NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Fajar Di Kota Baja

Suara sepatu bot yang beradu dengan jalanan batu di pusat Kota Kendal terdengar berirama di bawah temaram fajar yang berkabut. Pasukan Serikat Bayangan, yang kini mengenakan seragam lurik yang distandarisasi dengan ikat kepala merah putih, berbaris masuk dengan disiplin tinggi. Di barisan paling depan, Jatmika menunggangi seekor kuda cokelat, namun di samping pelananya bukan hanya tersampir pedang, melainkan sebuah tas kulit berisi peralatan ukur, jangka sorong, dan gulungan cetak biru.

Kota Kendal tampak mencekam. Toko-toko milik pedagang Tionghoa dan Arab tertutup rapat. Penduduk mengintip dari balik tirai jendela dengan tatapan antara takut dan kagum. Mereka telah mendengar desas-desus tentang "Pasukan Hantu" yang bisa memanggil petir dari langit dan bergerak di bawah tanah. Namun, yang mereka lihat bukanlah gerombolan perampok, melainkan sebuah angkatan perang yang tertata rapi.

Jatmika menghentikan kudanya tepat di depan Alun-alun Kendal—tempat yang beberapa hari lalu menjadi saksi bisu kekejaman Van De Berg. Tiang gantungan yang dulu berdiri angkuh kini telah roboh, dihancurkan oleh ledakan mortir pneumatik tempo hari.

"Suro, amankan gudang logistik di pelabuhan. Pastikan tidak ada penjarahan. Siapa pun yang mengambil barang milik rakyat atau pedagang tanpa izin, hukum dengan tegas," perintah Jatmika. Suaranya tenang namun memiliki otoritas yang membuat para komandannya sigap bergerak.

"Yusuf, kumpulkan para tokoh masyarakat, tetua desa, dan perwakilan pedagang di pendopo kabupaten. Katakan pada mereka, kita tidak datang untuk mengganti satu penindas dengan penindas lain. Kita datang untuk membangun kedaulatan."

Saat matahari mulai naik, Jatmika melangkah masuk ke dalam kantor Residen Belanda yang mewah. Ruangan itu masih menyisakan aroma cerutu mahal dan kopi yang ditinggalkan terburu-buru oleh para pejabat kolonial. Jatmika tidak duduk di kursi empuk Residen. Ia justru membentangkan peta topografi wilayah Kendal di atas meja jati besar itu.

"Kota ini butuh sistem," gumam Jatmika pada dirinya sendiri.

Ia mulai mencoret-coret peta tersebut. Fokus pertamanya bukan membangun monumen, melainkan Sanitasi dan Distribusi Listrik. Jatmika tahu bahwa penyakit kolera dan tipus adalah musuh yang lebih mematikan daripada peluru Belanda. Ia merancang sistem drainase tertutup menggunakan pipa-pipa beton yang diproduksi di markas pegunungan.

Namun, tantangan terbesar muncul saat pertemuan di pendopo dimulai. Para tokoh masyarakat masuk dengan wajah penuh keraguan. Di antara mereka ada Kyai Hasan dari pesantren, beberapa lurah, dan seorang pria berpakaian mewah bernama Raden Mas Danu—seorang bangsawan lokal yang selama ini bermain aman dengan pihak Belanda.

"Raden Jatmika," Mas Danu membuka pembicaraan dengan nada merendah namun penuh selidik. "Kami bersyukur atas bebasnya kota ini. Namun, rakyat bertanya-tanya, siapakah yang akan memimpin kami sekarang? Apakah Anda akan mengangkat diri sebagai Sultan baru di Kendal? Jika ya, kami butuh kepastian mengenai upeti dan hak-hak tanah kami."

Jatmika meletakkan pena bulunya. Ia menatap Mas Danu dengan tajam. Inilah konflik yang ia takutkan: mentalitas feodal yang telah mengakar selama berabad-abad.

"Saya tidak butuh gelar Sultan, Mas Danu," jawab Jatmika tegas. "Dan rakyat tidak akan lagi membayar upeti kepada satu orang. Kita akan membentuk Dewan Rakyat. Tanah yang selama ini dikuasai perusahaan Belanda (Cultuurstelsel) akan dikelola secara kolektif dengan sistem bagi hasil yang adil. Pajak yang dikumpulkan bukan untuk membangun istana saya, melainkan untuk membangun sekolah teknik dan rumah sakit."

Gumam kekagetan terdengar di seisi ruangan. Konsep "Dewan Rakyat" dan "Republik" adalah sesuatu yang asing, bahkan dianggap berbahaya bagi mereka yang terbiasa dengan struktur kekuasaan vertikal.

"Tapi tanpa seorang raja, siapa yang akan menjaga kewibawaan kita di mata bangsa lain?" tanya seorang lurah tua.

"Kewibawaan kita tidak datang dari mahkota emas, tapi dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat sendiri dan mempertahankan tanah ini dengan ilmu pengetahuan," Jatmika berdiri dan berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah pelabuhan. "Lihat ke sana. Dalam sebulan, saya akan menerangi kota ini dengan cahaya yang bukan dari minyak, tapi dari aliran sungai. Itulah kewibawaan kita."

Jatmika segera memerintahkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mini di bendungan sungai dekat kota. Ia menggunakan generator yang dirancang dari kawat tembaga hasil jarahan kabel telegraf Belanda dan magnet permanen yang ia buat melalui proses induksi listrik statis.

Di tengah kesibukan itu, Jatmika tidak menyadari bahwa Mas Danu dan beberapa pengikutnya sedang berbisik-bisik di sudut gelap pendopo. Bagi mereka, ide Jatmika tentang kesetaraan adalah ancaman bagi privilese mereka sebagai kaum ningrat.

"Dia ingin menghapus kasta kita," bisik Mas Danu. "Dia pikir dia bisa memerintah dengan mesin-mesin aneh itu. Jika Belanda kembali, setidaknya mereka masih menghormati status kita sebagai bangsawan. Jatmika? Dia akan membuat kita bekerja di pabrik seperti rakyat jelata."

Benih-benih pengkhianatan internal mulai tumbuh justru di saat Jatmika sedang berjuang memberikan kemajuan paling spektakuler dalam sejarah Nusantara.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah lampu busur karbon raksasa menyala di puncak menara pengawas kota. Cahaya putih kebiruan yang sangat terang membelah kegelapan malam Kendal. Rakyat keluar dari rumah, jatuh berlutut, menganggap Jatmika telah menangkap sepotong matahari dan meletakkannya di atas tiang.

Dari kejauhan, di atas kapal perang Inggris yang sedang berpatroli di Laut Jawa, Kolonel Thorne melihat cahaya tersebut melalui teropongnya. Wajahnya yang pucat tersinari oleh pendar cahaya dari pantai.

"Dia sudah menyalakan listrik," desis Thorne kepada perwira Inggris di sampingnya. "Jika kita membiarkannya satu tahun lagi, dia akan memiliki pabrik peluru yang tidak pernah tidur. Kita tidak bisa menunggu bantuan Batavia lagi. Kita harus melakukan intervensi sekarang atas nama 'Stabilitas Perdagangan Dunia'."

Jatmika baru saja menyalakan lampu, namun ia juga baru saja meletakkan target besar di atas kepalanya bagi kekuatan imperialis dunia.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!