Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Kehormatan
Hutan Abyss tidak pernah menyambut siapa pun dengan ramah, terutama bagi mereka yang datang sendirian di saat fajar masih memeluk kegelapan. Lucien Vlad melangkah melewati garis perbatasan dengan kecepatan yang tidak wajar. Tanpa kehadiran Daefiel yang berisik atau Vivienne yang waspada, sunyi di hutan ini terasa lebih mengancam—seolah-olah setiap pohon hitam yang meliuk memiliki telinga yang mendengarkan detak jantungnya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu tujuan: Burung Obsidian. Namun, ia tahu bahwa tantangan terbesarnya bukan hanya mahluk terbang itu, melainkan bagaimana ia mengelola energi terkutuk di punggungnya saat ia dipaksa bertarung habis-habisan tanpa dukungan teman-temannya.
Baru saja ia memasuki zona vegetasi hitam, tanah di bawahnya meledak. Tiga ekor Abyssal Crawler—monster serupa serigala namun dengan kulit bersisik keras dan mata yang memancarkan cairan asam—melompat dari balik kabut. Lucien tidak memiliki waktu untuk menggunakan sihir pedang konvensional jika ia ingin kembali sebelum lonceng sarapan.
"Fokus..." bisiknya pada diri sendiri.
Ia menarik pedangnya. Dalam sekejap, Petir Biru merambat dari punggungnya, mengalir ke lengan, dan menyelimuti bilah pedangnya dengan percikan listrik yang mengeluarkan suara mendesis tajam. Lucien tidak menunggu serangan. Ia melesat, gerakannya meninggalkan jejak cahaya biru di udara yang pekat.
SLASH!
Satu tebasan horizontal membelah monster pertama menjadi dua. Namun, dua lainnya menyerang dari arah buta. Lucien memutar tubuhnya, namun salah satu monster berhasil mengaitkan cakarnya ke bahu kanannya. Kain jubahnya robek, dan darah segar mulai merembes keluar, menciptakan kontras warna merah di atas seragam hitam-merahnya.
Lucien mendesis kesakitan, tapi ia segera menekan rasa sakit itu ke sudut terjauh pikirannya. Ia mengingat instruksi dalam buku: jangan biarkan rasa sakit menjadi distraksi. Ia mengubah rasa sakit itu menjadi fokus. Ia menghantamkan telapak tangannya ke tanah, melepaskan gelombang petir biru yang melumpuhkan monster-monster itu sebelum akhirnya menghabisi mereka dengan satu tusukan presisi.
Monster-monster itu memudar menjadi abu, namun Lucien tidak berhenti untuk mengatur napas. Ia menatap ke atas, ke dahan tertinggi pohon Soul-Eater yang menjulang ratusan meter. Di sana, sebuah kilatan cahaya hitam keunguan terlihat.
Itu dia. Burung Obsidian.
Mahluk itu menyadari keberadaan Lucien. Ia mengepakkan sayapnya yang tajam seperti silet, melepaskan bulu-bulu obsidian yang meluncur ke bawah seperti hujan anak panah. Lucien melompat dari satu dahan ke dahan lain, menggunakan dorongan petir di kakinya untuk meningkatkan daya pantulnya. Beberapa bulu obsidian menyerempet pipi dan kakinya, meninggalkan luka sayat yang pedih, namun Lucien terus mendaki.
Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Burung Obsidian itu membuka paruhnya, menyemburkan api ungu korosif. Lucien tidak menghindar. Ia tahu jika ia menghindar, mahluk itu akan terbang menjauh dan ia akan kehilangan waktu.
"Vlad Style: Thunder Shell!"
Lucien membungkus dirinya dengan aura listrik yang sangat padat. Api ungu itu menghantam perisai petirnya, menciptakan ledakan uap yang menyengat. Di tengah kepulan asap, Lucien menerjang maju. Tangan kirinya menjangkau, bukan untuk membunuh, tapi untuk menangkap leher mahluk itu.
Burung itu meronta, mencakar lengan Lucien hingga darah menetes ke bulu hitamnya. Kekuatan mahluk itu luar biasa, namun Lucien tidak melepaskannya. Ia membiarkan sedikit energi kutukannya mengalir ke jari-jarinya, memberikan kejutan listrik kecil yang cukup untuk membuat mahluk itu pingsan namun tetap hidup—sesuai permintaan Master Alaric.
Dengan burung yang terkulai di tangannya, Lucien melompat turun dari ketinggian, mendarat dengan lutut bergetar di tanah Abyss yang lembap. Ia terengah-engah. Tubuhnya penuh dengan luka sayat, bahunya berdarah, dan jubah kebanggaannya kini tampak seperti kain perca. Namun, matanya tetap jernih. Tidak ada warna biru permanen yang tertinggal. Ia telah berhasil mengendalikan tahap kedua dengan sempurna melalui fokus yang tak tergoyahkan.
Lucien berjalan kembali menuju gerbang perbatasan tepat saat cahaya matahari pagi mulai menyentuh puncak menara Crimson Crest. Di sana, Master Alaric masih berdiri di posisi yang sama, seolah-olah ia tidak pernah bergeser sedikit pun sejak Lucien pergi.
Lucien berhenti di depan sang Master, napasnya masih berat. Ia mengangkat tangan kirinya yang gemetar, menunjukkan Burung Obsidian yang telah ia ikat dengan tali sihir.
"Tugas... selesai, Master Alaric," ucap Lucien, suaranya parau.
Alaric menatap burung itu, lalu beralih menatap luka-luka di tubuh Lucien. Ia melihat darah yang menetes dari ujung jari Lucien, namun ia juga melihat ketenangan yang luar biasa di wajah muridnya itu. Tidak ada kesombongan, tidak ada amarah; hanya ada kesadaran diri yang mendalam.
"Kau kembali lebih cepat dari yang aku duga, Lucien," ujar Alaric dengan nada yang hampir terdengar seperti pujian. "Banyak siswa yang pergi berkelompok kemarin membutuhkan waktu seharian hanya untuk pulang dengan tangan hampa. Kau melakukannya sendiri, dalam waktu kurang dari dua jam, meskipun kau harus membayar harganya dengan darahmu."
Alaric melambaikan tangannya, dan sebuah energi penyembuh berwarna hijau lembut menyelimuti luka-luka Lucien, menghentikan pendarahannya meski tidak sepenuhnya menghilangkan rasa pegal di otot-ototnya.
"Kau telah membuktikan bahwa kau bukan hanya sekadar jenius yang bergantung pada bakat," lanjut Alaric. "Kau memiliki kemauan untuk menembus batas. Poin yang kau dapatkan hari ini akan menempatkanmu kembali di posisi pertama papan peringkat Crimson Crest. Bahkan melampaui poin tiga siswa yang menang kemarin."
Lucien menundukkan kepalanya. "Terima kasih, Master."
"Tapi ingatlah satu hal, Lucien," Alaric melangkah mendekat, berbisik tepat di samping telinganya. "Luka di tubuhmu akan sembuh, tapi bekas yang ditinggalkan oleh kekuatan yang kau gunakan tadi akan menetap. Jangan pernah merasa terlalu nyaman dengan kecepatan yang kau miliki hari ini. Semakin cepat kau berlari menuju kekuatan, semakin dekat kau dengan tepi jurang yang kau baca di perpustakaan itu."
Lucien tertegun. Master Alaric secara tidak langsung mengakui bahwa ia tahu tentang isi buku kedelapan itu. Ia tahu tentang risiko yang sedang dihadapi Lucien.
"Sekarang, pergilah ke ruang medis sebentar untuk merapikan dirimu, lalu pergilah sarapan," perintah Alaric kembali ke nada bicaranya yang normal. "Jangan sampai ada yang melihat sang peringkat satu dalam keadaan berantakan seperti ini. Reputasi Vlad harus tetap terjaga, bukan?"
Lucien membungkuk dalam, lalu berjalan melewati Alaric menuju asrama. Meskipun tubuhnya sakit dan lelah, ada rasa puas yang aneh di dadanya. Ia tidak hanya mendapatkan kembali peringkatnya; ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa menghadapi Abyss sendirian dan tetap pulang sebagai manusia—setidaknya untuk saat ini.
Di kejauhan, lonceng sarapan mulai berdentang, memanggil seluruh penghuni akademi untuk memulai hari. Lucien Vlad melangkah maju dengan kepala tegak, siap menghadapi hari-hari berikutnya, tahu bahwa di punggungnya, petir biru itu kini sedikit lebih tenang, seolah menghormati kemauan keras sang inangnya.