NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Cahaya di Balik Kabut

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat setelah rekaman video dari kamera tersembunyi Adrian diputar. Di layar besar itu, terlihat jelas sosok Sandra yang mengendap-endap di ruang arsip, menukar dokumen dengan tangan gemetar. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal. Wajah Sandra yang biasanya angkuh kini tampak layu, matanya nanar menatap lantai marmer yang seolah siap menelannya hidup-hidup.

"Saya tidak bermaksud... saya hanya..." Sandra mencoba bersuara, namun suaranya tercekat oleh isaknya sendiri.

"Cukup, Sandra," potong Adrian dingin. Suaranya tidak tinggi, namun setiap kata yang keluar memiliki beban yang menghancurkan. "Kesetiaan bisa dibeli, tapi integritas tidak. Kamu bukan hanya mengkhianati perusahaan ini, tapi kamu mencoba menghancurkan hidup seseorang yang bekerja sepuluh kali lebih keras darimu."

Dua petugas keamanan segera menggiring Sandra keluar. Kejadian itu menjadi peringatan keras bagi seluruh staf di Wiratama Tower. Hana menarik napas panjang, merasakan beban berat yang selama beberapa hari ini menghimpit dadanya perlahan terangkat. Ia menatap para auditor internasional yang kini mengangguk hormat ke arahnya.

"Ibu Hana, kami telah memverifikasi dokumen asli yang Anda tunjukkan setelahnya. Hasil audit final menyatakan bahwa seluruh laporan keuangan proyek Grand Emerald di bawah pengawasan Anda adalah bersih, akurat, dan transparan," ujar kepala auditor sambil menjabat tangan Hana. "Kami akan merekomendasikan sistem audit Anda sebagai standar baru bagi mitra internasional kami."

Hana tersenyum tulus. Ini bukan sekadar kemenangan karier; ini adalah pembuktian bahwa seorang ibu rumah tangga yang selama ini dianggap "hanya bisa mengurus dapur" mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui mereka yang meremehkannya.

Satu jam setelah pengumuman hasil audit, harga saham Wiratama Konstruksi melonjak tajam. Kepercayaan pasar kembali pulih, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Adrian mengundang Hana ke ruangannya yang tenang, di mana pemandangan Jakarta yang sibuk terlihat dari jendela besar.

"Kamu melakukannya, Hana. Kamu menyelamatkan bukan hanya reputasimu sendiri, tapi juga perusahaan ini," ucap Adrian sambil menyodorkan secangkir teh hangat.

"Terima kasih, Mr. Adrian. Tanpa kamera tersembunyi itu, saya mungkin sudah tamat," jawab Hana pelan.

Adrian duduk di seberang Hana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamera itu hanya alat. Keberanianmu untuk tetap jujur di bawah tekanan adalah alasan sesungguhnya mengapa kita menang. Sekarang, saya ingin kamu mengambil cuti tiga hari. Habiskan waktu dengan Gilang. Kamu sudah melampaui batas kemampuan fisikmu."

Hana mengangguk. Ia memang merindukan waktu tenang bersama putranya tanpa harus memikirkan angka-angka yang berkejaran di kepala.

Namun, kedamaian di sisi Hana berbanding terbalik dengan kekacauan di sisi Aris. Di penjara, Aris dikunjungi oleh ibunya, Ibu Salma. Namun, kunjungan itu bukan untuk memberikan kekuatan, melainkan untuk meluapkan keputusasaan.

Ibu Salma duduk di balik kaca pembatas dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Rumah kontrakan kecil yang disiapkan Hana benar-benar tidak sesuai dengan standar hidupnya yang dulu mewah. Ia merindukan pelayan, ia merindukan pujian tetangga, dan ia merindukan uang belanja yang tak terbatas.

"Aris! Kamu harus lakukan sesuatu!" tangis Ibu Salma sambil memukul kaca. "Ibu tidak tahan di sana. Airnya bau, tetangganya berisik, dan Maya... adikmu itu malah semakin gila belanja pakai sisa uang simpanan Ibu! Kita akan melarat, Aris!"

Aris mencengkeram gagang telepon dengan buku jari yang memutih. "Ibu pikir Aris di sini enak? Aris di sini setiap hari dihina! Ini semua karena Hana! Kalau saja dia tetap jadi istri penurut, kita tidak akan begini!"

"Hana sudah sukses, Aris. Ibu lihat di berita, dia sekarang jadi orang penting di perusahaan besar itu," ucap Ibu Salma dengan nada iri yang kental. "Pasti dia punya banyak uang sekarang. Aris, kamu harus minta dia mencabut laporan itu. Kalau kamu keluar, kita bisa tuntut harta gono-gini. Dia punya apartemen mewah, kan? Itu harusnya jadi milikmu juga!"

Pikiran jahat mulai merasuki kepala Aris. Keserakahannya yang sudah mendarah daging membuatnya lupa bahwa ia berada di sana karena kesalahannya sendiri. Ia mulai menyusun rencana nekat.

"Ibu tenang saja," desis Aris dengan mata berkilat. "Aku punya teman di sini yang punya jaringan di luar. Jika Hana tidak mau membantu kita secara baik-baik, maka dia harus dipaksa. Aku tidak akan membiarkan dia bahagia di atas penderitaan kita."

Malam itu, Hana pulang ke apartemennya dan menemukan Gilang sedang asyik menggambar. Anaknya tampak jauh lebih ceria sejak mereka pindah. Tidak ada lagi suara teriakan nenek atau bentakan ayah yang menghiasi hari-harinya.

"Mama, lihat! Gilang gambar rumah kita. Ada Mama, ada Gilang, dan ada Om Adrian," ujar Gilang polos sambil menunjukkan kertas gambarnya.

Hana tertegun melihat sosok pria tinggi di gambar itu. "Kenapa ada Om Adrian di sini, Sayang?"

"Karena Om Adrian baik. Dia yang kasih Gilang mainan robot, dan dia bilang dia akan jaga Mama supaya tidak menangis lagi," jawab Gilang jujur.

Hana memeluk putranya erat, menyembunyikan wajahnya di pundak kecil Gilang. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Kehadiran Adrian secara perlahan mulai mengisi ruang kosong yang dulu penuh dengan luka. Namun, Hana tahu ia harus tetap waspada. Masa lalu mungkin sudah ia tinggalkan, tapi bayang-bayang keserakahan keluarga Aris masih mengintai dari balik jeruji besi, siap untuk menerkam saat ia merasa paling aman.

Hana menatap langit malam dari balkonnya. Ia telah selesai menjadi sabar, dan kini ia sedang membangun benteng untuk kebahagiaannya. Namun, badai terakhir mungkin baru saja akan dimulai.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!