Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak belur
"Jadi kau anggota utama organisasi Vireaux Dominion atau anggota Obsidian Veil?" tanya Hani datar dengan tatapan intimidasi.
...-------------------------------...
Seluruh anggota bayangan terkejut akan pertanyaan Hani, apakah tuan Darren telah memberitahu hal ini dengan calon nyonya mereka itu? tanya mereka dalam benak masing-masing.
Theo sedikit tersentak kaget, jadi gadis kecil yang berdiri dihadapan nya ini bukan hanya seorang calon nyonya muda nya saja melainkan sudah mengetahui rahasia keluarga Vireaux.
"S-saya ketua anggota Obsidian Veil nyonya." jawab Theo sedikit gugup.
Hani tersenyum penuh rencana. 'Ketua anggota ya? berarti disini banyak anggota yang lain sedang mengawasiku bukan? Rupanya anak buah om kutub ini sedikit bodoh' batin Hani.
"Pakai bajumu dan lawan aku, kita bertarung" ucap Hani.
Theo nyaris tersedak air liur nya sendiri, bagaimana bisa dia harus bertarung dengan calon nyonya nya? bisa bisa Darren akan langsung memotong lehernya sekarang juga.
"M-maaf nyonya saya tidak bisa" ucap Theo, tetapi ia tetap memakai kembali baju nya.
"Ck kau pasti takut tuan mu marah kan?" tanya Hani yang sudah tau akan jawaban nya.
Theo mengangguk dengan cepat, karena tugas nya adalah untuk menjaga Hani bukan untuk melawannya.
Hani memutar malas bola matanya, ia mengambil ponsel nya dari dalam saku jaket kemudian segera menghubungi nomor telepon om kutub menyebalkan.
•
Disisi lain Darren tampak sedang tersenyum seperti orang gila ketika melihat video yang telah dikirimkan oleh Theo, ia terkekeh geli akan tingkah laku Hani yang menurutnya menggemaskan itu.
Deettt drett
drett
Ponsel Darren begetar, ia mendapatkan sebuah panggilan dari nomor asing yang kemarin sempat menghubungi nya berkali-kali, Darren langsung mengangkat telepon tersebut karena yakin bahwa nomor itu milik Hani.
"Ya sayang? apa kau merindukan ku? " ucap Darren dengan nada menggoda.
Hani bergidik geli dengan tingkat kepedean Darren yang sangat diluar batas. "Pede banget sih om, nih ya dengerin ketua anggota mu mau ku ajak bertarung jadi kau ga boleh memarahi nya. oke?" ucap nya dengan nada sebal pemaksa.
Darren terkekeh kecil mendengar suara cerewet milik Hani. "Jadi kau tahu itu anggota ku? baiklah baiklah aku mengizinkannya tapi jika sampai kau terluka maka aku akan membunuh anggotaku itu." jawab Darren.
Hani berdecak malas, "Jadi kau meragukan kemampuan ku? lihat saja suatu saat kau akan tunduk dibawah ku" ucap Hani dengan menantang, para anggota bayangan menelan ludah kasar 'Tanpa diperintahkan untuk tunduk tuan Darren sudah sangat patuh pada anda nyonya' batin mereka semua termasuk Theo.
"Aku tidak meragukan mu sayang, aku hanya tidak ingin kau terluka. Dan kau tidak perlu membuat ku untuk tunduk karena-" ucapan Darren terhenti ketika Hani langsung mematikan sambungan telepon itu.
Tutt
Darren tersenyum tipis, tingkah Hani menurut nya sangat aneh. "Jadi kehidupan nya di kampung hanya untuk bertarung?" tanya Darren pada dirinya sendiri.
Darren kemudian melihat nama kontak yang belum di save pada ponsel nya. Kemudian dia memberi nama kontak tersebut 'Forever mine🤍' yang sangat alay jika sampai para sahabatnya tau maka dia akan di ejek 1 hari 1 malam.
Darren menghubungi salah satu anggota bayangan nya untuk merekam adegan perkelahian yang sedang terjadi antara gadisnya dan juga Theo, dia penasaran akan kekuatan Hani jika tidak dikuasai oleh Raven. Mengingat perkataan Hani bahwa, Hani dan Raven sangatlah bertolak belakang.
•
Kembali lagi ke Hani, setelah ia berhasil memperoleh persetujuan Darren ia tersenyum penuh arti pada Theo yang berdiri didepan nya. "Sudah dengar bukan? jadi sekarang kita bertarung layaknya seorang lawan, kau tidak perlu takut jika aku terluka" ucap Hani.
Kejadian itu tentu saja sudah mulai di rekam oleh anggota bayangan yang lain dan langsung terhubung kepada Darren. "T-tapi nyonya-"
Bugh
Hani langsung memukul wajah Theo hingga menoleh kesamping karena dia kesal anak buah Darren ini sama sama menyebalkan sepertinya.
"Tidak usah banyak bicara, cepat turuti ucapan ku jika memang kau menganggap ku sebagai calon nyonya mu" entah ada setan hutan mana yang merasuki Hani sehingga dia berbicara seperti itu.
Theo hanya mengangguk pasrah akan hal ini, dia sudah seperti antara hidup dan mati.
Hani tersenyum puas. "Gunakan tenaga mu itu untuk melawan ku, aku ingin lihat sekuat apa Hani yang sekarang" ucap nya.
Hani dan Theo mulai melakukan penyerangan satu sama lain, tetapi sejauh ini hanya ada tangkisan dari pukulan dan juga tendangan. Keduanya sama-sama lihai dalam mengelak serangan.
Hani merasakan bahwa tubuh nya sudah memanas karena akan dikendalikan oleh Raven, ia menjadi lengah dan...
Bugh..
Satu pukulan yang tidak terlalu kuat berhasil mengenai pundak kiri Hani. Hani semakin tidak fokus, Raven terlalu berusaha untuk mengendalikan dirinya.
Bugh.... bugh... bugh
bugh
plak
plak
Kretekk..
"Akh... ampuni saya nyonya, saya salah" ucap Theo memohon ketika Hani memukul dan menendangnya hingga jatuh tersungkur, dan sekarang tangan nya diputar tanpa perasaan oleh Hani.
Para anggota bayangan termasuk salah satu dari mereka yang sedang merekam kejadian itu bergidik ngeri, calon nyonya mereka itu sangat ganas sama seperti Darren ketika sedang marah.
'Raven sialan, dia mengendalikan ku cuma setengah-setengah disisi lain aku sadar tapi aku juga ga sadar waktu memukuli pria ini ' batin Hani kesal, lalu ia melepaskan cengkraman tangan nya pada lengan pemuda itu yang tampak memerah.
"Kau sangat menyebalkan, sama seperti tuan mu itu" ucap Hani lalu langsung berlari pergi meninggalkan hutan ini.
Beberapa anggota bayangan langsung mengikuti Hani yang berlari keluar dan beberapa lagi masih berada di tempat untuk menolong Theo dan memberikan informasi pada Darren.
Hani tergesa-gesa untuk pulang ke rumahnya, sesampainya dirumah ia langsung menutup pintu rapat-rapat dan pergi ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya dibawah guyuran air.
Setelah selesai membersihkan diri dia langsung menghempaskan tubuh kecil nya itu dikasur kamarnya. "Huh latihan hari ini tidak seru, Raven selalu berusaha mengambil alih diriku. Tapi anehnya kenapa sewaktu kejadian dimalam itu ketika aku dikeroyok oleh para preman Raven tidak mengambil alih kesadaran ku? aku malah ditabrak oleh mobil om kutub menyebalkan itu huftt..." ucap Hani kesal, tak lama kemudian ia menguap mengantuk dan akhirnya terlelap disiang bolong.
•
•
Sore hari telah tiba, mentari mulai membenamkan dirinya di arah barat. Darren sekarang sedang melaksanakan rapat tahunan para kolega kolega bisnis yang bekerja sama dengan nya disebuah restoran ternama Indonesia diruang VVIP.
Sebelum pergi menghadiri rapat tahunan itu Darren sudah menyaksikan kejadian siang hari tadi dimana Hani memukuli Theo hingga babak belur, membuat Darren tidak fokus akan rapat nya dan malah sibuk memikirkan gadisnya itu sembari tersenyum seperti orang gila.
"Rupanya tuan Darren tidak terlalu fokus akan rapat tahun ini, apa anda sudah menemukan calon istri?" tanya salah satu kolega dengan candaan.
"Tidak ada" jawab Darren cepat, berusaha mengelak.
Para kolega bisnis itu saling pandang, antara percaya dan tak percaya akan jawaban Darren.
dreett... drett
dreett
Bunyi ponsel Darren yang memecahkan suasa, Darren dapat melihat bahwa yang mengubungi nya adalah sang pujaan hati yang sedari tadi ada dalam pikiran nya.
"Saya harus mengangkat telepon" ucap Darren singkat lalu segera meninggalkan ruangan itu untuk mengangkat telepon nya ditoilet.
"Kau merindukan ku sayang? aku juga merindukan mu baby" ucap Darren dengan semangat.
Hani menghela nafas kasar, ia rela bangun tidur untuk menghubungi Darren demi mempertanyakan kondisi anak buahnya tetapi malah mendapatkan pertanyaan jijik dari Darren.
"Pede banget sih om, udah ku bilang berkali kali kalau aku ga kangen sama om. Aku cuma mau tanya gimana keadaan anak buahmu itu, tadi aku ga sengaja kelepasan makanya sampe ku patahin tangan nya." omel Hani.
Darren terkekeh kecil, ia suka sekali mendengarkan omelan dari gadis kecil nya itu. "Dia tidak apa apa, kau tidak perlu khawatir. Nanti aku akan memberikan nya hukuman karena telah memukulmu tadi"
Hani menepuk jidatnya, ia tidak habis fikir akan jalan pemikiran Darren. "Kenapa pake dihukum segala sih om, dia kan ga salah karena kita tadi memang bertarung. Om ini selain nyebelin juga aneh pake banget, masa anak buah ga salah dihukum. Mending aku aja yang jadi bos nya" gerutu Hani kesal.
Darren semakin terkekeh, omelan Hani terdengar sangat sexy di telinga nya. "Kau sebaiknya menjadi istri ku saja baby"
Hani semakin kesal akan jawaban Darren, rupanya berdebat dengan om kutub nyebelin bisa membuat nya menjadi darah tinggi. "Ah sudahlah terserah, intinya kalau sampai om hukum anak buah yang tadi, maka om aku bunuh sekarang juga"
tutt
Hani mematikan telepon sebelum mendengar jawaban menyebalkan dari Darren.
Darren tersenyum mendengarkan ucapan Hani yang terakhir,
"Dia benar benar membuatku gila karena cinta, bahkan dulu saat dengan wanita j*lang itu aku tak pernah melakukan hal gila seperti ini" ucapnya lalu segera keluar dari toilet itu dan kembali ke acara rapat tahunan.
*******
Sedangkan disisi lain Hani terus saja mengomel ketika telah mematikan sambungan telepon dengan Darren, ia sangat kesal akan tingkah laki laki datar seperti es kutub itu.
"Dasar pria menyebalkan, bahkan anak buah nya tadi juga sama-sama menyebalkan. Aku menyesal karena rela menghubungi nya demi mempertanyakan anak buah tidak berguna nya itu" ucap Hani lalu pergi ke dalam kamar mandi dan membanting pintu yang cukup kuat.
Beberapa saat kemudian Hani keluar dengan lilitan handuk yang menutupi area sensitif nya dan menampilkan paha mulus miliknya, ia segera mengenakan pakaian santai untuk bermalam yaitu sebuah piyama bewarna violet yang melekat indah pada tubuhnya.
Hani pergi untuk memakai skincare rutin nya dengan perasaan yang masih sedikit kesal, kemudian ia memutuskan untuk menghubungi sahabat nya agar dapat menemaninya malam ini.
"Halo Mut, kamu malam ini nginap dirumahku ya. Ga ada penolakan pokoknya aku tunggu 15 menit dari sekarang" ucap Hani ketika telepon nya telah diangkat oleh Mutia.
Tutt
Hani langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin mendengarkan banyak alasan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu. Ia memilih untuk berkutat didapur dan mulai menyiapkan masakan untuk makan malam.
Hari sudah gelap dan tampak belum ada tanda-tanda kedatangan Mutia, Hani sedikit kesal karena kedatangan sahabatnya yang sangat amat lama sekali tetapi ia tetap menunggu.
Tin tinnn
Suara klakson motor membuyarkan pikiran Hani, tampak Mutia yang duduk di atas motor sedang menunggu Hani untuk membukakan pintu belakang rumahnya.
Hani mematung diambang pintu ketika melihat mutia bersantai diatas motor nya tak lupa dengan senyuman aneh khas dirinya. "Hah sejak kapan kamu bisa naik motor?" tanya Hani menelisik.
Mutia terkekeh kecil, ini memang hari pertamanya belajar menggunakan motor. Maka dari itu ia memamerkan pencapaian baru nya pada Hani. "Sejak tadi, waktu kamu telepon aku masih belajar naik motor" jawab Mutia dengan gaya angkuh nya.
Hani menepuk jidatnya kasar, tingkah Mutia selalu sangat ada ada saja. "Kamu ini bener-bener ya, udah ayo buruan masuk" ajak Hani.
Mutia setia mengikuti langkah kaki Hani yang membawanya menuju meja makan didapur rumah itu, mereka duduk behadapan sembari menatap banyak makanan yang sudah tersaji di meja.
"Banyak banget sih masak nya, enak enak semua lagi" ucap Mutia antusias jika soal makanan.
"Udah buruan makan, habis ini kita ada misi" ucap Hani serius.
Mutia mengangguk paham, pasti jika Hani sudah menyuruh nya untuk menginap itu menandakan bahwa ada sebuah misi rahasia diatara mereka.
Dua manusia bertubuh sama sama kecil itu makan dengan tenang, hanya suara dentingan sendok yang memenuhi ruangan itu seolah tak ada ancaman besar diluar sana.
"Huh kenyang nya, aku ga nyangka kita bisa habisin makanan ini semua" ucap Mutia sembari mengusap usap perut nya yang tampak sedikit buncit.
Hani hanya menghela nafas, lalu segera membereskan bekas bekas makan malam itu dan mencuci semua piring piring kotor, Mutia turut membantu dalam menata piring yang sudah di cuci ke dalam rak piring.
"Huh selesai, sekarang ikut aku ke ruang bawah tanah" ucap Hani sembari menyeret tangan Mutia untuk mengikuti nya, ia sempat berbelok ke arah kamar nya kemudian membawa tas laptop terbaru nya yang diantar beberapa hari lalu, kemudian mereka menuju ke ruangan bawah rumah ini.
Ceklek
Hani membuka pintu ruangan bawah tanah itu dan langsung duduk di kursi khusus tempat nya untuk bekerja dibalik bayangan yang terdapat pada ruangan itu.
"Jadi kita kali ini mau ada misi apa?" ucap Mutia kemudian pergi duduk di sofa ruangan itu.
Hani mulai mengotak atik laptop nya, menyambungkan pada beberapa komputer yang berada tepat di depan mata nya. Ia tersenyum tipis mendengarkan pertanyaan Mutia. "Bukan kita, tapi aku yang memiliki misi ini." jawabnya.