NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: SURAT DARI ADIK

Surat itu bergetar di tangan Datuk Maringgih—bukan oleh angin, melainkan oleh kemungkinan kehilangan.

Malam turun dengan sunyi yang berbeda.

Di gudang Maringgih, lampu minyak menyala redup. Tumpukan karung rempah di sudut seperti biasa—menenangkan dalam diam. Tapi malam ini, ada yang mengubah suasana. Sepucuk surat tergeletak di atas meja—kertasnya kusam, tulisannya tergesa-gesa, cap pos dari Jawa masih merekat di sudut.

Maringgih duduk di kursinya. Surat itu sudah dibaca tiga kali. Namun tangannya masih menggenggamnya erat.

Dullah berdiri di samping, diam. Ia tahu tuannya sedang bergulat dengan sesuatu yang berat.

"Isi suratnya apa, Tuan?" tanya Dullah akhirnya, suaranya pelan.

Maringgih tidak menjawab. Matanya masih menatap surat itu. Di kepalanya, suara adiknya bergema—suara yang sama sejak kecil, tapi kini membawa kabar yang berbeda.

 

Maringgih membuka surat itu untuk keempat kalinya. Tangan adiknya menari di atas kertas—tidak serapih tulisannya, tapi penuh semangat yang membara. Ia membaca sekali lagi, perlahan, setiap kata seperti palu yang menghantam dadanya.

 

Kepada Maringgih, Kakaku yang tercinta,

Semoga surat ini sampai dalam keadaan sehat. Maafkan jika tulisanku berantakan—meja ini goyang dan lampu minyak hampir habis. Tapi aku harus menulis malam ini, sebelum semuanya terlambat.

Kakanda, apa kabar di sana? Masih sibuk dengan surat-menyurat? Masih sibuk membangun jaringan dengan para saudagar? Aku harap Kakanda sehat selalu.

Aku ingat pesan Kakanda sebelum aku berangkat ke Jawa. "Belajar dari tokoh-tokoh penting di sana, Dik. Buka jaringan. Perluas pengaruh. Itu caranya berjuang." Aku patuh, Kakanda. Aku temui mereka. Aku duduk di rumah-rumah mereka. Aku minum kopi dan berbincang tentang masa depan.

Tapi Kakanda... di sela-sela pertemuan itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah Kakanda ceritakan. Aku melihat wajah asli penjajahan.

 

Maringgih menghela napas. Dahinya berkerut. Ia lanjutkan membaca.

 

Suatu hari, aku berjalan ke luar kota. Aku ingin melihat sendiri bagaimana rakyat hidup. Apa yang kulihat membuat darahku mendidih.

Di sebuah desa, aku melihat serdadu Belanda menggiring puluhan laki-laki pribumi. Mereka diikat dengan tali, leher satu sama lain terhubung seperti rantai. Seorang ibu berlari mengejar sambil menjerit—itu suaminya. Serdadu itu memukulnya dengan popor senapan. Ibu itu jatuh. Tidak bangun lagi.

Aku bertanya pada seorang tua di pinggir jalan, "Mereka dibawa ke mana, Kek?" Ia menjawab dengan mata kosong, "Kerja rodi, Tuan. Membangun benteng di pegunungan. Kata Belanda, mereka akan pulang kalau benteng selesai. Tapi tidak ada yang pulang."

Kakanda, aku lihat sendiri mayat-mayat bergelimpangan di pinggir jalan. Bukan mayat pejuang. Bukan mayat tentara. Tapi mayat rakyat biasa yang mati kelaparan karena hasil panennya dirampas kompeni. Mayat anak-anak kecil dengan perut buncit—tanda kelaparan. Mayat ibu-ibu yang mati kehabisan darah karena melahirkan tanpa pertolongan.

 

Mata Maringgih mulai berkaca-kaca. Tangannya gemetar memegang kertas.

 

Di pasar, aku melihat lelang budak. Bukan budak dari luar, Kakanda. Tapi pribumi yang tidak bisa bayar hutang pada kompeni. Seorang bapak berlutut di depan kaki seorang Belanda, memohon agar anak perempuannya yang baru dua belas tahun tidak dijual. Belanda itu menendangnya. Anak itu dijual dengan harga lima puluh gulden. Sama seperti harga seekor kambing.

Di perkebunan, aku melihat kuli kontrak yang mati di tempat kerja. Mayatnya dibiarkan membusuk sampai malam, baru diangkut dengan gerobak sampah. Kuli lain dipaksa terus bekerja, tidak boleh berhenti meskipun kawannya mati di samping mereka.

Kakanda, aku ingat Ayah. Sebelum beliau tiada, beliau berpesan pada kita berdua. Pada Kakanda, ia bilang, "Kau penerus perjuangan bangsaku melalui jalan ilmu dan dagang." Padaku, ia bilang, "Kau penerus semangatku—api yang tak boleh padam."

Aku tidak pernah mengerti pesan itu sampai sekarang. Tapi kini aku paham, Kakanda. Ayah tahu, perjuangan butuh dua sayap: satu sayap pengetahuan, satu sayap perlawanan. Kakanda memilih sayap pertama. Aku... aku harus memilih sayap kedua.

Aku tahu Kakanda mungkin kecewa. Kakanda mengirimku ke Jawa untuk belajar diplomasi dan dagang, tapi aku malah belajar melihat penderitaan. Kakanda ingin aku duduk bersama para saudagar, tapi aku lebih sering duduk di gubuk reyot bersama rakyat yang kehilangan segalanya.

 

Maringgih menutup mata. Air mata jatuh membasahi pipinya.

Dullah terkejut. Dalam dua puluh tahun mengabdi, ia belum pernah melihat tuannya menangis.

"Tuan..." bisiknya.

Maringgih menggeleng. Belum selesai.

 

Maafkan aku, Kakanda. Tapi aku tidak bisa diam. Aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat. Aku tidak bisa duduk manis membaca buku dagang sementara di luar sana bangsaku mati seperti anjing. Aku tidak bisa menulis surat protes sementara peluru-peluru Belanda membabat rakyatku tanpa ampun.

Apa gunanya ilmu kalau tak bisa selamatkan nyawa? Apa gunanya dagang kalau yang diperdagangkan adalah nyawa manusia? Apa gunanya jaringan kalau yang terhubung hanya sesama priayi yang tak pernah merasakan pahitnya kehilangan?

Kakanda, aku tidak sedang menghakimi. Aku tahu Kakanda berjuang dengan cara Kakanda. Surat-surat Kakanda mungkin menyelamatkan beberapa orang. Jaringan Kakanda mungkin membuka beberapa pintu. Tapi Kakanda... perjuangan kita berbeda karena yang kita hadapi berbeda.

Kau di sana, menghadapi kompeni yang menyamar sebagai pedagang. Aku di sini, menghadapi kompeni yang menyamar sebagai algojo. Kau melihat mereka di meja perundingan. Aku melihat mereka di tanah berdarah.

Kakanda, aku telah bertemu dengan para pejuang yang memanggul senjata. Mereka bukan tentara. Mereka petani, nelayan, kuli pasar. Tangan mereka hanya biasa memegang cangkul, tapi kini mereka pegang bambu runcing. Mereka tahu mereka bisa mati. Tapi mereka lebih takut hidup sebagai budak di negeri sendiri.

Aku ingin bergabung dengan mereka. Bukan karena aku ingin mati, Kakanda. Tapi karena aku ingin hidup—hidup sebagai manusia merdeka, bukan sebagai pribumi yang tunduk pada cambuk kompeni.

 

Maringgih berhenti. Napasnya sesak.

 

Kakanda, aku minta restumu. Bukan karena aku butuh izin—aku sudah dewasa. Tapi karena restumu adalah kekuatan terbesarku. Aku ingin maju dengan namamu di hati, dengan doamu di setiap langkah.

Doakan aku, Kakanda. Doakan agar aku bisa melihat Indonesia merdeka sebelum aku mati. Tapi jika aku gugur lebih dulu, jangan sedih. Ingatlah bahwa adikmu ini mati untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Jangan kubur aku dengan upacara besar. Cukup di tanah sederhana, dekat dengan rakyat yang aku bela. Dan jika kelak Indonesia merdeka, taburkan bunga di kuburanku. Katakan padaku, "Dik, kita sudah bebas."

Aku sayang Kakanda. Aku sayang Ayah yang sudah tiada. Aku percaya, suatu hari nanti, kita akan bertemu di tempat di mana tidak ada lagi kompeni, tidak ada lagi penjajahan, tidak ada lagi penderitaan.

Adikmu yang selalu bangga padamu,

Rahman

P.S. Jika aku gugur, tolong kabari Mak Ijah—pembantuku dulu yang selalu masakin sayur lodeh kesukaanku. Ia pernah bilang, "Nak, kalau kau jadi pejuang, jangan lupa sama rakyat kecil." Aku tidak akan lupa, Mak. Aku janji.

 

Maringgih meletakkan surat itu di atas meja. Tangannya gemetar.

Sunyi. Lama.

Dullah tidak berani bersuara. Ia hanya berdiri, ikut merasakan beratnya kabar itu.

Maringgih memandangi lampu minyak. Api kecil itu menari-nari, seperti nyawa adiknya yang kini di ambang bahaya.

Ia memilih jalannya sendiri, pikir Maringgih. Jalan yang berbeda. Jalan yang mungkin membawanya pada kematian.

Ia teringat percakapan terakhir dengan Rahman sebelum berangkat ke Jawa.

"Kakanda, apa Kakanda tidak pernah takut?" tanya Rahman waktu itu.

"Takut apa?"

"Takut mati dalam perjuangan?"

Maringgih tersenyum. "Aku takut mati, Dik. Tapi aku lebih takut mati tanpa berarti."

Rahman mengangguk. Lalu berkata, "Aku juga, Kakanda. Aku juga takut mati tanpa berarti. Itu sebabnya aku pergi."

 

Malam semakin larut.

Maringgih mengambil pena. Kertas kosong di depannya. Ia harus membalas. Ia harus memberi restu.

Tapi tangannya berat. Karena ia tahu, restu ini bisa jadi izin untuk kehilangan.

Ia mulai menulis.

 

Kepada Rahman, adikku yang berani,

Suratmu sudah kuterima. Aku membacanya berkali-kali. Setiap kali, hatiku terguncang. Setiap kali, air mataku jatuh.

Kau bilang aku memilih jalan dagang dan surat. Benar. Tapi kau harus tahu: jalanku juga penuh darah. Bukan darah yang tumpah, tapi darah yang menangis. Setiap kali aku gagal menyelamatkan seorang petani dari jeratan kompeni, aku merasa darahku sendiri yang tertumpah.

Tapi kau memilih jalan berbeda. Jalan bambu runcing. Jalan senjata. Jalan yang langsung berhadapan dengan maut. Aku tidak akan menghalangimu. Karena aku tahu, api yang membara di dadamu adalah api yang sama yang dulu membara di dada Ayah.

Restuku untukmu, Dik. Pergilah. Berjuanglah. Tapi jangan mati sia-sia.

Jika kau gugur, aku akan pastikan namamu tertulis dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Aku akan ceritakan pada anak cucu kita bahwa ada seorang pejuang dari Sumatera yang rela mati demi Jawa. Aku akan bilang, dia adikku.

Jika kau hidup, aku akan sambutmu dengan pelukan dan sayur lodeh buatan Mak Ijah. Aku sudah tulis surat padanya. Ia menangis bahagia.

Kita sama-sama berjuang, Dik. Kau di sana dengan senjatamu. Aku di sini dengan penaku. Dan suatu hari, ketika Indonesia merdeka—benar-benar merdeka—kita akan tertawa bersama, mengingat betapa kita dulu tak kenal takut.

Kakakmu yang selalu bangga,

Maringgih

 

Ia melipat surat itu. Menyegelnya dengan lilin merah. Cap cincinnya ditekankan di atas lilin yang masih hangat.

"Kirim besok pagi," katanya pada Dullah. "Pakai kurir tercepat. Jangan sampai terlambat."

Dullah menerima surat itu dengan hormat. "Baik, Tuan."

Ia hendak pergi, tapi Maringgih memanggil.

"Dullah."

"Ya, Tuan?"

"Apa kau pernah melihat orang mati?"

Dullah menghela napas. "Sering, Tuan. Di kampung. Di pasar. Di pinggir jalan. Terutama sejak kompeni datang."

"Perlukah kita berjuang?"

Dullah menatap tuannya. "Kalau bukan kita, Tuan, siapa lagi?"

Maringgih tersenyum getir. "Kau benar, Dullah. Kalau bukan kita, siapa lagi."

 

Malam semakin dalam.

Maringgih duduk sendirian. Lampu minyak mulai redup, tapi ia tidak menggantinya.

Matanya menatap surat Rahman yang masih tergeletak di meja.

Jika aku gugur, tolong kabari Mak Ijah...

Ia tersenyum getir. Adiknya yang keras kepala itu masih ingat pada pembantu tua mereka yang selalu masak sayur lodeh.

Kau benar, Dik. Perjuangan bukan hanya untuk nama besar. Tapi untuk Mak Ijah. Untuk petani di sawah. Untuk kuli kontrak yang mati di perkebunan. Untuk ibu-ibu yang kehilangan anak. Untuk semua yang tak bersuara.

Ia memejamkan mata. Dalam gelap, ia berdoa.

Ya Allah, lindungi adikku. Jika ia harus gugur, pertemukan kami di surga. Tapi jika masih ada waktu, pulangkan ia dengan selamat. Aku belum siap kehilangan. Bangsa ini belum siap kehilangan pejuang sepertinya.

Di luar, angin malam berdesir. Membawa pesan yang tak bisa diucapkan.

Maringgih sadar: tidak semua yang direstui akan kembali.

Tapi ia juga sadar: ada perjuangan yang lebih besar dari diri sendiri. Ada kemerdekaan yang lebih mahal dari nyawa.

Dan adiknya telah memilih perjuangan itu.

Pergilah, Dik. Berjuanglah. Dan jika kau harus mati, matilah dengan senyum. Karena kau mati untuk ibu pertiwi.

Air mata jatuh lagi.

Tapi kali ini, bukan karena takut kehilangan.

Tapi karena bangga.

 

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!