkiran tadi. Aku tahu mobilnya ada di seberang jalan sekarang."
Raisa terbelalak. "Apa? Vino mengikuti kita?"
"Dia sedang bermain menjadi detektif amatir untuk menyelamatkanmu," Arash tertawa dingin, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Raisa meremang. "Dia pikir dia pahlawan. Dia pikir dia bisa membongkar rahasia kita dan membawamu pergi."
Arash mencengkeram kedua bahu Raisa, sedikit menekannya hingga Raisa meringis. "Dengar baik-baik. Jika dia berani melangkah lebih jauh, jika dia berani membocorkan satu kata saja tentang apa yang dia lihat malam ini, aku tidak akan hanya memecatnya. Aku akan memastikan ayahnya kehilangan fasilitas kesehatannya karena aku punya pengaruh besar di sana. Kau tahu aku bisa melakukannya, Raisa."
Raisa terpaku. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Kau iblis, Arash. Kau benar-benar iblis."
"Aku adalah iblis yang membayar utang-utang keluargamu," desis Arash. Ia menurunkan wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Raisa. "Dan iblis ini tidak suka barang miliknya diincar oleh orang lain. Pagi ini, aku akan mematikan kariernya jika kau tidak menjauh darinya. Paham?"
Raisa hanya bisa mengangguk lemah dalam tangisnya. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang diambil Vino untuk menyelamatkannya justru semakin mengencangkan jerat leher yang dipasang Arash.
Pintu lift akhirnya terbuka. Arash menarik tangan Raisa menuju kamar utama mereka. Ia melempar tas mewah Raisa ke lantai, lalu mendorong Raisa ke atas ranjang besar mereka. Arash duduk di tepi ranjang, melepaskan jam tangan mahalnya dengan gerakan perlahan yang menyiksa.
"Mulai besok, kau tidak akan bekerja di meja administrasi lagi," ujar Arash tanpa menoleh. "Kau akan bekerja di dalam ruanganku. Satu meja denganku. Aku ingin melihat setiap orang yang kau ajak bicara, setiap pesan yang masuk ke ponselmu, dan setiap pikiran yang ada di kepalamu."
"Arash, tolong ...."
"Pilih, Raisa," Arash berbalik, menatapnya dengan mata yang kini dipenuhi obsesi yang menakutkan. "Kau patuh padaku dan Vino tetap hidup dengan kariernya, atau kau terus melawanku dan aku akan menghancurkan setiap orang yang pernah tersenyum padamu."
Raisa meringkuk di atas sprei dingin, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan sisa-sisa kebebasannya. Di luar sana di jalanan Uptown, Vino mungkin sedang merencanakan penyelamatan, namun di dalam kamar ini, Raisa tahu bahwa ia sudah tenggelam terlalu dalam di samudra gelap bernama Arash.