Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Raja
"Ahh! Apa ini? Kenapa tidak sebesar tadi?" memekik dalam hati,
Merasakan benda mengganjal di bawah sana, sedikit perih namun mulai nyaman.
"Apa terasa sakit?" tanya Sura sambil memastikan raut di wajah pasangannya.
"T-tidak. Tidak terlalu..." menggigit bibir bawah,
Tubuhnya mulai menggeliat, menandakan sudah terbiasa oleh hentakan tadi.
Sura menarik keluar telunjuknya, menatap cairan bening yang telah melumuri lalu mengoleskan pada batang miliknya.
"Apa sudah selesai?"
"Belum. Ini baru dimulai!" bersiap meletakkan kepala batang pada pintu lubang, "Kalau sakit bilang saja..."
JLEB!
"AAA!!" Raja berteriak kesakitan,
Sura langsung membungkam rapat mulut wanita itu dengan telapak tangan. Menghentikan gerakan meski belum berhasil memasukkan seluruh batang,
"Hust!! Jangan keras-keras, takut ada yang dengar..."
"Sial! Aku juga tidak mau berteriak! Tapi rasanya sakit sekali," menjawab dalam hati,
Dia langsung menggigit kuat bibir bawahnya agar tak lagi bersuara, menarik nafas, mencoba menenangkan diri.
Sura tercengang melihat linang air mata yang baru saja membasahi pipi. Hatinya luluh, mengusap lembut dan memutuskan untuk membuka kain penutup itu,
"Bagaimana kalau kita hentikan saja?"
"Apa dia gila??! Aku sudah menahan sakit setengah mati, tapi dia malah berhenti di tengah jalan?" batin Raja merasa kesal,
"Aku tidak mau memaksamu...aku tidak tega melihatmu kesakitan,"
"Lanjutkan saja! Aku tidak selemah itu. Sakit seperti ini...srup!" menarik ingus yang nyaris keluar, "Tidak ada apa-apanya buatku."
Raut penuh keyakinan terpasang di wajah, meski matanya tak henti mengeluarkan air mata.
"Pria macam apa aku ini?! Padahal dia rela menahan sakit sampai menangis demi mendapat keturunan. Tapi aku malah bersikap konyol..." batin Sura menggerutui diri sendiri,
Akhirnya tersadar demi menuntaskan janji, namun kali ini Sura lebih teliti agar tak terhanyut ke dalam nafsu.
Dengan lembut Sura melumat kembali bibir di depannya, menggunakan kedua jari untuk memainkan pucuk mungil yang masih mengeras.
Perlahan Sura mulai memasukkan tombaknya masuk sampai ke dalam,
"Mm...!" Dia mengerang memejamkan mata, membiarkan sensasi sakit itu hilang tenggelam dalam sentuhan intim yang dirasakan.
"BERHASIL MENDAPAT KEKUATAN!"
"SEDANG DALAM PROSES..."
"KEKUATAN AKAN DIIDENTIFIKASI DALAM HITUNGAN MUNDUR,"
"3..."
"2..."
"1..."
Di pagi hari...
"Ra-raja--" sontak Anubis menganga, melihat pemandangan yang mengejutkan.
Tak disangka ketakutannya benar-benar terjadi,
Pantas saja pagi ini pelayan yang bertugas membersihkan altar ritual tampak sibuk bergosip di belakang.
Tumbal manusia itu berhasil selamat,
Raja tiba-tiba memanggil seluruh petinggi kerajaan dan mengumpulkan mereka di depan singgasananya.
"Apa-apaan ini?!"
Mata mereka membulat sempurna, melihat manusia yang berdiri di samping singgasana.
Tanpa memakai rantai bahkan telah berganti pakaian berbahan sutra. Kain kualitas terbaik yang seharusnya hanya dipakai siluman berpangkat tinggi,
"Sepertinya, hari ini aku akan jadi bintang utama..." batin Sura meringis,
Telah menduga akan seperti ini, hanya saja reaksi mereka ternyata lebih heboh dari perkiraan Sura.
"Hari ini aku memanggil kalian karena ingin mengumumkan hal penting..."
"Aku akan mengangkat Sura menjadi pengawal pribadiku."
"Apa?!" pekik tetua siluman,
Wajahnya merah padam mendengar keputusan Raja.
"Omong kosong apa ini?!"
"Apa anda tidak salah?"
"Mana mungkin manusia lemah bisa menjadi pengawal? Ini mustahil!"
Para tetua saling mengoceh sedangkan yang lain tak berani protes, hanya terdiam melihat Sura dengan tatapan tajam.
"Apa Raja terkena sihir? Biasanya dia tidak seperti ini..."
"Yang tidak setuju, silahkan angkat tangan!" tegas Raja mengernyitkan alis,
Mulutnya mengerang, mata birunya bersinar pertanda kemarahan, menatap seluruh siluman yang berkumpul disana.
"CEPAT KATAKAN, SIAPA YANG TIDAK SETUJU?!"
"Hh...!" Mereka menciut ketakutan, tak punya nyali untuk menolak.
Meski begitu, mustahil mengangkat manusia buangan menjadi penghuni istana.
"Lihatlah mereka, sudah aku bilang---jangan buat pengumuman disini," bisik Sura sedikit tertekan.
"Tenang saja, mereka tidak akan berani melawanku."
"Hh?! Iya mulut mereka diam, tapi pikiran mereka berisik...mencari cara untuk mengeroyokku sampai mati," batin Sura tersenyum sepat.
Sorot mata para siluman itu membuatnya seakan berhadapan dengan malaikat maut.
"Suraaa," sorak dua kalong yang terbang mendekat.
Hanya mereka yang tampak senang mendengar pengumuman tadi. Dari awal angka kebencian kalong hanyalah 0%,
Lalu di sisi lain tampak Anubis yang mematung kehabisan kata. Padahal sejak dulu dia selalu bertugas sebagai penasihat,
Tapi sepertinya kali ini Raja tak akan menerima sanggahan apapun.
"Apa tidak apa-apa? Anjing itu punya angka kebencian paling besar kepadaku,"
Sura menatap lekat ke atas kepala sang patih. Merasa ragu, mungkinkah dia harus menolak rencana Raja?
"Hh...ya sudahlah, lagi pula aku sudah berjanji akan mendukungnya." gumam Sura, tak jadi bertindak.
Sura melirik Raja yang terus memasang raut garang, masih tak menyangka jika kemarin mereka telah menghabiskan malam bersama.
Padahal wujud manusianya hanya setinggi bahu Sura, tapi pagi ini dia telah berubah menjadi 3 kali lipat lebih besar.
"Angka miliknya juga berubah," gumam Sura berusaha tenang.
Kupingnya panas, wajahnya memerah, tak sengaja mengingat reaksi Raja saat dalam wujud manusia.
Tampaknya usaha semalam berhasil menaklukan perasaan dan meningkatkan rasa cinta Raja menjadi 50%,
"Berhenti melihatku! Aku bisa merasakan tatapanmu...lupakan kejadian semalam!" cicit Raja tanpa menoleh,
Meski terkesan cuek, dalam hati sibuk menahan rasa malu, andai masih di tubuh manusia pasti kedua pipinya sudah semerah tomat.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku memikirkan kejadian semalam?"
Toel...
Toel...
Sura tersenyum jahil, berulang kali menyenggol lengan Raja dengan sikunya.
"Memang apalagi yang bisa diharapkan dari pria mesum sepertimu?"
JLEB!
Sura diam mematung, mendengar ucapan yang melukai mentalnya secara kejam.
"Raja, saya tidak---" suara Anubis tertahan,
Mendapat tatapan tajam dari Raja, namun kali ini dia tak ingin menyerah.
Tanggannya Mengepalkan kuat, dengan tekad patih memberanikan diri untuk terus berbicara,
"Saya tidak setuju!"
"Raja tidak boleh memilih pengawal secara asal. Apa yang akan dipikirkan rakyat, jika Raja mereka memiliki pengawal lemah sepertinya?"
"Jadi maksud patih, aku harus mencari pengawal yang lebih kuat dariku?! Benar?" lugas Raja berganti menatap yang lain,
"Kalau iya, silahkan maju yang merasa lebih kuat dariku. Aku siap bertarung untuk memastikannya!"
"..." Keheningan menenggelamkan ruang, mereka terdiam kaku, langsung menunduk lemah.
Tentu tak akan ada yang berani menyambut tantangan tadi, kecuali mereka yang bosan hidup.
Karena di pulau Koriyaksa hanya Raja mereka yang memiliki fisik paling besar dan sekeras baja,
Dikenal sebagai iblis penumpas, berkat auman yang mampu menghancurkan benteng kerajaan.
"Bukankah dari awal kamu dan para tetua-lah yang memaksaku untuk memilih pengawal pribadi. Jadi apa masalahnya?" menyipitkan mata,
"Itu benar...tapi apa pantas seorang manusia menjadi pengawal anda? Saya tidak yakin dia bisa mengalahkan siluman terlemah---"
"Bagaimana kalau dicoba saja?" sontak Sura menyela pembicaraan,
Perdebatan itu tak akan berakhir sampai salah satu dari mereka mengalah, sedangkan Anubis tampak bersikukuh menolak.
Sura yang merasa ikut andil dalam situasi ini, mana mungkin diam begitu saja.
"Beraninya kamu lancang memotong pembicaraan Raja!"