NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TATAPAN YANG BERBEDA

Suara deru mesin mobil Gus Farid perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di pelataran masjid. Hafiz masih menggenggam sapu lidinya, namun pandangannya tertuju pada pintu rumah Kyai Abdullah yang baru saja tertutup.

Rasa panas menjalar di dadanya, bukan karena amarah, melainkan karena sadar diri. Ia menatap telapak tangannya yang kasar dan lebam tangan yang dulu memegang pena emas, kini hanya akrab dengan debu.

"Siapa kamu, Hafiz?" bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing, parau, dan penuh keraguan.

Malam itu, bulan sabit menggantung pucat di atas langit desa. Hafiz duduk di ambang pintu kamarnya, menatap ke arah teras rumah Kyai yang masih terang.

Pikirannya masih terngiang-ngiang ucapan Farid tadi siang. Bantuan dana renovasi. Masjid termegah. Agar Zahra nyaman.

Setiap kata itu seperti sembilu yang menyayat harga dirinya. Farid datang dengan membawa solusi berupa tumpukan uang, sementara Hafiz? Ia bahkan makan dari belas kasihan Kyai.

"Gue benar-benar sampah yang sedang didaur ulang," gumam Hafiz pahit.

Ia mengambil buku catatan kecil pemberian Zahra yang kini tersimpan rapi di saku bajunya. Dibukanya halaman demi halaman, menyentuh tulisan tangan Zahra yang lembut.

Setiap huruf Arab yang ditulis Zahra di buku itu terasa seperti cahaya. Tapi malam ini, cahaya itu justru membuatnya merasa semakin gelap.

Hafiz merasa tidak pantas. Bagaimana mungkin seorang mantan narapidana, yang hartanya ludes disita negara, berani menyimpan rasa pada putri seorang Kyai?

Apalagi sekarang muncul sosok seperti Farid. Pria itu adalah definisi "Imam Idaman"—alim, kaya, dan memiliki nasab yang jelas.

Hafiz menutup buku itu dengan gerakan cepat. Ia harus sadar posisi. Ia di sini untuk bertaubat, bukan untuk mencuri hati seseorang.

Keesokan paginya, Hafiz sudah bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Ia ingin menyibukkan diri agar pikirannya tidak melantur.

Setelah sholat Subuh berjamaah, Hafiz tidak langsung kembali ke kamar. Ia pergi ke gudang belakang masjid, tempat kayu-kayu lapuk menumpuk.

"Lahan ini lembap, sirkulasi udara cukup. Kalau gue bisa buat kotak pembibitan di sini, dalam sebulan hasilnya bisa menutupi kas masjid," pikir Hafiz, insting CEO-nya mulai bekerja.

Tangannya mulai bergerak lincah membersihkan tumpukan kayu. Ia tidak peduli peluh membanjiri tubuhnya, atau perban di tangannya mulai kotor.

"Mas Hafiz? Sedang apa?"

Suara lembut itu membuat Hafiz tersentak hingga kepalanya terantuk balok kayu. Ia menoleh dan menemukan Zahra berdiri di sana, membawa nampan berisi kopi dan singkong rebus.

"Eh, Zahra. Ini... cuma lagi beresin gudang. Biar nggak jadi sarang ular," jawab Hafiz canggung, sambil buru-buru menundukkan pandangannya.

Zahra meletakkan nampan itu di atas meja kayu yang sudah dibersihkan Hafiz. Ia menatap wajah Hafiz yang penuh keringat.

"Mas Hafiz tidak suka Gus Farid ya?" tanya Zahra tiba-tiba, membuat Hafiz membeku.

Hafiz mencoba tertawa, meski terdengar hambar. "Kenapa bicara begitu? Dia orang hebat, Zahra. Dia... cocok untukmu."

Zahra terdiam. Suasana mendadak menjadi sangat kaku. Hanya suara jangkrik di balik tumpukan kayu yang terdengar sahut-menyahut.

"Kenapa Mas bilang begitu?" suara Zahra merendah, hampir seperti bisikan.

Hafiz memberanikan diri menatap Zahra sejenak, lalu segera membuang muka. "Karena itu kenyataannya. Dia punya segalanya. Sedangkan saya... saya cuma debu di lantai masjid ini."

Zahra melangkah maju satu tindak. Aroma sabun bayinya yang lembut tercium oleh Hafiz, membuat pria itu semakin gugup.

"Tuhan tidak melihat kita dari apa yang kita punya di dunia, Mas. Tapi dari apa yang kita bawa di hati," ucap Zahra tulus.

Hafiz menggelengkan kepala. "Tapi dunia tidak seindah itu, Zahra. Ayahmu, warga desa... mereka butuh imam yang bisa dibanggakan."

"Saya masuk dulu, Mas. Diminum kopinya," sahut Zahra tiba-tiba, suaranya terdengar kecewa.

Hafiz menatap punggung Zahra yang menjauh. Ia ingin mengejar, ingin meminta maaf, tapi kakinya terasa berat.

Ia tahu, menjaga jarak adalah satu-satunya cara agar ia tidak melukai kesucian Zahra. Ia tidak mau nama Zahra terseret dalam lumpur masa lalunya.

Siang harinya, masjid kedatangan tamu lagi. Gus Farid kembali dengan mobil putihnya, kali ini ia turun dengan beberapa orang berpakaian safari.

Hafiz yang sedang memindahkan beberapa kotak kayu di belakang melihat Farid sedang berbincang serius dengan Kyai Abdullah di teras.

"Kyai, saya sudah bicara dengan ayah saya. Beliau setuju untuk mendanai seluruh renovasi. Kita buat menaranya setinggi dua puluh meter," ucap Farid dengan suara lantang, sengaja agar terdengar oleh Hafiz.

Kyai Abdullah tampak bimbang. "Itu terlalu berlebihan, Farid. Masjid ini cukup diperbaiki yang bocor saja."

"Tidak ada kata berlebihan untuk rumah Tuhan, Kyai. Apalagi jika ini menjadi mahar yang indah," Farid berucap sambil melirik ke arah jendela rumah, di mana Zahra biasanya berada.

Hafiz yang mendengar itu merasa darahnya mendidih. "Mahar?" batinnya pedih.

Ia menyadari bahwa bantuan Farid bukan sekadar sedekah. Itu adalah bentuk diplomasi kekuasaan untuk mengunci restu Kyai Abdullah.

Farid melihat Hafiz yang sedang memikul kayu. Ia berjalan mendekat dengan gaya angkuh, tangannya dimasukkan ke saku celana.

"Mas Hafiz, sini sebentar," panggil Farid, nadanya memerintah seperti bos kepada pelayan.

Hafiz meletakkan kayunya dan mendekat. "Ada apa, Gus?"

Farid mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya yang tebal. Ia menyodorkannya ke arah dada Hafiz.

"Ini, beli es atau rokok. Kasihan lihat kamu kerja keras begitu. Nanti kalau tukang saya sudah datang, kamu tidak usah capek-capek lagi. Cukup duduk manis saja," ucap Farid dengan senyum meremehkan.

Hafiz menatap uang itu, lalu menatap mata Farid. Ada api yang menyala di mata sang mantan CEO.

"Terima kasih, Gus. Tapi tenaga saya masih kuat kalau cuma untuk mengurus masjid ini. Simpan saja uangnya untuk biaya renovasi yang... megah itu," jawab Hafiz tenang, namun setiap katanya penuh penekanan.

Wajah Farid berubah sedikit kaku. Ia tidak menyangka marbot ini punya nyali untuk menolak pemberiannya.

"Sombong sekali untuk ukuran orang yang hartanya habis disita," desis Farid pelan, hanya untuk didengar oleh Hafiz.

"Harta bisa dicari, Gus. Tapi harga diri tidak bisa dibeli," balas Hafiz telak.

Farid mendengus sinis. "Kita lihat saja, berapa lama harga dirimu itu bisa memberimu makan. Ingat posisimu, Hafiz. Kamu itu cuma tamu yang menumpang hidup di sini."

Setelah Farid pergi, Hafiz kembali ke gudang belakang. Tangannya gemetar karena menahan emosi.

Ia menyadari satu hal: ia tidak bisa terus-terusan menjadi marbot yang pasif. Jika ia ingin melindungi Zahra dan masjid ini dari pengaruh Farid, ia harus bangkit.

Hafiz mulai membersihkan sisa lahan di belakang masjid. Ia akan mulai mengumpulkan modal dari bisnis ulat kandang ini. Kecil memang, tapi ini adalah langkah awalnya untuk mandiri.

Malam harinya, setelah sholat Isya, Hafiz melihat Zahra sedang duduk sendirian di serambi masjid, memegang sebuah kitab kecil.

Hafiz berniat lewat begitu saja, namun langkahnya terhenti saat melihat Zahra tampak kesulitan memahami sesuatu.

"Mau dibantu?" tanya Hafiz secara spontan.

Zahra mendongak, matanya berbinar. "Mas Hafiz? Ini... aku sedang mempelajari manajemen zakat untuk madrasah, tapi angkanya sedikit rumit."

Hafiz tersenyum tipis. Urusan angka dan manajemen adalah makanannya sehari-hari selama sepuluh tahun terakhir.

Ia duduk di lantai, menjaga jarak sekitar dua meter dari Zahra. Dengan sabar, Hafiz menjelaskan cara perhitungan yang lebih efisien dan modern.

Zahra mendengarkan dengan penuh kekaguman. "Mas Hafiz pintar sekali. Kenapa Mas tidak kembali ke kota saja?"

Pertanyaan itu membuat Hafiz terdiam. "Di kota, saya adalah monster, Zahra. Di sini, meski saya debu, saya merasa menjadi manusia."

Zahra menatap Hafiz dengan tatapan yang dalam—tatapan yang sama seperti saat di sumur tadi siang. "Bagiku, Mas bukan debu. Mas adalah cahaya yang sedang mencoba bersinar lagi."

Hafiz terpaku. Kalimat itu begitu manis, namun sekaligus menakutkan baginya.

Tiba-tiba, lampu senter menyorot ke arah mereka berdua. Gus Farid berdiri di gerbang dengan wajah merah padam.

"Zahra! Sudah malam, tidak baik berduaan dengan laki-laki asing, apalagi mantan napi!" teriak Farid lantang, mengundang perhatian beberapa warga yang masih di masjid.

Hafiz berdiri, menatap Farid dengan berani. "Kami hanya belajar, Gus. Tidak perlu teriak seperti itu."

"Belajar atau sedang merayu?" tuduh Farid tajam. Ia melangkah mendekat, auranya penuh dengan ancaman.

"Hafiz, saya ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mencoba mengotori kesucian Zahra dengan masa lalumu yang busuk itu!"

Zahra berdiri dengan wajah pucat. "Gus Farid, jaga ucapan Anda!"

Suasana menjadi sangat tegang. Warga mulai berkumpul, berbisik-bisik menatap Hafiz dengan pandangan curiga.

Hafiz mengepalkan tangannya. Ia melihat Zahra yang ketakutan dan Farid yang merasa di atas angin.

"Besok," ucap Hafiz tiba-tiba dengan suara yang berat dan penuh wibawa CEO-nya.

"Besok apa?" tantang Farid.

"Saya akan membuktikan bahwa saya tidak butuh uangmu untuk memperbaiki masjid ini," jawab Hafiz telak.

Semua orang terdiam. Farid tertawa terbahak-bahak. "Pakai apa? Pakai sapu lidimu itu?"

Hafiz tidak menjawab. Ia hanya menatap mata Zahra sejenak, memberikan isyarat agar ia tenang, lalu berjalan pergi meninggalkan kerumunan.

Ia tahu, ia baru saja membuat taruhan besar. Taruhan yang mempertaruhkan nasibnya di desa ini.

Apa yang akan dilakukan Hafiz untuk menandingi kekayaan Farid?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!