Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: RATU IBLIS YANG MALANG
Hari ketiga perjalanan membawa mereka ke dataran tinggi.
Udara semakin dingin, dan kabut tipis menyelimuti pepohonan. Dari kejauhan, mulai terlihat tembok raksasa menjulang—Ibu Kota Murim. Tembok itu tingginya setidaknya dua puluh meter, terbuat dari batu hitam yang diukir dengan pola naga dan macan berkelok. Menara jaga muncul setiap seratus meter, dengan bendera Aliansi Murim berkibar—naga emas dengan latar merah.
Yun-seo terpana. "Itu... luar biasa."
"Ibu Kota Murim," gumam Yehwa. "Kali terakhir aku melihatnya, aku masih punya sayap dan terbang di atas tembok itu untuk membakar istana."
Yun-seo menelan ludah. "Kau... pernah menyerang kota ini?"
"Dulu. Seratus tahun lalu. Saat perang pertama." Yehwa menatap tembok itu dengan tatapan rumit. "Aku hampir menghancurkannya. Tapi mereka punya pelindung—Formasi Naga Suci. Aku mundur."
Yun-seo membayangkan Yehwa dengan sayap hitam terbang di atas tembok, api neraka menyambar-nyambar dari tangannya. Sulit dipercaya wanita dingin di depannya ini adalah makhluk yang sama.
"Kenapa kau mundur?"
"Karena pemimpin mereka waktu itu—Guru Agung Hwasan—adalah pendekar level Dewa Pedang. Aku tidak bisa mengalahkannya sendirian." Yehwa menghela napas. "Sekarang dia sudah mati. Tapi penggantinya mungkin lebih kuat."
"Penggantinya?"
"Hyuk Moon-gi. Pemimpin Aliansi Murim sekarang." Nama itu keluar dengan nada getir. "Dia yang bekerja sama dengan Lilian untuk mengkhianatiku."
Yun-seo menoleh cepat. "Apa? Jadi pemimpin manusia yang khianati kau?"
Yehwa mengangguk pelan. "Aku tidak punya bukti. Tapi Lilian menyebut namanya sebelum... sebelum dia menusukku. Katanya, 'Atas nama Aliansi Murim dan Penguasa Kegelapan, kekuasaanmu berakhir di sini.'"
Yun-seo mencerna informasi ini. Ini bukan lagi sekadar konflik biasa. Ini konspirasi besar.
"Kita harus hati-hati kalau bertemu orang ini," bisiknya.
"Aku tahu. Itu sebabnya aku akan diam dan bermain peran sebagai istrimu yang polos." Yehwa meliriknya. "Kau harus lindungi aku."
"Berat juga ya tanggung jawabnya."
"Kau yang bilang akan bantu aku."
"Iya, iya. Tapi jangan salah, kalau ketemu sama Dewa Pedang, aku lari duluan."
Yehwa mendengus. "Pengecut."
"Pintar. Bukan pengecut."
---
Menjelang sore, rombongan tiba di gerbang Ibu Kota.
Penjaga gerbang—dua puluh prajurit dengan zirah lengkap—menghadang mereka. Seorang perwira tinggi mendekati Jin-ho.
"Laporan dari medan perang?" tanyanya.
"Pertempuran di Lembah Iblis. Kita menang, tapi banyak korban." Jin-ho turun dari kuda. "Aku bawa pengungsi. Korban selamat dari tawanan iblis."
Perwira itu menatap Yun-seo dan Yehwa dengan tatapan curiga. "Identitas?"
"Mereka dari Sancheong. Sepasang suami istri."
Perwira itu mengangguk. "Bawa mereka ke Kantor Imigrasi besok pagi. Malam ini mereka bisa menginap di barak pengungsi." Ia memberi isyarat, dan gerbang besar itu mulai terbuka.
Yun-seo menahan napas saat melewati gerbang. Di dalam, Ibu Kota Murim terbentang luas.
Jalanan lebar dengan batu bulat hitam. Di kiri kanan, deretan toko dan rumah—beberapa dari kayu, beberapa dari batu, dengan atap genting khas Korea. Lampu lentera mulai dinyalakan di sepanjang jalan, menciptakan suasana hangat di tengah senja. Pedagang kaki lima menawarkan makanan—tteokbokki, odeng, hotteok—aroma rempah memenuhi udara.
"Mirip drama Korea," gumam Yun-seo takjub.
Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian hanbok warna-warni. Pendekar dengan pedang di pinggang berjalan santai. Anak-anak berlarian mengejar layang-layang. Seorang pria tua memainkan gayageum di pinggir jalan, diiringi suara tetabuhan dari kedai minuman.
Tapi di balik keramaian itu, Yun-seo melihat kesan lain. Beberapa sudut kota kumuh dengan gubuk reyot. Pengemis duduk di pinggir jalan. Anak-anak kurus dengan pakaian lusuh mengamen.
Lorong Kegelapan.
Di situlah mereka akan tinggal.
---
Barak pengungsi terletak di pinggir kota, dekat dengan Lorong Kegelapan.
Bangunan panjang dari kayu dengan puluhan kamar kecil. Bau anyam dan kelembaban menyengat. Di koridor, beberapa keluarga duduk di depan pintu masing-masing, menatap pengunjung baru dengan tatapan lelah.
Seorang petugas—wanita paruh baya dengan rambut diikat ketat—mengantar mereka ke kamar nomor 7. Kamar itu berukuran 2x3 meter. Satu tikar usang di lantai, satu panci penyok di pojok, satu jendela kecil dengan terali besi. Tidak ada meja, tidak ada kursi. Hanya dinding kayu kusam dan langit-langit bocor.
"Ini kamar kalian," kata petugas itu datar. "Jatah makan di dapur umum jam 7 pagi, 12 siang, dan 6 sore. Dapat jatah seminggu. Setelah itu, kalian harus cari kerja sendiri. Peraturan tertempel di dinding. Baca sendiri." Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Yun-seo dan Yehwa berdiri di ambang pintu, memandangi "rumah" baru mereka.
Yehwa—yang biasa tinggal di istana marmer dengan ribuan pelayan—memasuki kamar itu tanpa ekspresi. Ia duduk di tikar, bersila dengan punggung tegak, seperti duduk di singgasana.
Yun-seo mengikutinya, duduk di samping dengan hati-hati.
"Ini... lumayan," katanya ragu.
Yehwa menatapnya. "Kau pikir aku akan menangis?"
"Nggak. Tapi... kau ratu iblis. Pasti berat."
Yehwa diam. Lalu, pelan, "Aku sudah melewati hal lebih buruk dari ini. Setelah ibuku mati, aku dikurung di kamar selama setahun oleh pamanku yang ingin merebut tahta. Kamar itu gelap, lembab, tidak ada jendela. Di sini masih ada sinar matahari." Ia menunjuk jendela. "Masih bisa lihat langit."
Yun-seo terhenyak. "Pamanmu... kenapa?"
"Ia ingin tahta. Tapi dewan tetua memilihku sebagai pewaris. Ibuku ratu terakhir, dan aku putri satu-satunya." Yehwa bercerita datar, seperti membacakan laporan. "Ia mengurungku, menyiksaku setiap hari, berharap aku menyerahkan hak tahta. Tapi aku tidak pernah menyerah. Setahun kemudian, pendukungku berhasil membebaskanku. Paman dihukum mati."
Yun-seo diam. Usia Yehwa 327 tahun, dan ia sudah mengalami hal-hal yang tak terbayangkan.
"Maaf," katanya.
"Jangan minta maaf. Itu masa lalu." Yehwa menatapnya. "Aku cerita agar kau tahu: aku bukan ratu manja yang tak pernah susah. Aku bisa bertahan di mana pun. Termasuk di gubuk reyot ini."
Yun-seo tersenyum. "Aku percaya."
Mereka diam sejenak. Di luar, terdengar suara anak-anak bermain, teriakan pedagang, dan derap kaki kuda. Dunia terus berjalan, tak peduli pada ratu iblis yang kehilangan tahta.
---
Malam pertama di Lorong Kegelapan.
Yun-seo keluar sebentar untuk mengambil jatah makan malam dari dapur umum. Antriannya panjang—setidaknya lima puluh orang, kebanyakan ibu dengan anak-anak. Ketika gilirannya tiba, juru masak memberinya dua porsi bubur dan sepotong ikan asin untuk dibagi.
"Jangan lupa kembalikan mangkuk besok pagi," kata juru masak tanpa melihat.
Yun-seo berjalan kembali ke kamar, melewati lorong gelap yang hanya diterangi lampu minyak di setiap ujung. Bau sampah dan air kencing menyengat di beberapa tempat. Ia menahan napas, mempercepat langkah.
Di kamar, Yehwa masih duduk di posisi yang sama. Seperti patung.
"Makan," kata Yun-seo, meletakkan mangkuk di depannya.
Yehwa menatap bubur itu. Sederhana. Nasi lembek dengan sedikit sayur. Ikan asin kering yang nyaris tidak berdaging.
"Ini makanan untuk ratu?"
"Ini makanan untuk kita. Untuk bertahan hidup."
Yehwa mengambil mangkuk, menyendok bubur itu perlahan. Ia memasukkannya ke mulut, mengunyah dengan ekspresi datar. Lalu matanya sedikit melebar.
"Ini... enak."
Yun-seo tersenyum. "Bubur tentara emang selalu enak kalau lapar."
Mereka makan dalam diam. Yehwa menghabiskan semuanya, termasuk ikan asin yang tulangnya lebih banyak dari daging. Setelah selesai, ia menatap mangkuk kosong dengan tatapan aneh.
"Aku tidak pernah makan makanan seperti ini," katanya. "Di istana, semua serba mewah. Seratus hidangan setiap kali makan. Tapi aku tidak pernah benar-benar menikmatinya."
"Kenapa?"
"Karena selalu ada upacara. Aturan. Semua harus sempurna." Yehwa menghela napas. "Aku lupa rasanya makan seperti ini—hanya makan, tanpa beban."
Yun-seo mengangguk paham. "Di duniaku, makanan cepat saji itu biasa. Mie instan, ayam goreng, pizza. Makan sambil main game atau nonton drama. Simple."
"Kedengarannya... menyenangkan."
"Kadang iya. Kadang bikin gemuk."
Yehwa mengerutkan kening. "Gemuk?"
"Nggak, lupakan." Yun-seo tertawa. "Pokoknya, selamat datang di kehidupan rakyat biasa, Yang Mulia."
Yehwa tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, senyum itu sampai ke matanya.
---
Tengah malam. Yun-seo terbangun karena kedinginan.
Suhu di Ibu Kota turun drastis setelah matahari terbenam. Angin bertiup melalui celah-celah dinding kayu, membuat tikar mereka tak mampu menahan dingin. Yun-seo menggigil, merapatkan hoodie yang sejak tiba di dunia ini tidak pernah lepas.
Ia menoleh. Yehwa juga belum tidur—ia duduk memeluk lutut, tubuhnya bergetar halus.
"Kau dingin?" tanya Yun-seo pelan.
Yehwa menoleh. "Aku... tidak biasa kedinginan. Dulu tubuhku selalu hangat karena kekuatan iblis. Sekarang..."
Yun-seo bangkit. Ia melepas hoodie-nya, meninggalkan kaos oblong tipis di tubuh, lalu menyelimutkan hoodie itu ke Yehwa.
"Apa yang kau lakukan?" Yehwa terkejut.
"Pakai. Aku biasa dingin. Di Seoul musim dingin bisa minus belasan derajat."
"Tapi kau—"
"Aku kuat. Kau ratu, harus dilindungi rakyatnya." Yun-seo tersenyum, meski giginya mulai gemeletuk.
Yehwa menatap hoodie abu-abu itu. Masih hangat—sisa panas tubuh Yun-seo. Ia memakainya, merasakan kehangatan asing yang bukan dari api atau kekuatan, tapi dari manusia.
"Terima kasih," bisiknya.
"Sama-sama. Tidur sekarang. Besok kita harus urus administrasi."
Yun-seo merebahkan diri, membelakangi Yehwa. Tubuhnya menggigil, tapi ia berusaha tidak menunjukkan.
Yehwa menatap punggung itu lama. Lalu, dengan ragu, ia menggeser tubuhnya mendekat. Hoodie itu cukup besar untuk mereka berdua jika berbagi. Ia menyelimuti Yun-seo dengan setengah hoodie, lalu meringkuk di sampingnya.
Yun-seo menegang.
"Diam," bisik Yehwa. "Kau kedinginan. Aku juga dingin. Lebih hangat kalau berbagi."
Yun-seo tidak menjawab. Tapi tubuhnya perlahan rileks. Kehangatan Yehwa—meski ratu iblis itu dingin—tetap lebih hangat daripada tidur sendiri.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur saling merapat.
---
Pagi harinya, Yun-seo terbangun dengan kehangatan di dadanya.
Yehwa tidur meringkuk di pelukannya, wajahnya tenang, napasnya teratur. Tangan Yun-seo secara refleks melingkar di pinggangnya. Posisi mereka seperti sepasang kekasih—bukan pasangan palsu.
Yun-seo tidak berani bergerak. Ia hanya menatap wajah Yehwa yang damai. Bulu matanya panjang, bibirnya setengah terbuka, rambut hitamnya berantakan menutupi pipi.
"Cantik banget," batinnya. "Sayang iblis."
Tapi di dalam hati, ia tahu—ia tidak peduli Yehwa iblis atau bukan. Yang ia lihat adalah wanita yang kehilangan segalanya, tapi tetap bertahan. Wanita yang dingin di luar, tapi diam-diam peduli. Wanita yang tidur di pelukannya sekarang, mempercayakan keamanannya padanya.
Yehwa bergerak, matanya terbuka. Ia menatap Yun-seo. Lalu menyadari posisi mereka.
Wajahnya merah padam. Ia mendorong Yun-seo, bangkit duduk.
"Aku—kau—maaf—" gumamnya kacau.
Yun-seo juga bangkit, menggaruk kepala canggung. "Pagi. Dingin. Wajar."
"I-itu wajar?"
"Maksudku... ya... tidur saling merapat karena dingin. Wajar."
Yehwa menatapnya. "Kau yakin?"
Yun-seo tidak bisa menjawab. Jelas itu tidak wajar—setidaknya untuk pasangan palsu. Tapi ia tidak mau mengaku.
"Ayo mandi," katanya akhirnya. "Kita harus ke Kantor Imigrasi."
Yehwa mengangguk, masih merah. Tapi saat Yun-seo membalikkan badan, ia tersenyum kecil—senyum yang tidak terlihat Yun-seo.
---
Kantor Imigrasi terletak di pusat kota, dekat dengan pasar utama.
Bangunannya besar dari batu putih, dengan pilar-pilar tinggi dan ukiran rumit. Di dalam, puluhan orang antri di beberapa loket. Petugas dengan seragam biru gelap sibuk memeriksa dokumen.
Yun-seo dan Yehwa mengambil nomor antrian: 247. Saat itu baru nomor 189 yang dipanggil. Mereka duduk di bangku kayu panjang, bersabar menunggu.
Dua jam kemudian, nomor mereka dipanggil.
Loket 7. Petugasnya pria gemuk dengan kumis tebal, matanya sayu karena kebosanan. Ia menatap mereka sekilas, lalu membuka buku besar.
"Nama?"
"Kang Yun-seo. Hwang Yehwa."
"Asal?"
"Desa Sancheong, kaki Gunung Yongdu." Jawaban ini sudah dihafal Yehwa.
Petugas itu menulis lambat. "Bukti identitas?"
Yun-seo mengeluarkan cincinnya—satu-satunya benda yang ia punya. Yehwa menunjukkan kalung kecil di lehernya—kalung peninggalan ibunya, satu-satunya yang tersisa.
Petugas itu memeriksa cincin dan kalung dengan tatapan bosan. Lalu mengembalikannya.
"Kalian harus bayar biaya administrasi. Seribu nyang per orang."
Yun-seo dan Yehwa bertukar pandang. Uang? Mereka tidak punya uang dunia ini.
"Kami... baru sampai, Tuan," kata Yun-seo hati-hati. "Belum punya uang."
Petugas itu menghela napas. "Itu bukan urusanku. Bayar dulu, baru dapat surat."
"Tapi—"
"Hei, kau pikir ini kantor amal? Ini aturan."
Yehwa maju selangkah. Tatapannya dingin menusuk. Petugas itu tersentak—meski tanpa kekuatan, aura ratu iblis masih terasa.
"Kami korban selamat dari tawanan iblis," kata Yehwa dengan suara rendah. "Kami tidak punya apa-apa. Apa kau mau bertanggung jawab kalau kami mati di jalan karena tidak punya identitas? Atau kau mau menjelaskan pada atasanmu bahwa kau menolak pengungsi perang?"
Petugas itu membeku. "A-aku hanya mengikuti aturan—"
"Aturan bisa dinegosiasikan." Yehwa tidak mengalihkan tatapan. "Kami butuh identitas. Sekarang. Nanti kalau sudah punya uang, kami bayar. Janji."
Petugas itu menelan ludah. Ia melihat sekeliling—tidak ada yang memperhatikan. Lalu, diam-diam, ia mengambil dua lembar kertas kosong, mengisi dengan cepat, dan membubuhi stempel.
"Ini. Surat identitas sementara. Berlaku tiga bulan." Ia menyerahkan kertas itu. "Lunasi sebelum habis masa berlaku. Atau kau akan dicari."
Yehwa mengambil surat itu dengan anggun. "Terima kasih."
Saat mereka keluar kantor, Yun-seo menatap Yehwa takjub.
"Kau... hebat banget. Dia sampai gemetar."
Yehwa mengangkat bahu. "Aku masih ratu iblis. Meski tanpa kekuatan, manusia seperti dia tetap bisa merasakan tekananku." Ia menyerahkan surat itu pada Yun-seo. "Simpan baik-baik. Ini tiket kita bertahan di sini."
Yun-seo menerimanya, membaca namanya di atas kertas kuning itu. Kang Yun-seo, lahir 19 tahun lalu, asal Sancheong, status: pengungsi.
Identitas palsu di dunia palsu. Tapi terasa sangat nyata.
---
Mereka berjalan kembali ke Lorong Kegelapan, melewati pasar yang ramai.
Yun-seo melihat seorang pria tua menjual alat tulis di pinggir jalan. Toko kecil, papan nama usang: Toko Alat Tulis Hwang. Di depan toko, seorang kakek dengan jubah lusuh duduk di kursi rotan, melukis dengan kuas di atas kertas.
Kakek itu menoleh, tepat saat Yun-seo lewat. Mata mereka bertemu.
Kakek itu tersenyum—anehnya, seperti sudah mengenal Yun-seo lama.
"Pemuda," panggilnya. "Mampir sebentar."
Yun-seo ragu. Yehwa di sampingnya menegang—instingnya mencium sesuatu yang aneh.
"Siapa dia?" bisik Yehwa.
"Tidak tahu. Tapi... ayo lihat sebentar."
Mereka mendekati toko itu. Kakek itu tersenyum lebar. Matanya—tua tapi tajam—mengamati mereka berdua.
"Cincinmu," katanya pada Yun-seo. "Boleh kulihat?"
Yun-seo mengulurkan tangan. Kakek itu memegang cincinnya, meraba batu merah kusam itu. Lalu matanya beralih ke Yehwa, ke kalung di lehernya.
"Menarik, sangat menarik," gumamnya. "Cincin Pemanggil dan Kalung Jiwa Iblis. Bersatu dalam satu pasangan." Ia tertawa renyah. "Dunia ini memang penuh kejutan."
Yehwa mundur selangkah. "Siapa kau?"
Kakek itu tersenyum misterius. "Aku Hwang Cheol-soo. Pemilik toko alat tulis. Tapi dulu, orang-orang memanggilku... Tetua Keempat Dinasti Iblis."
Yehwa membeku. Wajahnya pucat pasi.
"Itu... tidak mungkin. Tetua Keempat mati 500 tahun lalu—"
"Mati?" Kakek itu—Hwang Cheol-soo—tertawa keras. "Aku hanya bersembunyi, Yang Mulia. Menunggu saat yang tepat." Ia menatap Yehwa dengan tatapan hangat. "Selamat datang di dunia manusia, Ratu mudaku. Aku sudah lama menunggumu."
---
[Bersambung ke Bab 5: Rahasia Kakek Hwang]
---